[jurnal] Membangun Jaringan FORSIMAP


Beberapa pekan lalu, saya menenggelamkan diri pada koleksi buku salah satu arsitek di Jakarta. Dari buku tentang arsitektur dan arsitek yang saya baca, saya menemukan beberapa fakta unik:

Pertama, melihat banyaknya proyek-proyek dan arsitek berasal, sepertinya kita perlu memfokuskan diri untuk memperkuat jaringan di tiga tempat. Yang paling mudah adalah mencari kontak muslim di semua kampus yang ada jurusan arsitektur/perencanaan/yang serumpun. Lebih bagus lagi bila kontak yang kita dapat itu aktif juga di Rohis/LDPS/SKI jurusannya. Yaitu di:

  1. Jakarta: terdata ada 23 kampus yang ada jurusan di atas
  2. Bandung: 10 kampus
  3. Bali: 4 kampus

Baca lebih lanjut

[jurnal] FORSIMAP: Latar Belakang dan Tujuan


“Setiap satu garis kecil yg ditorehkan oleh seorang arsitek, akan berpengaruh besar terhadap perdaban manusia.” (Seorang Dosen)

Berikut ini adalah sedikit cuap-cuap saya di grup WhatsApp tentang latar belakang dan tujuan sebuah organisasi yang saya inisiasi, yaitu FORSIMAP (Forum Silaturrahim Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaa). Maksudnya agar bisa sekedar me-refresh dan mewariskan semangat yang saya bawa kepada teman-teman yang baru gabung dari seluruh Indonesia.

Olrait, ini dia.

LATAR BELAKANG

Seorang dosen pernah berkata kepada para mahasiswanya di suatu kelas, bahwa setiap satu garis kecil yang ditorehkan oleh seorang arsitek, akan berpengaruh besar terhadap peradaban manusia. Setelah mendengar kata-kata itu, saya sedikit merenung.

Bayangkan, di Indonesia ada ratusan kampus yang ada jurusan arsitektur-nya. Di tiap kampus itu sedikitnya ada 300-400 mahasiswa (1 angkatan dipukul rata kurang-lebih 100 orang). Yang muslim mungkin sekitar 70% lah ya. Nah, kalau semuanya sholeh, nanti kampus-kampus tersebut akan melahirkan arsitek-arsitek yang berafiliasi terhadap Islam. Itu artinya peradaban Islam di Indonesia sudah pasti akan terwujud kelak.

Karena tiap bangsa akan dipergilirkan memimpin peradaban. Persia, Romawi, Arab, Cina, hingga Inggris pernah memimpin peradaban ini. Sekarang (walaupun tidak suka) harus diakui kalau Amerika menjadi super-power planet ini. Percayalah kawan, ada satu bangsa yang sedang menunggu takdir kepemimpinannya. Bangsa yang belum pernah mewarisi estafet kepemimpinan, yaitu bangsa Melayu. Tepatnya Indonesia, dimana terdapat penduduk muslim terbesar di dunia.

Yah, walaupun arsitek peradaban itu sebenarnya bukan profesi arsitek alumnus jurusan arsitektur. Kata “arsitek” pada frase “arsitek peradaban” hanya kiasan. Apalagi dalam peradaban, pembangunan fisik itu bukanlah yang utama. Namun, saya berkeyakinan, bahwa peradaban Islam di Indonesia bisa berawal dari arsitektur. Dengan catatan kita tetap belajar dan tetap mengajarkan quran (membina).
Baca lebih lanjut

[jurnal] Mungkin Ini Mimpi Terbesar?


Beberapa saat menjelang perhelatan akbar seantero jagad dakwah kampus se-Indonesia bahkan merambah negara lain, yaitu IMSS (International Muslim Student Summit) di Bandung, saya jadi teringat kisah sederhana yang terjadi pada bulan Ramadhan 1431 H.

Ketika itu, sebuah lembaga yang baru baru menapaki usianya yang ke-3, dengan nekatnya mengadakan acara yang serupa dengan IMSS, hanya saja versinya lebih kecil (Hey, percayalah, semua yang kalian rasakan sekarang, saya rasakan pula dua tahun lalu: buncahan semangatnya, deg-degannya, capeknya, dan senangnya. Semua nyatu di relung dada). Lembaga itu adalah LDSAPPK “MuSA” ITB.

Dari segi panitia saja, hanya 9 orang, yaitu Rakhmat, Angellya, Oktaniza, Nurrahman, Veronika, Fira, Suhendri, Ridwan, dan Gladisena. JazakumuLlah khair, semoga memperberat timbangan kebaikan kalian kelak.

Dari segi lingkup, hanya tingkat nasional, malah ternyata hanya mampu menghadirkan dari Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Dari segi pendanaan, yah sepuluh juta tidak sampai sepertinya, dengan sumber utama dari donasi dan usaha mandiri yang sahaja.

