Pembinaan Pengurus Rohis/DKM

URGENSI PEMBINAAN PENGURUS DI ROHIS/DKM

Urgensi pembinaan pengurus dijelaskan dalam posisi, peran, dan fungsi pembinaan berikut ini:

  1. Posisi pembinaan dalam da’wah Rohis/DKM itu sangat strategis dan vital, karena merupakan hal pokok dalam organisasi Rohis/DKM selain syi’ar.
  2. Peran pembinaan dalam da’wah Rohis/DKM adalah sebagai bentuk asupan untuk pengurus dalam peningkatan kualitas dan kapasitas sekaligus penjagaan pengurus.
  3. Fungsi pembinaan dalam da’wah Rohis/DKM:
    • Menindaklanjuti proses syi’ar
    • Meningkatkan kualitas dan kuantitas pengurus
    • Mendukung upaya-upaya pemenuhan karakter muslim paripurna (kaffah)

KARAKTER CAPAIAN PEMBINAAN

Setiap agenda pembinaan haruslah memiliki target-target tertentu yang harus dicapai oleh peserta pembinaan, yaitu menjadi muslim yang paripurna, karenanya pembinaan itu memang bersifat lebih memaksa dibandingkan syi’ar. Peserta pembinaan sebaiknya memiliki pemahaman yang baik tentang urgensi dan tujuan pembinaan ini. Jadi, mau-tidak mau peserta tetap harus menerima meski kurang menyukai metodenya.

Pernah dengar istilah ‘berawal dari yang akhir dan berakhir di awal’? Seperti itulah pembinaan yang baik: nanti di akhir pembinaan yang panjang ini, peserta diharapkan hendak jadi seperti apa. Karena kita sedang membahas pembinaan keislaman, tentu target akhirnya peserta pembinaan bisa menjadi muslim yang paripurna, yaitu memiliki:

  • Aqidah yang selamat
  • Ibadah yang benar
  • Akhlak yang tegar
  • Kemampuan berpenghasilan
  • Pikiran yang intelek
  • Fisik yang kuat
  • Bersungguh-sungguh terhadap dirinya
  • Teratur dalam urusan-urusannya
  • Efisien menjaga waktu
  • Bermanfaat bagi orang lain

Sepuluh karakter muslim di atas masih terlalu umum, buatlah penjabarannya lagi yang lebih spesifik untuk pengurus Rohis/DKM, misalnya seperti ini untuk kelas XI:

