Orion-Canis Major dan Scorpius


Ada apakah dengan rasi Orion-Canis Major dan rasi Scorpius? Ini gak tau sih secara presisi bener atau ngga, tapi yang pasti setiap saya pulang dari masjid abis shalat maghrib atau isya, selalu rasi Orion-Canis Major dan rasi Scorpius menghadap ke arah kiblat. Jadi ini pengamat empiris aja yak, gunanya hanya sebagai pengira-ngira saja, bukan penunjuk pasti. Dan menurut saya sih sangat membantu, terutama pas kemah di alam terbuka yang tidak ada sinyal (dengan catatan langit cerah ya).

Untuk itu, yuk kenalan sama rasi Orion-Canis Major dan rasi Scorpius. Pertamax dengan rasi Orion-Canis Major ya. Kenapa digabung? Karena awalnya saya hanya mengamati rasi Orion saja, ternyata sabuk Orion kurang lebih menunjuk arah kiblat. Tapi kalo lagi ga deket masjid, malah bingung ke arah yang sebelah mana. Nah, pas ketemu dengan rasi Canis Major dengan Sirius sebagai bintang alpha-nya, jadi ga bingung lagi. Karena arah kiblat itu adalah arah yang berlawanan dengan arah Sirius kalo dilihat dari sabuk Orion. Jelasnya, coba lihat gambar di bawah:

Lihat 3 bintang yang berjejer di rasi Orion kan? Nah, kalo kita tarik garis ke kiri, akan nyampe ke bintang paling terang di rasi Canis Major. Itulah bintang Sirius. Kalo Sirius ada di sebelah kiri (dalam kasus gambar di atas), berarti arah kiblat kurleb ada di sebelah kanan. Gitu lho maksudnya.


Baca lebih lanjut

Interstellar


Christopher Nolan bikin film tentang luar angkasa dengan penata musiknya Hans Zimmer? Itu sih W.O.W banget! Dijamin cerita dan latar suaranya gak abal-abal. Udah gitu ada Mackenzie Foy yang masih imut di film The Conjuring. Muhahaha…

Inti dari cerita Interstellar adalah tentang pencarian planet baru karena Bumi sudah tidak bisa lagi memberi kehidupan kepada manusia (beda sama film luar angkasa lainnya yang lebih nampilin alien dengan bentuk aneh-aneh). Di film ini dikisahkan makanan yang tersisa tinggal jagung, terus kabut-asap dimana-mana. Jadi terpaksa butuh cari tempat tinggal yang baru di luar angkasa.

Yah, sebenernya itu adalah fungsi utama adanya astronomi kalo kata saya mah. Bukan sekedar ber-wow ria melihat keindahan ciptaan Allah, terus udah, gitu doang. Tapi juga mengoptimalkannya menjadi suatu manfaat untuk umat manusia. Bukankah itu makna syukur yang sebenarnya? Dulu pernah ngobrol sama anak jurusan astronomi ITB angkatan 2006, katanya (kurang lebih) pembahasan astronomi itu udah sampai bagaimana caranya bisa bawa oksigen dari bulan atau planet lain.

Kalo di kuliah astronomi dan lingkungan sih yang namanya Habitable Zone (HZ) adalah wilayah dalam orbit yang berpusat pada bintang, dimana pada planet mirip Bumi yang berada pada wilayah tersebut dimungkinkan memiliki air dalam fase cair. Patokannya emang cari tempat yang memungkinkan adanya air dalam bentuk cair sih, bukan tempat yang memungkinkan adanya makhluk hidup (lebih rumit). Karena kalo ada air dalam bentuk cair, dia akan menjadi media reaksi biokimia yang mengawali timbulnya kehidupan.

Terus, HZ sendiri merupakan irisan dari dua wilayah: circumstellar habitable zone (CHZ) dan galactic habitable zone (GHZ). Penjelasan mengenai keduanya bisa dilihat pada gambar berikut ini:
Baca lebih lanjut

Fakta Mengejutkan


Sebuah fakta mengejutkan bahwa penyusun kehidupan di Bumi, atom penyusun tubuh manusia, berasal dari unsur ringan (hidrogen, helium) yang diubah menjadi unsur-unsur berat melalui reaksi fusi nuklir di inti bintang.

Bintang-bintang ini, jika menjadi tidak stabil di masa-masa akhir hidupnya, akan runtuh dan meledak; menghamburkan atom-atom di dalam bintang ke seluruh penjuru galaksi.

Menghamburkan karbon, nitrogen, oksigen, dan bahan-bahan lain pembentuk kehidupan. Bahan-bahan ini mengumpul membentuk gumpalan gas yang memampat menjadi bola-bola kecil membentuk cikal-bakal tata surya (matahari dan planet-planet yang mengelilinginya). Dan planet-planet ini kini memiliki bahan pembentuk kehidupan.