Hanya saja, kalau tentang cita-cita, kami tak mau kalah dengan IMSS, hehe. Afwan jadi arogan gini, semoga niatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan ya…

Untuk itu, dalam beberapa paragraf ke depan, akan sedikit diceritakan mengenai konsep awal dan mimpi besar dari kisah sederhana tersebut. Sila mulai menyimak…

Februari 2008, di Kampus II Unisba di Ciburial, Bandung. Saya dan beberapa teman GAMAIS ITB angkatan 2007 sedang mengikuti LGC (Laskar GAMAIS Camp) yang salah satu kegiatannya adalah membuat konsep suatu kegiatan ke-Islaman yang sesuai dengan fakultasnya. Pada saat itu, saya, Alpian, Nisa, dan Yuyut lah yang berkesempatan mewakili SAPPK (Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan). Dari situ, mulai terbentuk cikal bakal rancangan acaranya.
Baca lebih lanjut

[jurnal] Notulen Sidang Indonesia SALAMAN


Bismillahirahmanirahim

Nama
FORSIMAP (Forum Silaturrahim Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan)

Visi
“Terbentuknya Jaringan yang Kokoh dan Bermanfaat Antar Lembaga Dakwah Kampus Arsitektur dan Perencanaan Se-Indonesia Menuju Kejayaan Peradaban Islam”

Misi

  • Memperluas dan memperkokoh jaringan lembaga dakwah kampus Arsitektur dan perencanaan se-indonesia.
  • Mengkaji Arsitektur dan Perencanaan dari sudut pandang Islam.
  • Mensyi’arkan wawasan peradaban Islam melalui Arsitektur dan Perencanaan.
  • Menginisiasi dan mendampingi lembaga dakwah kampus Arsitektur & Perencanaan menuju kemandirian

Struktur Forum

Penjelasan Struktur Forum
Baca lebih lanjut

[jurnal] Indonesia SALAMAN 2011


Assalamualaykum wr.wb.

Pengumuman untuk semua Mahasiswa Muslim Arsitektur dan Planologi se-Indonesia bahwa insya Allah akan dilaksanakan sebuah acara untuk kita semua yang diberi nama INDONESIA SALAMAN: INDONESIA SILATURRAHIM MAHASISWA MUSLIM ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN selama 2 hari pada tanggal 10-11 Sept 2011 di Yogyakarta.

Berikut rinciannya:

Seluruh peserta diharapkan sudah hadir di Yogyakarta pada tanggal 10 sept tersebut sekurang-kurangnya pukul 08.00 WIB karena acara akan dimulai pada pukul 09.00 WIB. Agenda hari pertama adalah menu utama acara ini, yaitu:

  1. Nama Forum –> menunjukkan semangat, karakter dan kekhasan forum
  2. Tujuan Forum –> untuk apa forum ini ke depannya, punya goal yang jelas
  3. Fungsi Forum –> gunanya untuk ngapain aja?
  4. Bentuk Struktural –> apakah seperti FSLDKN? IMPI? atau seperti apa?
  5. Target 1 tahun ke depan –> nambah berapa anggota? merampungkan AD ART? punya produk? mengadakan event?
  6. Pertemuan selanjutnya mau dimana dan kapan

Baca lebih lanjut

[jurnal] Proyek Buku LDW Lagi


Kita bukanlah termasuk ke dalam golongan manusia yang suka menyebutkan amal-amal yang telah kita lakukan untuk dakwah. Kita lebih meyakini perkataan yang pernah disampaikan Ustadz Rahmat Abdullah. “Dua hal yang kita harus ingat: keburukan kita dan kebaikan orang lain.” Begitu tutur beliau yang juga ditayangkan dalam film ‘Sang Murabbi.’ “Dan dua hal yang harus kita lupakan: kebaikan kita dan keburukan orang lain.”

Semoga tulisan ini masih mewarisi semangat ikhlas tersebut. Semoga kita semua dilindungi dari noktah-noktah riya dalam setiap helai hurufnya. Tulisan ini mengajak agar kita semua bisa saling berbagi rasa, saling berbagi asa. Agar kita bisa bersama-sama menyiduk makna, menyaring hikmah, merangkainya dengan indah. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi inspirasi dalam menyusuri teriknya hari. Menjadi tenaga penuh energi dalam meniti jalan dakwah yang terjal ini.

Tertanggal 20 Februari 2010, saya, Reza Primawan Hudrita, terpilih menjadi Kepala LDSAPPK “MuSA” ITB. Sejak saat itu yang ada dalam benak saya adalah kisah teladan Muhammad Al Fatih.

