Tentang Politik


Sudah tidak ada perdebatan lagi di antara kita bahwa sistem politik yang ideal adalah yang langsung diterapkan sendiri oleh RasuluLlah. Hanya saja, untuk mewujudkan itu di bumi pertiwi, itu berarti revolusi dan kita perlu membayarnya dengan tebusan yang tinggi harganya. Mulai nyawa, dana, hingga kesatuan negara.

Maka dari itu, termasuk hal yang paling optimal adalah dengan menjadikan nilai-nilai syariat Islam terintegrasi dengan Undang-Undang negara. Dengan begitu, seluruh umat Islam di nusantara bisa menjalankan keislamannya secara 100%.

Ada beberapa pandangan saya tentang politik di Indonesia. Yang pertama dan utama adalah kondisi perpolitikan nasional harus berasaskan keadilan. Karena Allah perintahkan kita untuk berbuat adil dalam firman-Nya.

“…Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa….”
(TQS. Al Maidah: 8)

Efek bola salju dari kondisi tersebut akan merambah pada penyelenggaraan ketatanegaraan yang baik sesuai dengan fungsi dan wewenangnya, reformasi birokrasi untuk mewujudkan birokrasi yang bersih-kredibel-efisien, penegakkan hukum dan perlindungan HAM yang bermula dari pembersihan para aparatnya dari perilaku bermasalah dan koruptif.

Bahkan lebih jauh lagi sampai pada tingkat provinsi dan daerah. Semua proporsional dan terkendali. Tentu kita ingat kisah Umar bin Khattab yang mengingatkan Gubernurnya, Amru bin Ash, dengan memberikan tulang yang telah diberi goresan pedangnya. Otonomi daerah itu penting, dengan catatan dengan adanya koordinasi dengan pusat.
Baca lebih lanjut

Iklan

Sang Insinyur-Arsitek, Bung Karno


“Saya tidak yakin di kemudian hari akan menjadi pembangun rumah. Tujuan saya ialah untuk menjadi pembangun sebuah bangsa.”
(Ungkapan Hati Soekarno kepada C.P. Wolff Soemaker)

Banyak orang yang tidak tahu bahwa Presiden pertama Republik Indonesia, Dr. (HS) Ir. Soekarno, adalah seorang arsitek karena (anggapan itu muncul akibat) saat beliau kuliah di Technische Hoogeschool (sekarang jadi ITB) memang tidak ada jurusan Arsitektur. Bung Karno tercatat sebagai mahasiswa TH, bersamaan dengan detik-detik berarkhirnya kekhalifahan Utsmani di Turki (TT_____TT), bernomor urut 55 di bidang Ilmu Bangunan, Jalan, dan Air. Meski judulnya lebih ke Teknik Sipil, mata kuliah kesukaan beliau adalah menggambar yang diajarkan oleh C.P. Wolff Schoemaker (arsitek Villa Isola, Observatorium Bosscha, dll) dan lebih senang menyebut dirinya Insinyur-Arsitek.

Karier pascakampus Bung Karno diawali dengan membantu proyek BOW (Departement van Burgerlijke Openbare Werken atau Departemen Pekerjaan Umum). Sebenarnya beliau tidak mau ikut proyek tersebut karena itu tandanya dia membantu pemerintah kolonial sekaligus mengkhianati bangsanya, akan tetapi sang gurunda membujuknya sehingga beliau bersedia membantu di satu proyek saja di BOW. Selepasnya, Bung Karno lebih memilih untuk magang di kantor gurunya dan menjadi juru gambar proyek paviliun di Hotel Preanger, Bandung.

Karena rasa cintanya pada Tanah Air yang begitu besar, satu-satunya jalan meniti karier bagi Bung Karno hanyalah berwirausaha, yaitu dengan mendirikan biro arsitektur bersama kawannya yang bernama Anwari. Berhubung keduanya memiliki minat di politik juga (Bung Karno mendirikan PNI lalu menjadi ketuanya), biro ini pun terabaikan dan tak bertahan lama tanpa ada prestasi yang berarti. Apalagi setelah itu beliau dijebloskan ke penjara selama setahun (pebisnis yang memiliki catatan hitam tentu dibayangi ketidaklakuan).
Baca lebih lanjut

Perencanaan


Pernahkah kita salah menghitung jumlah rakaat dari shalat yang kita lakukan? Kita mengira masih ada satu rakaat lagi, namun ternyata, imam sudah duduk tahiyyat akhir.

Apa yang kita lakukan bila itu terjadi? Pasti memaksakan diri untuk duduk mengikuti imam kan, padahal saat itu kita sedang bersiap diri untuk bangkit berdiri.

Saya rasa semua sepakat, ketika memaksakan diri untuk duduk tanpa persiapan karena niat awalnya untuk bangun, pasti terasa sakit di tubuh bagian belakang kita lalu posisi duduknya pun menjadi tidak nyaman. Belum lagi kita malah mengganggu jama’ah di sebelah kita yang mungkin kakinya tak sengaja kita duduki.

Nah, kawan. Mungkin seperti itu juga dalam kehidupan. Perencanaan yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh, bukan berarti kita mendapat jaminan untuk tidak jatuh.

Akan tetapi, perencanaan itu akan membuat jatuh yang selamat, tidak terjun bebas langsung ke titik nadir.

