Fakta Mengejutkan


Sebuah fakta mengejutkan bahwa penyusun kehidupan di Bumi, atom penyusun tubuh manusia, berasal dari unsur ringan (hidrogen, helium) yang diubah menjadi unsur-unsur berat melalui reaksi fusi nuklir di inti bintang.

Bintang-bintang ini, jika menjadi tidak stabil di masa-masa akhir hidupnya, akan runtuh dan meledak; menghamburkan atom-atom di dalam bintang ke seluruh penjuru galaksi.

Menghamburkan karbon, nitrogen, oksigen, dan bahan-bahan lain pembentuk kehidupan. Bahan-bahan ini mengumpul membentuk gumpalan gas yang memampat menjadi bola-bola kecil membentuk cikal-bakal tata surya (matahari dan planet-planet yang mengelilinginya). Dan planet-planet ini kini memiliki bahan pembentuk kehidupan.

Jadi, saat kutatap langit malam, aku tahu bahwa kita adalah bagian dari alam semesta ini. Tetapi, mungkin yang lebih penting dari semua itu adalah fakta bahwa alam semesta ada di dalam diri kita.

Baca lebih lanjut

Polusi Cahaya di Salman


polusi cahaya

Perubahan-perubahan fisik di Salman kini menghasilkan polusi cahaya. Silakan lihat foto. Yang di kiri adalah Salman dulu, terlihat rumput yang berada di bawah lampu taman menjadi terang. Sedangkan yang di kanan adalah Salman sekarang, terliat rumput yang berada di bawah lampu taman tetap gelap.
Baca lebih lanjut

50 Tahun Masjid Salman (Part Two)


Lampu

Markila, mari kita lanjutkan.

Tulisan part one lebih kepada Masjid Salman di awal-awal berdirinya. Dan tentu saja itu tidak saya alami langsung, sehingga saya terima dari cerita mulut-ke-mulut orang lain, serta belum saya cek validitas datanya. Hehe, jadi emang bukan tulisan ilmiah. Nah, kalo part two ini insya Allah langsung saya amati sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus bergambar gajah lagi frustasi (sampai-sampai buku aja didudukin dan gadingnya sendiri dia patahin).

Umm, mulai dari mana ya? Dari lanskapnya dulu aja lah ya, berhubung foto yang pertama muncul adalah tulisan Masjid Salman ITB yang diterangi lampu berwarna biru. Tulisan ini tadinya tidak ada, mungkin karena orang-orang bingung mencari Masjid Salman dimana (padahal sudah di depan mata, tetapi tetap bertanya), jadinya pengurus YPM memberikan tanda berupa tulisan di tempat masuknya. Awalnya tulisan ini berada di batu alam yang dekat lapangan utara, terus dipindah ke tempat yang ada di foto.

Pembaharuan ini lumayan lah, ada desainnya. Meskipun cahaya lampunya ada yang mengarah ke langit, beda banget dengan lampu di lapangan rumput utama (yang ada di belakang kortim) yang tepat guna karena menjaga langit malam tetap gelap. Mengenai lampu yang mengarah ke langit pun terjadi juga pada lampu sorot yang menerangi menara dan atap masjid. Semoga bisa segera dicopot dan ke depannya kita bisa cermat dalam menggunakan cahaya lampu agar tidak terjadi polusi cahaya.

lampu salman
Baca lebih lanjut

50 Tahun Masjid Salman (Part One)


Lampu

Entah mengapa ‘peringatan’ 50 tahun Masjid Salman sudah menggema pada tahun 2013 ini, padahal yang saya ingat tuh Masjid Salman dirancang oleh pak Achmad Noe’man pada tahun 1964. Berarti baru tahun depan Masjid Salman genap setengah abad.

Walau begitu, pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit berbagi tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada Masjid Salman (contohnya foto di awal tulisan ini), baik yang saya perhatikan langsung, maupun yang saya dengar dari dosen maupun kakak kelas.

Seperti yang saya sebut di awal bahwa ‘bayi’ Masjid Salman lahir pada tahun 60-an, dimana saat itu Arsitektur Modern sedang masuk ke Indonesia. Langgam international style yang dipopulerkan oleh Le Corbusier, seorang maestro Arsitektur, bisa dilihat dalam fisik Masjid Salman.

