Bisnis Properti di Akhirat


“God is an architect!”

Haha, saya suka sekali kata-kata ini.
Tapi kalo dipikir-pikir, ada bener juga sih. Allah sering mengibaratkan sesuatu dengan hal-hal arsitektural.

Misal, kita lihat Surat Ash Shaff ayat 4 yang mengisahkan bahwa Allah menyukai orang-orang yang berjuang dalam barisan yang rapi seperti bangunan yang marsush (fungsional-kuat-estetis).
Belum lagi dalam hadits disebutkan bahwa ashshalatu imaduddin, shalat adalah tiang agama. Atau analogi iman-islam-ihsan dengan pondasi-kolom-atap.
Arsitektural banget kan? haha =j

Nah, sekarang mau tadabbur dikit tentang ayat-ayat terakhir dari surat Az Zumar. Mulainya dari ayat ke-71 dan 72, di situ dibertahukan bahwa serombongan orang kafir digiring menuju neraka Jahannam (na’udzubillah).
Ketika sudah sampai pada gerbangnya, pintu neraka pun dibuka lalu para penjaganya mengecek tentang kedatangan seorang Rasul kepada mereka untuk memberi peringatan. (Ini yang bikin saya kaget) dengan entengnya mereka jawab: “Benar, ada.”
Ebuset, udah tau ada tapi malah dikacangin, ckckckck di dinding *emang cicak?*
Yawdah, wasalam aja itu mah. Kekal di neraka *merinding*

Sedangkan ayat 73 adalah ayat kebahagiaan, karena aktornya adalah para penghuni surga yang berbondong-bondong (juga). Wah, boleh ngarep nanti ada bersama mereka gak ya? Pliss… TT_TT
Pas hampir sampai ke ambang gerbang, pintunya dibuka, terus didoa’in sama penjaganya lagi: “Salamun ‘alaykum, thibtum fadkhuluuhaa khoolidiin.” *mupeng*

Nah, sampailah kita kepada ayat ke-74, ini dia ayatnya:

And they will say, “Praise to Allah , who has fulfilled for us His promise and made us INHERIT the earth [so] we may settle in Paradise wherever we will. And excellent is the reward of [righteous] workers.”

Umm, bukan sok-sokan pake bahasa inggris, tapi terjemah ayatnya lebih pas pake bahasa inggris, hehe. Soalnya kata “awratsana” lebih dekat dengan kata “mewariskan” daripada “memberikan” lho. Dan itu beda banget!
Baca lebih lanjut

Urgensi Membina


Alhamdulillah, saya menemukan visualisasi sebuah ceramah dari Imam Anwar Al Awlaki tentang salah satu episode hidup Umar bin Khattab radiyallahu’anhu. Dan saya rasa, kisah ini harusnya semakin meningkatkan sense membina dari diri kita. Yuk, simak baik-baik…

Umm, menurut saya sih, ga ada dakwah yang lebih sakti mandraguna dibandingkan mentoring, karena dengan metode seperti itu kita bisa nyentuh secara personal. Kita bisa mencet idungnya satu persatu, kalo mau doang sih. Tapi itu tidak bisa dilakukan oleh tabligh akbar, meskipun itu dilakukan oleh ulama yang diakui tingkat internasional.

Dan hebatnya lagi, mentoring tidak hanya memberikan kebenaran semata, tetapi mampu membentuk seseorang hingga ia memiliki kepribadian seorang muslim sejati bahkan memiliki kepribadian seorang da’i. Wow! Beda dengan tabligh akbar yang dateng duduk pulang.
Kok kayak ngejelek-jelekin tabligh akbar ya? Hehe, maap, tidak bermaksud seperti itu. Tabligh akbar juga penting, tetapi saya sedang menekankan efektivitas mentoring dalam berdakwah.

Maka dari itu, seharusnya seorang da’i memberikan perhatian yang lebih terhadap mentoring ini. Karena belum ada wasilah yang memberikan efek sedahsyat dan seinbox mentoring.
Belum lagi, ada buanyak pahala yang menunggu diri kita di sana.

