Membina Anak

Sebenernya draft tulisan ini sudah dibuat sejak Jum’at lalu. Tetapi baru selesai sekarang, padahal kemarin 23 Juli itu bertepatan dengan Hari Anak Nasional, sesuai dengan Keputusan Presiden RI No 44 Tahun 1984 yang dibuat oleh Pak Harto.

Pada kesempatan kali ini saya ingin mencoba berbagi tentang tipe-tipe anak, mulai dari yang negatif sampai yang positif. Tipe anak yang negatif disebutkan agar kita berusaha untuk membina anak kita TIDAK seperti itu. Sebaliknya, tipe anak yang positif supaya kita bisa membina anak kita KE ARAH seperti itu.

Kita mulai:

  • MUSUH
    “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS. At Taghabun: 14)
    Ini tingkatan anak yang paling parah. Dia menjadi musuh bagi orang tuanya. Dia melawan da’wah orang tuanya. Dia menjadi pihak yang bersebrangan dengan orang tuanya dan menginginkan kehancuran bagi orang tuanya. Na’udzubiLlah, semoga anak kita terhindar dari tipe anak yang seperti ini.
  • UJIAN
    “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (TQS. At Taghabun: 14)
    Ini juga masih negatif, namun masih mendingan dibandingkan yang pertama. Anak yang menjadi fitnah tidak sampai menjadi musuh, tetapi mengganggu orang tuanya dalam kadar ringan ataupun berat. Mulai dari anak yang sakit-sakitan sehingga mengganggu aktivitas ibadah maupun da’wah orang tuanya.
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (TQS. Al Munafiqun: 9)
    Sampai yang berbuat maksiat terang-terangan sehingga membuat malu dan sedih orang tuanya. Na’udzubiLlah, semoga anak kita juga terhindar dari tipe anak yang seperti ini.
  • PERHIASAN
    “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak…. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (TQS. Ali ‘Imran: 14)
    Kalau yang ini AlhamduliLlah sudah positif, tinggal bagaimana kita sebagai orang tuanya menyikapinya. Anak bisa menjadi perhiasan bagi orang tuanya selama di dunia. Dan itu sah-sah aja, karena Allah sendiri yang bilang ‘itulah kesenangan di dunia’, tapi ingat ‘di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik’. Perhiasan itu bisa dari prestasi anak-anak kita yang kinclong. Hanya saja, wahai orang tua, prestasi itu bukan hanya akademis aja, bukan hanya intelejensia saja. Kecerdasan itu ada banyak. Ga usah sedih kalo anak kita ga berprestasi di bidang yang memang bukan minat dan bakatnya di situ. Mungkin nilai di sekolah atau kuliahan biasa aja, tapi soft skillnya bagus banget, tentu tetap bisa sukses. Dari sekian banyak, prestasi yang musti wajib ada (walau ga harus yang cemerlang banget) adalah dalam keilmuan agama dan ibadahnya.
    “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (TQS. Al Kahfi: 46)
    Prestasi di dunia itu cool, tapi akan lebih bernilai jika amalannya juga seabreg. Tentu itu yang akan menolong anak kita dan kita sebagai orang tuanya di akhirat. Toh, dunia ini tempat mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Jadi, buatlah prestasi dunia itu menjadi loncatan sukses di akhirat.
    “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…” (TQS. Al Hadid: 20)
    Anak bikin bangga orang tuanya boleh, orang tua bangga punya anak yang berprestasi boleh, akan tetapi orang tua yang membangga-banggakan anaknya (apalagi terlalu membangga-banggakan) itu yang gak boleh.
  • PENYENANG HATI
    “Ya Tuhan kami, karuniakan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami).” (TQS. Al Furqan: 74)
    Nah, ini yang paling ideal. Ya Allah, semoga kita semua bisa mempunyai anak-anak yang menjadi penyenang hati, karena secara keimanan tidak diragukan, ibadah juga kenceng, dan perilaku dalam kehidupan sehari-harinya pun cemerlang. Ya Allah, semoga kita semua bisa dikumpulkan lagi di surga bersama istri dan anak kita.
    “Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (TQS. Ath Thuur: 21)
    Salah satu cara agar bisa dipertemukan kembali dengan anak kita adalah membangun rasa takut akan azab Allah di tengah-tengah keluarga kita. Dan bila anak kita telah menjadi anak yang shalih-shalihah, itu akan menjadi amalan yang tiada pernah terputus meski kita telah tiada. Inilah wajibnya kita punya anak dan membinanya, karena umur kita terbatas dan amalan kita sedikit, maka perpanjanglah dengan anak shalih.
    “Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu didoakan orang tuanya.” (HR. Muslim, no. 1631)

Terus gimana caranya biar anak kita jadi tipe yang positif? Yah, keteladanan orang tua musti ada. Bukan harus jadi orang tua yang sempurna, tetapi agar tertanam pada diri anak-anak tentang kesadaran agar selalu cenderung pada kebaikan. Kedekatan orang tua pada anak juga sangat penting sehingga anak tidak kehilangan masa kanak-kanaknya. Dan tidak lupa nasihati anak kita dengan nasihat yang Luqman ajarkan:

  1. Pentingnya syukur kepada Allah.
  2. Bahayanya syirik kepada Allah.
  3. Ketaatan kepada kedua orang tua atas perantara penciptaanmu dari Allah.
  4. Luasnya ilmu Allah.
  5. Perintah shalat dan dakwah kepada Allah.
  6. Pentingnya sabar atas ketetapan Allah.
  7. Bahaya akhlaq yang tidak disukai Allah.

Allahu a’lam…

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.