Karakter Pengurus Rohis/DKM Penjabaran untuk Kelas XI
1.     Aqidah yang selamat
  1. Memahami hakikat ilmu tauhid
  2. Selalu meluruskan niat dalam melakukan sesuatu
  3. Menjaga diri dari kemusyikan (tidak berhubungan dengan jin dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kemusyrikan)
  4. Mengingat adanya hari kiamat
  5. Mengenal Allah
  6. Mengenal Rasul
  7. Mengenal Al Qur’an
  8. Mengenal hakikat manusia
  9. Memahami makna syahadatain
  10. Mengenal Dinul Islam
  11. Tidak ikut merayakan hari-hari besar agama lain dan acara-acara yang menjauhkan diri dari Allah
2.     Ibadah yang benar
  1. Melaksanakan shalat 5 waktu dan shaum Ramadhan
  2. Melaksanakan shalat berjama’ah min. 2x/hari
  3. Melaksanakan tilawah 10 hal/hari
  4. Melaksanakan shalat sunnat rawatib 3x/hari
  5. Melaksanakan shalat QL min. 1x/pekan
  6. Memiliki hafalan Al Qur-an min. surat Adh Dhuha-An Nas
  7. Melaksanakan shaum sunnat min. 3x/bulan
  8. Membaca Al Ma’tsuraat min. 2x/pekan
  9. Melaksanakan shalat Dhuha min. 1x/pekan
3.     Akhlak yang tegar
  1. Tidak dusta
  2. Memenuhi janji
  3. Menjaga adab pergaulan Islami
  4. Menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan
  5. Menyayangi yang muda dan menghormati yang tua
  6. Menjaga adab makan dan minum sesuai dengan sunnah
  7. Tidak berkhalwat dengan yang bukan mahram
  8. Tidak pacaran
  9. Mengenal karakter teman-teman sekelas
  10. Tidak takabbur
  11. Tidak ghibah
  12. Berani mengemukakan pendapat
  13. Rapi dalam berpakaian
  14. Birul Walidayn
4.     Kemampuan berpenghasilan
  1. Memiliki rekening pada bank syari’ah
  2. Menjauhi sumber penghasilan yang haram seperti judi, lotere, togel, dsb
  3. Menabung meskipun sedikit setiap bulan
  4. Membiasakan berinfaq tiap pekan
5.     Pikiran yang intelek
  1. Mampu berkomunikasi dengan baik
  2. Memahami hukum-hukum thaharah
  3. Memahami hukum-hukum shalat
  4. Memahami hukum-hukum shaum
  5. Memahami hukum-hukum zakat
  6. Memahami urgensi da’wah
  7. Memahami syumuliyatul Islam
  8. Mengetahui kisah Rasul dan Sahabat secara umum
  9. Mengetahui perangkap-perangkap musuh-musuh Islam
  10. Mengetahui ke-Rohis/DKM-an (visi misi, struktur, jobdesc tiap bidang)
  11. Mengenal seluruh DH dan Koor Bidang Rohis/DKM
  12. Mengenal 50 orang staf Rohis/DKM
  13. Memahami bagaimana harus bersikap terhadap non-Muslim
  14. Membiasakan diri berpikir positif
  15. Memahami urgensi menuntut ilmu
  16. Memahami urgensi pembinaan keislaman
  17. Mengikuti perkembangan berita terkini
6.     Fisik yang kuat
  1. Berolahraga: ½ jam/pekan
  2. Tidak merokok
  3. Tidak mengkonsumsi minuman keras dan narkoba
  4. Bangun paling lambat ketika adzan shubuh
7.     Bersungguh-sungguh terhadap dirinya
  1. Mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thoyib
  2. Menjauhi media informasi porno
  3. Tidak malas kuliah
  4. Menjauhi tempat maksiat
  5. Menjauhi seni yang tidak Islami
  6. Berusaha untuk senantiasa memperbaiki diri
8.     Teratur dalam urusan-urusannya
  1. Mengikuti setiap kepanitiaan di Rohis/DKM
  2. Berusaha tepat waktu dalam segala hal
  3. Merencanakan aktivitas harian
  4. Tidak pernah bolos sekolah
9.     Efisien menjaga waktu
  1. Bangun tidur maksimal saat adzan shubuh
  2. Menyediakan waktu untuk menambah ilmu/wawasan minimal 15 menit/hari
  3. Belajar materi pelajaran: 1 jam/hari
10. Bermanfaat bagi orang lain
  1. Menjaga hubungan dan komunikasi yang baik dengan orang tua
  2. Menunaikan beberapa dari hak muslim atas saudaranya: salam, mendoakan saat bersin, memenuhi undangan, ta’ziyah, menjenguk yang sakit, dll
  3. Menjaga hubungan baik dengan teman
  4. Mengunjungi tempat tinggal pengurus Rohis/DKM min. 3 orang


ALUR PEMBINAAN PENGURUS ROHIS/DKM

Alur pembinaan pengurus Rohis/DKM terdiri dari Perencanaan Sumber Daya Manusia (SDM), Rekrutmen, Pembinaan, Pengaryaan, dan Sistem Kontrol. Untuk lebih jelasnya, silakan lihat bagan di bawah ini:

alur pembinaan

Pada kesempatan kali ini, alur pembinaan yang akan dibahas adalah rekrutmen, pembinaan, dan pengaryaan.

