Pengukuhan Pengurus FSRB


Pada Hari Jumat, 24 Maret 2017, diadakan acara Pengukuhan Pengurus Forum Silaturahim Rohis/DKM Bogor (FSRB) oleh Kementerian Agama Kota Bogor, bertempat di kantor Kementerian Agama Kota Bogor Jl Semeru No 25 Bogor. Acara ini diadakan dlm rangka pergantian pengurus FSRB utk periode 2017/2018.

Acara dibuka dengan penampilan nasyid oleh pengurus FSRB dan tilawah Al Quran. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan ketua seksi PAIS (Pendidikan Agama Islam pada Sekolah), KH. Ujang Supriatna, S.Ag. Dalam sambutannya, beliau berpesan bahwa Pendidikan agama Islam itu harus kuat, mencakup aqidah, akhlak, dan fiqih.

Memasuki acara inti berupa Pembacaan SK pengurus, menetapkan Hadika Raihan (SMAN 1) sebagai Ketua, Muti’ah Rahmah (SMAIT Ummul Quro) sebagai sekretaris dan Rahma Shafiyurrahman (SMAN 1) sebagai bendahara.


Baca lebih lanjut

Halal Bi Halal Rohis


Assalamu’alaykum, mentemen Rohis se-Indonesia!!!

Late post nih. Jadi, pas tanggal 30 Juli 2016 kemarin, Kementerian Agama Kota Bogor mengadakan silaturahim Rohis se-Kota Bogor dalam bingkai halal bi halal. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Seksi PAIS Kementerian Agama Kota Bogor, MGMP PAI Kota Bogor, Dinas Pendidikan Kota Bogor, Bagian Kemasyarakatan PemKot Bogor, dan Forum Rohis Kota Bogor.

Rangkaian kegiatannya diawali dengan sharing dari peserta dan kontingen Kemah Rohis Nasional 2016. Mereka menceritakan pengalamannya selama mengikuti acara Kemah Rohis Nasional yang diadakan di Bumi Perkemahan Cibubur. Berikut ini dokumentasinya:

IMG-20160730-WA0001

IMG-20160730-WA0002
Baca lebih lanjut

Konten Syi’ar Rohis/DKM Sekolah


Setelah sebelum-sebelumnya saya menulis tentang konsep-konsep dan metode-metode syi’ar untuk Rohis/DKM sekolah, saya merasa perlu untuk menulis mengenai konten syi’arnya. Penentuan konten ini sangat penting, karena meski semua ajaran Islam itu penting mulai dari gimana mengurus negara dan masyarakat hingga menyisir rambut ataupun menggunting kuku, hanya saja perlu ada prioritas yang harus disampaikan kepada objek da’wah Rohis/DKM.

Saya biasa membagi konten syi’ar menjadi dua macam, yaitu: konten yang sifatnya mengoptimalkan momentum dan konten yang sifatnya berubah-ubah (sesuai momentum). Untuk konten yang mengandalkan momentum (misalnya: 1 Muharram mensyi’arkan perubahan/hijrah menjadi lebih baik), tujuannya agar daya sentuhnya lebih masif. Sekali saja, tapi ledakannya dahsyat. Sedangkan yang sifatnya tetap itu sebagai konten default yang terus-menerus, tidak ada momentum apapun Rohis/DKM tetap melakukan syi’ar mengenai hal itu secara kontinyu.

Setidaknya ada 2 alasan dari sudut pandang objek da’wah mengapa setiap Rohis/DKM harus memiliki konten syi’ar yang tetap:

  • Konten da’wah yang terlalu banyak dan berubah-ubah bisa membuat para siswa kebingungan, karena terlalu banyak informasi yang didapat. Untuk itu, Rohis/DKM perlu memilih dan memilah konten da’wah dari yang paling penting dan genting.
  • Konten da’wah yang sama, bila disyi’arkan secara terus menerus akan lebih mudah membuka hati dan pikiran siswa sekolah untuk menerima da’wah sehingga mereka mau untuk berubah menjadi muslim yang kaffah.

