ICAD 2013 | Convention II: Creativities Unfold

Pada hari Jumat, 6 September 2013, ICAD 2013 mengadakan Convention II di Magzi Ballroom, grandkemang Hotel, Jakarta, dengan tajuk “Creativities Unfold.” Konvensi ini menghadirkan Dolorosa Sinaga (Sculptor), Sinta Tantra (Artist), dan Fitorio Leksono (Industrial Designer), serta dimoderasi oleh Irma Hutabarat.

Pembicara yang melakukan presentasi adalah Dolorosa Sinaga. Beliau adalah pematung yang lebih menyukai medium berupa lembaran (bukan benda padat, seperti patung pada umumnya). Karyanya yang ia ceritakan pertama kali adalah patung “Solidaritas Perempuan” sebagai bentuk protesnya terhadap kejadian pemerkosaan wanita etnis Cina pada akhir era Orde Baru. Kemudian, ia pun menceritakan tentang proses patung Dalai Lama (satu dari tiga laki-laki yang pernah beliau buatkan patungnya), termasuk proses risetnya untuk memodelkan menjadi tiga dimensi dari sebuah gambar di koran. Bu Dolo pun memberitahukan proses pemilihan medium yang berbeda, yaitu: perunggu, resin, dan alumunium foil. Di akhir presentasi, Bu Dolo menekankan bahwa seni itu adalah makanan batin, opini dari kegelisahannya, sekaligus menjadi cara untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

Selanjutnya, panggung dipersilakan untuk Sinta Tantra, seorang seniman berparas ayu keturunan Bali, namun lama tinggal di Inggris. Bu Sinta tidak memberikan label pada dirinya, apakah dia itu pelukis, perupa, ataukah seniman instalasi, karena dia merasa dirinya adalah all of the above. Menurut Bu Sinta, seni adalah kegiatan sosial. Dengan kata lain, seni bukanlah sesuatu yang solitaire atau dikerjakan sendiri. Dia menepis anggapan orang pada umumnya bahwa seniman itu bekerja sendiri, dengan menghasilkan karya-karyanya yang dikerjakan dengan cara bekerja sama dengan engineer ataupun arsitek. Baginya, seni adalah suatu social learning, yaitu perantara untuk memahami satu sama lain.

Pembicara terakhir yang makin inspiratif adalah Fitorio Leksono. Pak Rio mengawali kuliahnya dengan menyatakan bahwa setiap orang itu kreatif. Karena dalam setiap aktivitasnya, mulai dari memadupadankan baju hingga memilih ringtone tertentu untuk orang spesial, itu adalah cara orang tersebut untuk kreatif. Jadi, kreativitas itu tidak semata-mata milik seniman. Pak Rio juga menambahkan bahwa proses kreatif bisa terjadi karena ketelitian dan kejelian dari seseorang untuk mengamati perilaku manusia, karena menurutnya orang-orang di sekitar kita adalah pemberi ilham atau ide dalam melalui proses kreatif. Di akhir pembahasannya, dia memberikan tips yang tidak sulit, yaitu: menyiapkan buku kecil untuk mencatat setiap ide dan pertanyaan-pertanyaan ‘menggelitik’ terkait segala sesuatu yang diamati di sekitar. Itulah mengapa, dalam pandangannya, proses kreatif tidak ada batasan bahwa menjadi seniman itu harus sekolah, karena setiap manusia bisa kreatif.

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s