Kurikulum Pendidikan Anak (Bagian Awal)

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (TQS. An Nisa’: 9)

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (TQS. Luqman: 12)

Tulisan ini merupakan campuran dari kajian parenting-nya Ustadz Salim A. Fillah di youtube dan obrolan lepas di group WhatsApp mengenai pendidikan yang diperlukan untuk menjawab masa depan. Hehe. Ditulis saat anak pertama sudah berumur 2 tahun (lebih) dan istri sedang mengandung anak kedua. Saya selaku kepala sekolah di madrasah rumah semoga tidak terlambat ya menyusun kurikulum ini. Sebenarnya saya sering googling di yahoo(?) mengenai kurikulum pendidikan anak, tetapi belum pernah ketemu.

Sebelum ke pendidikan anak, Ustadz Salim menyebutkan ada beberapa value yang harus dimiliki oleh orang tua dalam mendidik anak. Dalam Surat An Nisa’ ayat ke-9 disebutkan bahwa tidak boleh menginggalkan anak-anak dalam keadaan lemah. Ayat ini berada dalam rangkaian ayat tentang waris, namun para mufassirin menjelaskan justru bukan sekedar harta semata. Seorang orang tua juga harus memiliki ketakwaan (kehati-hatian dalam berucap dan bertindak) dan qoulan syadida (perkataan yang benar). Dan satu value lagi ada di surat terpisah, tepatnya Surat Luqman ayat ke-12. Anugerah dari Allah untuk Luqman adalah rasa syukur kepada Allah, maka orang tua pun harus bersyukur agar senantiasa Allah tambah nikmat-Nya.

So, ini dia kurikulum pendidikan anak.

Sebelum Dalam Kandungan

“Memilihkan ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang bagus, dan mengajarkannya Al Qur-an.” Begitu ucap Khalifah Umar bin Al Khattab saat ditanya kewajiban orang tua kepada anaknya. Itu artinya, hak anak sebelum dalam kandungan adalah dipilihkan untuknya ibu yang shalihah. Secara khusus, hal itu adalah tanggung jawab seorang ayah, seperti yang Allah firmankan:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (TQS. At Tahrim: 6)

Meski disebutnya “Hai orang-orang yang beriman”, ayat ini tentu seolah berbicara khusus kepada seorang ayah, karena itulah tanggung jawab kepala keluarga untuk menjaga dirinya dan keluarganya (istri dan anak-anak) dari api neraka. Dan tugasnya yang pertama adalah memilih ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.

Kemudian sesuai tuntunan RasuluLlah, agar setan tidak akan mengganggu anak kita selamanya, hendaklah saat suami dan istri berkumpul terlebih dahulu membaca doa:

بِاسْمِ اللهِ، اللهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“BismiLlahi, Allahumma jannibnasy syaythana wa jannibisy syaythana ma razaqtana. Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau berikan kepada kami.”

Dan doa ini harus dihafalkan oleh setiap lelaki dan perempuan dewasa meski belum menikah, terutama kepada yang akan menikah, apalagi yang sudah menikah. Kuy, hafalkan sejak baligh, semoga niat untuk menikah dimudahkan oleh Allah serta diberkahi prosesnya oleh-Nya. Amiin.

Dalam Kandungan

(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi muharrar. Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (TQS. Ali Imran: 35)

Dalam firman-Nya, Allah mengisahkan sebuah teladan agung bahwa mencita-citakan sesuatu untuk anak itu adalah sejak sang anak masih dalam kandungan. Dan abadi sepanjang zaman bahwa cita-cita untuk anak dalam Al Qur-an adalah menjadi muharrar, yaitu hamba yang saleh dan berkhidmat di sebuah masjid (dalam kasus istri Imran adalah Baitul Maqdis).

Pelajaran yang dapat diambil pula dalam ayat di atas adalah peran utama bagi seseorang adalah menjadi takmir masjid. Hal tersebut sejalan dengan sebuah slogan “Nahnu du’at qobla kulli syai’. Kita adalah da’i sebelum segala sesuatu.” Jadi, semoga anak kita adalah seorang muharrar yang juga direktur perusahaan, atau seorang muharrar yang juga gubernur, ataupun seorang muharrar yang juga youtuber dengan konten berfaedah. Dengan demikian, sudah semestinya orang tua berbahagia saat anaknya aktif menjadi pengurus Rohis di sekolahnya atau pengurus DKM di lingkungan rumahnya. Sungguh sebuah langkah awal yang baik untuk menjadi muharrar yang dicita-citakan.