Baca lebih lanjut

Serba Pendukung Rohis/DKM


URGENSI SERBA PENDUKUNG

Agar roda organisasi Rohis/DKM bisa berputar untuk program pembinaan dan syi’ar/pelayanan, dibutuhkan sistem pendukung (supporting system) dari dua sisi organisasi. Pertama, pendukung dari internal Rohis/DKM yakni kemampuan untuk mengadakan dana. Kedua, pendukung dari eksternal Rohis/DKM yakni kemampuan untuk membangun jaringan.

  1. Pendukung internal
    Pendukung internal dalam hal ini adalah kebutuhan untuk menyukseskan program pembinaan dan syi’ar/pelayanan dalam bentuk dana. Bagi da’wah, dana ibarat bahan bakar untuk mobil. Tanpa bahan bakar, mobil semewah apapun tidak akan pernah bisa membawa penumpangnya pergi jauh. Begitu juga dengan Rohis/DKM sebagai ekskul da’wah Islam, mungkin bisa berjalan dengan dana nol, tetapi sampai sejauh mana? Mampukah bersaing dengan acara konser musik yang menghabiskan ratusan juta rupiah?
  2. Pendukung eksternal
    Pendukung eksternal dalam hal ini adalah kebutuhan untuk menyukseskan program pembinaan dan syi’ar/pelayanan dalam bentuk jaringan. Dengan jaringan yang dimiliki, Rohis/DKM dapat mengembangkan sayap dakwah lebih luas sehingga menguatkan kredibilitas lembaga dan mempermudah sumber dana. Kemudian, jaringan ini diharapkan dapat memicu untuk gerak da’wah di dalam tubuh Rohis/DKM ini lebih kreatif dan bermobilitas tinggi.

DUKUNGAN INTERNAL BERUPA KEKUATAN FINANSIAL

  1. Cita-cita kemandirian finansial

    Keterbatasan dana adalah suatu ironi yang akan membatasi ruang gerak Rohis/DKM, maka yang biasa dilakukan hanyalah menyiasati keterbatasan tersebut. Ketika yang dipikirkan adalah bagaimana menyiasati keterbatasan, selamanya keterbatasan itu adalah menjadi realitas kita. Oleh karena itu, fokus pikiran kita harus segera diubah dari bagaimana menyiasati keterbatasan menjadi bagaimana menciptakan keberlimpahan. Jika tidak demikian, keberlimpahan dana tidak pernah menjadi nyata karena hal tersebut tidak pernah dipikirkan. Sebuah Rohis/DKM harus mulai mencita-citakan kemandirian finansial sebagai salah satu pendukung kekuatan gerak roda da’wah dan ‘izzah sebuah lembaga da’wah.

    Allah SWT sudah  berjanji  akan  menolong  setiap  hamba  yang  menolong  agama-Nya dalam Surat Muhammad ayat ke-7 dan tentu keimanan kita tidak pernah menyangsikan kebenaran firman-Nya. Namun, bila Rohis/DKM selalu saja kekurangan dana, mungkin ikhtiar para pengurusnya yang bermasalah. Salah satu hal penting dalam pendanaan adalah action plan yang diikuti langkah konkrit. Tanpa semua itu, kemandirian finansial Rohis/DKM yang diharapkan, selamanya hanya sekedar mimpi.

  2. Dana usaha yang berkesinambungan
    Baca lebih lanjut

Syi’ar dan Pelayanan Rohis/DKM


URGENSI SYI’AR DAN PELAYANAN

Yang dimaksud dengan Syi’ar adalah mengajak atau menyeru manusia kepada jalan Islam, sedangkan Pelayanan adalah memberikan bantuan dan memenuhi kebutuhan manusia agar mereka bisa menjalani aktivitas mereka dengan baik. Contoh untuk syi’ar misalnya mengajak seseorang untuk tilawah Al Qur-an 1 juz per hari, sedangkan contoh untuk pelayanan misalnya membagikan Al Qur-an secara gratis bagi yang tidak punya.

