[jurnal] Notulen Sidang Indonesia SALAMAN


Bismillahirahmanirahim

Nama
FORSIMAP (Forum Silaturrahim Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan)

Visi
“Terbentuknya Jaringan yang Kokoh dan Bermanfaat Antar Lembaga Dakwah Kampus Arsitektur dan Perencanaan Se-Indonesia Menuju Kejayaan Peradaban Islam”

Misi

  • Memperluas dan memperkokoh jaringan lembaga dakwah kampus Arsitektur dan perencanaan se-indonesia.
  • Mengkaji Arsitektur dan Perencanaan dari sudut pandang Islam.
  • Mensyi’arkan wawasan peradaban Islam melalui Arsitektur dan Perencanaan.
  • Menginisiasi dan mendampingi lembaga dakwah kampus Arsitektur & Perencanaan menuju kemandirian

Struktur Forum

Penjelasan Struktur Forum
Baca lebih lanjut

Cerita KP #0: Pendahuluan


Mata Kuliah AR4098 Praktik Profesi (2 SKS) merupakan mata kuliah wajib di program studi Arsitektur ITB. Mata kuliah ini membahas profesi arsitek dan berbagai jenis profesi terkait, termasuk membahas etika profesi; menyiapkan peserta kuliah untuk melakukan magang praktik profesi; serta membahas laporan hasil magang praktik para mahasiswa.

Setelah mengikuti kuliah ini mahasiswa memiliki wawasan tentang profesi arsitek dan profesi lain terkait dengan pendidikan arsitektur, memiliki pengalaman praktik nyata di salah satu profesi tersebut, dan memiliki beberapa pengetahuan tentang pengalaman praktik yang tidak dialami sendiri secara langsung yaitu pengetahuan didapat oleh rekan sesama mahasiswa peserta yang magang di tempat lain, dan sikap kritis dalam menghadapi pengetahuan dari dunia profesi.

Pada kesempatan praktik profesi ini, praktikan memilih untuk melakukan praktik profesi di Elang Group.

Berikut ini beberapa alasan mengapa praktikan memilih berpraktik di sini:
Baca lebih lanjut

Kebun Raya Cibodas


Selasa, 22 Februari 2011, sekitar pukul 09.30 WIB, rombongan kuliah lapangan mahasiswa arsitektur ITB sampai di Kebun Raya Cibodas dengan menggunakan 2 bis.

Setelah turun dari bis, kami dihadapkan pada tempat parkir yang sangat luas. Disana hanya disediakan parkir untuk bis, karena memang disana hanya ada pola parkir untuk bis. Tempat parkir ini dikelilingi oleh gunung-gunung yang tertutup kabut di bagian atasnya. Terasa sekali rasa dingin menyelimuti kulit kami.

Setelah merasa cukup menikmati suasana baru itu, kami segera bergegas menuju pintu gerbang Kebun Raya Cibodas. Ternyata kami membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai ke pintu gerbang tersebut. Menurut saya, desain seperti ini memang cukup tepat, karena memang di kebun raya kita harus berjalan kaki agar lebih optimal ‘menyatu’ dengan alam. Kendaraan bermotor tempatnya bukan disini. Bila ingin mengendarai kendaraan, silakan saja pergi ke mall di kota. Disini hanya untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda saja.

Di gerbang depan kami menemukan jajaran loket untuk membeli tiket sebagai prasyarat untuk bisa masuk ke kebun raya Cibodas. Tak lama dari gerbang, kami bertemu dengan lapangan luas dan beberapa fasilitas umum, seperti masjid, kantin dan kafetaria, serta galeri bunga.

Di kebun raya ini terdapat jalan kecil dengan material batu alam atau paving block agar bisa sampai ke bangunan/tempat khusus lainnya.

Ada satu jalan kecil yang menarik perhatian saya, yaitu jalan dengan peneduh di atasnya. Sejujurnya, desain saya di tugas studio, ingin menampilkan jalan seperti ini, tetapi masih belum terbayang detailnya seperti apa. Dengan adanya preseden seperti ini, sangat membantu saya untuk ke depannya. Inovasi yang ingin saya tambahkan adalah dengan menanam tumbuhan rambat di setiap kolomnya yang menghiasi peneduh tersebut di kanan-kirinya (seperti pergola).