Kata kuncinya adalah ‘Kejujuran’, yaitu: desain yang sebagaimana adanya ia (tidak dibuat-buat maupun ditutup-tutupi), baik secara struktur, material, hingga utilitas. Bisa kita lihat struktur Salman yang diekspos: kolom di koridor timur bahkan dikeluarkan sehingga kita bisa lihat ada dua kolom yang berdekatan (yang biasanya saya jadikan hijab fisik ketika rapat, hehe…), begitu pula kolom di area imam dan mihrab (kolom dan dinding dipisah secara tegas, yang hanya disatukan oleh kaca ber-frame) kayu.

Terkait hal ini, sangat sedikit yang tahu kalau Masjid Salman tuh aslinya warna beton (ga dicat kayak sekarang). Hanya saja, konon ada yang nyeletuk (katanya sih dosen Astronomi): “Kok seperti bangunan yang belum jadi ya?” sehingga Masjid Salman dicat (yang saat itu) diwarnai dengan warna hijau (saya juga sebenernya gak kebayang gimana, kayak kerasukan The Incredible Hulk jadinya). Setelah itu, baru dicat seperti sekarang: dinding berwarna abu-abu dan kolom berwarna hitam pada interior, serta ada mural yang dilukis di eksterior Masjid bagian timur oleh pelukis khusus bangunan (saya lupa namanya, kalo gak salah alumnus FSRD ITB juga). Tapi mural yang sekarang mah sudah dicat ulang, bahkan baru-baru ini warnanya diganti kembali menjadi bernuansa hijau (lihat gambar di bawah, lagi proses pengecatan tuh).
Baca lebih lanjut

9 Maret: Planetarium


Sangatsu no kaze ni omoi wo nosete. Sakura no tsubomi wa haru e to tsuzukimasu. With my feelings on the March wind. The cherry blossom buds continue on into spring.” (Remioromen – 3 Gatsu 9 Ka / March 9th)

Aduh kejadian lama gini, baru bisa diposting sekarang. Yap, ini cerita tanggal 9 Maret (pas sama judul lagunya Remioromen yang jadi OST Ichi Rittoru no Namida / Seliter Tangis) lalu ke Planetarium dan Observatorium Jakarta di Taman Ismail Marzuki. Agendanya: berbincang-bincang dengan Pak Widya Sawitar, nonton pertunjukan di Planetarium, jalan-jalan liatin mekanikal dan elektrikal planetarium, dan ikut pertemuan dwimingguan HAAJ.

Nah, berikut ini hasil bincang-bincang dengan Pak Widya Sawitar, semoga bisa membantu arsitek yang ingin membangun planetarium di mana pun.

Kita harus pahami bahwa ada beberapa fungsi planetarium, yaitu:

  • Pertama, Planetarium adalah laboratorium dengan cara edutainment (bukan sekedar bioskop), sehingga ada follow up-nya. Misalnya, sepulang dari planetarium pengunjung bisa lebih peduli terhadap polusi cahaya.
  • Kedua, Bisa jadi pusat kegiatan astronom amatir. Setelah sebelumnya hanya dikenalkan dengan astronomi, di sini pengunjung bisa benar-benar terbina untuk hal-hal yang berhubungan dengan astronomi.
  • Ketiga, khusus di Bosscha (ITB), planetarium harus bisa mendukung pendidikan tinggi di program studi astronomi.

Dewasa ini, planetarium mulai berpindah menjadi omniplanetarium, yaitu planetarium yang bisa digunakan untuk selain fungsi planetarium pada umumnya, seperti: seminar, fashion show, conference, theatre, maupun konser musik.
Baca lebih lanjut

Survai Bandara Juanda (Kedatangan)


1. Akses menuju bandara (dari pesawat)

2. Menuju area pengambilan barang, ngintip apron dulu (walau burem, garbaratanya keliatan kan?)

3. Menuju area pengambilan barang, ngintip ruang tunggu keberangkatan dulu

4. Masih menuju area pengambilan barang, lagi di koridornya

Baca lebih lanjut

Survai Bandara Soekarno-Hatta (Keberangkatan)


1. Jalur kendaraan menuju curb keberangkatan

2. Curb keberangkatan

3. Taman kecil yang bisa kita lihat di setiap void di antara koridor menuju pelataran keberangkatan

4. Koridor menuju pelataran keberangkatan

Baca lebih lanjut