Aku Anak Rohis


AKU ANAK ROHIS BUKAN TERORIS (New Version)
By: Munsheed United feat Asma Nadia

Reff 1:
Aku anak rohis
Selalu optimis
Bukannya sok narsis
Kami memang manis

*Kubuka jendela pagi
Rasakan hangat mentari
Mulai kulangkahkan kaki
Semangat tinggi di hati

*Di sekolah berprestasi
Tak lupa aku tuk mengaji
Sebagai bekal di dunia
Dan akhirat nanti…
Baca lebih lanjut

Jalan-Jalan Tarawih (2)


Sambungan postingan sebelumnya…

5. Masjid Agung Bandung(?), Alun-Alun Kota

Lagi-lagi lupa nama masjidnya. Pokoknya mah masjid paling gede yang ada di alun-alun bandung (deket savoy homann, gedung KAA, dan gedung merdeka), yang menaranya tinggi banget (kayaknya mau nyaingin Hagia Sophia-nya Turki =p) sampai keliatan dari jalan layang pasopati. Nah, saya kesini cuma sempet sekali. Pada saat saya dateng setelah muter-muter nyari masjid ini trus parkir basement-nya bikin bingung lagi, pas banget di masjid lagi bagiin ta’jil (soalnya emang lima menit lagi adzan) yang ternyata langsung makanan berat. Umm, kayaknya sih ada sedikit keributan karena ada jamaah yang ga dapet. Saya sih ga mikirin makanan, soalnya udah bawa sendiri. Baru aja nyampe depan keran mau wudhu, adzan berkumandang.

Di sini saya pertama kalinya shalat 23 rakaat di bandung dan itu di saat saya sedang tertinggal target tilawahnya, jadi agak kesel gimanaaa gitu, sehingga harus berkali menyabar-nyabarkan diri: “Ayo peh, bisa sampai beres. Pahalanya seperti shalat semalam suntuk loh.”

Meski kurang fokus, saya sadar bahwa ini menurut saya adalah satu-satunya shalat tarawih 23 rakaat yang bener. Shalatnya lamaa banget, kalo ga salah hampir jam 9 baru selesai. Cukup nyunnah tentang panjang shalatnya, namun kalo tentang bagus tidaknya, Allahu a’lam hoho. Sayangnya yang ikut tarawih cuma 3-4 shaff, padahal tadi yang ikut ta’jil-an sealaihum gambreng dan di luar masjid (di area alun-alun) ada pasar dadakan yang rame pengunjung. Bahkan setelah shalat tarawih beres, di luar masjid masih penuh sesak lautan manusia.

Nb. Kalo malam-malam mau ke tempat parkir basement, lewat yang sebelah utara ya. Soalnya yang di selatan udah pada ditutup dan dikonci. Oia, kalo ga mau di basement, ternyata di bagian utara masjid (deket tempat wudhu akhwat) yang selevel dengan alun-alun, ada tempat parkir buat motor juga.

6. Masjid Pusdai, Jl. Suci(?)
Baca lebih lanjut

Jalan-Jalan Tarawih (1)


Ramadhan yang saya alami tahun ini ada yang berbeda, karena saya melakukan shalat tarawih di berbagai masjid yang berbeda di bandung, walaupun ga banyak-banyak amat.

eh, tapi sebenernya boleh gak sih? apakah ada sunnah yang lebih mengutamakan shalat di satu masjid saja? karena sebenernya saya melakukan jalan-jalan tarawih hanya iseng saja dan ternyata saya jadi tahu banyak jenis-jenis tarawih lho…

1. Masjid Ad Dakwah, Jl. Batik Sidomukti/Batik Halus

Masjid yang berada di dekat tempat tinggal saya ini, ternyata ‘punya’ Prof. Miftah Faridl lho. Beliau adalah ketua Yayasan Universitas Islam Bandung (masih gak sih?) dan tokoh nasional juga. Trus, kalo gak salah YPM Salman menetapkan bahwa beliau adalah imam utamanya (tapi malah jarang shalat di Salman, hehe). Oia, waktu saya tingkat 2, beliau lah yang menjadi dosen agama saya (ini kelas lucu deh, asdos-nya teh Elih tapi peserta kelasnya kang Heru, posisinya kebalikan kalo lagi rapat Mata’: kang Heru korum dan teh Elih staf S2Q).

Nah, kalo menjelang bedug maghrib, makanan-makanan ta’jil dijajarkan dalam 1 piring: gorengan, kue basah, dan kurma, di shaff paling belakang untuk ikhwan dan di teras masjid sebelah timur untuk akhwat. Pernah suatu ketika, ada makanan berat yang dibagikan ba’da shalat maghrib.