  1. Strategi rekrutmen Rohis/DKM

    Rekrutmen pengurus Rohis/DKM bisa dimulai dengan memanfaatkan momentum MOS (Masa Orientasi Siswa). Ketika organisasi lain tampil dengan ‘garang’ dan penuh agitasi, Rohis/DKM hadir dengan lembut dan menyenangkan. Rohis/DKM harus bisa mengajak siswa baru menuju kebaikan dimulai dari kegiatan MOS ini. Siapkan apapun yang bisa dilakukan, misalnya:

    • Branding
      Bagi para siswa baru, kesan di awal itulah yang kemudian dikenang dan mempengaruhi kehidupan di sekolah selanjutnya. Oleh karena itu, munculkanlah kesan bahwa Rohis/DKM adalah organisasi yang eksis dan bermanfaat, yaitu memiliki karakter dan citra yang bersahabat bagi setiap siswa baru sehingga mereka lebih membuka diri pada Rohis/DKM. Jika sudah seperti itu, in-syaaLlah da’wah pun akan lebih mudah.
      Tunjukkan juga bahwa Rohis/DKM adalah organisasi yang besar, kuat, aktif, dan berpengaruh di mata siswa baru. Buatlah asumsi bila tidak ikut Rohis/DKM, tidak gaul. Atau “yang tidak Islami” berarti “tidak trendi”. Citrakan yang baik untuk Rohis/DKM, misal: acara yang tidak ngaret dan menunjukkan perilaku yang Islami dari para panitia.
      Perlu dicatat, pada masa ini yang dikejar adalah kuantitas karena sedang masa perekrutan, sedangkan kualitas dikejar ketika proses pembinaan dimulai. Oleh karena itu, rekrutlah sebanyak-banyaknya para siswa baru dengan branding yang baik sejak MOS ini.
    • Event (acara) dan Service (pelayanan)
      Para siswa baru itu butuh inspirasi, mereka butuh teladan untuk bisa sukses di sekolah, mereka butuh role model dalam kegiatan belajar dan organisasi, mereka butuh penyeimbang antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. Berikan itu semua di awal tahun ajaran baru dengan berbagai macam acara, misalnya:

      • Talkshow siswa atau alumni berprestasi yang aktif di Rohis/DKM dan pembinaan keislaman intensif.
      • Motivation Training untuk belajar ilmu dunia dan akhirat, dengan penekanan untuk belajar tentang Islam lebih dalam dengan ikut mentoring.
      • Kemuslimahan, biasanya dilaksanakan ketika ikhwan sedang shalat Jum’at, dengan penekanannya pada mengenakan kerudung dan hal keakhwatan lainnya.
      • Open house Rohis/DKM, citrakan yang baik dan menarik.
      • Bagi-bagi buku pelajaran second hand atau Al Qur-an.
      • Membuat booklet yang berisikan info umum mengenai sekolah, atmosfer KBM, profil Ekskul-Organisasi (perbanyak yang bagian Rohis/DKM, sedangkan ekskul yang lain informasi secukupnya saja), dll.
  2. Perangkat-perangkat pembinaan pengurus
    • Pembinaan Intensif
      Pembinaan intensif adalah pembinaan dalam bentuk kelompok (terpisah antara ikhwan dengan akhawat) yang anggotanya berjumlah mulai 5-12 orang agar memiliki ikatan antaranggota yang sangat erat. Pembinaan rutin sepekan sekali ini selayaknya wajib diikuti oleh pengurus Rohis/DKM. Sebagai orang yang senantiasa ’memberi’, semestinya ada ’asupan’ yang mesti rutin dilakukan. Bila seorang pengurus Rohis/DKM tidak punya ilmu, lantas apa yang akan dia da’wahkan. Pembinaan ini memiliki keunggulan sebagai berikut: pemantauan  yang  lebih  intensif  dan  melekat  dari  pembina terhadap perkembangan kualitas peserta, mendalamnya  pengenalan  terhadap  peserta  pembinaan intensif  sehingga  pembina  dapat menerapkan pendekatan secara khusus kepada setiap peserta, terbangunnya ukhuwah yang lebih kokoh antar peserta pembinaan intensif, dan dimungkinkannya pembinaan dilakukan secara kontinyu.
    • Mabit (Bermalam)
      Tujuan mabit ini sedikitnya ada tiga hal. Pertama, untuk mendekatkan diri kepada Al Qur-an dengan membaca Al Qur-an lebih banyak dari biasanya (misalnya: membaca 1 juz dalam semalam), menghafal Al Qur-an kemudian menyetorkannya ke tim yang ditunjuk, dan ceramah tentang Al Qur-an. Kedua, peningkatan kualitas ibadah wajib dan peningkatan kualitas-kuantitas ibadah sunnah dengan shalat maghrib, shalat isya, dan shalat shubuh berjamaah di masjid; melaksanakan shalat sunnah (rawatib, syukrul wudhu, tahiyatul masjid, dll) masing-masing; qiyamullayl berjamaah 8 rakaat + 3 rakaat dan surat yang dibaca lebih panjang. Ketiga, mempererat ukhuwwah pengurus Rohis/DKM sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat Umar bin Khattab ra bahwa bermalam bersama bisa bertambah saling mengenal. Mabit ini sejatinya pembinaan khusus ikhwan, sedangkan untuk akhwat bisa mengadakan kegiatan serupa dengan mabit tetapi dilaksanakan di siang hari.
    • Ta’lim/Kajian
      Ta’lim ini bisa dibilang gabungan dari seluruh kelompok pembinaan intensif pengurus Rohis/DKM (ikhwan dan akhawat digabung). Ta’lim ini sebaiknya memiliki alur karena menjadi bagian dari pembinaan, bukan syi’ar untuk umum.
    • Dauroh (Pelatihan)
      Sebuah dauroh harus bisa membuat pengurus Rohis/DKM yang tadinya ‘tidak bisa’ menjadi ‘bisa’ (kalau ta’lim yang tadinya ‘tidak tahu’ menjadi ‘tahu’). Biasanya dauroh berkenaan dengan suatu kemampuan, seperti: soft skill (kepemimpinan, public speaking, dll) dan hard skill (menyetir, P3K, dll). Bentuk dauroh bisa berupa muhasabah, training motivasi, simulasi, workshop, bedah buku, focus group discussion, maupun team building. Meskipun tidak harus, sebaiknya dauroh diadakan di tempat yang lebih jauh dari tempat sehari-hari (seolah dikarantina) dan hanya punya 1 tema agar lebih fokus.
    • Rihlah
      Bedakan rihlah untuk pembinaan dengan rihlah untuk syi’ar. Rihlah untuk syi’ar itu murni untuk refreshing (jalan-jalan, bermain games, makan-makan, lalu pulang). Sedangkan rihlah untuk pembinaan harus ada capaiannya. Misalnya: kegiatan yang bersifat sains dengan meneropong bintang, kegiatan yang bersifat fisik dengan menjelajah gunung/pedalaman hutan, atau wisata ekstrem seperti bungge jump, paralayang, terjun parasut, arum jeram, dan scuba diving. Tentu lebih seru bukan? Namun, perlu diingat, setiap kegiatan rihlah harus mengacu ke pembinaan.
    • Riyadhoh (Olah Raga)
      Untuk riyadhoh, yang perlu diperhatikan adalah bentuk olahraga yang sebaiknya benar-benar membuat badan menjadi lebih sehat (tidak sekedar permainan semata) atau bermanfaat untuk perlindungan diri seperti Thifan Po Khan. Selain itu, perhatikan juga frekuensi dan durasi waktunya agar tidak terlalu sering apalagi terlalu jarang.
    • Outbond dan Kemah
      Pembinaan semimiliter dengan tempo yang keras, melakukan stressing dan agitasi positif, lalu berlanjut dengan muhasabah untuk intropeksi para pengurus. Hal ini bertujuan untuk melatih nyali pengurus sekaligus melatih pengurus untuk berani melawan tantangan dunia. Juga untuk memicu kesigapan dan ketaatan dari pengurus. Bisa juga dengan mengadakan berbagai simulasi yang bermanfaat.
    • Penugasan
      Penugasan bisa disebut juga pembinaan aktif karena peserta diharapkan mampu berperan aktif dalam mencari ilmu/kemampuan yang harus dicapai dengan usaha sendiri. Jenis penugasan bisa berupa tugas melakukan sesuatu, misal: membaca buku tertentu, membuat resume, mewawancarai seseorang, dan membuat tulisan/esai/opini tentang sesuatu. Atau tugas untuk menjadi sesuatu, misal: menjadi pemimpin rapat, menjadi pengisi kultum di kelas, dan menjadi panitia di acara Rohis/DKM.
    • Jaulah (Kunjungan)
      Pembinaan ini berupa mengunjungi seorang tokoh atau tempat tertentu dengan tujuan bisa mendapat ilmu langsung dari ahlinya. Misalnya: belajar bahasa arab dan ilmu hadits ke ulama di pesantren, belajar tentang enterpreneurship ke pengusaha sukses, belajar dasar-dasar politik ke pejabat negara, atau studi banding ke Rohis/DKM sekolah lain yang lebih mapan.
  3. Pengaryaan dalam kepengurusan dan kepantiaan
    Pengaryaan merupakan proses pemberdayaan potensi  pengurus Rohis/DKM  dengan memberikan pembebanan  berupa  tugas  atau amanah  tertentu. Pengkaryaan bukanlah eksploitasi tenaga pengurus, melainkan merupakan  bagian yang integral dari proses pembinaan. Berikut ini ada beberapa hal yang bisa dijadikan tempat berkarya seorang pengurus Rohis/DKM:
    • Angkatan (informal): Ketua angkatan, Proyek-proyek angkatan.
    • Kelas: Ketua atau wakil ketua kelas, Seksi Rohani Kelas.
    • Kepengurusan Rohis/DKM: Staf bidang, Kepala bidang, Dewan harian.
    • Kepanitiaan acara Rohis/DKM: Anggota divisi, Koordinator divisi, Ketua/wakil ketua/sekretaris/bendahara.
    • Pembinaan intensif: Pembina adik kelas, Asisten (bila pembinanya dari alumni).
    • Organisasi lain: OSIS dan MPK, Pramuka dan PMR, Ekrakurikuler lainnya sesuai minat dan bakat.

