Tentang Politik

Sudah tidak ada perdebatan lagi di antara kita bahwa sistem politik yang ideal adalah yang langsung diterapkan sendiri oleh RasuluLlah. Hanya saja, untuk mewujudkan itu di bumi pertiwi, itu berarti revolusi dan kita perlu membayarnya dengan tebusan yang tinggi harganya. Mulai nyawa, dana, hingga kesatuan negara.

Maka dari itu, termasuk hal yang paling optimal adalah dengan menjadikan nilai-nilai syariat Islam terintegrasi dengan Undang-Undang negara. Dengan begitu, seluruh umat Islam di nusantara bisa menjalankan keislamannya secara 100%.

Ada beberapa pandangan saya tentang politik di Indonesia. Yang pertama dan utama adalah kondisi perpolitikan nasional harus berasaskan keadilan. Karena Allah perintahkan kita untuk berbuat adil dalam firman-Nya.

“…Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa….”
(TQS. Al Maidah: 8)

Efek bola salju dari kondisi tersebut akan merambah pada penyelenggaraan ketatanegaraan yang baik sesuai dengan fungsi dan wewenangnya, reformasi birokrasi untuk mewujudkan birokrasi yang bersih-kredibel-efisien, penegakkan hukum dan perlindungan HAM yang bermula dari pembersihan para aparatnya dari perilaku bermasalah dan koruptif.

Bahkan lebih jauh lagi sampai pada tingkat provinsi dan daerah. Semua proporsional dan terkendali. Tentu kita ingat kisah Umar bin Khattab yang mengingatkan Gubernurnya, Amru bin Ash, dengan memberikan tulang yang telah diberi goresan pedangnya. Otonomi daerah itu penting, dengan catatan dengan adanya koordinasi dengan pusat.

Kedua, politik harus mampu melahirkan negarawan dengan lingkup kepemimpinan tingkat nasional yang memiliki keunggulan moral, kepribadian, dan intelektual.

Lebih lengkap lagi kalau kita merujuk pada kajian mendalam yang dilakukan oleh ulama besar yang bergelar Imamul mufassirin (pemimpin para ahli tafsir) yakni Ibnu Jarir At Thabari dalam kitabnya Jami’ul bayan fi ta’wil qur’an (lebih populer dengan nama tafsir At Thabari). Setelah Imam At Thabari menjelaskan berbagai pendapat ulama tentang pengertian rabbani ini, beliau sampai pada beberapa kesimpulan. Pertama, rabbani adalah level yang lebih tinggi dari sekedar faqih (memahami agama) dan ‘alim (penguasaan ilmu dari kitab Alloh). Kedua, rabbani ialah sebuah kejeniusan tersendiri yang mampu menggabungkan antara al-fiqh dan ‘alim dengan beberapa aspek vital lainnya, yakni:

  • Al bashirah bissiyasah, punya sense of politics yang tinggi atau kata lainnya adalah melek politik
  • Al bashirah bittadbir, wawasan manajerial yang memadai
  • Al qiyamah bi syu’un arra’iyyah wa ma yushlhuhum fi dunyahum wa dinihim. Pro rakyat, yakni selalu melaksanakan dan menjalankan segala urusan rakyat dan segala hal yang membawa kemaslahatan mereka, baik dalam kehidupan dunia mereka apalagi kehidupan beragama.

Poin ketiga, output yang diharapkan dari politik adalah terwujudnya kondisi yang makmur dan sejahtera, seperti yang termaktub dalam QS. Quraisy: 4.

“Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”

Inilah hal paling minimal yang harus dicapai oleh politik suatu negara: memastikan warga negaranya terbebas dari rasa lapar dan rasa takut. Itulah definisi makmur dan sejahtera yang terendah. Sudahkah negara kita mencapainya saat ini?

Terakhir, politik tidak hanya mengatur permasalah yang ada dalam satu negara saja, tetapi juga mengatur permasalahan antar negara. Dengan demikian, terdapat hendaklah setiap negara memperhatikan politik di luar negaranya, tidak bisa tak acuh. Menguatkan politik luar negeri yang bebas dan aktif guna turut mengupayakan stabilitas dan perdamaian dunia, karena Islam merupakan rahmatan lil’alamin. Ya, untuk semesta alam, bukan sekedar rahmatan lil muslimin. Jadi, non-muslim juga harus menikmati indahnya Islam, begitu pun dengan hewan, tetumbuhan, air, batu, dan semua benda yang ada dalam tiap jengkal Bumi Allah.

Allahu a’lam, semoga bermanfaat =3

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s