Jakarta Vertical Kampung: Survival Kit for City (Alfredo Brillembourg)

Erasmus Huis, 29 Juni 2013.

Pada hari ini, peserta Jakarta Vertical Kampung akan mengikuti sebuah lecture dari Alfredo Brillembourg via Skype. Beliau adalah pendiri Urban-Think Tank (U-TT) pada tahun 1993 di Caracas, Venezuela. Alfredo akan melakukan presentasi secara langsung dari Zurich. Mungkin beliau satu-satunya orang yang sedang bekerja di sana pada hari Sabtu ini, karena semua orang harusnya sedang libur.

Alfredo menyebutkan bahwa arsitek itu mendekorasi kota, jadi harus melihat ke horison perkembangan kota di seluruh dunia. Karena setiap abad ada topiknya masing-masing, ada kebutuhannya sendiri, dan ada fokusnya sendiri. Di akhir abad 20, fokus mengenai pembangunan adalah tentang proyek komersial raksasa. Hal itu terjadi di seluruh dunia. Sedangkan di abad 21, fokus mengenai pembangunan adalah global social architecture, karena banyaknya permasalahan yang terjadi, misalnya: housing dan lingkungan, serta perlu kita sadari bahwa perubahan iklim itu benar-benar terjadi.

Outline dari presentasi yang akan dijelaskan oleh Alfredo adalah terkait our values, Torre David, urban toolbox, urban prootype, emerging cities, and urban mobilities.

Alfredo menampilkan dan menjelaskan data mengenai urban population di semua benua: Amerika Utara 83% masyarakat hidup di kota, Amerika Latin 82%, Eropa 73%, Oseania 71%, Asia 46%, dan Afrika 40%. Sembilan dari sepuluh orang berkeinginan untuk pindah ke kota. Pada 2050 kita akan menemukan situasi explosive terkait 140 emerging cities -saat ini adalah secondary city– yang akan berkembang 3x lebih cepat daripada megacity. Itulah mengapa kita menyebutnya “the south is our north.” Kesimpulannya: massive urban growth, inilah fokus kita saat ini.

Kebanyakan populasi di dunia berkembang dalam area yang miskin, pertumbuhan kumuh. Akan tetapi, orang-orang yang kurang mampu pun memiliki haknya untuk hidup di kota. Maka dari itu pemerintah harus membuat kebijakan yang mendukung hal tersebut, sedangkan tugas arsitek adalah membuat kebijakan tersebut menjadi nyata, sehingga orang-orang kurang mampu tetap mendapatkan rumah yang layak. Inilah masalah terbesar abad ke-21, yaitu bagaimana bisa menghadirkan rumah yang baik.

Kita butuh kota yang transparan dan bebas korupsi, jadi sebagai arsitek kita tidak bisa bergantung lagi dengan proyek dan developer manapun, yang mana kebanyakan tidak memiliki transparansi yang jelas dan nilai sosial.

Dalam sebuah data, disebutkan bahwa 75% konsumsi energi dunia terjadi di kota dan memproduksi 80% zat karbon. Kita perlu inisiatif kota dalam bidang sains, teknologi, dan kebijakan. Kita butuh arsitek dan desainer yang baik untuk menghubungkan komunitas dan enterprise dengan pemerintah.

Torre David adalah simbol dari mimpi yang gagal dari modernisasi. Kota Caracas bermaksud untuk membanguniconic tower setinggi 45 lantai sebagai simbol kota, hanya saja krisis finansial menerpa pada tahun 1994 sehingga bangunan tersebut gagal diselesaikan. Bangunan terlantar itu selanjutnya menjadi milik pemerintah dan ditempati secara bertahap oleh homeless hingga kini mencapai 3000 jiwa yang kebanyakan anak-anak.

Mereka memilih tidak menempati tanah secara informal (yang membuat kota kumuh), tetapi datang ke gedung tersebut dan menciptakan tempat tinggal yang bermartabat. Yang lebih mengejutkan adalah hal tersebut inisiatif dari masyarakat. Saat pemerintah tak mampu berbuat, maka masyarakat melakukannya sendiri.

Jadi, kita memang harus melakukan sesuatu. Kita harus mengenal kota terlebih dahulu, mengenal masyarakat sejauh 1 kilometer persegi, mengenal apa yang terjadi di lapangan, lalu melakukan analisis bagaimana kehidupan dalam masyarakat. Hentikan mencari stupid solution dari buku (yang terkadang tidak tepat), namun mulailah lihat secara langsung bagaimana kehidupan kota bekerja.

Ingat, kota adalah tentang masyarakat sehingga kota dengan gedung yang tidak berpenghuni tidak ada gunanya. Maka dari itu kita harus berkomunikasi dengan masyarakat untuk mengerti bagaimana mereka ingin menjalani hidupnya, sehingga pemikiran kita tentang vertical city menjadi ide yang sangat penting.

Tahapan lengkap mengenai urban toolbox, bisa dilihat pada gambar di bawah ini:

Dari keseluruhan tahapan, kunci dari urban toolbox terletak pada poin ketiga dan ketujuh, yaitu: diagnose morphology dan plug into infrastructure.

Lalu, Alfredo memberikan studi kasus mengenai hunian vertikal. U-TT menawarkan infrasturktur baru, yaitu membuat sistem lift baru. Hasilnya bisa dilihat pada proyek The Vertical Gymnasium, The Fava School, dan Grotao Music Center. Itulah urban prototype yang ditawarkan oleh Alfredo.

Kita tidak bisa menghentikan informal growth, jadi sebagai arsitek ataupun desainer, kita harus membantunya agar perkembangan itu menuju ke arah yang lebih baik. Berjalan-jalanlah di kota dan perhatikan masyarakatnya, lalu temukan cara terbaik untuk mengembangkan kota. Kampung memiliki sebuah value of diversity, tetapi para developer mencoba untuk menyederhanakannya sehingga kampung tersebut tidak lagi menjadi kota yang sebenarnya setelah dikembangkan. Kita musti menjaga value of diversity seperti di kampung, karena sudah fitrahnya manusia hidup bertetangga.

Sedangkan untuk formal growth, serahkan saja kepada pemegang modal. Toh, mereka yang termasuk pada golongan formal, sangat sedikit jumlahnya. Lebih baik kita lebih memperhatikan sektor yang sering tidak dipedulikan, dan orang yang butuh bantuan itu jumlahnya sangat banyak. Salah satunya adalah dengan mengurangi commercial area pada bangunan-bangunan dan perbanyak public space dimana masyarakat bisa berinteraksi.

One thought on “Jakarta Vertical Kampung: Survival Kit for City (Alfredo Brillembourg)

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s