OZ Landscape Architecture


OZ crew

Postingan kali ini cuma pengen ngabarin kalo sejak 15 september 2015 M atau 1 muharram 1437 H, saya menjadi bagian di OZ Landscape Architecture. Yeeaaahh..!!!

Ya, saya agak geser bidang ke lansekap nih. Mirip arsitektur sih, hanya saja lingkup kerjanya lebih sempit dan skala manusia (kalo arsitektur kan biasanya bikin gedung yang tak jarang berukuran gigantic). Di sini saya belajar tentang detail2 dan nama2 tanaman (termasuk nama latinnya). Kantornya ada di Bumi Menteng Asri, enak banget dah. Deket, homy, masuknya jam 9 pagi, ada makan siangnya, bisa minjem motor, ada shalat berjamaah ke masjid, dan bosnya baik. Mehehe…

Kantor ini punya proyek sebanyak 80-an yang masih on going (dan akan terus bertambah). Saya sendiri sedang berkecimpung di proyek Alexandria Tower, World Capital Tower, Supermal Karawaci, dan Bogor Senior Hospital. Sisanya cuma bantu2 aja kalo lagi dedlen. Berikut ini contoh kerjaan saya (pas masih awal2 masuk OZ):
Baca lebih lanjut

Daniel Libeskind: Architecture is a Language


Biografi Singkat

Lahir di Lód’z, Polandia, pada tahun 1946, Daniel Libeskind berimigrasi ke Amerika Serikat saat masih remaja bersama keluarganya dan menetap di Bronx. Setelah belajar musik di New York dan Israel dengan Beasiswa Yayasan Budaya Israel-Amerika, ia berkembang menjadi seorang musical virtuoso, sebelum akhirnya meninggalkan musik untuk belajar arsitektur.

Ia menerima gelar profesional di bidang arsitektur dari Cooper Union untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Seni pada tahun 1970 dan gelar pascasarjana dalam sejarah dan teori arsitektur dari Sekolah Studi Perbandingan di Essex University di Inggris pada tahun 1972. Daniel Libeskind mendirikan studio arsitektur di Berlin, Jerman, pada tahun 1989 setelah memenangkan kompetisi untuk membangun Jewish Museum di Berlin. Pada Februari 2003, Studio Daniel Libeskind memindahkan kantor pusatnya dari Berlin ke kota New York ketika Daniel Libeskind terpilih sebagai master planner untuk pembangunan kembali World Trade Center.

Cara Pandang terhadap Arsitektur

Daniel Libeskind berpendapat bahwa bangunan menghasilkan energi baru untuk ruang sosial budaya di suatu kota. Penggunaan bahasa adalah suatu harapan untuk berbicara dengan cara apapun kepada semua orang dan hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat menginspirasi Daniel Libeskind dalam berarsitektur dan dalam merancang kota. Daniel Libeskind selalu berpikir bahwa arsitektur dan musik memiliki keterkaitan yang erat. Pertama-tama, secara emosional arsitektur itu sama rumit dan sama abstraknya dengan musik yang datang hingga menyentuh jiwa, tidak hanya menyentuh pikiran saja. Ketika kita mendengarkan Bach, itu berbicara tentang jiwa, begitu juga dengan arsitektur. Arsitektur didasarkan pada keseimbangan dan keseimbangan dalam tubuh manusia berada di telinga bagian dalam, bukan di mata ataupun bagian tubuh lainnya.

Daniel Libeskind berpikir tentang gambar tangan (drawing) benar-benar sebuah score, sebuah lembaran musik, yang nantinya ditafsirkan oleh masyarakat. Tentu saja proporsi, cahaya, dan material harus disertakan dalam gambar tangan sebuah bangunan, begitu juga dengan penyajian ruangan dan suasana dari suatu bangunan. Dengan demikian, sebuah gambar tangan untuk membantu latihan bagi arsitek. Kita selalu berpikir bahwa kita tidak bisa melakukan sesuatu tanpa komputer agar bisa efisien secara waktu, rasional, dan seterusnya. Akan tetapi, Daniel Libeskind tetap percaya bahwa gambar (drawing) adalah sumber dari arsitektur. Maksudnya, memang benar-benar sumber dari arsitektur, karena tangan bagaikan mata yang saling berhubungan dan saling berbagi dalam proses yang tidak murni intelektualitas, tetapi itu spiritual dari suatu keinginan, kepercayaan kepada sesuatu yang tidak dapat dilihat, dan itu adalah bukti dari sesuatu yang benar-benar ada tetapi tidak jelas terlihat.

