[jurnal] MIT Pertemuan Kedua


MuSA Integrated Training
Senin, 6 Desember 2010
Pukul 17.00-18.00
di Pilotis Geodesi

“Leadership, Followership, and Team Building”
Panji Prabowo FT’06 (Sekjen Kabinet KM ITB 10/11, Kepala GAMAIS ITB 09)

LEADERSHIP
Setidaknya seorang pemimpin yang baik memiliki 3 hal, yaitu:
1. Kekuatan visi: dengan visi, suatu organisasi akan mencapai suatu tujuan yang pasti. kekuatan visi inilah yang dimiliki oleh Rasulullah dalam kepemimpinannya pada masa awal turunnya Islam di muka Bumi.
2. Kekuatan teladan: keteladanan lebih bisa menggerakkan tim daripada kata-kata manis belaka. ini juga yang menjadi kunci kepemimpinan Rasulullah.
3. Kekuatan ruhiyyah: kedekatan dengan Allah dan konsistensi untuk menjaga amal shalih harian insya Allah akan membuat kepemimpinan lebih berkah dan diberi petunjuk oleh Allah.

FOLLOWERSHIP
Setidaknya seorang yang dipimpin harus memiliki 2 hal terhadap pemimpinnya, yaitu:
1. Rasa hormat: dengan cara mematuhi segala yang diperintahkan oleh sang pemimpin (syarat dan ketentuan berlaku)
2. Rasa menghargai: dengan cara memberikan kritik dan saran kepada pemimpin secara baik-baik dan benar (caranya tepat, tidak menjatuhkan, dll).
Baca lebih lanjut

Yang Terlewatkan


Dalam sebuah acara silaturahim, seorang kakak pernah memberi taushiyah terkait beberapa hal yang sering dilupakan oleh para penggiat dakwah. Mereka adalah:

1. Semua Milik Allah

Langsung saja kita simak sebuah surah kesembilan dan ayat keseratussebelas dari Alquran Alkarim:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١١١)

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 111)

Sejatinya, Allah-lah yang menganugerahi kita segenggam jiwa dan selaksa harta. Setelah itu Allah akan membelinya kembali dengan Surga sebagai gantinya, kelak. Sungguh perkara tersebut adalah perniagaan yang paling menguntungkan, bukan?

Lantas, pantaskan kita untuk menggunakan jiwa dan harta kita untuk obsesi pribadi? Bukan untuk Allah, bukan untuk dakwah. Tidak taat kepada keputusan jama’ah hanya karena kita tidak suka. Haruskah sampai meninggalkan agenda dakwah, karena adanya tujuan pribadi semata?

2. Iman Seperti Pohon

Kali ini kita renungkan Quran Surat Ibrahim ayat 24-25:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (٢٤) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (٢٥)

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”

Termasuk dalam kalimat yang baik ialah kalimat tauhid, segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. Kalimat tauhid seperti laa ilaa ha illallaah.

Ayat ini sedang berbicara tentang iman: memiliki ilmu yang menghujam mendalam, tetapi juga memiliki amal yang menjulang, rindang, dan berbuah manis.

Keduanya harus berbarengan, tidak bisa dipisah-pisah. Bila kita hanya mencari ilmu, sibuk hanya memperbaiki diri sendiri, dan tidak mengamalkannya, berarti kita sama sekali tidak berguna. Pohon yang seperti itu, lama-kelamaan akan membusuk lalu mati terlupakan.

Bila kita hanya beramal tanpa berilmu, itu seperti pohon yang tinggi namun berakar pendek. Sedikit saja angin menerpa, niscaya batang yang tegak itu roboh seketika, rata dengan tanah.

Oleh karena itu, iringi dakwah dengan tarbiyah.

3. Niat yang Ikhlas
Baca lebih lanjut

Fawatsiqillahumma rabithataha


assalamu’alaykum wr wb

alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’d…

“tahu ga, kenapa jemarimu dipisahkan oleh sela-sela kosong?
karena Allah SWT tahu, suatu saat pasti akan ada yang mengisi kekosongan itu, yaitu ketika kita menggenggam erat dan berdoa…”

kalimat di atas saya terima dari forkom alims beberapa hari lalu via sms. kalimat itu membuat saya tertegun sejenak. saya mengambil beberapa pelajaran dari pesan singkat tersebut.

setiap orang adalah unik. setiap orang diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. untuk itu diciptakanlah manusia lain sebagai pengisi kekosongan yang ada pada seorang manusia. kekosongan itu diisi dengan suatu ikatan. orang islam menyebutnya, ukhuwah islamiyyah. ikatan terindah, tererat, dan termulia…

sahabat, dialah yang menggenggam erat jemari kita dengan ikatan aqidah tersebut. dialah yang membuat diri kita menjadi kuat dan tegar. menjadi tawa kala sedih. menjadi dorongan ketika menyerah. memberi semangat kala kecewa. memberi kesabaran ketika marah. menghangatkan kala dingin. menenangkan ketika takut. meringankan kerjaan-kerjaan dengan amal jama’i. atas izin Allah SWT tentunya…
maka dari itu, pentingnya kata kedua setelah ‘menggenggam erat’, yaitu berdoa…
Baca lebih lanjut