Audisi Imam

Tulisan ini bermula dari kegelisahan kalo lagi shalat berjamaah di masjid, imamnya suka melakukan “kesalahan umum dalam membaca Al Qur-an.” Termasuk saya juga yang masih banyak salahnya pas dites baca Qur-an. Hehe.. Makanya, saya suka ga mau kalo jadi imam, walaupun pengen banget PANTAS menjadi imam shalat. Huff…

Jadi gini lho, saya mau usul, kenapa ga diadain audisi imam masjid aja ya? Nanti diranking gitu, dari yang paling bagus ke yang bagus. Tapi rankingnya cukup diketahui sama yang ikutan audisi aja. Audisinya pun tertutup, untuk menjaga kehormatan yang ikut audisi. Usulan ini bisa dibuat untuk masjid-masjid lingkungan yang ada di perumahan elit sampai di perkampungan, juga untuk masjid sekolah, kampus, dan instansi lainnya.

Terus gimana cara audisinya? Kalo menurut pemerintah, khususnya Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam dari Kementerian Agama RI, ada beberapa persyaratan, kompetensi umum, dan kompetensi khusus tentang Penetapan Standar Imam Tetap Masjid.

Persyaratan:

  1. Islam
  2. Laki-laki
  3. Dewasa
  4. Adil
  5. Sehat jasmani dan rohani
  6. Berakhlak mulia
  7. Berfaham Ahlusunnah wal Jamaah
  8. Memiliki komitmen terhadap da’wah Islam


Kompetensi Umum:

  1. Memiliki pemahaman terhadap fiqh shalat
  2. Memiliki kemampuan membaca Al Qur-an dengan tahsin dan tartil
  3. Memiliki kemampuan untuk membimbing umat
  4. Memahami problematika umat
  5. Memiliki kemampuan memimpin shalat, dzikir, dan doa rawatib
  6. Memiliki kemampuan berkhutbah
  7. Memiliki wawasan kebangsaan

Kompetensi khusus untuk Masjid Jami’ dan Masjid di Tempat Publik:

  1. Pendidikan diutamakan Pondok Pesantren/SLTA/sederajat
  2. Memiliki hafalan Al Qur-an minimal juz 30
  3. Memiliki keahlian membaca Al Qur-an dengan merdu
  4. Memilili pengetahuan tentang fiqh, hadits, dan tafsir

We O We bingitz yak? Tinggi amat standarnya. Akan tetapi ini ada beberapa hal tentang imam dalam shalat yang saya kumpulkan. Walaupun standarnya sudah diturunkan dari Kemenag, saya tetep belum pantes jadi imam shalat. Hanya saja, kalo gak dibuat kayak gini, kapan lagi mulai memantaskan diri jadi imam. Iya gak?

SEBELUM SHALAT

Setiap sebelum shalat, imam shalat mustinya mengucapkan hadits berikut ini:
Dari Anas bin Malik ra, RasuluLlah saw bersabda: “Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya kelurusan shaf adalah bagian dari kesempurnaan shalat.” (HR. Muslim)

Alasan pertama, mengucapkan hal di atas (apapun redaksinya) akan mendatangkan pahala, karena sunnah Nabi saw. Kedua, awalan agar shalat kita sempurna, gak asal ‘yang penting shalat’. Masa gak mau shalatnya sempurna? Terakhir, dalam suatu hadits disebutkan bahwa rapat dan lurusnya shaf itu bisa menghindari berselisihnya hati di kalangan kaum Muslimin.

Biasanya kalo kita minta sebelah kita untuk merapatkan kaki, ada saja yang marah dan bilang kalo yang penting lengannya yang rapat. Itu benar, tapi belum sempurna, karena dalam haditsnya, RasuluLlah saw bersabda agar para makmum untuk rapatkan pundak, dan tutup celah, perlunak pundak kalian untuk saudaranya, dan jangan tinggalkan celah untuk setan. Nah, celah untuk setan ini, mungkin salah satunya adalah kaki yang tidak rapat. Coba deh cek poster-poster tentang merapatkan shalat, pasti yang divisualisasikan adalah tentang rapatnya kaki saat shalat.

GERAKAN SHALAT

Dulu waktu masih kuliah, pernah ada kajian tentang shalat. Ustadz-nya bilang kalo hadits tata cara shalat yang diajarkan oleh RasuluLlah itu cuma ada 1, yaitu:

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)

Jadi, sebenernya gerakan shalat ini bakal banyak ikhtilafnya, yang penting mah tiap gerakan shalat yang kita lakukan ada dalil shahihnya. Tapi sebenernya kalo saya baca-baca, kalo rukun shalat mah fix, ga ada perbedaan. Jadi, untuk gerakan shalat, minimal melakukan dengan benar gerakan yang termasuk rukun shalat, yaitu: berdiri bagi yang mampu, ruku’ dengan tuma’ninah, i’tidal dengan tuma’ninah, sujud dengan tuma’ninah, duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah, dan duduk tasyahud.

Selain dari gerakan rukun di atas merupakan ikhtilaf. Misalnya, berdiri bagi yang mampu, untuk bersedekapnya beda-beda. Dari bentuk sedekapnya saja, ada yang hanya meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, ada juga yang tangan kanan menggengam pergelangan tangan kiri. Nah, kalo letak sedekapnya malah tidak ada hadits shahih yang menerangkannya. Meletakkan sedekap di bawah pusar dan di (bagian akhir) dada ternyata didasarkan pada hadits dhaif, sehingga peletakkannya bisa di mana saja (di dada, di pusar, maupun di bawah pusar).

