Kembali ke Bandung


“Aku kembali ke Bandung kepada cintaku yang sesungguhnya.” (Soekarno)

Tadi baca Mata Najwa edisi ultah Metromini ke-15, terus Pak Emil menyebutkan kuot di atas. Jadi baper deh. Inget selama numpang hidup di Bandung. Hehe… AlhamduliLlah pekan lalu berkesempatan untuk menyambanginya lagi.
Bandung memang akan selalu terkenang, karena sebagian diri saya ada di sana. Di tiap sudut kota itu…

[jurnal] Membangun Jaringan FORSIMAP


Beberapa pekan lalu, saya menenggelamkan diri pada koleksi buku salah satu arsitek di Jakarta. Dari buku tentang arsitektur dan arsitek yang saya baca, saya menemukan beberapa fakta unik:

Pertama, melihat banyaknya proyek-proyek dan arsitek berasal, sepertinya kita perlu memfokuskan diri untuk memperkuat jaringan di tiga tempat. Yang paling mudah adalah mencari kontak muslim di semua kampus yang ada jurusan arsitektur/perencanaan/yang serumpun. Lebih bagus lagi bila kontak yang kita dapat itu aktif juga di Rohis/LDPS/SKI jurusannya. Yaitu di:

  1. Jakarta: terdata ada 23 kampus yang ada jurusan di atas
  2. Bandung: 10 kampus
  3. Bali: 4 kampus

Baca lebih lanjut

Jalan-Jalan Tarawih (2)


Sambungan postingan sebelumnya…

5. Masjid Agung Bandung(?), Alun-Alun Kota

Lagi-lagi lupa nama masjidnya. Pokoknya mah masjid paling gede yang ada di alun-alun bandung (deket savoy homann, gedung KAA, dan gedung merdeka), yang menaranya tinggi banget (kayaknya mau nyaingin Hagia Sophia-nya Turki =p) sampai keliatan dari jalan layang pasopati. Nah, saya kesini cuma sempet sekali. Pada saat saya dateng setelah muter-muter nyari masjid ini trus parkir basement-nya bikin bingung lagi, pas banget di masjid lagi bagiin ta’jil (soalnya emang lima menit lagi adzan) yang ternyata langsung makanan berat. Umm, kayaknya sih ada sedikit keributan karena ada jamaah yang ga dapet. Saya sih ga mikirin makanan, soalnya udah bawa sendiri. Baru aja nyampe depan keran mau wudhu, adzan berkumandang.

Di sini saya pertama kalinya shalat 23 rakaat di bandung dan itu di saat saya sedang tertinggal target tilawahnya, jadi agak kesel gimanaaa gitu, sehingga harus berkali menyabar-nyabarkan diri: “Ayo peh, bisa sampai beres. Pahalanya seperti shalat semalam suntuk loh.”

Meski kurang fokus, saya sadar bahwa ini menurut saya adalah satu-satunya shalat tarawih 23 rakaat yang bener. Shalatnya lamaa banget, kalo ga salah hampir jam 9 baru selesai. Cukup nyunnah tentang panjang shalatnya, namun kalo tentang bagus tidaknya, Allahu a’lam hoho. Sayangnya yang ikut tarawih cuma 3-4 shaff, padahal tadi yang ikut ta’jil-an sealaihum gambreng dan di luar masjid (di area alun-alun) ada pasar dadakan yang rame pengunjung. Bahkan setelah shalat tarawih beres, di luar masjid masih penuh sesak lautan manusia.

Nb. Kalo malam-malam mau ke tempat parkir basement, lewat yang sebelah utara ya. Soalnya yang di selatan udah pada ditutup dan dikonci. Oia, kalo ga mau di basement, ternyata di bagian utara masjid (deket tempat wudhu akhwat) yang selevel dengan alun-alun, ada tempat parkir buat motor juga.

6. Masjid Pusdai, Jl. Suci(?)
Baca lebih lanjut

Jalan-Jalan Tarawih (1)


Ramadhan yang saya alami tahun ini ada yang berbeda, karena saya melakukan shalat tarawih di berbagai masjid yang berbeda di bandung, walaupun ga banyak-banyak amat.

eh, tapi sebenernya boleh gak sih? apakah ada sunnah yang lebih mengutamakan shalat di satu masjid saja? karena sebenernya saya melakukan jalan-jalan tarawih hanya iseng saja dan ternyata saya jadi tahu banyak jenis-jenis tarawih lho…

1. Masjid Ad Dakwah, Jl. Batik Sidomukti/Batik Halus

Masjid yang berada di dekat tempat tinggal saya ini, ternyata ‘punya’ Prof. Miftah Faridl lho. Beliau adalah ketua Yayasan Universitas Islam Bandung (masih gak sih?) dan tokoh nasional juga. Trus, kalo gak salah YPM Salman menetapkan bahwa beliau adalah imam utamanya (tapi malah jarang shalat di Salman, hehe). Oia, waktu saya tingkat 2, beliau lah yang menjadi dosen agama saya (ini kelas lucu deh, asdos-nya teh Elih tapi peserta kelasnya kang Heru, posisinya kebalikan kalo lagi rapat Mata’: kang Heru korum dan teh Elih staf S2Q).