Jadi, saat kutatap langit malam, aku tahu bahwa kita adalah bagian dari alam semesta ini. Tetapi, mungkin yang lebih penting dari semua itu adalah fakta bahwa alam semesta ada di dalam diri kita.

Baca lebih lanjut

je rêve


.

selalu berharap malam senantiasa penuh gemintang

lalu kuajak kawan saksikan kekuatan juang

takkan lelah terus pancarkan cahaya terang

walau hanya setitik, meski nampak hilang

.

selalu bermimpi agar mereka tak pernah remang

agar kita tetap tapaki jalan penuh rintang

tak kenal henti pastikan dunia terang-benderang

walau hanya sedikit, meski diancam usang

.

selalu berdoa agar kita selalu tersenyum riang

walau ada rindu dan dendam, meski ada sedu dan senang

laiknya mereka di sana, para konstelasi bintang

merangkai rasi menyusun galaksi nan indah cemerlang

.

Baca lebih lanjut

The Milky Way and The Light Pollution


Apa yang teman-teman rasakan ketika memandangi langit di gambar ini?

Biasa aja kan ya?
Nah, coba kita matikan lampu luar yang ada di gambar pertama.

Wow! Kita bisa melihat galaksi Bima Sakti secara langsung.
Sugoi banget lah…

Sekarang, kita pindah tempat.
Bagaimana dengan langit pada gambar di bawah?

Masih biasa saja?
Yap, padahal aslinya kayak gini lho…

Saya rasa empat gambar di atas cukup menjelaskan distorsi visual akibat polusi cahaya.
Polusi cahaya berarti cahaya buatan non-alami yang tidak terkendali sehingga menyebabkan langit yang terang (sky glow/uplight), silau (glare), dan gangguan terhadap hak sekitar (trespass).

Cahaya yang disalahgunakan dapat mengurangi atau menutup jarak pandang, karena benda yang berada di belakang sumber cahaya tidak akan dilihat oleh mata. Itulah mengapa gemintang di langit tidak terlihat, penyebabnya adalah bintang-bintang tersebut tertutup oleh polusi cahaya. Tentu saja polusi cahaya sangat mengganggu pengamatan dan riset astronomi. Ah, di zaman sekarang, berapa kali sih kita bisa melihat Milky Way secara langsung?
Baca lebih lanjut

Urgensi Membina


Alhamdulillah, saya menemukan visualisasi sebuah ceramah dari Imam Anwar Al Awlaki tentang salah satu episode hidup Umar bin Khattab radiyallahu’anhu. Dan saya rasa, kisah ini harusnya semakin meningkatkan sense membina dari diri kita. Yuk, simak baik-baik…

Umm, menurut saya sih, ga ada dakwah yang lebih sakti mandraguna dibandingkan mentoring, karena dengan metode seperti itu kita bisa nyentuh secara personal. Kita bisa mencet idungnya satu persatu, kalo mau doang sih. Tapi itu tidak bisa dilakukan oleh tabligh akbar, meskipun itu dilakukan oleh ulama yang diakui tingkat internasional.

Dan hebatnya lagi, mentoring tidak hanya memberikan kebenaran semata, tetapi mampu membentuk seseorang hingga ia memiliki kepribadian seorang muslim sejati bahkan memiliki kepribadian seorang da’i. Wow! Beda dengan tabligh akbar yang dateng duduk pulang.
Kok kayak ngejelek-jelekin tabligh akbar ya? Hehe, maap, tidak bermaksud seperti itu. Tabligh akbar juga penting, tetapi saya sedang menekankan efektivitas mentoring dalam berdakwah.

Maka dari itu, seharusnya seorang da’i memberikan perhatian yang lebih terhadap mentoring ini. Karena belum ada wasilah yang memberikan efek sedahsyat dan seinbox mentoring.
Belum lagi, ada buanyak pahala yang menunggu diri kita di sana.

Hadits pertama yang saya kutip adalah penggalan dialog antara Rasulullah dengan para sahabat, di bagian akhir Rasulullah bersabda seperti ini kepada Ali bin Abi Thalib.
Baca lebih lanjut

Bintang Generasi Pertama


Ketika ikut kuliah Astronomi dan Lingkungan bab Pengantar Astrobiologi bagian pertama (tentang Habitable Zone and Terraforming), saya semakin sadar, betapa banyak nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kita bahkan berjuta-juta tahun sebelum kita ada. Pada saat itu, sang dosen sedang menceritakan kisah bintang-bintang generasi pertama.

Dari suatu sumber di internet, saya mendapatkan bahwa bintang-bintang generasi pertama terbentuk sekitar 300 juta tahun setelah Big Bang dan dibakar oleh waktu di alam semesta selama 1 miliar tahun. Mereka memiliki ukuran yang sangat besar dan berotasi sangat cepat.

Gemintang yang tersusun dari hidrogen dan helium ini juga menghasilkan elemen lebih berat dalam proses konsumsi bahan bakar. Kira-kira elemen atau unsur inilah yang ada di inti bintang tersebut.


Baca lebih lanjut