Pendidikan dan Agama

Tulisan ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya, yaitu membahas mengenai menteri Kabinet Indonesia Maju. Dan sesuai judulnya, yang akan saya bahas adalah tentang Pendidikan dan Agama, apalagi kalau bukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (yaitu Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A.) serta Menteri Agama (ialah Jenderal [Purn.] Fachrul Razi).

Kenapa saya bahas ini? Karena keduanya cukup dekat dengan aktivitas saya saat ini, di luar kantor. Dan ada kekhawatiran mengenai pemilihan kedua orang hebat tersebut. Saya bilang hebat, karena mereka berdua memang hebat di bidangnya, Pak Nadiem dengan bisnisnya dan Pak Fahrul Razi dengan militernya. Namun, ketika membahas kementerian yang kini dipegangnya, kok seperti kurang sreg aja ya, walaupun mungkin secara kualitas softskill dan sejenisnya mereka pasti sangat mumpuni.

Kita bahas dari Mendikbud kita yang baru. Dengan segala hormat, saya merasa Pak Nadiem itu kurang pengalaman pendidikan Indonesia, karena beliau mengenyam bangku SMA di Singapura dan S1 di Amerika Serikat. Beliau tidak merasakan UN SMA itu seperti apa, bagaimana pandangan teman-teman seangkatannya dan guru-guru mengenai UN, dan sebagainya. Juga tidak merasakan bagaimana seleksi masuk perguruan tinggi, tidak aktif di kemahasiswaan Indonesia, dan sebagainya. Singkat kata, untuk melakukan link and match antara pendidikan dengan luar pendidikan, Pak Nadiem kurang mengalami dunia pendidikan Indonesia meski tahu betul apa yang dibutuhkan di luar institusi pendidikan pada masa depan, setelah sukses membangun start-up. Tujuh tahun pendidikan (SMA dan S1) di luar negeri memang pengalaman luar biasa, akan tetapi pasti berbeda dengan pendidikan di Indonesia.

Padahal dari semua jenjang sekolah di Indonesia, menurut pengalaman saya, yang paling penting adalah saat SMA dan S1. Istilah kasarnya, tidak masuk SD dan SMP pun tak masalah, asalkan lulus di ujian kejar paket. Karena kalau dipikir-pikir, di SD dan SMP kan cuma belajar yang pelajarannya bisa diajarkan oleh orang tua di rumah. Dan aktivitas di luar kurikuler pun, kayaknya kalau di SD dan SMP masih diarahkan (lebih tepatnya dikendalikan) oleh guru maupun pelatih/pembina (non-guru). Beda dengan SMA (juga SMK) dan S1 yang mata ajarnya sudah mulai menjurus, aktivitasnya pun lebih beragam tanpa diarahkan melulu oleh guru, dan yang terpenting ada wawasan kebangsaan dan kenegaraan.

Dalam sebuah artikel berita sebelum pengumuman nama menteri, Pak Jokowi pernah mengatakan bahwa dirinya sudah memilih menteri berusia muda untuk masuk ke dalam pemerintahan periode kedua bersama Kyai Ma’ruf. Kalau memang Pak Nadiem dipilih berdasarkan hal tersebut, saya kira yang benar-benar membutuhkan menteri muda yang berani mendobrak dan punya kemampuan manajerial yang kuat adalah Kementerian Pemuda dan Olah Raga. Apalagi concern Pak Nadiem saat diwawancarai sebagai Mendikbud adalah tentang generasi yang akan datang, nah Kemenpora itulah tempat yang cocok.

Walaupun sebenarnya tidak baik juga, tetapi sepertinya satu-satunya kementerian yang bisa dijabat oleh seseorang yang coba-coba (dengan artian dipilih dalam rangka terobosan baru) adalah Kemenpora ini. Karena kementerian yang menggawangi pemberdayaan pemuda, pengembangan pemuda, pembudayaan olahraga, dan peningkatan prestasi olahraga ini, bisa dipimpin oleh Menteri dengan latar belakang apapun: tidak harus jadi atlet terlebih dahulu, malah bisa saja pengusaha maupun anggota partai. Pak Nadiem sebagai menteri termuda saat ini pun, sangat cocok menjadi Menpora. Bayangkan SDM yang tercipta jika pemuda Indonesia memiliki menteri seperti beliau, insya Allah akan banyak prestasi yang akan didengar dari generasi penerus negeri ini.