Memang penaklukan Konstantinopel telah Allah janjikan sedari dulu melalui lisan Nabi-Nya, akan tetapi bukan berarti Muhammad Al Fatih tanpa persiapan dalam menyongsong takdirnya itu. Muhammad Al Fatih selalu diperdengarkan oleh gurunya secara terus-menerus hadits yang menyatakan bahwa pemimpin yang menaklukan Konstantinopel adalah sebaik-baiknya pemimpin, hingga hal tersebut menjadi suatu obsesi tersendiri bagi Muhammad Al Fatih. Berawal dari hadits itu, Muhammad Al Fatih mempersiapkan dirinya dengan menjaga amalan wajib dan sunnah semenjak beliau baligh. Terbukti, ketika beliau mengecek amalan para pasukan yang akan menaklukan Konstatinopel, hanya beliau yang menjalankan semuanya.

Obsesi. Satu kata kunci itulah yang dimiliki Muhammad Al Fatih dalam menghidupkan janji Allah yang dilantunkan Utusan-Nya. Kini giliran kita yang harus memiliki obsesi untuk merebut takdir kepahlawanan kita. Setiap bangsa akan Allah pergilirkan untuk memimpin peradaban dunia. Mulai dari Romawi, Arab, Cina, Inggris hingga Amerika telah mendapatkan perannya. Kelak bangsa Melayu, tepatnya Indonesia, pasti akan memimpin peradaban dunia. Mungkin hal itu akan tiba bukan di masa kita, namun langkahnya harus kita mulai saat ini. Hal inilah yang melandasi gerak kepemimpinan saya selama menjadi kepala MuSA, yaitu: Mimpi akan Indonesia Islami, dari kampus menuju peradaban Islam.

Saya percaya bahwa arsitektur dan planologi (tata kota) adalah wadah awal terbangunnya peradaban. Bila rancangan arsitektur dan tata kotanya Islami akan tercipta perilaku Islami, lalu akan berkembang menjadi kebiasaan Islami, setelah itu akan jadi gaya hidup Islami, kemudian akan tercipta budaya Islami, hingga suatu saat nanti peradaban Islam akan tercipta dengan sendirinya. Rekayasa peradaban ini harus dimulai dari sekarang, dengan momentum ketika saya menjadi kepala MuSA.

Langkah awal yang saya lakukan adalah membentuk tim formatur MuSA. Tim ini berfungsi untuk meng-konstruksi MuSA, karena ketika tongkat estafet kepengurusan MuSA diberikan ke saya, saat itu MuSA baru berumur dua tahun dan bisa dibilang benar-benar masih kosong. Tahun pertama MuSA, strukturnya hanya ada kepala MuSA sendirian saja. Ketika tahun kedua, sudah ada strukturnya tetapi orang-orang yang ada hanya koordinatornya saja (belum ada staf), maka dari itu pengurus MuSA saat itu baru ada 4 orang: Kepala MuSA, Sekjen MuSA, Kepala Sektor Internal, dan Kepala Sektor Syiar. Tim formatur bertugas merumuskan visi MuSA hingga strukturnya. Nah, struktur di kepengurusan saya tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, yaitu hanya ada 4 posisi: Kepala MuSA, Sekum MuSA (nama Sekjen diganti menjadi Sekum), Sektor Internal, dan Sektor Syiar. Oke, kita bahas satu persatu.
Baca lebih lanjut

[jurnal] buku LDW (kerangka)


KERANGKA BUKU

1. Overview lembaga dakwah wilayah
– Definisi LDW: posisi (sistematika hubungan LDW dengan LDP), fungsi (diferensiasi pusat-wilayah), potensi (bahasa kaumnya, sebagai ujung tombak Syiar dan Rekrutmen dakwah kampus)
– Sejarah pembentukan LDW
– Kondisi dakwah kampus ITB: kultur, geografis

2. Levelisasi lembaga dakwah wilayah
– Penjelasan jenis-jenis level (ketika menjelaskan level mandiri, tekankan bahwa itulah kondisi ideal, baik secara struktur maupun yang lainnya)
– Rekomendasi fokus gerak tiap level
– Kuesioner levelisasi

3. Level inisiasi
– Menumpang lembaga umum yang sudah ada (himpunan/bem): aktivasi kegiatan, tarik minat massa
– Berada di bawah naungan LDK
– Legalisasi lembaga

4. Level mula
– Pembentukan tim inti: metode, produk-produk persiapan, waktu, angkatan
– POAC
– Koordinasi: muktamar madani, proker bersama
– Kepala LDW (setiap beginian, yang dibahas: jobdesc mencakup posisi-peran-potensi, hubungan pusat-wilayah mencakup produk pusat-wilayah, program kerja, inovasi faktual)
– Sekretaris jenderal: Administasi mencakup SOP surat masuk, surat keluar, proposal, stempel
– Internal: alur kaderisasi, wasilah pembinaan, mencetak mentor
– Syiar dan pelayanan: ta’lim (keislaman, akademik), media (buletin, poster propaganda, onlen, sms taushiyah), kegiatan karakter khas LDW (biasanya pelayanan akademik)
– Masalah-masalah yang terjadi di level ini
– Penyiapan generasi baru
– Evaluasi dan pertanggung jawaban
Baca lebih lanjut