Melintas dan Mengitari Bumi


Tulisan ini sebenarnya sudah lama mengendap di blog. Tercatat tanggal 29 April 2013 pertama kali tulisan ini dibuat setelah saya mengikuti Open House dari Observatorium Bosscha. Yang akan mentemen baca di bawah adalah salah satu kuliah yang diberikan oleh Pak Dr. Budi Dermawan M.Sc. mengenai “Melintas dan Mengitari Bumi.”

Pak Budi mengawali ceramahnya dengan menyebutkan bahwa manusia ingin mengetahui posisi dirinya di alam semesta, dan punya motivasi tinggi untuk mengetahui apa saja yang ada di langit. Untuk melihat benda langit, kita butuh langit yang gelap (tidak berpolusi cahaya) dan cuaca bersih (tidak berawan). Kedua hal tersebut adalah langit impian saya sedunia. Pengen banget sekali aja merasakan langsung langit yang gelap dan bersih.

Selanjutnya Pak Budi menerangkan bahwa ruang angkasa sekitar Bumi tidaklah sepi. Pertama, ada benda yang mengitari Bumi, yaitu Satelit (baik satelit alami, maupun satelit buatan). Lintasannya bermacam-macam: ada yang dari kutub ke kutub dan ada yang geostatical, ada yang bentuk orbitnya bundar dan ada yang lonjong, ada yang orbitnya panjang (jauh dari Bumi) dan ada yang pendek (dekat dengan Bumi). Satelit ini lama-kelamaan jadi sampah angkasa. Sampah satelit di langit pada Januari 2013 ada 17.000 buah dengan berat total 6,5 juta ton. Ikhtiar manusia mengenai masalah ini adalah dengan membuat “tempat sampah” angkasa.
Baca lebih lanjut

Interstellar


Christopher Nolan bikin film tentang luar angkasa dengan penata musiknya Hans Zimmer? Itu sih W.O.W banget! Dijamin cerita dan latar suaranya gak abal-abal. Udah gitu ada Mackenzie Foy yang masih imut di film The Conjuring. Muhahaha…

Inti dari cerita Interstellar adalah tentang pencarian planet baru karena Bumi sudah tidak bisa lagi memberi kehidupan kepada manusia (beda sama film luar angkasa lainnya yang lebih nampilin alien dengan bentuk aneh-aneh). Di film ini dikisahkan makanan yang tersisa tinggal jagung, terus kabut-asap dimana-mana. Jadi terpaksa butuh cari tempat tinggal yang baru di luar angkasa.

Yah, sebenernya itu adalah fungsi utama adanya astronomi kalo kata saya mah. Bukan sekedar ber-wow ria melihat keindahan ciptaan Allah, terus udah, gitu doang. Tapi juga mengoptimalkannya menjadi suatu manfaat untuk umat manusia. Bukankah itu makna syukur yang sebenarnya? Dulu pernah ngobrol sama anak jurusan astronomi ITB angkatan 2006, katanya (kurang lebih) pembahasan astronomi itu udah sampai bagaimana caranya bisa bawa oksigen dari bulan atau planet lain.

Kalo di kuliah astronomi dan lingkungan sih yang namanya Habitable Zone (HZ) adalah wilayah dalam orbit yang berpusat pada bintang, dimana pada planet mirip Bumi yang berada pada wilayah tersebut dimungkinkan memiliki air dalam fase cair. Patokannya emang cari tempat yang memungkinkan adanya air dalam bentuk cair sih, bukan tempat yang memungkinkan adanya makhluk hidup (lebih rumit). Karena kalo ada air dalam bentuk cair, dia akan menjadi media reaksi biokimia yang mengawali timbulnya kehidupan.

Terus, HZ sendiri merupakan irisan dari dua wilayah: circumstellar habitable zone (CHZ) dan galactic habitable zone (GHZ). Penjelasan mengenai keduanya bisa dilihat pada gambar berikut ini:
Baca lebih lanjut

Gravity


Wah, gak nyangka kalo postingan ini sudah lebih dari sebulan berada di pojokan draft yang penuh debu dan sarang lelaba(?). Kepikiran nulis ini gegara nonton film Gravity pas liburan lebaran haji lalu bersama Agus, Alif, dan Ikbal. Sayangnya ga nonton dari awal, jadi ga ngikutin jalan cerita.

Ya Allah, film ini suwer bikin mupeng pengen ke luar angkasa *jadi nyesel gak ngumpulin berkas AASA dan sekarang sudah terpilih 3 besar calon astronot Indonesia TT___TT* Sebagai pengagum benda-benda angkasa, saya benar-benar ternganga menyaksikan langsung *meski bukan sungguhan* apa yang disampaikan oleh Pak Ferry saat kuliah Astronomi dan Lingkungan dulu.

Saya ingat betul bahwa Pak Ferry pernah bilang kalau debu-debu angkasa, yang ukurannya hanya beberapa milimeter, bergerak dalam jumlah yang banyak dengan kecepatan peluru. Beuh, kalo kena tubuh manusia tanpa pelindung, langsung bolong-bolong persis tentara Abrahah yang kena kerikil neraka yang dibawa burung Ababil.