Bangunan yang kami kunjungi di kebun raya Cibodas salah satunya adalah Laboratorium. Ternyata konsep bangunan Laboratorium ini sama dengan konsep desain tugas saya, yaitu kontras.
Baca lebih lanjut

Seliter Tangis


Judulnya aneh banget kalo di-Indonesia-in ya? Hehe, maksudnya emang one liter of tears atau ichi rittoru no namida, sebuah dorama jepang yang ceritanya diangkat dari kisah nyata.
*Lagi suka sama sontreknya dorama ini yang judul lagunya Anata ga Oshiete Kure Tamono: Ai no Theme* =j

Jadi, ini adalah sebuah film serial tentang seorang gadis bernama Aya Ikeuchi *bukan nama keluarga sebenarnya, kalo gak salah* yang sedang melangkah ke jenjang sekolah menengah. Aya cukup berprestasi di bidang akademik maupun nonakademik, karena selain pintar, Aya sangat pandai bermain basket. Di rumah, Aya dan keluarganya memiliki sebuah toko tofu warisan kakek dari ayahnya.

Namun, Aya mengalami hal-hal yang cukup janggal. Dalam beberapa kesempatan, Aya kedapatan sering terjatuh tanpa sebab dan tubuhnya terkadang tidak mau bergerak sesuai keinginannya. Sang ibu, Shioka, akhirnya membawa putri kesayangannya ke seorang dokter. Hasilnya sangat mengejutkan, Aya divonis menderita penyakit langka spinocerebellar degeneration.
Baca lebih lanjut

Campus Center ITB: Mencoba Berdialog dengan Bangunan dan Mahasiswa


“Bahasa adalah inti untuk membuat, menggunakan, dan memahami bangunan.” (Tom Narkus)

Bagaimana cara kita mengetahui proses perancangan suatu arsitektur? Perlukah kita mengetahui bagaimana proses perancangan suatu arsitektur?

Menurut John Evelyn, ada beberapa aspek yang membuat kita bisa menikmati arsitektur dengan baik, yaitu: Ingenio (a man of idea), Sumptuarius (the patron), Manuarius (workmen), dan Verbarum (word). Tiga aspek pertama yang disebutkan, hanya berpengaruh hingga suatu bangunan berdiri saja, kecuali adanya revonasi.

Dari teori yang dikemukakan oleh John Evelyn tersebut, izinkan saya untuk melakukan pembahasan di aspek keempat, yaitu: Verbarum. Kenapa verbarum? Karena seperti kuot yang dituturkan Tom Narkus di awal tulisan: tanpa adanya tulisan, kita tidak bisa menikmati arsitektur secara hakiki.

Banyak bangunan di belahan Bumi ini yang digunakan secara tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh sang arsitek dalam desainnya. Salah satu sebab yang membuat hal itu terjadi adalah tidak ada tulisan yang membahas konsep rancangan bangunan tersebut. Tidak semua orang bisa membaca arsitektur tanpa ada penjelasan tertulis. Maka dari itu, kita bisa simpulkan bahwa Verbarum memang aspek penting dalam arsitektur, karena dari situ kita bisa tahu hal implisit dari suatu karya.

Salah satu hal yang sangat menarik untuk dibahas dalam arsitektur adalah bagaimana proses desain itu bisa kita temukan. Kita sering menemukan bangunan yang dikritik secara negatif ketika dilihat dengan mata telanjang. Akan tetapi ketika kita tahu seperti apa proses dan konsep perancangannya. Kita akan bergumam “Ooo…”

Mungkin, itulah yang dialami oleh Campus Center (CC) di Institut Teknologi Bandung (ITB) ketika awal berdirinya.

Pada tahun 1970, Prof. Slamet Wirasonjaya dengan timnya ditugaskan untuk menyusun masterplan dan melakukan proyek renovasi sekaligus pembangunan ITB hingga menjadi seperti yang kita kenal sekarang. Masterplan ini disusun berdasarkan sense of identity, sejarah masa lalu tempat tersebut, dan visi tempat tersebut di masa depan. Dari konsep tersebut, Prof. Slamet Wirasonjaya dengan timnya menyusun kampus ITB yang dibagi menjadi 3 zona: zona heritage atau zona tradisional, zona transisi, dan zona modern.
Baca lebih lanjut

[jurnal] Sinopsis Buku


Kita semua yakin, bahwa Islam adalah agama yang mulia dan sempurna. Satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah. Namun, dewasa ini kecemerlangan cahaya Islam telah diredupkan oleh para pemeluknya. Kemuliaan Islam tidak dibarengi dengan keindahan kompetensi (pengetahuan, kemampuan, dan karakter) para pengikutnya. Sehingga cap yang kurang baik cukup melekat pada Islam pada saat ini.

