411


Weekend lalu, saya meninggalkan istri di rumah selama 4 hari, lalu menemukan tulisan inspiratif di IG-nya.

Ini postingan pertama:

Hari ini ada yang sedang berjuang di jalan.
Hari ini ada yang tetap berjihad mencari nafkah.
Hari ini ada doa-doa melangit yang insya Allah menginginkan kebaikan untuk semuanya, untuk ummat Islam, untuk Indonesia.

Mari jadikan ini pengingat, betapa dahsyatnya perkara yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Saya sangat suka dengan pernyataan seorang teteh yang menyebut hari ini sebagai Musim Semi Al-Qur’an.

Semoga setelah ini sama-sama bisa lebih menyadari dan memaknai ayat-ayat Al-Qur’an lebih dalam. Bukan hanya euforia hari ini saja. Tapi barangkali kita semua sama-sama harus tetap berefleksi pada kitab-Nya di hari esok dan esoknya lagi, untuk bisa mendapat pemahaman penuh tentang iman, akhlak, dan tak lupa juga, ghirah.

Postingan kedua:
Baca lebih lanjut

Alternatif Pencapaian Ramadhan


Pada tulisan kali ini, saya ingin mengajak teman-teman semua untuk membuat rekor ibadah di bulan Ramadhan. Nah ini dia alternatifnya:

1. Shaum Ramadhan

Yang pertama tentu saja melaksanakan shaum Ramadhan 1 bulan penuh. Berikut ini beberapa keutamaan shaum di bulan Ramadhan:

Dari Abu Hurairah radhiaLlahu ‘anhu, bahwa RasuluLlah shalaLlahu ‘alahi wasallam bersabda: “Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah ‘Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi surga-Nya lalu berfirman (kepada surga): ‘Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu’, pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam.” Beliau ditanya, “Wahai RasuluLlah apakah malam itu Lailatul Qadar?” Jawab beliau, “Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.” (HR. Ahmad)

Oia, jangan lupa, selain menahan diri dari hal-hal yang membatalkan shaum (makan, minum, bersetubuh, dll), kita juga musti menahan diri dari hal-hal yang merusak pahala shaum tersebut, misal: marah, berpikir yang nggak-nggak, melihat yang nggak-nggak, menyentuh yang nggak-nggak, dan yang sejenisnya.

Yuk, di Ramadhan kali ini kita targetkan untuk shaum satu bulan penuh.

2. Shalat fardhu

Kuncinya tiga hal: cara, waktu, dan tempat. Caranya dengan selalu berjamaah, tempatnya selalu di masjid, dan waktunya selalu tepat pada saatnya.

Dari Ibnu Umar radhiaLlahu ‘anhu, sesungguhnya RasuluLlah shalaLlahu ‘alahi wasallam. bersabda, “Shalat berjamaah 27 derajat lebih utama daripada shalat sendirian.” (HR. Malik, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i)

Dari Buraidah radhiaLlahu ‘anhu dari Nabi shalaLlahu ‘alahi wasallam, beliau bersabda, “Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sering berjalan ke masjid dalam kegelapan malam dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.” (Hr. Abu Dawud)

Sedangkan maksud dari tepat pada waktunya adalah tepat ketika diadakan shalat berjamaah di masjid (bisa di awal, bisa di tengah waktu shalat), serta tidak tertinggal takbir pertama.
Baca lebih lanjut

Agama Oplosan


sumber: http://muslimdaily.net/artikel/santai/indonesia-tanpa-jiil.html

Masih mau jadi bebek JIL? Saya sarankan selamatkan akidah anda sekarang juga, tinggalkan mereka. Anda rugi dunia-akhirat, sedangkan mereka masih mending karena di dunia dapat banyak dolar dari majikannya.

Menuduh Islam sebagai agama oplosan adalah suatu penistaan terhadap jalan hidup yang satu-satunya Allah ridhoi ini. Harusnya dipenjara tuh! Sudah jelas bahwa Islam adalah penyempurna agama terdahulu, sekaligus menghapus risalah-risalahnya yang hanya sementara.