Nah, kalo menjelang bedug maghrib, makanan-makanan ta’jil dijajarkan dalam 1 piring: gorengan, kue basah, dan kurma, di shaff paling belakang untuk ikhwan dan di teras masjid sebelah timur untuk akhwat. Pernah suatu ketika, ada makanan berat yang dibagikan ba’da shalat maghrib.

Shalat tarawih dilakukan setelah ceramah singkat (yang biasanya dilakukan oleh Pak Miftah sendiri) dan dilaksanakan berjumlah 10 rakaat (dengan rincian setiap 2 rakaat salam), lalu ditutup dengan shalat witir 1 rakaat. Saya ga tau hadits tentang qiyamul layl 10 rakaat, ada yang tau kah? Tolong share di bagian komen dong. Nuhun…
Baca lebih lanjut

Plaza Bale Pare Kota Baru Parahyangan


“Suatu kepuasan yang tercipta dalam bermimpi bukanlah ketika kita memimpikan suatu hal yang besar, melainkan ketika kita menggapai mimpi tersebut setelah perjuangan yang melelahkan.”

Perjalanan itu pun berakhir. Tujuan sudah terlihat dan kita akan segera menemuinya.

Memasuki sebuah area yang bernama Bale Pare, kita akan disambut dengan kemegahan sebuah tatanan vegetasi dan hardscape yang melingkar. Komposisnya menguatkan kesan radial yang memang sengaja dibentuk dalam sebuah desain terpadu. Poros dari semua ini adalah bundaran mungil yang ditumbuhi tanaman hias berbunga jingga.

Arsiteknya memainkan irama yang ketukannya harmonis. Repetisi yang dibentukkan oleh paving block dua warna, menghadirkan rasa nyaman secara visual, karena pada dasarnya manusia menyukai sesuatu yang berulang. Hal ini membuat informasi yang diterimanya lebih melekat dengan baik.

Tetapi juga perlu disadari bahwa sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik. Begitu juga dalam arsitektur, pengulangan yang berlebihan akan menimbulkan kesan biasa dan membosankan.

Di antara itu semua, ada hal yang kurang saya sukai, yaitu adanya menara di kanan-kiri tulisan Bale Pare tanpa kejelasan fungsinya. Padahal bisa saja digunakan untuk pos satpam. Ditambah lagi tidak adanya akses menuju puncak menara tersebut.

Untungnya hal tersebut tidak terjadi di entrance Bale Pare ini. Perpaduan material buatan Tuhan dan buatan manusia yang ada, cukup baik terlihat. Peralihannya pun cukup bertahap. Berawal dari rerumputan berwarna hijau, kemudian beralih menjadi bebatuan alam yang memiliki satu khrom, dan diakhiri menjadi paving block hasil pabrikasi dengan warna dan pola yang lebih beragam dan menarik.

Kesan yang didapat adalah sebuah jamuan yang ramah, mempersilakan para pendatang untuk melihat-lihat ke dalam Bale Pare dan menikmati keindahan lainnya di sana, diam-diam mereka memberi isyarat bahwa selanjutnya akan ada yang lebih menakjubkan menanti kita.

Setelah hal yang sangat homy di atas kita nikmati, sambutan kedua adalah kolom-kolom kokoh yang menyangga pergola di atasnya. Yang menarik adalah pemberian warna hijau pada kolom ini berupa tumbuhan yang disengaja dan diundang untuk merambat disekitar kolom tersebut. Kolom-kolom itu sendiri memakai material batu alam yang monochrome.

Hal tersebut mengingatkan saya kepada gerbang utama kampus tercinta, kampus gajah duduk tempat saya menimba ilmu selama tiga tahun terakhir ini, Institut Teknologi Bandung. Hanya saja yang ini lebih spektakuler. Betapa tidak, kolom batu yang menjadi ciri khas utama bangunan di ITB diberi warna ungu bunga Bougenville atau biasa disebut juga Bunga Kertas. Uniknya bunga ini akan mekar hanya ketika tahun ajaran baru dimulai, seolah menyambut mahasiswa baru dengan suka cita dan mendoakan kesuksesan untuk mereka semua. Semoga bisa menjadi bagian solusi dari begitu banyaknya permasalahan yang dapat kita temui di negara ini. Ya, kitalah harapan bangsa ini.
Baca lebih lanjut

Koridor Utama Kota Baru Parahyangan


“Percayalah, bahwa di ujung jalan ini, sepanjang apapun, semendaki apapun, dan sesukar apapun, ujungnya adalah pertemuan dengan Yang Mahaindah di Tempat yang terindah.”

