My Lovely

Beberapa hari lalu pas di kereta pulang, saya mendengar ibu-ibu ngobrol tentang pengalamannya melahirkan. Sebenernya gak mau nguping, tapi si ibu tersebut ngobrolnya keras banget dan orang-orang lagi pada diem. Jadi mau-gak mau pasti kedengeran, padahal sudah berusaha keras gak ngedengerin, soalnya horor banget ceritanya. Bikin lutut lemes dan sekujur tubuh jadi ngilu. Gimana dong nanti pas anak saya beneran lahir? Masih jadi PR nih, persiapan mental ngeliat d***h.

Ngomong-ngomong soal anak, saya jadi inget lagu My Lovely-nya Sheila on 7. Saya menafsirkan kalo lagu ini bercerita tentang pesan seorang ayah kepada anaknya. Pesan tersebut meminta sang anak untuk terus tegar menghadapi berbagai cobaan hidup dan tetap teguh berada di jalan yang diridhoi oleh Allah agar kelak mendapatkan surga-Nya. Anehnya, kuot yang paling suka berkenaan dengan pesan di atas adalah perkataannya Friedrich Nietzsche: “That which does not kill us, makes us stronger.” Kenapa aneh? Karena orang yang sama juga ngedeklarasiin kalo Tuhan telah mati dibunuh oleh manusia. Yah, saya tak peduli siapa yang ngucapin, semoga anak saya jadi orang yang kuat. Kuat iman, kuat akhlaq, kuat jasmani, dan kuat pikiran.

Untuk itu, saya mencoba persiapan sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Berikut ini beberapa persiapan menyambut buah hati, terutama bagi yang akan mengalaminya pertama kali:

  1. Selalu berdoa kepada Allah
    Berdoalah agar diberi anak yang sempurna dan dijadikan sebagai hamba yang bersyukur, seperti yang tercantum pada Surat Al A’raaf ayat 189-190 berikut ini:
    “Dialah yang menciptakan kalian dari satu manusia dan menjadikan darinya istrinya, agar dia merasa tentram dengannya. Maka setelah dia mengumpulinya, istrinya mengandung kandungan ringan, terus merasa ringan beberapa waktu. Tatkala dia merasa berat, maka keduanya berdoa kepada Robbnya, seraya berkata: ‘Sesungguhnya jika engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang yang bersyukur.’ Tatkala Alloh memberi anak yang sempurna kepada keduanya, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Alloh terhadap anak yang telah dianugerahkan kepada keduanya. Maha suci Alloh terhadap apa yang mereka persekutukan.” (TQS. Al A’raaf: 189-190)
  2. Menyiapkan nama yang baik
    Sebenernya hal ini sudah lama berkecamuk dalam pikiran saya. Di salah satu bukunya ust. Salim A Fillah (kalo gak salah), saya pernah baca bahwa nama bangsa Arab yang mencantumkan nama ayahnya, contoh: Fulan bin Fulan, adalah bertujuan untuk mengenal sifat seorang anak melalui sifat ayahnya. Ini berguna pada saat seorang laki-laki ingin menikahi seorang perempuan, kalo ingin mengetahui sifat perempuan tersebut gak usah pake pacar-pacaran, tetapi liat aja sifat ayahnya yang tercantum di nama perempuan tersebut *beuh, langsung muter lagu Marry Your Daughter-nya Brian Mcknight*
    Tapi, saya merasa penamaan tersebut kurang Indonesia, lalu muncullah ide saat nonton film Harry Potter, gampangnya tinggal hilangkan kata “bin”-nya (nama Harry Potter kalo pake penamaan Arab, jadinya Harry bin James Potter). Jadi nanti nama anak saya tuh Fulan Reza Hudrita, muhahahaha… Kalo istri saya mau ikut nebeng nama keluarganya, bisa dibelakang nama tersebut, seperti penamaan orang-orang Spanyol. Contohnya, Fernando José Torres Sanz: “Fernando” adalah nama dia, “José Torres” adalah nama bapaknya, dan “(Flori) Sanz” adalah nama ibunya; sehingga dipanggil Fernando Torres.
    Nah, sekarang tinggal cari nama pengganti untuk “Fulan” dari nama saya di atas. Paling ideal adalah Abdullah atau Abdurrahman (atau setelah dialihkan ke bahasa Indonesia dulu), sesuai hadits dari Ibnu ‘Umar, RasuluLlah saw. bersabda, “Sesungguhnya nama kalian yang paling dicintai di sisi Allah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman.” (HR. Muslim no. 2132)
    Atau menggunakan nama-nama Nabi, seperti yang dianjurkan hadits dari Al Mughirah bin Syu’bah ia berkata, “Ketika aku mendatangi kota Najran, para penduduknya bertanya kepadaku: Sesungguhnya kalian membaca “Wahai saudara Harun”. Padahal Musa hidup sebelum Isa berjarak beberapa tahun. Maka ketika aku datang kepada RasuluLlah saw, aku menanyakan hal itu kepada beliau, dan beliau pun menjawab, “Dulu mereka memberi nama dengan nama-nama para Nabi mereka dan orang-orang shaleh dari kaum sebelum mereka.”” (HR. Muslim no. 2135) dan nama yang dianjurkan oleh RasuluLlah saw adalah namanya sendiri, yaitu: Muhammad.
  3. Menyiapkan kurma untuk mentahnik
    Ketika si buah hati telah dilahirkan, maka seorang ayah hendaknya mentahnik langit-langit mulut si bayi dengan buah kurma yang telah dilumatkan. Sunnah ini diceritakan dalam hadits dari Abu Musa, beliau berkata: “(Suatu saat) aku memiliki anak yang baru lahir, kemudian aku mendatangi Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau memberi nama padanya dan beliau mentahnik dengan sebutir kurma.” (HR. Muslim no. 2145)
    Di samping mentahnik, hendaknya orang yang mentahnik mendoakan keberkahan kepada bayi yang baru lahir, misalnya dengan doa: Allahumma barik fih, atau BarakaLlahu fih, atau boleh pula dengan do’a keberkahan lainnya.
  4. Menyiapkan kambing untuk aqiqah
    Pada hari ketujuh dimulai pada hari kelahiran, hendaknya setiap orang tua melaksanakan aqiqah untuk anaknya dengan menyembelih kambing. Hal ini berdasarkan hadits dari Samuroh bin Jundub, RasuluLlah saw. bersabda, Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
    Meski adanya perbedaan pendapat, aqiqah yang utama adalah dengan menyembelih dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan menyembelih satu ekor kambing untuk anak perempuan. Sebagaimana sabda RasuluLlah saw. yang artinya “Bayi laki-laki hendaklah diaqiqahi dua ekor kambing sedangkan bayi permpuan satu ekor kambing.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi) Tentu kambing yang dipilih musti memenuhi syarat selayaknya hewan qurban, kemudian membagi-bagikan daging kambing tersebut kepada kaum muslimin.
  5. Menyiapkan sedekah sesuai rambut bayi
    Mencukur rambut kepala bayi hingga gundul disunnahkan dilakukan pada hari ketujuh sebagaimana dijelaskan dalam hadits dari ‘Ali bin Abu Thalib ia berkata, “RasuluLlah saw. mengaqiqahi Hasan dengan seekor kambing.” Kemudian beliau bersabda, “Wahai Fatimah, gundullah rambutnya lalu sedekahkanlah perak seberat rambutnya.” Ali berkata, “Aku kemudian menimbang rambutnya, dan beratnya sekadar uang satu dirham atau sebagiannya.” (HR. Tirmidzi no. 1519. Abu Isa berkata; “Hadits ini derajatnya hasan gharib dan sanadnya tidak bersambung. Dan Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Al Husain belum pernah bertemu dengan Ali bin Abu Thalib.” Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini telah di-washol-kan/disambungkan oleh Al Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Al Irwa’ 1175)
    Tidak boleh mencukur sebagian kepala saja dan meninggalkan sebagian lainnya, selayak hadits dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, RasuluLlah saw. melarang qoza’.” Aku (Umar bin Nafi’) berkata pada Nafi’, “Apa itu qoza’?” Nafi’ menjawab, “Qoza’ adalah menggundul sebagian kepala anak kecil dan meninggalkan sebagian lainnya.” (HR. Muslim no. 2120)
    Dalam hadits ‘Ali bin Abi Tholib sebelumnya, terdapat anjuran untuk bersedekah dengan perak seberat timbangan rambutnya, atau boleh pula sedekah dengan uang seharga perak tersebut.
  6. Mengkhitan
    Mengkhitan merupakan syariat Islam berdasarkan sabda RasuluLlah saw. “Fitrah itu ada lima hal: khitan, mencukur bulu kemaluan, menggunting kumis, menggunting kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Bukhari no. 5891, 6297, Muslim no. 257, Abu Dawud no. 4198, Tirmidzi no. 2756, An Nasa-i I/13-14, Ibnu Majah no. 292 dan Ahmad II/229, 239, 410, 489)
    Waktu untuk khitan dianjurkan sebelum anak beranjak aqil baligh, terutama untuk perempuan yang biasanya dikhitan hanya beberapa hari dari kelahirannya.

Sekian persiapan menyambut anak pertama kali ini. Semoga jadi lebih shalih dan lebih bermanfaat dari ayahnya. Amiin…

My lovely, ingat sakit ini
Sebagai cahaya dalam tiap langkahmu

Lovely, yang ku tahu pasti
Bentang cerah masa depanmu menanti

Tulisan ini dibuat dari berbagai sumber.

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s