Percayalah, Allah telah menuliskan segala aturan-aturan dalam kehidupan di dunia ini sebelum manusia ada. Dan itulah yang Allah kenalkan sebagai Islam, satu-satunya aturan sempurna tersebut. Maka dari itu, Allah mengutus Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad saw untuk menyeru manusia kepada Tuhan Yang Mahasatu, Allah ‘Azza wa Jala. Hanya saja syariatnya beda-beda, tergantung kondisi manusia saat itu (ingat bukan syariat yang dibuat dengan menyesuaikan pada manusia, akan tetapi manusia yang diciptakan dengan menyesuaikan pada syariat yang Allah buat).

Contoh paling gampang adalah tentang incest, yaitu pernikahan sesama muhrim. Sejatinya fitrah manusia tidak sesuai dengan incest, sehingga dalam syariat ada larangan incest. Sains pun turut menguatkan bahwa dalam penelitian kedokteran, perkawinan sesama muhrim akan mendatangkan bencana. Sila studi literatur untuk penjelasan lebih lanjut.

Akan tetapi tidak mungkin larangan incest ini benar-benar diterapkan pada zaman Nabi Adam as (yae yalah, mau nikah sama siapa lagi coba?). Namun toh, bukan menikah dengan kembarannya kan? Qabil dinikahkan dengan Lubuda (kembaran Habil), sedangkan Habil dinikahkan dengan Iqlima (kembaran Qabil). Jadi, aturan yang ini cuma sementara.
Baca lebih lanjut

Quranisasi Hati


Hanya kuot lagi…

A: “Nabi saw meminta kita untuk mengkhatamkan alquran tidak lebih dari tiga puluh hari. Tandanya apa?”
B: “Sehari minimal baca satu juz.”
A: “Itu berarti kalau baca satu hari satu juz adalah tanda orang yang malas, karena dia berada di batas minimal saja.”
B: “…”

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam beliau berkata, “…dan bacalah Al-Qur’an (khatamkanlah) dalam sebulan.” (HR. Bukhari)

Iri pada mereka: Djamil dari Senegal, Rifdha dari Maladewa, dan Nabiollah dari Tajikistan, para Qori sekaligus Hafidz cilik dalam film dokumenter Koran by Heart.
='(

Al Quran (bisa) Melaknat


رُبَّ تاَلٍ لِلقُرْآنِ وَالقُرْآنُ يَلْعَنُهُ
“Banyak sekali orang yang rajin membaca Al Quran, akan tetapi sayang Al Quran itu mengutuknya.”
(HR. Bukhari-Muslim)

yaitu orang yang menyalahi Alquran dari segi bacaan, pemahaman, dan amalan.
astaghfirullah… TT_TT

Ramadhan adalah Medan Tempur


wah, udah lama ga ngeblog. sebenernya cukup banyak ide tulisan, tapi ga sempet ngetik aja. hehe, sok sibuk.

umm, setelah sampai bulan ramadhan, saya merenungi banyak hal terkait ibadah. utamanya tentang tilawah.

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. ” (HR. At-Tirmidzi)

saya merasa bahwa hadits ini memotivasi kita untuk memperbanyak membaca alquran, sedangkan untuk memahami alquran adalah urusan yang lain yang sama-sama harus kita lakukan.

apalagi di bulan ramadhan, kita harus bisa sebanyak-banyaknya membaca alquran. sedangkan untuk mempelajarinya bisa kita lakukan selama 11 bulan sebelumnya.

ya, karena ramadhan adalah bulannya beramal, sedangkan berilmu dilakukan pada bulan selainnya.
ya, karena ramadhan adalah medan tempur, sedangkan latihannya kita lakukan pada bulan selainnya.