Pada kesempatan kali ini, saya akan menceritakan sebuah kisah perjalanan menuju sebuah plaza di kota baru Parahyangan.

Perjalanan ini bermula ketika saya menapaki sebuah koridor panjang, yang awalnya adalah gerbang utama dan ujungnya belum saya kunjungi, bisa menjadi suatu perenungan yang baik bagi saya.

Perjalanan adalah pekerjaan yang menyenangkan. Menikmati jalanan yang dilalui memiliki banyak manfaat, walaupun biasanya hal tersebut tanpa kita sadari telah kita rasakan. Dalam masa yang panjang dalam mengarungi koridor ini, ada sebuah perenungan yang dapat saya lakukan.

Sengaja saya analogikan bahwa koridor ini adalah rentang hidup seorang insan. Menurut saya, koridor kota baru Parahyangan ini agak berbeda dengan koridor-koridor lainnya. Biasanya, koridor pada umumnya lebih mengutamakan kenyamanan fisikal: pohon yang rindang untuk melindungi dari teriknya sang mentari, adanya sedikit ruang untuk berteduh di kala sang hujan tumpah, dll. Sedangkan pada koridor di kota baru ini lebih memanjakan visual para penggunanya.

Mungkin salah satu penyebabnya adalah adanya asumsi bahwa yang akan berada di koridor ini hanyalah para pengguna mobil dengan pengondisian udara di dalamnya, sehingga rancangan koridor ini lebih menekankan kepada visualnya. Hal ini menjadikan indah pada pandangan mata saja, sedangkan secara fisik desain koridor belum bisa membuat suatu kenyamanan yang dapat dirasakan oleh para pejalan kaki.

Penempatan tanaman yang jenis Arecaceae di bagian tengah (sebagai pembatas di kedua jalur mobil) dan di jalur pedestrian, kurang cukup menaungi setiap pejalan kaki. Seperti yang telah saya sebutkan pada paragraf sebelumnya, bahwa tanaman ini memang akan mempercantik panorama di depan mata. Namun, tidak cukup solutif ketika diharuskan berjalan kaki ketika siang hari atau ketika hujan. Jadi, akan lebih baik jika ada pohon yang berfungsi sebagai kanopi.

Ditambah lagi, ruang yang diberikan bagi pejalan kaki sungguh kontras jika dibandingkan dengan jalur mobil. Kesan lebih mementingkan pengguna mobil semakin terlihat jelas. Seharusnya akan lebih baik ketika pejalan kaki lebih diapresiasi karena telah membantu menghemat bahan bakar fosil. Seperti yang dilakukan oleh walikota Bogota. Lepas dari itu, jalan yang sempit justru membuat perenungan saya bertambah menarik.

Saya membayangkan sebuah perjalanan jauh, lagi panjang, sukar, dan mendaki, yang ujungnya belum pernah saya kunjungi tetapi berita mengenainya sungguh telah memacu semangat saya untuk menggapainya. Jalanan yang sempit, terik, diselingi badai, mendaki, dan berkelok. Namun, saya yakin bahwa di ujung jalan ini ada sesuatu yang indah menunggu. Begitulah seharusnya kita memaknai hidup. Tak selamanya jalan hidup tanpa hambatan. Ada ujian yang datang melanda, ada perangkap menunggu mangsa.
Baca lebih lanjut

Pemilu dan Baksil


Tulisan di bawah ini adalah catatan dari partisipasi saya dalam dua aksi.

1. Pemilu

Aksi ini diadakan pada hari jumat jam 13.00 oleh FSLDK se-Bandung Raya. Kumpul ba’da jumatan di Masjid Pusdai, introduksi dari al akh yang saya gatau namanya siapa ^^ berupa penjelasan teknis dan ditutup dengan doa.

Yang saya tahu ada yang dari Unpad, STT Tekstil, IT Telkom, dan tentu saja ITB!!! haha, tapi cuma 3 orang (saya, kang Dida, dan kang Adi)

Diawali long march ke Gedung Sate dengan kawalan dari polisi. Lancar, ga buat macet. Dengan sedikit orasi dari danlap dan yel-yel singkat yang nadanya gitu-gitu aja. hehe. Oia, ada juga yang megang poster dan membagikan selebaran yang isinya menyatakan sikap dari FSLDK.

Sesampainya di Gedung Sate (ikhwan menghadap gedung sate, akhwat menghadap ke jalan). Ada orasi dari petinggi FSLDK dan perwakilan UNPAD. Dari ITB ga ada, wong gaada yang bisa orasi. hihi. Kemudian bunker ikhwan melakukan penekanan ke polisi yang berjaga di gerbang gedung Sate. Trus juga ada perwakilan dari anggota legislatif, seorang ibu yang tidak disebutkan partainya.
Baca lebih lanjut