Ahli Hisap


Ramadhan, kembalilah…!!

Kenapa? Yah, udah pada taulah kalo Ramadhan itu banyak keutamaannya. Tapi, untuk tulisan kali ini, salah satu yang dirindukan pada Ramadhan adalah tidak adanya orang yang merokok secara bebas, apalagi kondisi sekarang punya bayi. Karena bagi saya, para ahli hisap itu adalah orang yang ga peduli sama diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.

Mereka ga sayang sama diri sendiri, ga suka sama sanak famili, dan ga cinta ibu pertiwi. Apalagi yang sembarangan, ga tau situasi. Dan maaf ya, orang yang merokok sembarangan ini kelihatan sekali kebodohannya. Pernah waktu di stasiun duri, ada seorang bapak yang merokok dengan enaknya di peron yang terbuka (peronnya ada yang berkanopi, ada yang terbuka). Terus gerombolan emak-emak di sebelahnya protes, kalo di peron ga boleh merokok. Nah, si bapak gak keterima, karena menurutnya peron terbuka itu open air, jadi gapapa merokok. Terus pas ditunjukin ada signage dilarang merokok, dia tetap bilang kalo peraturannya salah.

Nah, yang kayak gitu tuh gak cuma satu-dua. Banyak cerita tentang ke-sok-pinter-an para perokok baik saya alami sendiri maupun cerita orang lain. Cerita pertama yang saya dengar mengenai hal tersebut adalah cerita dari Bu Eni waktu saya kelas 4 di SD Bina Insani!

Ruang publik itu adalah ruang yang kita gunakan bersama-sama secara bertanggung jawab. Mau terbuka atau tertutup. Segala hal yang bisa merugikan atau membahayakan orang lain, bakal dilarang di ruang publik ini. Kalopun ga dilarang, yah tau dirilah bro, itu cuma belum dilarang aja. Di angkot kan ga boleh merokok ya, kalo orang yang merokok di angkot, maaf, diludahi (ludah kan sama-sama dari mulut, sama-sama bau, dan sama-sama ada penyakitnya) rame-rame boleh ga? Kan ga ada aturan ga boleh meludah di angkot? Yah tau dirilah bro.
Baca lebih lanjut