namun, anehnya banyak orang yang menganggap bahwa ramadhan adalah bulan untuk latihan melawan hawa nafsu. atau ada juga orang yang menjelang ramadhan mengadakan acara cucurak, yaitu makan-makan sebelum berpuasa selama sebulan penuh.

saya katakan aneh karena analoginya gini: masa mau lomba lari tapi malah tidur terus?
masa mau lapar-laparan tapi malah makan terus? yah, nanti pasti gakan kuat puasa, karena ga biasa.
Baca lebih lanjut

Karakteristik Manhaj Qurani


Assalamu’alaykum wr wb

Tulisan ini insya Allah akan berkisah tentang buku Ma’alim fith Thariq-nya Sayyid Quthb.
Seumur-umur baru kali ini nemuin buku yang sulit dimengerti. Saya baca 3 cetakan buku tersebut (penerbitnya beda-beda) dan hal yang saya tangkep juga beda-beda.
Ada dua hal yang memungkinkan terjadinya fenomena tersebut, pertama: Sayyid Quthb-nya emang pake bahasa yang sulit ketika menulis buku ini, atau yang kedua: penerjemahnya yang kurang tepat mengalihbahasakannya sehingga ketika dibaca jadi tidak fokus penekanannya dan tidak bisa ditangkap pesannya.

Nah, untuk kali ini insya Allah akan ditulis ulang mengenai karakteristik Al Quran sebagai manhaj hidup sesuai hasil tangkapan otak saya dari buku terbitan Darul Uswah (buku ketiga yang saya baca, soalnya pas dicek ke terbitan yang lain. karakterisitk yang saya tangkep beda =p).
Oke, mulai:

1. Tujuannya jelas

Sudah jelas bahwa tujuan akhir dari manhaj Al Quran adalah tegaknya Laa Ilaaha Illallah wa Muhammadur Rasulullah di tiap hati umat Islam, agar aqidah yang lurus itu hadir di tiap relung jiwa manusia yang lahir ke dunia. Itulah mengapa Rasulullah mati-matian memulai penyamapaian risalah Islam dari titik ini, karena Allah menurunkan ayat-ayat Al Quran tentang tauhid di awal mulanya.

Kita tahu bahwa pada saat itu, Arab “dijajah” oleh Romawi di bagian utara dan oleh Persia di bagian selatannya. Padahal kalau pakai logika, Rasulullah mungkin saja memulai perjuangannya dengan menghembuskan nafas nasionalisme di kalangan bangsa Arab untuk mengusir Romawi dan Persia dari tanah air, sehingga ketika kemenangan diraih, Rasulullah bisa mulai menyebarkan Islam. Tentu lebih realistis, mengingat bangsa Arab memang seolah terlahir untuk perang (baca: sudah terlatih berperang).

Atau kita tahu bahwa pada saat itu, Arab mengalami masa ketidakadilan yang sangat parah. Riba terjadi dimana-mana sehingga jurang antara si kaya dan si miskin begitu jauhnya. Belum lagi terjadi perbudakan yang sangat tidak manusiawi. Padahal kalau pakai logika, Rasulullah mungkin saja memulai perjuangannya dengan meniupkan angin sosialisme di kalangan bangsa Arab. Merangkul kaum tertindas untuk melawan kaum borjuis yang sewenang-wenang. Menciptakan revolusi untuk mengembalikan hak si miskin agar sejajar dengan si kaya.

Atau kita tahu bahwa pada saat itu, Arab mencapai level moralitas pada titik nadirnya. Dekadensi moral dengan segala bentuknya terjadi di masa itu: merebaknya khamr dan judi, berlomba-lomba untuk mendzalimi agar tidak didzalimi, hingga berbagai jenis pernikahan jahiliyah yang hina. Padahal kalau pakai logika, Rasulullah mungkin saja memulai perjuangannya dengan mengangkat panji-panji moralitas untuk membersihkan jiwa-jiwa bangsa Arab dengan akhlaknya yang terpuji dan tingkahnya yang penuh inspirasi.
Baca lebih lanjut