Karya-Karya dan Proses Perancangannya

  1. 18.36.54 House, Connecticut
    Baca lebih lanjut

Info Dunia Arsitektur


image

Alhamdulillah, akhirnya bisa turut berkontribusi dalam kemajuan dunia publikasi arsitektur Indonesia bersama rekan-rekan Imelda Akmal Architectural Writer. Semoga menginspirasi! (Adiar Ersti Mardisiwi, maap ya ci, gak bilang-bilang ambil fotonya)

Ihiy, nama saya mulai mengglobal euy. Lumayan lah ada di beberapa negara Asia Tenggara. Semoga bisa terus menebar manfaat lebih luas lagi. Sila temukan “Houses by Indonesian Architects” di toko buku kesayangan anda (bantu promosiin). In-sya Allah banyak inspirasi desain yang bisa diambil dari situ, karena menampilkan karya-karya terkini dari berbagai arsitek ternama: Andra Matin, Realrich Sjarief, Irianto Purnomo Hadi, Kusuma Agustianto, dan lain-lain.
Baca lebih lanjut

A Lecture by Imelda Akmal: All About Architectural Writing


Hal-hal yang dikerjakan oleh Studio Penulisan adalah mulai dari menemukan IDE, produksi tulisan dan gambar (photograph) hingga NAIK CETAK. Dengan kata lain, Studio Penulisan hampir setara dengan Penerbit. Bedanya, Studio Penulisan hanya sampai menyiapkan file siap cetak yang disebut Final Artwork saja, sedangkan Penerbit hingga mencetaknya. Oleh karena itu, bagi Studio Penulisan, sebuah buku adalah setara dengan proyek di biro arsitektur.

IDE dan PEMBACA

Langkah pertama dalam penulisan adalah menemukan ide. Ide bisa didapatkan dari arah minat pribadi atau gagasan yang ingin disebarluaskan. Meski begitu, kita perlu mengambil sudut pandang pembaca agar tulisan kita bisa lebih luas tersebar, serta lebih punya benefit dan juga profit sebagai tambahannya. Penentuan objek pembaca bagi tulisan kita, akan memengaruhi langkah-langkah selanjutnya, mulai dari pemotretan, gaya bahasa, cara penulisan, pemilihan font, hingga layout tulisan.

PENULISAN ARSITEKTUR

  1. Dokumentasi arsitektur.
    Efeknya hingga jauh ke depan. Buktinya, saat ini ada Panduan Wisata di Jakarta yang sekitar 80% adalah arsitektur warisan kolonial Belanda. Fenomena ini disebabkan oleh kurangnya informasi dunia arsitektur kontemporer Indonesia, akibat terlalu sedikit dokumentasi tentangnya.
  2. Menyampaikan gagasan dan ide arsitek.
    Terkadang publik tidak bisa menangkap apa yang hendak disampaikan oleh arsitek melalui rancangan bangunannya. Untuk itulah penulisan diperlukan, agar desain arsitek bisa tepat guna di kalangan masyarakat umum. Lebih jauh lagi, penulisan arsitektur bisa digunakan untuk menyebarkan ideologi, terutama yang berkaitan dengan urban. Hal ini sudah dilakukan di dunia internasional.
  3. Bahan pembelajaran. Baca lebih lanjut

Jakarta Vertical Kampung : Architecture Story Telling (Vidour)


TELL A STORY ABOUT YOUR IDEA!

Pada hari kedua, Jakarta Vertical Kampung akan mengadakan site visit ke berbagai tempat. Namun, sebelum melakukan hal tersebut, para peserta mengikuti short brief yang dipandu oleh Vidour.

Pada sesi perkenalan, Vidour mengaku dirinya berfokus pada story telling about architecture. Salah satu pengalamannya adalah bekerja sama dengan Rumah Asuh untuk menceritakan kembali dalam bentuk video mengenai pembangunan rumah adat di Wae Rebo, Flores. Video ini sukses membantu masyarakat dalam melakukan dokumentasi sehingga Wae Rebo mendapatkan UNESCO Award.

Dalam sesi kali ini, Vidour -melalui salah satu anggotanya, Adi Reza Nugroho- membantu peserta untuk bagaimana menceritakan ide dalam bentuk video, dengan banyak memberikan contoh-contoh video yang baik. Vidour mengajak peserta (yang notabene adalah arsitek dan calon arsitek) untuk memperluas cakupannya yang tadinya hanya gambar diam menjadi gambar bergerak (video).