BACAAN SHALAT

Kalo bacaan shalat yang rukun ada 4, yaitu: takbiratul ihram, surat Al Fathihah, shalawat kepada Nabi, dan salam. Takbiratul ihram mah udah jelas atuh ya, Allahu Akbar. Harus pake bahasa arab, ga boleh diterjemahin ke bahasa apapun. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa takbiratul ihram ini yang mengharamkan segala hal yang membatalkan shalat, seperti: makan, minum, atau ngobrol. Dan yang menghalalkannya kembali adalah salam.

Surat Al Fathihah yang selama ini kita baca, harus benar-benar tanpa cela, karena menjadi salah satu penentu sah-tidaknya shalat kita. Saya pengen sedikit bahas tentang 4 kesalahan umum dalam membaca Al Qur-an, supaya kita bisa selangkah lebih baik saat membaca surat Al Fathihah (saya juga sering tidak sadar kalo banyak salahnya).

Pertama, masalah vokal. Fathah itu mulutnya harus terbuka atas-bawah, seperti saat bilang huruf ‘A’. Dalam kasus ini, termasuk huruf-huruf yang terdengarnya seperti huruf ‘O’ (kha, ra, sha, dha, tha, zha, gha, qa), mulutnya seperti saat bilang huruf ‘A’ tapi suara yang keluar seperti huruf ‘O’. Kasrah itu mulutnya dikatupkan dan dilebarkan (hampir senyum), seperti saat bilang huruf ‘I’. Sedangkan dhammah itu mulutnya harus monyong sempurna, seperti saat bilang huruf ‘U’. Ini menunjukkan perlunya totalitas saat membaca Al Qur-an, bibir kita ga boleh kayak Profesor Snape kalo lagi ngomong (ga gerak). Kalo kita nonton film “Koran by Heart”, juara pertamanya yang dari Mesir terlihat totalitas saat tilawah, beda sama Rifdhah dari Maladewa yang juara II.

Kedua, masalah mad. Biasanya bukan karena tidak tahu, tapi karena tidak konsisten saja. Yang harusnya dua harakat, kadang kurang atau kelebihan. Begitu pun dengan yang empat, lima, atau enam harakat. Ketiga, masalah ghunnah. Ini juga sama, biasanya lupa tidak ghunnah atau kurang lama mendengungkan bacaan yang seharusnya ghunnah. Terakhir, masalah qalqalah. Huruf qalqalah kan cuma 5 ya (ba-ju-di-tha-qa atau di-tha-qa-ba-ju =j), tapi khusus di Al Fathihah biasanya AlhamduliLlah (ayat ke-2) dibaca AlehamduliLlah. Lam-nya diqalqalah. Atau Ghairil Maghdu (ayat ke-7) dibaca Gairil Magedu. Gha-nya diqalqalah akibat dari salah shifatul huruf.

Selanjutnya kita bahas shalawat kepada Nabi Muhammad saw pada duduk tasyahud. Mengenai hal ini, ternyata cuma ada 8 lafazh shahih bacaan shalawat Nabi. Pada kesempatan kali ini, saya akan mengutip dua saja yang sering dibaca oleh kita.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shollaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim innaka hamidum majid, Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama barokta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim innaka hamiidum majiid. Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya Allah, Berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.”

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shollaita ‘ala ali Ibrahim, wa barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama barokta ‘ala ali Ibrahim fil ‘alamina innaka hamidum majid. Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim, dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim atas sekalian alam, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.”

Bacaan terakhir yang menjadi rukun shalat adalah salam. Salam yang paling kuat dalilnya adalah lafadz “Assalamu’alaykum warrahmatuLlah” dengan diucapkan sembari menoleh ke kanan dan ke kiri semaksimal mungkin, sehingga dari belakang terlihat pipi kita. Adapun yang salam yang wajib adalah salam pertama, sedangkan yang kedua adalah sunnah.

SETELAH SHALAT

Yang saya tau, amalan sehabis shalat (setelah salam), adalah mengubah arah duduk dari kiblat. Maksudnya, memutar badan dari menghadap kiblat menjadi menghadap atau menyampingi makmum.

“Dari Samurah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bila selesai shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami.” (HR. Bukhari)
“Dari Anas ra berkata, “Seringkali aku melihat Rasulullah SAW berputar ke kanan (setelah shalat).” (HR. Muslim)
“Dari Ibnu Mas’ud ra berkata,”Seringkali aku melihat Rasulullah SAW berputar ke kiri (setelah shalat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hikmah dari berubahnya arah duduk imam adalah agar makmum bisa memastikan bahwa imam benar-benar telah selesai dari shalatnya. Sebab dengan mengubah arah duduk, imam telah meninggalkan arah kiblat yang berakibat jelas telah membatalkan shalatnya. Dan bagi makmum, hendaknya tidak berdiri pergi meninggalkan tempat shalat kecuali setelah imam berpindah atau menggeser arah duduknya dari arah kiblat. Jadi, imam sebaiknya tidak berlama-lama menghadap kiblat setelah shalat selesai, agar makmum yang masih ada keperluan yang mendesak setelah shalat bisa segera meninggalkan tempat shalat.

Sekian tulisan saya ini, mohon maaf kalo ada kesalahan dan kekurangan, saya harap pembaca bisa segera mengoreksinya. Terima kasih atas perhatiannya. Semoga kita bisa sama-sama belajar menjadi imam shalat yang baik dan benar sesuai tuntunan Al Qur-an dan As Sunnah. Amiin..

Allahu a’lam.

Iklan

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.