Stand by Me


Shizuka dan Ayahnya

Shizuka dan Ayahnya

Don’t be silly, you’ve given us so many wonderful things… So many, I lost count. Your first gift was that you were born. It was 3 am. Your first cry sounded like an angel’s trumpet, the most beautiful music I’ve ever heard. When I left the hospital, the sky was beginning to light up, but there were still stars scattered in the sky. In this vast universe, a new life was born carrying my blood. I was so moved that I couldn’t stop crying…

Yoshio Minamoto (ayahnya Shizuka) menggambarkan betapa bahagianya seorang ayah ketika anak pertamanya lahir. Wuaaa, keren! Semoga diberi kesempatan oleh Allah untuk mengalami hal tersebut. Amiin…

…and every day, every year since then, all the happy memories. We can’t ask for anything better. We’ll miss you, but those memories will keep us happy. You don’t have to worry.

Sebenernya ini lanjutan dari kuot di atas, tapi kalo ini ceritanya kebahagiaan ketika membersamai perkembangan sang anak hingga suatu saat sang anak menikah.

Sekian cuplikan dari film Stand by Me-nya Doraemon. Semoga bermanfaat…
Ps. Film ini bukan untuk anak-anak, karena isinya cinta-cintaan.

Daniel Libeskind: Architecture is a Language


Biografi Singkat

Lahir di Lód’z, Polandia, pada tahun 1946, Daniel Libeskind berimigrasi ke Amerika Serikat saat masih remaja bersama keluarganya dan menetap di Bronx. Setelah belajar musik di New York dan Israel dengan Beasiswa Yayasan Budaya Israel-Amerika, ia berkembang menjadi seorang musical virtuoso, sebelum akhirnya meninggalkan musik untuk belajar arsitektur.

Ia menerima gelar profesional di bidang arsitektur dari Cooper Union untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Seni pada tahun 1970 dan gelar pascasarjana dalam sejarah dan teori arsitektur dari Sekolah Studi Perbandingan di Essex University di Inggris pada tahun 1972. Daniel Libeskind mendirikan studio arsitektur di Berlin, Jerman, pada tahun 1989 setelah memenangkan kompetisi untuk membangun Jewish Museum di Berlin. Pada Februari 2003, Studio Daniel Libeskind memindahkan kantor pusatnya dari Berlin ke kota New York ketika Daniel Libeskind terpilih sebagai master planner untuk pembangunan kembali World Trade Center.

Cara Pandang terhadap Arsitektur

Daniel Libeskind berpendapat bahwa bangunan menghasilkan energi baru untuk ruang sosial budaya di suatu kota. Penggunaan bahasa adalah suatu harapan untuk berbicara dengan cara apapun kepada semua orang dan hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat menginspirasi Daniel Libeskind dalam berarsitektur dan dalam merancang kota. Daniel Libeskind selalu berpikir bahwa arsitektur dan musik memiliki keterkaitan yang erat. Pertama-tama, secara emosional arsitektur itu sama rumit dan sama abstraknya dengan musik yang datang hingga menyentuh jiwa, tidak hanya menyentuh pikiran saja. Ketika kita mendengarkan Bach, itu berbicara tentang jiwa, begitu juga dengan arsitektur. Arsitektur didasarkan pada keseimbangan dan keseimbangan dalam tubuh manusia berada di telinga bagian dalam, bukan di mata ataupun bagian tubuh lainnya.

Daniel Libeskind berpikir tentang gambar tangan (drawing) benar-benar sebuah score, sebuah lembaran musik, yang nantinya ditafsirkan oleh masyarakat. Tentu saja proporsi, cahaya, dan material harus disertakan dalam gambar tangan sebuah bangunan, begitu juga dengan penyajian ruangan dan suasana dari suatu bangunan. Dengan demikian, sebuah gambar tangan untuk membantu latihan bagi arsitek. Kita selalu berpikir bahwa kita tidak bisa melakukan sesuatu tanpa komputer agar bisa efisien secara waktu, rasional, dan seterusnya. Akan tetapi, Daniel Libeskind tetap percaya bahwa gambar (drawing) adalah sumber dari arsitektur. Maksudnya, memang benar-benar sumber dari arsitektur, karena tangan bagaikan mata yang saling berhubungan dan saling berbagi dalam proses yang tidak murni intelektualitas, tetapi itu spiritual dari suatu keinginan, kepercayaan kepada sesuatu yang tidak dapat dilihat, dan itu adalah bukti dari sesuatu yang benar-benar ada tetapi tidak jelas terlihat.

Karya-Karya dan Proses Perancangannya

  1. 18.36.54 House, Connecticut
    Baca lebih lanjut

Lapang Dada


Baru tau Sheila On 7 ngeluarin album “Musim yang Baik” setelah 1 bulan peluncurannya tahun lalu. Haha, yaudah sih.

Lagu pertama yang dijadikan andalan adalah Lapang Dada, sebuah posisi paling rendah dari ukhuwwah. Kalo klik music video di atas, cerita yang diangkat berbeda jauh dengan latar belakang lagu ini. Jadi, dengerin aja, jangan ditonton.

Sebenernya lagu ini diciptakan Eross untuk mengisahkan tentang 3 generasi: Eross sendiri, ayahnya yang telah tiada, dan anaknya. Eross merasa setelah punya anak, makin rindu sama ayahnya dan masih banyak hal yang belum terselesaikan dengan halnya.
Baca lebih lanjut