Yap, antariksa memang penuh marabahaya, namun menurut saya itu memang harga yang pantas untuk dibayar untuk bisa menyaksikan menakjubkannya keadaan di luar atmosfer sana. Beberapa bahaya antariksa yaitu:
Baca lebih lanjut

9 Maret: Planetarium


Sangatsu no kaze ni omoi wo nosete. Sakura no tsubomi wa haru e to tsuzukimasu. With my feelings on the March wind. The cherry blossom buds continue on into spring.” (Remioromen – 3 Gatsu 9 Ka / March 9th)

Aduh kejadian lama gini, baru bisa diposting sekarang. Yap, ini cerita tanggal 9 Maret (pas sama judul lagunya Remioromen yang jadi OST Ichi Rittoru no Namida / Seliter Tangis) lalu ke Planetarium dan Observatorium Jakarta di Taman Ismail Marzuki. Agendanya: berbincang-bincang dengan Pak Widya Sawitar, nonton pertunjukan di Planetarium, jalan-jalan liatin mekanikal dan elektrikal planetarium, dan ikut pertemuan dwimingguan HAAJ.

Nah, berikut ini hasil bincang-bincang dengan Pak Widya Sawitar, semoga bisa membantu arsitek yang ingin membangun planetarium di mana pun.

Kita harus pahami bahwa ada beberapa fungsi planetarium, yaitu:

  • Pertama, Planetarium adalah laboratorium dengan cara edutainment (bukan sekedar bioskop), sehingga ada follow up-nya. Misalnya, sepulang dari planetarium pengunjung bisa lebih peduli terhadap polusi cahaya.
  • Kedua, Bisa jadi pusat kegiatan astronom amatir. Setelah sebelumnya hanya dikenalkan dengan astronomi, di sini pengunjung bisa benar-benar terbina untuk hal-hal yang berhubungan dengan astronomi.
  • Ketiga, khusus di Bosscha (ITB), planetarium harus bisa mendukung pendidikan tinggi di program studi astronomi.

Dewasa ini, planetarium mulai berpindah menjadi omniplanetarium, yaitu planetarium yang bisa digunakan untuk selain fungsi planetarium pada umumnya, seperti: seminar, fashion show, conference, theatre, maupun konser musik.
Baca lebih lanjut

The Milky Way and The Light Pollution


Apa yang teman-teman rasakan ketika memandangi langit di gambar ini?

Biasa aja kan ya?
Nah, coba kita matikan lampu luar yang ada di gambar pertama.

Wow! Kita bisa melihat galaksi Bima Sakti secara langsung.
Sugoi banget lah…

Sekarang, kita pindah tempat.
Bagaimana dengan langit pada gambar di bawah?

Masih biasa saja?
Yap, padahal aslinya kayak gini lho…

Saya rasa empat gambar di atas cukup menjelaskan distorsi visual akibat polusi cahaya.
Polusi cahaya berarti cahaya buatan non-alami yang tidak terkendali sehingga menyebabkan langit yang terang (sky glow/uplight), silau (glare), dan gangguan terhadap hak sekitar (trespass).

Cahaya yang disalahgunakan dapat mengurangi atau menutup jarak pandang, karena benda yang berada di belakang sumber cahaya tidak akan dilihat oleh mata. Itulah mengapa gemintang di langit tidak terlihat, penyebabnya adalah bintang-bintang tersebut tertutup oleh polusi cahaya. Tentu saja polusi cahaya sangat mengganggu pengamatan dan riset astronomi. Ah, di zaman sekarang, berapa kali sih kita bisa melihat Milky Way secara langsung?
Baca lebih lanjut

Hanya Kuot


Cuma pengen nulis dua kuot yang saya dengar dari pilem. Simpel aja, karena saya suka perbintangan dan bajak laut.

Pertama, percakapan antara Dr. Alan Grant dengan Erik di Jurassic Park III, kalo gak salah setelah lolos dari sangkar burung purba trus naik kapal kecil di sungai.

Dr. Grant: “I have a theory that there are two kinds of boys. There are those that want to be astronomers and those that want to be astronauts. The astronomer, or the paleontologist, gets to study these amazing things from a place of complete safety.”
Erik: “But then you never get to go into space.”
Dr. Grant: “Exactly. That’s the difference between imagining and seeing: to be able to touch them…”

Intinya bahwa seorang astronom hanya studi (terlalu sempit bila diterjemahkan ‘belajar’) berbagai macam benda yang menakjubkan dari tempat yang aman sentosa sejahtera. Sedangkan seorang astronot benar-benar pergi ke tempatnya berada dan bisa menyentuh benda tersebut saat itu juga. Pasti ada perbedaaan antara membayangkan dan melihatnya secara langsung.

Umm, saya rasa, itu jua yang musti dilakukan oleh seorang arsitek: harus ke tempatnya langsung. Meski seorang arsitek dilatih untuk membayangkan suatu ruang, tetapi seorang arsitek tidak bisa hanya membaca literatur atau mendengar cerita saja.

Dr. Alan hanya membahasakannya dengan lebih puitis sahaja. haha =j

Kedua, ada lagi kuot yang saya suka dari Pirates of The Carribean. Terucap dari seorang William Turner, suksesor kapal The Flying Dutchmann dari Davy Jones, kepada istrinya Elizabeth Swann, suksesor Sao Feng sekaligus King of the Brethren Court (padahal cewek, kok ‘King’?).

Turner: “Keep a weather eye on the horizon.”

Yah, ini maksudnya agar si Elizabeth menanti kedatangan Will. Berhubung si Will ini perompak yang cuma 1 hari di darat dan 10 tahun di laut, jadinya tanda penantian itu cuma bisa diketahui dengan senantiasa melihat garis cakrawala yang terbentuk antara langit dan laut.

Saya juga suka melihat cakrawala (dan langit tentu saja) untuk menunggu kedatangan sebuah(?) bintang terbit dari sana. Ah, di zaman sekarang ini, mau lihat bintang aja susah banget. Sampai sekarang belon pernah liat Bimasaksi secara langsung nih…
Baca lebih lanjut