Shalat tarawih dilakukan setelah ceramah singkat (yang biasanya dilakukan oleh Pak Miftah sendiri) dan dilaksanakan berjumlah 10 rakaat (dengan rincian setiap 2 rakaat salam), lalu ditutup dengan shalat witir 1 rakaat. Saya ga tau hadits tentang qiyamul layl 10 rakaat, ada yang tau kah? Tolong share di bagian komen dong. Nuhun…
Baca lebih lanjut

Penyakit SePiLis


Saya sangat sedih ketika tahu bahwa di dunia ini banyak muslim yang terkena penyakit SePiLis, yaitu: sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme. Masih mending ketika mereka menganut itu untuk diri mereka sendiri, tetapi ternyata mereka mengajak orang lain, bahkan membentuk organisasi resminya. Bisa kita lihat JIL dan Freedom Institute sebagai contohnya.

Perlu kita ketahui di awal bahwa ada etika yang harus dipegang dalam membahas agama. Harus ekstra hati-hati, akan tetapi orang JIL, Freedom Institute, serta orang-orang lainnya yang menganut sekularisme, pluralisme, dan liberalisme tidak menggunakannya. Hal-hal dasar dalam agama yang tidak perlu diperdebatkan, mereka bahas dengan otak mereka yang terbatas.

Biar gampang membedakannya, kita lihat saja jargon-jargon dari mereka. Kaum sekularis mempropagandakan “Agama vs negara”, “Agama vs ilmu pengetahuan”, dll. Pluralis menyebarkan paham bahwa “Semua agama sama”, “Semua agama mengajarkan kebaikan”, “Semua agama menyembah tuhan yg sama”, dll. Sedangkan para liberalis menganggap bahwa “Agama itu urusan masing-masing”, “Jangan mencampuri keyakinan orang lain”, dll.

Sekarang lebih detail nih, supaya nambah jelas apa saja hal yang menyimpang dari penyakit SePiLis bagi ke-Islaman seserang:

Kita awali dari Sekularisme. Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa jargon sekularisme antara lain: “Agama vs negara” dan “Agama vs ilmu pengetahuan”. Pokoknya, menurut mereka, agama harus dipisahkan dari kehidupan, cukup di rumah ibadah saja. Padahal sudah jelas bahwa agama itu mengatur jalan hidup. Islam itu adalah din (jalan hidup) yang haq dan syumul.

Dari segi sosial, Islam mengajarkan hubungan antarsesama manusia, baik dengan muslim dan non-muslim, baik dengan yang lebih tua dan yang lebih muda, dengan sesama gender dan antargender. Dari segi politik, kita bisa belajar dari Sirah Nabawiyyah ketika Nabi Muhammad saw mendirikan negara, mengirim surat ke petinggi negara lain, dan manuver pembebasan-pembebasan yang beliau lakukan. Dari segi ekonomi, sudah jelas Islam mengharamkan riba dan mengatur masalah waris. Dan kesemuanya itu dihubungkan dengan keimanan kepada Allah, sehingga tidak bisa dipisahkan.

Islam harus ditegakkan baik ketika ibadah ritual di masjid maupun ketika berkegiatan di luar masjid. Dan sejarah menunjukkan bahwa kemajuan peradaban adalah pada saat masyarakat taat beragama.
Baca lebih lanjut

Anak Tuhan


Ada sebuah ilmu baru dari kang Hafidz tentang Anak Tuhan versi Kristen-nya Paulus si Yahudi.

Kita tahu bahwa Paulus si Yahudi sudah memporakporandakan konsepsi Kristen asli yang berasal dari Allah melalui Nabi Isa/Yesus. Di bibel memang disebutkan bahwa Nabi Isa/Yesus adalah anak Tuhan, namun maksud bibel disini adalah makna konotatif. Bukan denotatif seperti yang diselewengkan Paulus si Yahudi.

Soalnya ternyata di bibel ada banyak orang yang disebut Anak Tuhan. Afraim juga anak Allah yg sulung (Yeremia 31:9), Yakub juga anak Allah yang sulung (Keluaran 4:22), dan Daud adalah anak Allah yg sulung (Mazmur 89:27) tetapi kenapa mereka tidak disembah (hanya Yesus saja)? Harusnya di Kristen versi Paulus si Yahudi minimal ada 6 Tuhan (trinitas ditambah 3 orang tadi).

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, itu karena ungkapan anak Allah di atas adalah konotatif, seperti anak gaul (bukan berarti nama orangtuanya gaul kan?) atau anak emas (bukan berarti orangtuanya terbuat dari emas kan?). Makna anak Allah sebenarnya adalah orang yang dekat dengan Allah, yaitu utusan Allah aka Nabi.

