An Interview with Cosmas D. Gozali

Ada yang unik dari acara Bazaar Art Jakarta and Casa by Bravacasa 2013 yang diselenggarakan pada tanggal 18 Juli 2013 sampai dengan 21 Juli 2013 di The Grand Ballroom, Pacific Place. Diantara belantara pameran seni dan interior, terdapat satu stand menarik yang menampilkan karya-karya arsitektur Indonesia. Stand ini menjadi satu-satunya yang bertema arsitektur di BAJ and Casa by Bravacasa 2013 ini.

Pameran ini diinisiasi oleh Atelier Cosmas Gozali yang juga dikenal sebagai PT. Arya Cipta Graha yang berbasis di Jakarta sejak 2005 lalu. Biro ini memiliki spesialisasi di bidang perancangan arsitektur, interior, dan lanskap. Saat tim Archinesia berkunjung ke stand tersebut, kebetulan Arch. Dipl. Ing., Cosmas D. Gozali, IAI selaku Principal Architect dari Atelier Cosmas Gozali sedang berada di tempat, sehingga kami berkesempatan untuk mewawancarainya.

Kami pun langsung menanyakan perihal keberaniannya untuk menyelipkan karya arsitektur di tengah pameran seni dan interior ini. Menurutnya, arsitektur itu juga adalah bagian dari seni, tetapi seni yang berteknologi tinggi. Begitu juga sebaliknya, teknologi juga bisa menjadi sangat seni, sehingga Pak Cosmas D. Gozali merasa sangat yakin menempatkan arsitektur di tengah karya seni ini. Apalagi dari segi audiens, beliau merasa bahwa pecinta-pencinta seni itu pastiakan mencintai karya-karya arsitektur juga.

Salah satu hal penting yang beliau ungkapkan juga bahwa tujuan pameran ini adalah menunjukkan kualitas arsitek-arsitek Indonesia. Agar nanti masyarakat tersadar bahwa anak bangsa pun bisa melakukan dan menghasilkan hal-hal yang luar biasa dan tidak kalah dengan orang luar.

Misalnya, mengenai gagasan Pak Cosmas D. Gozali mengenai Jakarta Waterfront City. Beliau menjelaskan bahwa idenya ini telah dikirim ke Jerman dan terpilih masuk 40 gagasan terbaik di antara arsitek-arsitek Asia Tenggara. Bahkan, beliau sampai diundang ke Berlin untuk berbicara dalam sebuah simposium internasional.

Gagasan utamanya adalah desentralisasi DKI dengan membuat ring baru sejauh ratusan kilometer hingga menghubungkan Laut Jawa, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.Memang nantinya Jakarta menjadi melebar, akan tetapi menurut beliau, gagasan ini dapat mengurangi kemacetan, meningkatkan kualitas hidup, dst. Apalagi, sebenarnya Jakarta adalah sebuah Waterfront City, hanya saja saat ini masih sedikit dan tidak terkelola dengan baik.

Gagasan ini diimplementasikan dengan merancang layer baru sebanyak tiga lapis di atas tanah untuk mixed-use buildings dan jalan-jalan kendaraan. Area ini dibuat mixed-use agar mobilisasi manusia  dan kendaraan bisa diperkecil. Salah satu dampak positif dari desain ini adalah area ground bisa dijadikan sebagai resapan air.

Salah satu ide gilanya adalah memindahkan airport ke laut. Beliau berargumen, karena masalah utama di Indonesia itu biasanya pembebasan tanah. Tentu di negara dengan demokrasi yang kuat seperti di Indonesia, kita tak bisa sembarangan memindahkan manusia. Padahal di sisi lain, bandara internasional perlu lahan besar. Untuk itu, solusi yang ditawarkan oleh Pak Cosmas D. Gozali adalah dengan menempatkan bandara tersebut di laut, seperti yang telah dilakukan di Hongkong.

Kemudian, desain Jakarta Waterfront City ini pun memperlihatkan beberapa waduk buatan untuk menampung air hujan yang mengalir menuju Jakarta. Limpahan dari waduk buatan ini akan ditampung di reservoir terlebih dahulu untuk drainase semua rumah yang ada. Kelebihannya, baru dialirkan lagi hingga ke laut sehingga konsep ini dinilai lebih advance daripada Deep Tunnel, karena dimanfaatkan terlebih dahulu dan tidak langsung dibuang.

Pemikiran untuk gagasan ini telah sampai pada tahap pendanaan. Beliau menyadari bahwa pemerintah adalah pembuat regulation sehingga secara umum bisa dibilang tidak memiliki dana sehingga yang melakukan pendanaan adalah pihak swasta. Rancangan Jakarta Waterfront City ini dibuat untuk dijual kepada pihak swasta sehingga secara tidak langsung, mereka melakukan subsidi silang terhadap pembangunan keseluruhannya.

Bukankah hal yang telah dijelaskan di atas tidak akan diketahui oleh publik bila tidak ada pameran? Meskipun sudah dibantu oleh media, tetap saja tidak banyak orang yangmembaca media. Kelebihan lainnya adalah orang bisa langsung melihat dan merasakan karya-karya yang disuguhkan.

Agar pameran arsitektur ini semakin luas publikasinya, Pak Cosmas D. Gozali mengajak teman-teman arsitek yang lain, seperti: Yori Antar, Ary Indra, Irianto PH, dan Willis Kusuma. Pak Cosmas D. Gozali membiarkan masing-masing arsitek menyeleksi karyanya sendiri, karena beliau merasa sudah percaya kepada mereka, karena mereka telah berkecimpung di dunia arsitektur sedari lama. Apalagi mereka adalah arsitek-arsitek yang telah dihargai oleh publik dengan sangat baik. Terbukti, respon publik sangat positif kepada pameran arsitektur ini.

Di penghujung wawancara, Pak Cosmas D. Gozali, memberikan pesan kepada tim Archinesia. Beliau menyampaikan bahwa melalui pameran ini, beliau ingin menggugah mahasiswa-mahasiswa dan sesama rekan arsitek untuk terus meningkatkan kemampuan melalui karya, agar ketika pasar Indonesia dibuka bebas, kita tidak kalahdengan asing sehingga dominasi asing bisa terhindarkan.

Beliau juga mengajak arsitek-arsitek yang bekerja di luar negeri untuk pulang ke Indonesia dan membangun bangsa. Meski beliau menambahkan bahwa sebenarnya boleh saja bekerja di luar negeri untuk mencari pengalaman, namun tetap harus pulang ke Indonesia. Karena menurutnya, masa depan ekonomi dunia itu sampai 50-100 tahun ke depan adalah di Asia, termasuk Indonesia. Jadi, bangunlah arsitektur di Indonesia ini!

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s