Alasan lain mengapa Pak Jokowi memilih Pak Nadiem, meski bukan berlatar belakang pendidikan, adalah karena Pak Nadiem mewakili generasi millennials dengan segudang ide berbasis teknologi. Apabila memang demikian, sepertinya pendiri aplikasi RuangG*ru (bukan promosi) lebih tepat kan? RuangG*ru ini memadukan bidang pendidikan dengan teknologi dengan baik, pokoknya zaman now bingit. Dalam website-nya tertulis sudah ada 6 juta pengguna (mungkin bisa disebut murid), telah mengelola lebih dari 150.000 guru yang menawarkan jasa di lebih dari 100 bidang pelajaran, serta berhasil bekerja sama dengan 32 (dari 34) pemerintah provinsi dan lebih dari 326 pemerintah kota dan kabupaten di Indonesia. Tentu dengan pengalaman yang banyak ini, nantinya program 100 hari kerja sebagai Menteri Pendidikan bukan lagi sekedar ‘belajar’ dengan cara mendengarkan masukan dari para pakar pendidikan semata, melainkan sudah ada eksekusi yang dikerjakan.

Lebih filosofis lagi, UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, tersurat bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan yang pertama kali disebut adalah “beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”. Tidak hanya beriman, tetapi juga bertakwa kepada Tuhan YME. Iman itu kan artinya keyakinan, sedangkan Takwa itu artinya tentang pelaksanaan dan petidaklaksanaan. Jadi, dengan pendidikan seharusnya pelajar dan mahasiswa harus bisa sampai ke tahap menjalankan yang diperintahkan oleh keyakinan yang dianutnya dan tidak melaksanakan yang dilarang olehnya. Berat? Memang. Mampukah Pak Nadiem mewujudkan tujuan pendidikan yang sangat mulia tersebut? Mari kita ‘dukung’ beliau dengan saran dan kritik.

Nah, sehubungan tujuan pendidikan yang pertama adalah tentang spiritual dan keagamaan, maka kementerian selanjutnya adalah Kementerian Agama yang saat ini dipimpin oleh seorang Jenderal Purnawirawan, Pak Fachrul Razi, menteri tertua dari segi usia (berbanding terbalik dengan Pak Nadiem).

Sekilas saya cari di internet, saya tidak menemukan pada profil beliau riwayat pendidikan sekolah Islam atau pesantren seperti para pendahulunya. Dan selama ini Menteri Agama biasanya berasal dari PBNU atau partai Islam, sedangkan Pak Jenderal merupakan salah satu pendiri partai nasionalis yang sekarang sudah tidak ada di DPR RI (karena tidak lolos parliamentary threshold). Dengan ini, beliau merupakan Menteri Agama pertama dari kalangan militer sejak meletusnya reformasi. Jadi masalah? Bisa jadi, karena sebagai jabatan yang keputusannya bersinggungan dengan syari’at, seharusnya seorang Menteri Agama memiliki kafaah syar’i juga.

Alasan-alasan yang mengemuka dalam pemilihan Pak Fachrul Razi oleh Presiden antara lain isu radikalisme, isu intoleransi, dan isu pelayanan haji. Saya sendiri sih menyayangkan ucapan dan tindakan yang mengaitkan radikalisme dan intoleransi dengan keagamaan seseorang. Toh, waktu teroris menembaki jama’ah masjid di Selandia Baru, tidak pernah dikaitkan dengan agamanya. Alasan seperti ini yang justru akan membuat citra buruk kepada agama.

Kalaupun memang ada oknum yang berkoar mengaitkan tindakan radikalnya dengan suatu agama, menurut saya, akan lebih bijak apabila memilih menteri yang paham agama. Itu sih saya yakin gegara gagal paham sama agamanya sendiri. Dan menurut saya akan lebih baik jika meredam radikalisme berkedok agama tersebut dengan pendekatan agama, bukan dengan pendekatan militer. Pemahaman agama yang menyimpang itu yang harus diluruskan, bukan malah diusir keluar Indonesia tanpa dialog terlebih dahulu.

Ditambah lagi sebenarnya ada isu lain yang tak kalah krusial dan sama-sama harus dijaga agar tidak terjangkit kepada para pemeluk agama, sebut saja isu liberalisme, isu sekularisme, isu pluralisme, isu LGBTQ, maupun isu perzinahan.

Intinya, banyak keresahan yang saya rasakan dalam pemilihan kedua menteri yang saya bahas di atas, beserta alasannya. Saya memang hanya mendapatkan informasi dari sumber sekunder sih. Soalnya tidak mungkin saya bisa bertemu dengan beliau-beliau. Apalah saya ini, hanya seorang warga biasa di negara bebas berpendapat ini. Semoga bisa bermanfaat bagi temen-temen semua. Amiin.

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.