Jakarta Vertical Kampung: Site Visit and Residents Interview

Setelah sesi pembekalan mengenai pengambilan video, para peserta bersiap melakukan kunjungan ke lahan sesuai kelompok masing-masing. Mobil-mobil yang berjumlah 6 buah sudah siap di halaman Erasmus Huis untuk mengantar para peserta ke tempat kunjungan yang tersebar, mulai dari Penggilingan di Jakarta Timur hingga Penjaringan di Jakarta Utara.

Kali ini, tim Archinesia selaku media partner berkesempatan untuk meliput aktivitas kunjungan 1 kelompok peserta Jakarta Vertical Kampung di Penggilingan, Jakarta Timur. Kelompok ini beranggotakan tiga orang mahasiswa dan seorang urban designer, yaitu: Herriatma Putra Natanegara (Universitas Sriwijaya), Elisa Ratu Budidharma (Universitas Bina Nusantara), Meidesta Pitria (Universitas Indonesia), dan Putri Kusumawardhani (AECOM). Selama site visit, kelompok ini didampingi oleh perwakilan dari Vidour untuk membantu pembuatan video, yaitu: Wendy Pratama.

Kunjungan Lahan

Lahan yang dikunjungi berbentuk persegi panjang. Di salah satu bagian site sudah berdiri dua buah bangunan apartemen yang saling membelakangi, meski masih dalam tahap rekonstruksi. Akan tetapi, di bagian depan bangunan apartemen masih terdapat lahan luas yang kosong dan hijau. Sedangkan di sebelah lahan terdapat kawasan ruko eksklusif.



Peserta mencoba berjalan-jalan di dalam lahan sembari merasakan nuansa yang ada. Sesekali diselingi mengambil gambar lahan dan membuat sketsa tangan. Setelah berkelilingnya dirasa cukup, peserta mulai saling berbagi apa saja yang mereka tangkap oleh indera mereka. Meski berpanas-panasan, peserta tetap semangat!

Wawancara Warga

Warga yang nantinya akan menempati Vertical Kampung di Penggilingan ada pemukim dari Kampung Gebang Mas. Untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan warga-warga di sana, para peserta mencoba mengunjungi untuk melakukan pengamatan dan wawancara.

Sesampainya di Kampung Gebang Mas, peserta mencari rumah ketua RT untuk meminta izin melakukan kegiatan survey, sekaligus menanyakan beberapa hal tentang kampung ini kepada ketua RT, beliau mengatakan bahwa di RW 02 ini, terdapat 14 RT dan 80 KK. Kemudian, wawancara dilanjutkan dengan menemui warga-warga yang ditemui di sepanjang jalan.

Dari wawancara kepada warga, peserta Jakarta Vertical Kampung mendapatkan beberapa kesimpulan. Di kampung ini terdapat orang betawi asli dan pendatang, perbandingan keduanya hampir berimbang. Pendatang-pendatang tersebut mayoritas berasal dari suku Jawa dan Batak yang awalnya merantau untuk mencari kerja, lalu menikah dengan orang Betawi dan menetap di Jakarta. Dan tidak semua para pendatang memiliki rumah yang mereka tempati, banyak yang sekedar mengontrak. Warga yang tinggal di rumah milik dan rumah sewa, hampir berimbang juga.

Aktivitas yang dilakukan warga pun hampir sama, sesuai ‘kelompok’-nya. Aktivitas kaum bapak adalah bekerja mencari nafkah, mulai dari karyawan swasta sampai tukang ojeg ada. Aktivitas kaum ibu adalah berdagang atau menjadi ibu rumah tangga. Kaum muda membentuk siskamling sehingga punya tempat ‘nongkrong’ khusus. Sedangkan anak-anak lebih sering bermain sepulang sekolah, mulai dari bermain sepakbola, layang-layang, dan petak umpet. Terkadang, anak-anak itu bermain di area kompleks tetangga untuk balap sepeda atau bakar jagung pada malam hari setiap 3 minggu sekali. Anak-anak itu mengaku jarang membaca, namun setuju bila dibuatkan perpustakaan. Hal ini didukung oleh kaum ibu juga, agar anak2 rajin belajar.

Terkait rusunawa, warga serentak menolak direlokasi, karena mengaku sudah nyaman dengan kondisi saat ini (punya rumah sendiri). Namun, bila direlokasi untuk rusunami, bisa dipertimbangkan untuk pergi, asalkan sudah disepakati bersama di tingkat RT. Walau begitu, setiap warga tetap mengaku lebih menyukai landed house, karena dirasa lebih alami. Ada yang menarik di akhir wawancara, ketika ditanya mengenai rumah impian, warga hanya bisa tersenyum malu dan berkata “Yang penting milik sendiri. Itu sudah cukup.”

Daily Review

Kembali ke Erasmus Huis, para peserta sharing apa yang didapat oleh masing-masing individu dalam kelompok. Dari situ, ditemukan beberapa masalah yang harus diselesaikan secara desain. Misalnya, keinginan warga untuk tinggal di landed house, padahal soal yang harus dijawab peserta adalah vertical kampung. Beberapa usulan mencuat, seperti mendefiniskan ulang makna vertikal yang diharapkan terdapat beberapa poin yang bisa dimanipulasi agar bisa membuat landed vertical houses. Ada juga beberapa catatan yang ternyata berbeda dengan informasi yang diterima pada hari pertama, contohnya tentang dapur bersama dan saling meminjam bumbu dapur. Ternyata keduanya tidak terjadi di kampung Gebang Mas.

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s