Lanjutan dari cerita isteri ‘Imran pun tertuang pada ayat ke 37, yang isinya menyatakan bahwa Allah menerima Maryam sebagai nazar dari ibunya dengan penerimaan yang baik dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik pula. Baik pendidikan akhlaknya, maupun pertumbuhan jasmaninya. Itulah kebahagiaan orang tua terbesar: anaknya dibimbing oleh Allah dalam keimanan, ketakwaan, dan akhlak.

Sejak Lahir Hingga Umur 2 tahun

Fase ini, yaitu ketika lahir hingga umur 2 tahun, adalah anak yang disebut sebagai bayi. Sifatnya antara lain: memiliki sensitivitas pada pendengaran dan perasanya. Oleh karena itu, pendidikan yang bisa dilakukan oleh kedua orang tuanya adalah dengan menstimulasi pendengaran dan perasanya dengan hal-hal yang baik.

Firman Allah dalam Al Baqarah ayat ke-31 yang sudah diterjemah ke bahasa Indonesia: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,…” Dengan Adam diajarkan nama-nama benda oleh Allah, maka anak diajarkan nama-nama benda oleh Ibu. Dengan demikian, seorang yang ibu harusnya punya kecerdasan linguistik atau biasa disebut dengan istilah “cerewet” tentu dengan niat untuk mengajarkan kata-kata baik kepada anak.

Jika seorang ibu bicaranya terlalu irit, kata-kata dalam rangkaian kalimat pun jadi sangat sedikit yang didengar oleh seorang bayi. Diksi yang dimiliki sang anak pun jadi terbatas. Jadi, ibu yang “cerewet” akan berdampak baik pada anak, karena pada tahap ini yang dituju adalah banyaknya kosakata dan cara menyambungkannya jadi kalimat, bukan substansi. Substansi akan diajarkan oleh ayah nanti, seiring banyaknya percakapan penuh falsafah hidup antara ayah dengan anak dalam Al Qur-an. Percakapan antara Nabi Ibrahim dengan anaknya, Nabi Ibrahim dengan ayahnya, Nabi Nuh dengan anaknya, Nabi Ya’qub dengan anaknya, Nabi Yusuf dengan ayahnya, serta Luqman dengan anaknya. Jadi, Al Qur-an mendorong agar ayah berbincang penuh makna dengan anaknya.

Pendidikan bahasa ini bisa banyak macamnya, mulai dari bahasa asli ibu, yaitu bahasa Indonesia. Ada juga bahasa Qur-an (Arab), bahasa internasional (Inggris), serta bahasa simbol dan angka (Matematika). Kenalkan bahasa-bahasa tersebut secara perlahan pada anak kita. Belum lagi di zaman now ada 1 bahasa selain diatas yang sangat dicari-cari oleh dunia kerja jika dikuasai, yaitu: bahasa pemrograman. Kalau yang ini sih mungkin dikenalkannya belakangan ya, juga bahasa logika dalam matematika.

Kemudian, pendidikan yang juga dilakukan pada saat anak masih bayi adalah dengan diberikan nama yang baik. Hal ini sesuai dengan tuntunan RasuluLlah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud: “Sesungguhnya pada hari kiamat nanti kalian akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak-bapak kalian. Oleh karena itu, buatlah nama-nama yang baik untuk kalian.” Bisa dengan nama AbduLlah dan AbdurRahman, nama penghambaan terhadap Asma-ul Husna lainnya, nama para Rasul dan Nabi, dan nama orang shalih lainnya (misal: khulafaur rasyidin atau istri-istri RasuluLlah).

Umur 2 Tahun Hingga 7 Tahun

Inilah masa kanak-kanak yang seru, lucu, menakjubkan, dan penuh kisah dari anak kita. Anak bagaikan seorang raja yang bisa bebas meminta sesuatu kepada siapapun, termasuk kedua orang tuanya. Kita pun sebagai orang tuanya cenderung memenuhi permintaannya saking sayangnya kita pada anak kita. Memang tidak kita penuhi 100% permintaannya, itu pun karena kita sayang. Kalau anak minta korek api di usia ini, tentu tidak kita kasih agar anak kita tidak celaka.