Karena Syi’ar dan Pelayanan merupakan salah satu sarana da’wah yang sangat efektif, maka keberlangsungan pelaksanaannya sangatlah penting, diantaranya adalah:

  1. Sekolah merupakan tempat yang kondusif untuk menyemai pemahaman Islam yang benar sehingga syi’ar Islam sangat dibutuhkan untuk menghalau “syi’ar-syi’ar” dari kelompok lain di luar sekolah.
  2. Para pelajar merupakan tunas-tunas bangsa yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa ini, maka harus disirami dan dibekali dengan nilai-nilai Islam dengan harapan mereka dapat menjadi barisan pendukung da’wah.
  3. Syi’ar Islam ini akan melindungi pemikiran dan akhlak para pelajar dari segala kerusakan yang ada di masyarakat saat ini.

DA’WAH DENGAN HIKMAH

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (TQS. An Nahl: 125)

Seorang ustadz pernnah berkata bahwa da’wah bil hikmah adalah seruan yang tidak tertolak. Misalnya, bila ada orang yang lapar, seruan makan adalah hal yang tidak akan ditolak olehnya karena orang lapar sangat membutuhkan makan. Contoh lainnya, ajakan bermain futsal gratis adalah hal yang tidak akan ditolak oleh penggila bola karena hal itu adalah kegemarannya.

Da’wah bukanlah suatu hal yang dilakukan dari sudut pandang subjek, melainkan dari sudut pandang objek. Syi’ar dan pelayanan tidak berbicara tentang “keinginan pengurus Rohis/DKM”, melainkan tentang “kebutuhan dan kesukaan warga sekolah.” Mungkin salah satu penyebab sepi atau monotonnya kegiatan Rohis/DKM adalah masih menggunakan sudut pandang pengurus Rohis/DKM sehingga tidak menyentuh area kebutuhan dan kesukaan warga sekolah. Kesimpulannya, agar dapat diterima oleh setiap orang, syi’ar dan pelayanan harus bersifat:
Baca lebih lanjut

Pembinaan Pengurus Rohis/DKM


URGENSI PEMBINAAN PENGURUS DI ROHIS/DKM

Urgensi pembinaan pengurus dijelaskan dalam posisi, peran, dan fungsi pembinaan berikut ini:

  1. Posisi pembinaan dalam da’wah Rohis/DKM itu sangat strategis dan vital, karena merupakan hal pokok dalam organisasi Rohis/DKM selain syi’ar.
  2. Peran pembinaan dalam da’wah Rohis/DKM adalah sebagai bentuk asupan untuk pengurus dalam peningkatan kualitas dan kapasitas sekaligus penjagaan pengurus.
  3. Fungsi pembinaan dalam da’wah Rohis/DKM:
    • Menindaklanjuti proses syi’ar
    • Meningkatkan kualitas dan kuantitas pengurus
    • Mendukung upaya-upaya pemenuhan karakter muslim paripurna (kaffah)

KARAKTER CAPAIAN PEMBINAAN

Setiap agenda pembinaan haruslah memiliki target-target tertentu yang harus dicapai oleh peserta pembinaan, yaitu menjadi muslim yang paripurna, karenanya pembinaan itu memang bersifat lebih memaksa dibandingkan syi’ar. Peserta pembinaan sebaiknya memiliki pemahaman yang baik tentang urgensi dan tujuan pembinaan ini. Jadi, mau-tidak mau peserta tetap harus menerima meski kurang menyukai metodenya.

Pernah dengar istilah ‘berawal dari yang akhir dan berakhir di awal’? Seperti itulah pembinaan yang baik: nanti di akhir pembinaan yang panjang ini, peserta diharapkan hendak jadi seperti apa. Karena kita sedang membahas pembinaan keislaman, tentu target akhirnya peserta pembinaan bisa menjadi muslim yang paripurna, yaitu memiliki:

  • Aqidah yang selamat
  • Ibadah yang benar
  • Akhlak yang tegar
  • Kemampuan berpenghasilan
  • Pikiran yang intelek
  • Fisik yang kuat
  • Bersungguh-sungguh terhadap dirinya
  • Teratur dalam urusan-urusannya
  • Efisien menjaga waktu
  • Bermanfaat bagi orang lain