Lebih jauh dari itu, pada saat ini jika ada suatu posisi strategis yang diisi oleh pemeluk Islam yang taat, masyarakat umum akan berpikiran negatif. Mereka tidak percaya. Padahal dahulu, tiap orang ingin dilindungi oleh kekhalifahan Islam, baik yang Muslim maupun yang kafir. Bahkan ada yang ingin dipimpin oleh orang Islam meskipun mayoritas penduduknya nonmuslim.

Sudah saatnya, kemuliaan Islam dibarengi dengan kecemerlangan akhlaq para pemeluknya! Sudah saatnya, seorang Muslim memiliki kemampuan untuk mengelola suatu lembaga yang mengurusi hajat orang banyak! Sudah saatnya, peradaban Islam yang telah lama dilupakan, kembali diimpikan dan diwujudkan oleh setiap orang!

Oleh karena itu, perlu adanya edukasi tentang peradaban Islam pada masa lalu sehingga setiap pemeluk agama Islam mampu berpijar dan berpendar menerangi kejahiliyahan masyarakat saat ini. Salah satunya dari keilmuan Arsitektur dan Planologi (Tata Kota).

Desain akan menimbulkan suatu perilaku. Bila desain itu bernilaikan Islam, tentu yang timbul darinya adalah perilaku yang Islami. Dan perilaku islami lambat laun akan berefek domino pada bidang ekonomi, sosial, budaya, hukum, dan lain sebagainya sehingga terwujudnya peradaban Islam. Oleh karena itu, keilmuan Arsitektur dan Planologi menjadi salah satu bagian penting untuk mewujudkan peradaban Islam. Bisa jadi batu bata pertama dari pembangunan peradaban Islam berawal dari dua keilmuan ini.

Sebelum menuju kesana, akan lebih baik bila kita mengambil pelajaran dari sejarah yang telah ada. Dan sumber utama dan paling valid dari sejarah itu adalah Al Quran dan As Sunnah.
Baca lebih lanjut

Muhasabah PERSPEKTIF


Malam pertama perspektif, peserta disuguhi tontonan yang berjudul ‘Denias: Senandung di Atas Awan’. Setelah filmnya selesai dan hikmah yang dapat diambil sudah disebutkan oleh peserta, peserta diperintahkan mengeluarkan selembar kertas untuk menulis surat wasiat.

Panitia men-simulasikan bahwa mungkin saja kita semua (ditekankan untuk peserta) tidak bangun lagi dan kita tak bertemu lagi, namun mereka masih meninggalkan hak orang lain yang belum dipenuhi, semisal: berhutang atau belum minta maaf kepada seseorang. Oleh karena itu, peserta diminta menuliskan surat wasiat yang isinya seperti itu. Eh, ternyata ada yang nangis loh =D
Setelah beres semua, surat dikumpulkan dan peserta tidur.

Pukul 02.00 WIB, peserta dibangunkan untuk qiyammullayl. Tetapi yang aneh, kayaknya panitia yang lain pada ga sholat deh. Heu, yasudahlah…
Nah, 30 menit kemudian perjalanan muhasabah pun dimulai…

1. Pos Pengondisian

Peserta dikumpulkan di dekat gerbang ecopesantren untuk pos pengondisian. Di pos ini peserta akhwat dibuat berpasang-pasangan, sedangkan yang ikhwan sendiri-sendiri. Ada peregangan sebentar untuk menghangatkan badan. Setelah dirasa cukup, peserta diminta untuk menyiapkan mental dan jangan becanda. Mereka harus berjalan mengikuti lilin yang telah disediakan panitia sambil merenungi setiap kejadian yang ditemui selama perjalanan.

Kemudian, tiap 3-5 menit peserta diberangkatkan. Ikhwan akhwat selang seling. pertama 2 akhwat, lalu 1 ikhwan, 2 akhwat lagi, dan seterusnya.

2. Pos “Siap matikah anda?”

Setelah bergelap-gelapan di jalan menuju pos ini, peserta dihadapkan kepada suatu tempat yang diterangi banyak lilin. Di situ terdapat 3 orang yang sedang membaca alquran di depan sebuah sosok berwarna putih. Ya, itu adalah jenazah yang sudah dikafani.
Baca lebih lanjut