Perencanaan

Pernahkah kita salah menghitung jumlah rakaat dari shalat yang kita lakukan? Kita mengira masih ada satu rakaat lagi, namun ternyata, imam sudah duduk tahiyyat akhir.

Apa yang kita lakukan bila itu terjadi? Pasti memaksakan diri untuk duduk mengikuti imam kan, padahal saat itu kita sedang bersiap diri untuk bangkit berdiri.

Saya rasa semua sepakat, ketika memaksakan diri untuk duduk tanpa persiapan karena niat awalnya untuk bangun, pasti terasa sakit di tubuh bagian belakang kita lalu posisi duduknya pun menjadi tidak nyaman. Belum lagi kita malah mengganggu jama’ah di sebelah kita yang mungkin kakinya tak sengaja kita duduki.

Nah, kawan. Mungkin seperti itu juga dalam kehidupan. Perencanaan yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh, bukan berarti kita mendapat jaminan untuk tidak jatuh.

Akan tetapi, perencanaan itu akan membuat jatuh yang selamat, tidak terjun bebas langsung ke titik nadir.

Dan perencanaan itu membuat kejadian jatuh itu tidak berlama-lama menenggelamkan kita. Malah dengan jatuh itu, kita bisa bangkit, terus berlari, bahkan memberikan kekuatan untuk melompat lebih tinggi.

Lebih jauh lagi, perencanaan membuat kesetimbangan dengan lingkungan kita berada. Bukankah sebaik manusia yang paling bermanfaat? Dan itu menuntut rasa aman bagi orang lain terhadap dirinya bukan?

Jadi menyusun rencana adalah titik kritis dalam mengembangkan kehidupan dan kualitas diri. Dengan catatan, perencanaan itu menjadi aksi, bukan kata-kata manis yang cepat basi.

Dari mata turun ke hati, dari visi turun ke aksi….

One thought on “Perencanaan

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s