Da’wah bil Hikmah

Termasuk pemahaman terhadap agama adalah berusaha mempelajari beragam pengetahuan yang dapat membantu para da’i untuk menarik manusia dengan beragam wawasan dan kecenderungan…

…ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik…”

Menurut ar-Raghib, al hikmah berarti mengetahui perkara-perkara yang ada dan mengerjakan hal-hal yang baik. (Shihab al-Din al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1993, Hal. 82/XI)

Menurut Mujahid, al hikmah adalah pemahaman, akal, dan kebenaran dalam ucapan selain kenabian. At-Thabary mengatakan bahwa Hikmah dari Allah SWT bisa berarti benar dalam keyakinan dan pandai dalam din dan akal. (Abu Jafar At-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, op.cit., Hal. 269/5)

Bila boleh saya menyimpulkan, da’wah bil hikmah adalah seruan yang tidak tertolak. Misalnya, bila ada orang yang lapar, seruan makan adalah hal yang tidak akan ditolak olehnya. Lantas seperti apakah da’wah bil hikmah itu? Saya mendapatkan jawabannya saat membaca buku Isti’ab karya Ust. Fathi Yakan.

“Termasuk pemahaman terhadap agama adalah berusaha mempelajari beragam pengetahuan yang dapat membantu para da’i untuk menarik manusia dengan beragam wawasan dan kecenderungan, terutama di masa sekarang ini, di mana berbagai aliran dan kecenderungan bermunculan bak jamur di musim penghujan. Dengan begitu, usaha untuk menarik manusia jelas semakin susah, bahkan di sana telah menghadang ratusan bahkan ribuan pertanyaan dan tuduhan.” (Fathi Yakan, Isti’ab)

Pengalaman saya memberi tambahan bahwa agar tidak tertolak, da’wah bukan dilakukan dari sudut pandang kita selaku pelaksana. Da’wah tidak bicara tentang “saya ingin dia menjadi apa.” Jadi, agar tidak tertolak, da’wah harus bersifat:

  1. Apa yang mereka butuhkan.
    Dengan begitu, mereka tidak akan menolak seruan kita, karena suka-gak suka, mereka membutuhkan hal tersebut.
  2. Apa yang mereka sukai.
    Dengan begitu, mereka tidak akan menolak seruan kita, karena butuh-gak butuh, mereka menyukai hal tersebut.

Oleh karena itu, saat kita berda’wah pada para pelajar yang notabene adalah generasi tunas bangsa, kita harus mengetahui apa yang mereka butuhkan dan yang mereka sukai. Mari kita buat daftarnya dengan berandai-andai “bila saya menjadi pelajar (lagi).”

Pertama, apa yang saya butuhkan. Andai saya menjadi pelajar (lagi), saya membutuhkan nilai mata pelajaran yang bagus sehingga saya butuh diajari secara tepat dan menyenangkan. Saya butuh informasi mengenai dunia pendidikan, terutama saat kelas XII SMA saya butuh mengenal jurusan-jurusan yang ada dan kampus-kampus yang ada. Saya butuh beasiswa untuk bisa meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kemudian, saya butuh… (sila diisi sendiri).

Kedua, apa yang saya sukai/inginkan. Andai saya menjadi pelajar (lagi), saya menyukai bermain bola di lapangan sekolah atau ngobrol tentang klub sepakbola (berikut gosip transfer pemain). Saya menyukai musik, meski tidak pandai bermain instrumennya. Saya menyukai main game. Saya menyukai social media. Saya menyukai komik. Mungkin, beberapa menyukai tempat-tempat asik untuk hang out bareng teman-teman atau mencari pendamping hidup. Kemudian, saya suka… (sila diisi sendiri).

Konsekuensinya, seorang da’i juga harus dilengkapi dengan hal-hal di atas. Jangan sampai kita tidak tahu tentang Juventus, padahal itu adalah klub bola favorit objek da’wah kita. Jangan sampai kita tidak tahu tentang One Piece, padahal itu adalah manga favorit objek da’wah kita. Jangan sampai kita tidak tahu tentang Linkin Park, padahal itu adalah band favorit objek da’wah kita. Dan seterusnya.

Semoga dengan ini, semakin banyak rekrutmen yang kita dapatkan dan semakin banyak kader yang berhasil terbentuk. Amin.

Allahu a’lam…

One thought on “Da’wah bil Hikmah

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s