Sepuluh karakter muslim di atas masih terlalu umum, buatlah penjabarannya lagi yang lebih spesifik untuk pengurus Rohis/DKM, misalnya seperti ini untuk kelas XI:
Baca lebih lanjut

Sebuah Ide untuk Bergerak Bersama-sama


“Afwan akh, kami mau fokus ke internal Rohis terlebih dahulu untuk saat ini.”
“Sepertinya kami tidak bisa bantu-bantu, karena sedang menyiapkan agenda besar di sekolah kami.”

Mungkin selentingan di atas sering kita dengar dalam kesibukan aktivitas dakwah sekolah kita. Atau malah kalimat itu adalah sesuatu yang sering kita ucapkan kepada saudara seperjuangan kita yang berbeda sekolah? Mungkin hal itu baru sekedar kata-kata yang mungkin tidak sengaja terucap saat ditawari permintaan tolong. Nah, sekarang coba simak kisah-kisah berikut ini:

“Ada sebuah sekolah yang sedang mempersiapkan sekolah untuk mentor dalam rangka menyambut ajaran baru. Puluhan mentor sudah terseleksi dan terbina dengan baik untuk sekolah tersebut. Namun, tak jauh dari sekolah tersebut, ada sekolah lain yang bahkan untuk punya tambahan 1 mentor saja sangat susah sehingga pengurus Rohis yang terbina melalui mentoring jadi sangat sedikit.”

“Di bagian lain kota Bogor, terdapat sekolah memiliki Rohis dengan kegiatan seabreg, mulai dari tingkat kelas hingga tingkat kota (bahkan merambah ke Jadetabek). Namun, masih banyak sekolah di sekitarnya yang untuk mengadakan 1 kegiatan saja sudah sulit, karena keterbatasan SDM, dana, dan dukungan sekolah. Baginya, mengadakan kajian keislaman tingkat sekolah saja adalah suatu kesuksesan yang besar.”

“Lalu, ada pula Rohis yang sudah bisa mewarnai sekolahnya hingga menjadi ekskul paling diminati oleh setiap siswa. Sekolah pun sangat mendukung setiap kegiatannya baik dari segi materi maupun moril. Akan tetapi, masih banyak sekolah yang untuk merintis Rohis saja agar jadi ekskul yang diakui sekolah, belum terselesaikan selama beberapa generasi. Dan tak ada satu pun Rohis mapan yang bersedia membantunya.”

Ya, kondisi Rohis di setiap sekolah itu memiliki kondisi yang berbeda-beda. Bila setiapnya menutup mata dan hanya memikirkan dirinya masing-masing, maka perkembangan dakwah sekolah di kota Bogor akan sulit berkembang karena hanya segelintir Rohis saja yang mampu memiliki denyut aktivitas dengan baik. Kuncinya adalah selesaikan segera urusan kita dan bantu saudara kita yang membutuhkan bantuan. Setelah pemahaman untuk bergerak bersama-sama ini telah ada dalam pikiran kita, kemudian langkah selanjutnya yang harus ditapaki ialah: Levelisasi dan Mempersaudarakan Rohis sekota Bogor.

Levelisasi Rohis/DKM

Yang perlu kita sepakati di awal mengenai levelisasi ini adalah tujuannya bukan untuk membuat jurang pemisah antara Rohis yang berlevel tinggi dan yang berlevel rendah. Bukan pula membuat Rohis yang berlevel tinggi menjadi sombong dan Rohis yang berlevel rendah menjadi minder. Justru, dengan status ‘level tinggi,’ Rohis tersebut memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi contoh dan lebih banyak membantu Rohis lainnya. Dan Rohis dengan level yang masih rendah lebih diuntungkan karena akan dibimbing oleh Rohis lain agar bisa terakselerasi menjadi naik level, dengan syarat: turut aktif untuk belajar sebanyak-banyaknya (bukan pasrah saja menunggu bantuan).
Baca lebih lanjut