Aha! Kalo gitu klop sama Al Quran…

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu)! (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (QS. Al-Nisa’: 171)

Bisa dibilang klop, soalnya injil (bukan bibel) tuh sebenarnya adalah kitab Allah yang sementara dan sekarang sudah habis masa berlakunya. Lihat aja bukti-bukti di bawah ini…
Baca lebih lanjut

Majelis Syura


Menuju Jama’atul Muslimin, sebuah tesis pascasarjana yang membeberkan janji-janji Allah akan happy ending-nya agama ini. Semuanya sudah terbahas panjang lebar disitu. Saya jadi terbayang bagaimana perasaan Muhammad Alfatih saat tiap hari diceritakan padanya tentang penaklukan Konstantinopel oleh pemimpin terbaik, hingga itu menjadi obsesinya.

Sekarang tinggal kita menemukan takdir kepahlawanan kita di masa sekarang. Saatnya kita bergerak dan merebut janji-janji Allah itu dan menjadikan agama hanya milik Allah semata. Untuk itu, kita perlu mengetahui seperti apakah Jama’atul Muslimin.

Kesimpulan sang penulis bahwa Jama’atul Muslimin terdiri dari 1 basis/qa’idah yaitu Ummat serta 2 pilar yaitu Majelis Syura dan Khalifah. Nah, pada kesempatan kali ini, saya ingin sedikit membahas tentang Majelis Syura, berhubung saya pernah dan sedang menjadi anggota Majelis Syura di suatu lembaga di kampus.

Setelah penulis memberikan penjelasan yang mendalam tentang syura, akhirnya saya kembali terenyuh ketika sampai pada syarat-syarat anggota syura, ini dia syaratnya (yang telah saya rangkum dari Ath Thariq ila Jama’atil Muslimin halaman 94-96):

  1. ‘Adalah (keadilan), dengan semua persyaratannya
    Khiththah (kebijakan) para khalifah sesudah Rasulullah saw adalah bermusyawarah dengan orang-orang yang adil dan terpercaya dari para ahli ilmu dalam umat ini pada setiap zaman dan makan.
    Bukhari berkata, “Para pemimpin sesudah Rasulullah saw senantiasa meminta pendapat (musyawarah) dengan orang-orang yang terpercaya dari kalangan ahli ilmu.” (Bukhari 9/138-139, Fathul Bari 13/339: dalam menjelaskan perkataan Bukhari ini Ibnu Hajar berkata ‘Terdapat banyak riwayat tentang musyawarah para Imam sesudah Nabi saw.’)
    Para ulama menyimpulkan syarat-syarat ‘adalah dalam Islam ada lima hal, yaitu: Islam, berakal, merdeka, lelaki, baligh. (Kutipan dari kesimpulan Imam Mawardi dalam Al Ahkam Al Sulthaniyah halaman 6)
  2. Bertaqwa dan bersih dari dosa kepada Allah dan umat
    Orang berilmu yang dicalonkan menjadi anggota syura ini hendaklah orang yang memiliki lembaran putih dengan Allah dan terpelihara akhlaq-nya (bukan pelaku dosa). Sebab, ketika Allah memerintahkan Rasul-Nya bermusyawarah dengan para sahabatnya, Dia meminta agar Rasulullah saw terlebih dahulu memaafkan mereka atas kesalahan mereka terhadapnya. Disamping memintakan ampun kepada Allah atas dosa mereka yang berkaitan dengan Allah, sehingga mereka layak bermusyawarah dan menjadi anggota syura.
    Firman Allah: “…karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (TQS. Ali ‘Imran: 159)
    Dengan syarat ini, berarti tidak ada tempat dalam Majelis Syura Islami bagi tukang maksiat, orang-orang fasiq, dan para ulama yang tidak jujur.
  3. Baca lebih lanjut

Selingkaran Sahaja


Ketika beliau keluar, tiba-tiba beliau dapati para sahabat dalam halaqah (lingkaran). Beliau bertanya, “apakah yang mendorong kalian duduk seperti ini?” Mereka menjawab, “Kami duduk berdzikir dan memuji Allah atas hidayah yang Allah berikan sehingga kami memeluk Islam.” Maka Rasulullah bertanya, “Demi Allah, kalian tidak duduk melainkan untuk itu?” Mereka menjawab, “Demi Allah, kami tidak duduk kecuali untuk itu.” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya saya bertanya bukan karena ragu-ragu, tetapi Jibril datang kepadaku memberitahukan bahwa Allah membanggakan kalian di depan para malaikat.” (HR Muslim)

“Tidaklah suatu kaum berjumpa di suatu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah, dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi majelisnya, malaikat menaungi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka dengan bangga di depan malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)