411

Weekend lalu, saya meninggalkan istri di rumah selama 4 hari, lalu menemukan tulisan inspiratif di IG-nya.

Ini postingan pertama:

Hari ini ada yang sedang berjuang di jalan.
Hari ini ada yang tetap berjihad mencari nafkah.
Hari ini ada doa-doa melangit yang insya Allah menginginkan kebaikan untuk semuanya, untuk ummat Islam, untuk Indonesia.

Mari jadikan ini pengingat, betapa dahsyatnya perkara yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Saya sangat suka dengan pernyataan seorang teteh yang menyebut hari ini sebagai Musim Semi Al-Qur’an.

Semoga setelah ini sama-sama bisa lebih menyadari dan memaknai ayat-ayat Al-Qur’an lebih dalam. Bukan hanya euforia hari ini saja. Tapi barangkali kita semua sama-sama harus tetap berefleksi pada kitab-Nya di hari esok dan esoknya lagi, untuk bisa mendapat pemahaman penuh tentang iman, akhlak, dan tak lupa juga, ghirah.

Postingan kedua:

Saya bersama mereka yang di hatinya tulus memiliki rasa cemburu terhadap agamanya (we call this “ghirah”), baik yang rasa cemburunya ditunjukkan dengan turun ke jalan, yang menyanggupi memberi dukungan dalam bentuk lain, yang menyatakan dimana ia berdiri, yang melangitkan doa-doa, atau yang diam-diam hatinya terusik. Tak apa, kadarnya berbeda.

Dan tentu saya mengagumi mereka yang dengan ghirah-nya masih tetap santun. Fokus pada tujuan dan niat awal. Tetap jernih berpikir dan tidak terbawa emosi sesaat. Tapi memang mungkin tidak semua bisa. Tak apa, semua sedang belajar tentang itu.

Tapi bagi yang tidak paham…
Bagi kami, agama bukan simbol. Agama adalah cara hidup kami. Islam itu ‘Rabbaniyyah’, berorientasi terhadap ‘Rabb’. Apapun dalam hidup harus diupayakan karena-Nya. Tentu dengan mempelajari penafsiran yang benar. Tidak asal, tidak memanfaatkan potongan-potongan firman. Yang saya pahami, termasuk di antara berorientasi terhadap ‘Rabb’ adalah menyukai apa yang disukai-Nya, dan termasuk juga membenci apa yang dibenci-Nya. Tapi bukan berarti boleh membenci secara brutal. Islam menyisipkan nilai-nilai akhlak bahkan dalam hal seperti ini. Ada cara-caranya, yang saya pun mungkin masih jauh dari memahaminya secara utuh. Dan memang betapa sulitnya tidak mencampuradukkan kebencian karena-Nya dengan emosi-emosi pribadi. Jadi, jika kami terlihat menjadi seorang pembenci, maksud hati kami, kami hanya cemburu luar biasa, karena ada perkara yang terjadi, perkara yang kami tahu Allah membencinya. Maafkan yang tak tahu bagaimana cara menunjukkan rasa cemburu yang benar. Tak apa, kalau lah banyak yang tak memahami soal ini, kadar pemahaman orang berbeda.

Yang jelas hari kemarin akan tercatat dalam sejarah. Tinggal apakah semuanya sama-sama mau membuka mata dan menjernihkan pikiran. Sama-sama mengulik dari sumber-sumber yang terpercaya, sama-sama tidak mudah membagikan berita yang belum jelas kebenarannya. Sama-sama tetap mengutamakan kebaikan bersama.

Salam #411..

Dan saya hanya ingin menegaskan pada dunia, kepada pihak mana kami berdua berada. Meski raga tidak nyata di jalanan raya, namun gelora yang terasa di dada in-syaaLlah sama: bela Al Islam, bela Al Qur-an.
Ya Allah, saksikanlah…

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.