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (TQS. Luqman: 13)

Pada masa kanak-kanak ini, ada dua kurikulum yang menjadi fokus mata ajar para orang tua untuk anak-anaknya. Yang pertama dan utama, yang termaktub pada surat Luqman ayat ke-13, tentunya masalah tauhid yang harus jelas sebenderang mentari di siang terik. Tak ada lagi celah sekecil apapun yang bisa membuat sesuatu selain Allah setara dengan-Nya.

Ungkapkan dengan cinta kepada anak kita bahwa Allah menghidupkanmu dalam rahim bunda dan setelah kamu lahir Allah memastikan air susu tersedia untukmu, maka mengapa kita tidak menyembah-Nya? Bahwa Allah memberimu hidung, mata, mulut, tangan, dan kaki yang begitu sempurna fungsinya, maka mengapa kita tidak menghamba kepada-Nya? Bahwa padi yang entah ada di sawah mana, berubah jadi beras, dimasak menjadi nasi, lalu dikumpulkan oleh Allah ke dalam piringmu untuk dimakan, maka mengapa kita tidak menjadikan-Nya satu-satunya Ilah?

Pada ayat ini Allah menggunakan kata “laa/jangan” untuk menegaskan keesaan-Nya. Dengan begitu, mungkin Allah sedang mengajarkan pada kita bahwa larangan untuk menggunakan kata “jangan” pada anak sebenarnya kurang tepat. Karena sebenarnya kata “jangan” itu perannya netral, yang penting adalah setelah melarang ada penjelasannya. Dalam kasus ini Allah membersamai kata “jangan” dengan menjelaskan bahwasanya menyekutukan Allah adalah sebuah kezaliman yang besar.

(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (TQS. Luqman: 16)

Kurikulum kedua pada masa ini adalah muraqabatuLlah, yaitu: senantiasa merasa diawasi oleh Allah. Tentu saya sendiri masih sangat belajar untuk pelajaran yang satu ini, tetapi inilah yang harus diajarkan oleh orang tua untuk anaknya tercinta. Dan sepertinya muraqabatuLlah ini akan beririsan dengan makna ikhlas. Beramal untuk Allah semata.

Tatap lekat mata jelita anak kita, lantas katakan dengan lembut padanya bahwa berbuat baik itu bukan untuk mengharapkan hadiah dari ayah dan bunda, melainkan untuk mengharap pahala dari Allah. Percayalah Allah Maha Mengetahui amal shalih yang kamu kerjakan, meski ayah dan bunda tidak tahu hingga ayah dan bunda tak bisa memuji dan bangga padamu, nak. Cukuplah Allah yang tahu, Allah pasti membalasnya dengan yang lebih baik dari apa yang bisa ayah dan bunda beri. Bahkan pemberian dari ayah dan bunda itu tak lain adalah karunia Allah juga. Jadi, teruslah menebar manfaat pada dunia, Allah pasti balaskan untuk amal shalihmu jauh lebih baik.

Sebaliknya, nak, Allah pun Maha Mengetahui amal buruk yang kamu kerjakan, meski ayah dan bunda tidak tahu. Cobalah mengerti bahwa Allah melihatmu dan mencatat setiap amalmu. Saat ayah dan bunda tidak bisa menegur dan melarangmu untuk berbuat yang tidak baik, cukuplah Allah yang menahanmu untuk tidak melakukan perbuatan tercela itu. Karena Dia Maha Mengetahui apa yang ada di tiap lapis langit dan bumi, meski tersembunyi dalam hati.

Pada bagian ini, mungkin sampai di sini dulu. Tadi sudah dibahas kurikulum pendidikan anak mulai dari sebelum dalam kandungan hingga anak umur 7 tahun. Lanjutannya insya Allah akan membahas pembentukan anak menjadi seseorang yang siap menghadapi kehidupan sebelum kematian dan kehidupan setelah kematian. Amiin.

Semoga bermanfaat ya.

Silakan menanggapi tulisan ini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.