Dan perencanaan itu membuat kejadian jatuh itu tidak berlama-lama menenggelamkan kita. Malah dengan jatuh itu, kita bisa bangkit, terus berlari, bahkan memberikan kekuatan untuk melompat lebih tinggi.

Lebih jauh lagi, perencanaan membuat kesetimbangan dengan lingkungan kita berada. Bukankah sebaik manusia yang paling bermanfaat? Dan itu menuntut rasa aman bagi orang lain terhadap dirinya bukan?

Jadi menyusun rencana adalah titik kritis dalam mengembangkan kehidupan dan kualitas diri. Dengan catatan, perencanaan itu menjadi aksi, bukan kata-kata manis yang cepat basi.

Dari mata turun ke hati, dari visi turun ke aksi….

Menang


Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (TQS. Ali ‘Imran: 26)

Percayalah kawan, mudah bagi Allah memberikan kemenangan pada kita, karena Allah Maha Berkehendak. Sedangkan kemenangan itu Allah berikan kepada yang Allah kehendaki (tu’til mulka man tasya’).
Baca lebih lanjut

Jawa Barat yang Cerdas


“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia…”

Sengaja saya ulang teks preambule UUD 1945 di atas, agar kita kembali apa saja seharusnya yang dilakukan oleh pemerintah kita, termasuk pemerintah daerah, dalam menjalankan roda kepemimpinannya.

Untuk kesempatan kali ini, saya akan sedikit membahas tentang kepedulian pemerintah provinsi Jawa Barat untuk turut Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dengan memberi perhatian pada program-program pendidikan.

Dalam kurun hampir lima tahun terakhir ini, provinsi Jawa Barat berhasil melakukan pembangunan 12.000 Ruang Kelas Baru (RKB) dan mengembangkan sarana dan prasarana SLB dengan anggaran melebihi Rp 31 milyar.

Kemudian, pemprov Jabar pun ikut andil dalam meningkatkan penyelenggaraan pendidikan nonformal dengan anggaran hampir menyentuh 15 milyar rupiah dan meningkatkan pelayanan PAUD, KF, Paket B, dan Paket C dengan anggaran lebih darri 9 milyar rupiah.
Baca lebih lanjut

Infrastruktur yang Kuat di Jawa Barat


“Don’t judge a book by its cover”

Idiom inggris di atas memang mengajarkan kita bahwa pada dasarnya memang konten seyogyanya dapat perhatian lebih daripada sampul. Begitu juga dengan pembangunan, yang terpenting adalah pembangunan nilai dan moral. Namun, tak diragukan lagi, pembangunan fisik memiliki pengaruh yang cukup besar kepada pembangunan nilai dan moral tersebut.

Bila infrastruktur baik, maka proses penyejahteraan rakyat akan semakin baik dilaksanakan. Bayangkan bagaimana bantuan kesehatan dan pendidikan dapat diterima oleh masyarakat di pedalaman yang belum tersentuh oleh jalan dan jembatan yang memadai?

Maka dari itu, untuk menjalankan amanat dari Undang-Undang Dasar 1945 yaitu Memajukan Kesejahteraan Umum sekaligus Melindungi Segenap Bangsa Indonesia dan Seluruh Tumpah Darah Indonesia, pemprov Jawa Barat melakukan realisasi anggaran terbesar yang tercatat pada tahun 2010, yaitu lebih dari 522 milyar rupiah atau meningkat hampir 6 kali lipat dari realisasi anggaran tahun 2007.
Baca lebih lanjut

Jawa Barat Meningkatkan Perekonomian Rakyat


Tulisan kali ini masih membahas tentang kepedulian pemerintah provinsi Jawa Barat untuk Memajukan Kesejahteraan Umum sesuai amanat preambule UUD 1945 alinea ke, tetapi bidang yang akan dikupas adalah Ekonomi. Hal ini disebabkan oleh banyaknya aspek yang harus dilakukan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, bahkan sebenarnya setelah ini ada lagi, yaitu mengenai infrastruktur di Jawa Barat.

Ekonomi adalah hal penting yang menjadi indikasi kesejahteraan rakyat. Bila ekonomi (daya beli) rakyat baik, tak peduli seberapa besar kenaikan harga barang-barang, insya Allah rakyat akan mampu menjangkaunya untuk kebutuhan sehari-hari. Maka dari itu, untuk meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya di Jawa Barat, dalam waktu 2 tahun 4 bulan saja, Pemrpov Jabar berhasil merealisasikan janji pembukaan 1 juta lapangan kerja di sektor perdagangan, pertanian, perkebunan, kehutanan, rumah makan dan jasa akomodasi, serta sektor industri.

Beberapa caranya antara lain dengan menyediakan 2.102 sarana perdagangan di pasar modern dan 3.442 sarana perdagangan di toko modern, memfasilitasi kompetensi SDM bidang perdagangan sebanyak 600 orang, merevitalisasi 8 pasar tradisional, dan menertibkan 64.021 unit SIUP. Jumlah yang besar ya. Kalau masih ada yang merasa bahwa Pemprov Jawa Barat tidak melakukan apa-apa selama 5 tahun belakangan ini, tentu sangat aneh kan?
Baca lebih lanjut