Gravity


Wah, gak nyangka kalo postingan ini sudah lebih dari sebulan berada di pojokan draft yang penuh debu dan sarang lelaba(?). Kepikiran nulis ini gegara nonton film Gravity pas liburan lebaran haji lalu bersama Agus, Alif, dan Ikbal. Sayangnya ga nonton dari awal, jadi ga ngikutin jalan cerita.

Ya Allah, film ini suwer bikin mupeng pengen ke luar angkasa *jadi nyesel gak ngumpulin berkas AASA dan sekarang sudah terpilih 3 besar calon astronot Indonesia TT___TT* Sebagai pengagum benda-benda angkasa, saya benar-benar ternganga menyaksikan langsung *meski bukan sungguhan* apa yang disampaikan oleh Pak Ferry saat kuliah Astronomi dan Lingkungan dulu.

Saya ingat betul bahwa Pak Ferry pernah bilang kalau debu-debu angkasa, yang ukurannya hanya beberapa milimeter, bergerak dalam jumlah yang banyak dengan kecepatan peluru. Beuh, kalo kena tubuh manusia tanpa pelindung, langsung bolong-bolong persis tentara Abrahah yang kena kerikil neraka yang dibawa burung Ababil.

Yap, antariksa memang penuh marabahaya, namun menurut saya itu memang harga yang pantas untuk dibayar untuk bisa menyaksikan menakjubkannya keadaan di luar atmosfer sana. Beberapa bahaya antariksa yaitu:
Baca lebih lanjut