Berlaku Adil (Tafsir QS. Al Ma’idah: 8)


Di antara perjanjian Allah dengan ummat Islam ialah untuk menegakkan keadilan pada manusia. Yakni, keadilan mutlak yang neracanya tidak pernah miring karena pengaruh cinta dan benci, kedekatan hubungan, kepentingan, atau hawa nafsu, dalam kondisi apa pun. Keadilan yang bersumber dari pelaksanaan ketaan kepada Allah, yang bebas dari segala pengaruh, dan bersumber dari perasaan dan kesadaran terhadap pengawasan Allah yang mengetahui segala yang tersembunyi dalam hati. Karena itu, dikumandangkanlah seruan ini,

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Alah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Ma’idah: 8)

Sebelumnya, Allah telah melarang orang-orang yang beriman, agar jangan sampai kebencian mereka kepada orang-orang yang telah menghalang-halangi mereka masuk ke Masjidil Haram itu menjadikan mereka melakukan pelanggaran dan tindakan yang melampaui batas terhadap musuh mereka. Ini merupakan suatu puncak ketinggian di dalam mengendalikan jiwa dan bertoleransi, yang Allah mengangkat mereka ke puncak itu dengan manhaj tarbiyah Rabbaniyah yang lurus.

Maka, sekarang mereka diwanti-wanti agar rasa kebencian mereka kepada orang lain jangan sampai menjadikan mereka berpaling dari keadilan. Ini merupakan puncak yang sangat tinggi dan sangat sulit bagi jiwa. Ini merupakan tahapan di balik pengendalian diri untuk tidak melakukan pelanggaran dan supaya tabah mengekangnya. Kemudian dilanjutkan dengan tindakan menegakkan keadilan meskipun di dalam hati terdapat perasaan benci dan tidak suka kepada yang bersangkutan.
Baca lebih lanjut

Tentang Politik


Sudah tidak ada perdebatan lagi di antara kita bahwa sistem politik yang ideal adalah yang langsung diterapkan sendiri oleh RasuluLlah. Hanya saja, untuk mewujudkan itu di bumi pertiwi, itu berarti revolusi dan kita perlu membayarnya dengan tebusan yang tinggi harganya. Mulai nyawa, dana, hingga kesatuan negara.

Maka dari itu, termasuk hal yang paling optimal adalah dengan menjadikan nilai-nilai syariat Islam terintegrasi dengan Undang-Undang negara. Dengan begitu, seluruh umat Islam di nusantara bisa menjalankan keislamannya secara 100%.

Ada beberapa pandangan saya tentang politik di Indonesia. Yang pertama dan utama adalah kondisi perpolitikan nasional harus berasaskan keadilan. Karena Allah perintahkan kita untuk berbuat adil dalam firman-Nya.

“…Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa….”
(TQS. Al Maidah: 8)

Efek bola salju dari kondisi tersebut akan merambah pada penyelenggaraan ketatanegaraan yang baik sesuai dengan fungsi dan wewenangnya, reformasi birokrasi untuk mewujudkan birokrasi yang bersih-kredibel-efisien, penegakkan hukum dan perlindungan HAM yang bermula dari pembersihan para aparatnya dari perilaku bermasalah dan koruptif.

Bahkan lebih jauh lagi sampai pada tingkat provinsi dan daerah. Semua proporsional dan terkendali. Tentu kita ingat kisah Umar bin Khattab yang mengingatkan Gubernurnya, Amru bin Ash, dengan memberikan tulang yang telah diberi goresan pedangnya. Otonomi daerah itu penting, dengan catatan dengan adanya koordinasi dengan pusat.
Baca lebih lanjut