Hadits pertama yang saya kutip adalah penggalan dialog antara Rasulullah dengan para sahabat, di bagian akhir Rasulullah bersabda seperti ini kepada Ali bin Abi Thalib.
Baca lebih lanjut

Al Quran (bisa) Melaknat


رُبَّ تاَلٍ لِلقُرْآنِ وَالقُرْآنُ يَلْعَنُهُ
“Banyak sekali orang yang rajin membaca Al Quran, akan tetapi sayang Al Quran itu mengutuknya.”
(HR. Bukhari-Muslim)

yaitu orang yang menyalahi Alquran dari segi bacaan, pemahaman, dan amalan.
astaghfirullah… TT_TT

Taushiyah Kumpul MPOPS


“Apabila seseorang memalingkan pandangannya pada wanita (lawan jenis) yang bukan mahramnya karena takut kepada Allah, maka Allah akan membuat dia merasakan manisnya iman.” (HR. Bukhari)

“Fastaqim, semangat, dan terus belaja. Ayo, menuju Mata’ yang sebenar-benarnya. QS. 2: 9.”

“Marilah kita merenungi Umar bin Khattab bahwa sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya.”

Ukhuwah itu…


Banyak analogi yang bisa kita tautkan untuk menggambarkan indahnya ukhuwah ini. Akan tetapi, ada satu yang membuat saya terenyuh mendengarnya…

Ukhuwah itu seperti kedua buah tangan dan bukan seperti kedua daun telinga.

Begini penjelasannya:

1.
Bila kita berdiri tegak dan merapatkan seluruh badan, anggota tubuh yang paling jauh adalah tangan kanan ke tangan kiri kan? Karena posisi mereka ada di paling luar. Meski begitu, mereka adalah anggota tubuh yang paling sering silaturahim. Kalau tangan kanan gatal, pasti tangan kiri langsung menggaruknya. Kalau ingin menyabuni tangan kiri ketika mandi, pasti menggunakan tangan kanan (tidak mungkin tangan kiri menyabuni tangan kiri juga kan?). Dan lain sebagainya
Singkat cerita, begitulah mereka, punya ukhuwah. Beda halnya dengan kedua telinga. Meski jarak mereka dekat, mereka tak pernah silaturahim. Bahkan, bila ada satu telinga yang ingin mendekat ke telinga yang lain, telinga yang lain itu malah pergi menjauh. Jelas, ini bukan ukhuwah.
Baca lebih lanjut

Takkan Sendiri


“Kita tidak akan merasa sendiri, selama masih ada Allah dalam hati. Kita tidak akan merasa berduka, selama masih ada iman dalam dada.” (kuot ngasal buatan sendiri. hoho)

1.
Allah akan selalu ada untuk kita…
Bila dalam amanah da’wah ini kita merasa sendiri, itu bukan berarti rekan-rekan kita meninggalkan kita, melainkan kita lah yang meninggalkan Allah…

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (TQS. Al Baqarah: 186)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,” (TQS. Qaaf: 16)

“…Dia bersama kamu di mana saja kamu berada…” (TQS. Al Hadiid: 4)

2.
Tidak selayaknya bagi seorang mu’min bersedih hati lagi bersusah diri, sementara surga-Nya telah rindu menanti kedatangannya dan bidadari-bidadari telah sibuk menata diri untuk bertemu dengannya…
Baca lebih lanjut

Naik Marhalah


Ah, terkadang kita memang sama dengan para sahabat yang Allah telah ridho kepada mereka. Ketika Rasulullah memberi perintah, para sahabat melakukan protesnya. Misalnya kisah di bawah ini:

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam beliau berkata, “Puasalah tiga hari dalam satu bulan.” Aku berkata, “Aku mampu untuk lebih banyak dari itu, wahai Rasulullah.” Namun beliau tetap melarang, hingga akhirnya beliau mengatakan, “Puasalah sehari dan berbukalah sehari, dan bacalah Al-Qur’an (khatamkanlah) dalam sebulan.” Aku berkata, “Aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?” Beliau terus melarang hingga batas tiga hari. (HR. Bukhari)

Dan kita pun, bila ada pada masa Rasulullah hidup, pasti akan melakukannya juga. Hanya saja kita protes bahwa 1 bulan itu terlalu cepat untuk mengkhatamkan Alquran. Kita akan meminta untuk diberi dispensi untuk menamatkan Alquran dalam 2 bulan. Astaghfirullah…

Kadang kita berpikir bahwa membaca Alquran yang sebanyak 30 juz itu dalam 1 bulan adalah hal mustahil. Ada sebuah cerita fiktif sarat hikmah yang serupa dengan hal tersebut. Ini dia:
Baca lebih lanjut