Mengenal Al Aqsha

Pembaca yang budiman, saat ini adalah konidisi terburuk sepanjang sejarah Masjid Al Aqsha, karena pada hari Jumat, 12 Juli 2017 pertama kalinya dalam sejarah 50 tahun penjajahan Israel, Masjid Al Aqsha ditutup total untuk kaum Muslimin untuk melakukan shalat Jumat dan shalat yang lain. Kita sebagai umat Muslim, sebagai warga Indonesia, maupun sebagai manusia harus mengutuk perbuatan Israel tersebut. Alasannya bisa dilihat di sini.

Dan salah satu yang penting dari permasalahan Palestina adalah masih banyak yang gak tahu Masjid Al Aqsha itu yang mana. Kalo saya perhatikan, ada 3 jenis orang dalam mengenal Al Aqsha. Yang pertama, orang yang menganggap Masjid Al Aqsha itu yang ini:

Gambar di atas adalah Masjid Qubbatus Sakhra yang memang terletak di dalam tembok kompleks Al Haram Asy Syarif. Sebuah masjid yang dibangun antara tahun 687 hingga tahun 691 oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan, khalifah Umayyah. Dinamakan Qubbatus Sakhra karena memang di bawah kubah masjid tersebut, terdapat batu yang sangat besar.

Nah, mungkin hanya sedikit orang yang tahu kalo kita bisa masuk ke dalam batu tersebut. Kalo kita lihat gambar di atas, terlihat tangga turun menuju ke dalam batu. Di dalam batu pun ada sajadah gitu untuk shalat dan ibadah lainnya. Seingat saya, sajadah yang terbaru didapat dari sumbangan pemerintah Turki (gambar di bawah ga tau yang terbaru atau bukan). Asik banget ya, kalo kesampean shalat di dalam batu. Suasananya bakal syahdu gitu. Hehe…

Saya pertama kali ada yang ngasih tau, kalo Masjid Qubbatus Sakhra itu bukan Masjid Al Aqsha pas SMA, tepatnya pas acara PHBI Isra’ Mi’raj. Kakak kelas saya waktu itu berdiri di depan para siswa sambil membawa gambar Masjid Qubbatus Sakhra, lalu berkata (kira-kira): “Masjid apakah ini? Ini bukan Masjid Al Aqsha. Gambar masjid ini disebarkan oleh Zionis Israel untuk mengelabui umat Islam di dunia. Mereka ingin umat Islam tertipu kalo Masjid Al Aqsha aman-aman saja. Padahal ini bukan Masjid Al Aqsha.” Nah, inilah jenis orang kedua dalam hal pengetahuannya mengenai Al Aqsha. Dia akan mengatakan bahwa Masjid Qubbatus Sakhra bukan Masjid Al Aqsha, serta berpendapat kalo Masjid Al Aqsha adalah yang ini:

Gambar di atas adalah Masjid Al Qibly yang juga terletak di dalam tembok kompleks Al Haram Asy Syarif. Tapi yang ini masih mendingan lah, karena bisa di bilang Masjid Al Qibly itu memang paling mewakili Masjid Al Aqsha, karena memang main prayer hall-nya Al Aqsha. Yang menarik dari Masjid Al Qibly adalah keberadaan mimbarnya, yaitu mimbar yang dibuat atas prakarsa Nuruddin Zanki pada tahun 1168 M. Mimbar ini kemudian dibawa oleh Shalahuddin Al Ayubi ke Masjid Al Qibly setelah membebaskan Baytul Maqdis tercinta.

Apakah mimbar itu yang ada pada bagian kanan gambar di atas? Bukan, bro. Itu adalah mimbar pengganti sementara. Mimbar Nuruddin Zanki bukan sekadar mimbar, melainkan mimbar tersebut melambangkan kebesaran Islam dan menambah kemegahan Masjid Al Qibly. Mimbar itu disebutkan merupakan rangkaian kurang lebih 16.300 potongan kayu Mangour (kayu hitam) dan disusun tanpa paku. Hanya saja, pada tanggal 21 Agustus 1969, Dennis Michael Rohan (seorang Zionis Kristen berkebangsaan Australia) membakar Masjid Al Qibly sehingga menghanguskan seperempat bagian masjid sekaligus mimbar Nuruddin Zanki. Inilah penampakan Mimbar Nuruddin Zanki:

Raja Abdullah II bin Husein dari Yordania memiliki ide untuk membuat duplikat mimbar Nuruddin Zanki. Hanya saja, setelah puluhan tahun dicoba, usaha tersebut belum bisa meniru mimbar yang mirip dengan mimbar Nuruddin yang asli. Padahal upaya ini melibatkan para ahli dari berbagai negara. Hingga pada akhirnya ada 5 warga negara Indonesia asal kabupaten Jepara membuat replika mimbar Nuruddin Zanki dan berhasil. Proses pembuatan mimbar ini berlangsung selama 4 tahun, mulai dari 2003 hingga diselesaikan pada 2007. Betapa senangnya ada sepenggal Indonesia di Masjid Al Qibly.

Lalu, Masjid Al Aqsha yang mana dong? Yah, Masjid Al Aqsha itu melingkupi Masjid Qubbatus Sakhra dan Masjid Al Qibly, jadi dua-duanya bener. Jadi, Masjid Al Aqsha itu adalah sebuah kompleks masjid. Di dalamnya terdapat berbagai bangunan masjid. Di manapun kita shalat, asalkan dalam kompleks tersebut (yang dikelilingi oleh dinding perimeter), in-syaaLlah mendapatkan pahala 250 kali lipat dari shalat di masjid lainnya (kecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi).

Hal terakhir yang ingin saya sampaikan, saya pernah mendengar seorang Ustadzah asal Mesir berkata dalam sebuah seminar kalau di antara orang-orang Mesir tuh ada semacam janji bahwa kelak nanti Al Aqsha dan Palestina merdeka dari penjajahan Israel, mereka (orang-orang Mesir) akan berkumpul di sebuah air mancur di Masjid Al Aqsha. Hal ini akan memberikan suntikan semangat agar mereka terus berusaha mengembalikan Palestina kepada pelukan umat Islam. Ini tempat berkumpulnya orang-orang Mesir (yang di gambar belum tentu orang Mesir sih):

Lantas bagaimana dengan bangsa kita, bangsa Indonesia? Bangsa dengan umat Muslim terbesar sedunia. Apakah ada semangat untuk membebaskan Al Aqsha, membebaskan Palestina? Mari, kita gelorakan semangat itu, kita angkat ambisi itu, kita kuatkan motivasi itu. In-syaaLlah di mulai dengan sekarang, suatu hari nanti, pada masa di kemudian hari, PALESTINA MERDEKA! ALLAHU AKBAR!!! Dan tentunya, kita bangsa Indonesia akan menjadikan Mimbar Nuruddin Zanki sebagai titik berkumpul. Sebuah tempat di mana sepenggal Indonesia berada di jantung Masjid Al Aqsha.

Allahu a’lam…
*gambar diambil dari berbagai sumber di mesin pencari (mohon dikasih tau kalo ada gambar atau info yang salah)

Iklan

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s