Membina Anak ala Inside Out

Fear, Anger, Joy, Disgust, dan Sadness

Fear, Anger, Joy, Disgust, dan Sadness

Assalamu’alaykum semuanya. Apa kabar pembaca setia blog ini? Mehehe…

Ada yang pernah nonton Inside Out? Itu lho, film animasi tentang perjalanan seorang anak yang bernama Riley beserta 5 “makhluk” yang merupakan tipe-tipe perasaan yang ada di tubuhnya. Makhluk-makhluk itu adalah Joy yang membuat Riley merasakan kegembiraan, Sadness untuk rasa sedih, Fear untuk rasa takut, Disgust untuk rasa jijik, dan Anger untuk rasa marah.

Dari film ini kita diberi tahu bahwa seharusnya setiap orang memiliki dasar kepribadian bahagia. Perasaan yang lain akan muncul hanya pada waktu tertentu saja. Rasa takut muncul agar kita terhindar dari berbagai kecelakaan (fisik maupun sosial), rasa jijik muncul supaya kita terhindar dari keracunan (fisik maupun sosial), rasa marah muncul supaya kita bisa menegakkan keadilan untuk diri kita, sedangkan rasa sedih muncul supaya hati kita menjadi lembut.

Ketika para makhluk di atas beraksi hingga mempengaruhi perasaan Riley, akan terbentuk bola-bola memori yang berwarna-warni tergantung perasaan apa yang menyelimuti memori tersebut. Bila memori tersebut bahagia, akan berwarna kuning. Bila memori tersebut sedih, akan berwarna biru. Bila memori tersebut takut, akan berwarna ungu. Bila memori tersebut jijik, akan berwarna hijau. Bila memori tersebut marah, akan berwarna merah.

Pada saat-saat tertentu, pasti akan ada memori yang begitu kuat bagi seseorang karena hal tersebut dirasa sangat penting. Memori itulah yang akan menjadi kepribadian seseorang. Misalnya Riley kecil, saat musim dingin orang tuanya mengajak bermain hoki dan ternyata ketika Riley mencetak gol pertama dalam hidupnya menjadi memori yang kuat, sehingga mulai saat itu terbentuk “Pulau Hoki” dalam diri Riley yang membuat dirinya mencintai permainan hoki.

Awalnya, ada anggapan di antara 5 makhluk itu bahwa memori kuat akan jadi bagus bila hanya terlahir dari kegembiraan dari Joy. Ternyata hal itu tidak begitu tepat, karena justru tiap perasaan punya peran masing-masing untuk memperkuat kepribadian seseorang melalui memori yang dilaluinya. Kegembiraan, kesedihan, ketakutan, kejijikan, dan kemarahan sangat dibutuhkan oleh seseorang saat tiba waktunya. Mungkin tabel dari situs vox.com berikut ini bisa membantu:

Inside Out Emotions

Nah, lalu bagaimana menerapkan hal ini ke anak kita? Saya punya beberapa sintesis sebagai hikmah yang saya tangkap setelah menonton Inside Out dan metode membina anak ini saya sebut “Outside In” (<- apa coba?). Ini dia:

  1. Buatlah anak kita selalu dalam keadaan gembira apapun yang terjadi. Akan tetapi jangan mematikan rasa-rasa lainnya juga. Hanya upayakan mereka muncul dalam keadaan yang tepat saja. Memang sulit sih, saya pun belum bisa mempraktikannya, jadi gak bisa menjelaskan hal itu dari pengalaman pribadi. Mungkin ada yang mau share?
  2. Bentuklah kepribadian-kepribadian yang baik dengan mambuat memori yang sangat mengesankan pada hal tersebut. Seperti film Inside Out, memori yang sangat mengesankan itu tidak melulu berasal dari kegembiraan, namun bisa gabungan dari dua perasaan. Misal, bila kita ingin membentuk kepribadian Qur-ani pada diri anak kita, tidak hanya membuat anak kita merasa bahwa berinteraksi dengan Al Qur-an itu menyenangkan, bisa juga dengan membaca atau menghayati makna Al Qur-an bersama-sama hingga menangis. In-syaaLlah kesedihan “yang menyenangkan” itu akan membuat anak kita berkepribadian Qur-ani. Atau bisa juga dengan “menakut-nakuti” anak kita dengan balasan terhadap orang yang jauh dari Al Qur-an, bila waktu dan caranya tepat semoga bisa membekas pada anak kita sebagai memori kuat yang positif dan menjadi “Pulau Al Qur-an”.
  3. Seringlah untuk berinteraksi dengan anak kita dengan menyentuh kepribadiannya sehingga (kalo di film) pulau yang terbentuk pada diri anak kita jadi aktif secara rutin. Dengan demikian, kepribadian itu akan menjadi kuat hari demi hari. Tetapi kalo ada kepribadian yang kurang baik (na’udzubiLlah) pada anak kita, jangan sekali-kali berinteraksi yang berkaitan dengan kepribadian tersebut agar (kalo di film) pulau itu hancur dan jatuh ke jurang.

Itu aja kali ya untuk tulisan kali ini. Ingat, penulis bukan ahli parenting, psikolog, apatah lagi praktisi pendidikan anak. Jadi, ambil yang baik dan buang yang buruk. Semoga bermanfaat ya, guys…
Allahu a’lam.

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.