    Untuk kepanitiaan, alangkah baiknya pengurus Rohis/DKM dikelola persebarannya pada setiap kepanitiaan. Jangan sampai ada satu orang jadi koordinator di setiap kepanitiaan, sedangkan yang lainnya selalu jadi staf. Kemudian, jangan melulu pakai sistem staffing (penempatan) oleh Dewan Harian Rohis/DKM. Sesekali adakan rekrutmen terbuka (pengurus boleh memilih mau dimana) untuk setiap divisi di kepanitiaan. Bila suatu divisi yang kuotanya sudah penuh, baru ‘dimutasi’ ke divisi lain yang belum penuh dengan pertimbangan tertentu.

MENUMBUHKAN NUANSA KEKELUARGAAN DALAM ROHIS

Sesungguhnya…” begitu Allah memulai firman-Nya dalam surat Al Hujurat ayat ke-10 “…setiap mukmin adalah bersaudara…” Salah satu kesimpulan yang bisa kita ambil adalah ukhuwah itu dampak dari keimanan, maka ia terlahir dari kedekatan kita pada Allah. Seperti beberapa benda terserak yang sedang menuju satu titik, lambat laun benda-benda tersebut akan saling mendekat. Begitu juga dengan manusia, bila setiap pengurus Rohis/DKM mendekat pada satu Allah (bertambah keimanan), maka tiap hati para pengurus Rohis/DKM kita akan saling mendekat (ukhuwahnya semakin erat).

Sebagai organisasi Islam, Rohis/DKM harus mengupayakan tumbuhnya nuansa kekeluargaan ini di antara para pengurusnya. Buatlah kegiatan khusus yang tujuannya lebih ke meningkatkan ukhuwah dan melepaskan kepenatan berda’wah. Bentuknya bisa berupa: sharing dengan angkatan terdahulu tentang Rohis/DKM, nonton film/dokumentasi yang bermanfaat untuk Rohis/DKM, makan-makan bersama, games tentang ukhuwah, atau saling bertukar kado.

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s