Keluaran workshop Jakarta Vertical Kampung yang harus dibuat oleh masing-masing kelompok peserta adalah video arsitektural mengenai ide desain yang berdurasi 2 menit. Keuntungan dalam bentuk video adalah mudah disebarluaskan, terutama melalui social media.

Video Arsitektural Baca lebih lanjut

Proficio Day di Pandeglang


“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash Shaff: 4)

Tanggal 28 April 2013 di Ibad Ar Rahman Boarding School, Pandeglang, Banten, diselenggarakan sebuah acara yang bernama Proficio Day. AlhamduliLlah saya diberi kesempatan untuk berpartisipasi pada kegiatan tersebut sebagai orang yang memperkenalkan Arsitektur kepada para santri yang setara dengan kelas VII SMP.

Menurut saya, sedikitnya ada 5 hal yang membuat Arsitektur menjadi penting untuk dipelajari, yaitu:

  1. Arsitek membantu manusia untuk memenuhi kebutuhan primer.
    Kebutuhan primer yang dimaksud ialah papan. Maka dari itu, profesi arsitek akan selalu diperlukan dari sejak dahulu kala hingga kapan pun. Karena manusia tidak bisa menahan diri dari ancaman alam (cuaca, binatang buas, dll) tanpa bantuan bangunan. Bahkan, pada awalnya manusia purba menempati bangunan yang tersedia di alam untuk berlindung, yaitu: Gua.
  2. Dari segi finansial merupakan bisnis yang menguntungkan.
    Kita ketahui luas tanah di Bumi tak pernah bertambah, karena belum ada teknologi untuk mendatangkan tanah dari planet lain. Padahal di sisi lain, jumlah manusia yang membutuhkan lahan untuk bangunan tempat tinggalnya, semakin banyak. Hal inilah yang membuat hatga tanah pasti naik. Bisnis paling mudah dari usaha real estate adalah beli suatu kavling tanah, diamkan selama bertahun-tahun, lalu jual kembali. Karena dengan begitu saja, kita bisa mendapat keuntungan yang berkali-kali lipat.
  3. Peradaban sedang membutuhkan arsitek yang terbaik.
    Dengan terbatasnya lahan, itu artinya saat ini kita perlu arsitek yang benar-benar memiliki moral dan intelektual yang baik, agar lingkungan binaan tetap teratur. Bayangkan betapa celakanya bila tanah yang langka itu malah dibangun diskotik, rumah bordil, dan hal yang tidak bermanfaat lainnya. Padahal saat ini masyarakat perlu diedukasi melalui arsitektur, misalnya pemisahan lelaki dan perempuan pada bangunan publik untuk menghindari ikhtilat, khalwat, dan bashar penuh syahwat. Ya, peradaban Islam sedang butuh dukungan arsitektur untuk kebangkitannya.
  4. God is an Architect.
    Allah (dan Rasul-Nya) sering mengaitkan segala sesuatu dengan hal-hal arsitektural. Quran Surat Ash Shaff ayat keempat menganalogikan para mujahid yang berjuang dengan barisan teratur bagaikan bangunan yang marshush (fungsional, kokoh, dan estetis). Adanya hadits yang menerangkan bahwa Ash Shalatu Imaduddin: “Intisari perkara adalah Islam dan tiangnya adalah shalat.” (HR Ahmad-V/231,237; HR; Ibn Majah hadist no. 3973). Juga penggambaran Iman-Islam-Ihsan menjadi Pondasi-Pilar-Atap, dalam kuliah-kuliah agama.
  5. Ilmu bermanfaat yang tak akan terputus.
    Seorang arsitek selalu berkesempatan untuk mendapatkan kebaikan yang tiada pernah terputus, hatta setelah ia meninggal (insya Allah). Ketika seorang arsitek merancang sekolah/kampus/pesantren dan di situ ada 100 orang tiap tahunnya yang mencari ilmu, maka ia akan mendapatkan seluruh kebaikannya. Ketika seorang arsitek merancang masjid dan di situ ada 100 orang yang shalat, membaca, dan menghafalkan Quran, maka ia akan mendapat seluruh kebaikannya pula. Atas izin Allah. Sungguh arsitektur merupakan ladang amal yang basah.

Baca lebih lanjut