Membina atau Membinasakan


“Inna al-akh ash-shadiq laa budda an-yakuuna murabbiyan. Sesungguhnya seorang akh yang benar ‘harus’ menjadi seorang murobbi.” (Dr. Abdullah Qadiri Al-Ahdal)

Selayaknya bagi para da’i, yang mengaku sedang merancang bangunan Islam, tidak sekedar menyampaikan kebaikan saja lantas selesai. Seruan yang hanya sesekali mungkin bisa mengantarkan seseorang kepada pintu hidayah, lalu bagaimana caranya agar orang tersebut bisa masuk dan tidak keluar lagi dari pintu hidayah? Saya temukan hal tersebut saat melakukan pembinaan.

Pembinaan lebih dari sekedar seruan, yaitu pembentukan. Seruan memakai pola pikir “Apa yang mereka sukai atau butuhkan?” sedangkan pembinaan memakai pola pikir “Mereka akan dibentuk menjadi apa?” Itulah mengapa para da’i-mujahid senantiasa lahir dari rahim pembinaan dengan para murabbi sebagai bidannya. Hanya saja prosesnya memakan waktu yang sangat lama. Tahunan, bahkan puluh-tahunan.

Kita tahu bahwa RasuluLlah saw pun membina para sahabat. Memang prosesnya tidak nampak, tempat pembinaannya pun tersembunyi: rumah Arqam bin Abi Arqam. Namun hasilnya adalah gelombang mahadahsyat yang bisa mengubah struktur kekuasaan dunia. Romawi (Timur) dan Persia pun merasa terusik keberadaannya. Bahkan pelosok dunia yang bernama Indonesia pun bisa terjamah, padahal penduduknya mayoritas sudah punya kepercayaan: Animisme dan Dinamisme, serta kekuasaan berbasis agama: Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha. Kini Indonesia menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.
Baca lebih lanjut

[jurnal] FORSIMAP: Latar Belakang dan Tujuan


“Setiap satu garis kecil yg ditorehkan oleh seorang arsitek, akan berpengaruh besar terhadap perdaban manusia.” (Seorang Dosen)

Berikut ini adalah sedikit cuap-cuap saya di grup WhatsApp tentang latar belakang dan tujuan sebuah organisasi yang saya inisiasi, yaitu FORSIMAP (Forum Silaturrahim Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaa). Maksudnya agar bisa sekedar me-refresh dan mewariskan semangat yang saya bawa kepada teman-teman yang baru gabung dari seluruh Indonesia.

Olrait, ini dia.

LATAR BELAKANG

Seorang dosen pernah berkata kepada para mahasiswanya di suatu kelas, bahwa setiap satu garis kecil yang ditorehkan oleh seorang arsitek, akan berpengaruh besar terhadap peradaban manusia. Setelah mendengar kata-kata itu, saya sedikit merenung.

Bayangkan, di Indonesia ada ratusan kampus yang ada jurusan arsitektur-nya. Di tiap kampus itu sedikitnya ada 300-400 mahasiswa (1 angkatan dipukul rata kurang-lebih 100 orang). Yang muslim mungkin sekitar 70% lah ya. Nah, kalau semuanya sholeh, nanti kampus-kampus tersebut akan melahirkan arsitek-arsitek yang berafiliasi terhadap Islam. Itu artinya peradaban Islam di Indonesia sudah pasti akan terwujud kelak.

Karena tiap bangsa akan dipergilirkan memimpin peradaban. Persia, Romawi, Arab, Cina, hingga Inggris pernah memimpin peradaban ini. Sekarang (walaupun tidak suka) harus diakui kalau Amerika menjadi super-power planet ini. Percayalah kawan, ada satu bangsa yang sedang menunggu takdir kepemimpinannya. Bangsa yang belum pernah mewarisi estafet kepemimpinan, yaitu bangsa Melayu. Tepatnya Indonesia, dimana terdapat penduduk muslim terbesar di dunia.

Yah, walaupun arsitek peradaban itu sebenarnya bukan profesi arsitek alumnus jurusan arsitektur. Kata “arsitek” pada frase “arsitek peradaban” hanya kiasan. Apalagi dalam peradaban, pembangunan fisik itu bukanlah yang utama. Namun, saya berkeyakinan, bahwa peradaban Islam di Indonesia bisa berawal dari arsitektur. Dengan catatan kita tetap belajar dan tetap mengajarkan quran (membina).
Baca lebih lanjut

Andai Saja…


Andai saja, saat ini RasuluLlah saw masih hidup…

Andai saja, saya adalah Umar yang mendatangi RasuluLlah setelah mendengar niatan Thalhah untuk meminang Aisyah selepas wafat RasuluLlah.

Andai saja, saya berkesempatan seperti Umar yang berkata: “Ya RasuluLlah, mulai sekarang jangan ada di antara istri-istrimu yang tampak di muka umum, hijabi mereka semua, tutup, jangan ada orang yang melihat istri-istrimu. Demi Allah kehormatan agama ini dipertaruhkan.”

Andai saja, saya bisa menyampaikannya kepada RasuluLlah agar turunkan larangan interaksi antarlawan jenis pada malam hari, mulai dari sms-an, telponan, like-an, tag-an, mention-an, what’s up-an, skype-an, ym-an, hingga bbm-an. Apatah lagi bertemu langsung.

Andai saja, seketika RasuluLlah langsung menjelaskan bahwa Dienul Islam telah sempurna, tak perlu ada yang ditambah.

Andai saja, RasuluLlah jelaskan bahwa firman-Nya: “…yaitu sebelum sembahyang fajar, dan seketika kamu menanggali pakaian kamu selepas Zuhur, dan sesudah sembahyang ‘Isya. itulah tiga masa aurat bagi kamu…” adalah larangan tersebut.

Andai saja, beliau sampaikan itu semua kepada para aktivis da’wah hari ini.

Ah, andai saja, berandai-andai seperti ini ada manfaatnya…
Hanya merasa dibohongi dengan aturan jam malam. Namun, percaya deh, sesungguhnya saya lebih berharap terus dibohongi seperti ini…

Urgensi Membina


Alhamdulillah, saya menemukan visualisasi sebuah ceramah dari Imam Anwar Al Awlaki tentang salah satu episode hidup Umar bin Khattab radiyallahu’anhu. Dan saya rasa, kisah ini harusnya semakin meningkatkan sense membina dari diri kita. Yuk, simak baik-baik…

Umm, menurut saya sih, ga ada dakwah yang lebih sakti mandraguna dibandingkan mentoring, karena dengan metode seperti itu kita bisa nyentuh secara personal. Kita bisa mencet idungnya satu persatu, kalo mau doang sih. Tapi itu tidak bisa dilakukan oleh tabligh akbar, meskipun itu dilakukan oleh ulama yang diakui tingkat internasional.

Dan hebatnya lagi, mentoring tidak hanya memberikan kebenaran semata, tetapi mampu membentuk seseorang hingga ia memiliki kepribadian seorang muslim sejati bahkan memiliki kepribadian seorang da’i. Wow! Beda dengan tabligh akbar yang dateng duduk pulang.
Kok kayak ngejelek-jelekin tabligh akbar ya? Hehe, maap, tidak bermaksud seperti itu. Tabligh akbar juga penting, tetapi saya sedang menekankan efektivitas mentoring dalam berdakwah.

Maka dari itu, seharusnya seorang da’i memberikan perhatian yang lebih terhadap mentoring ini. Karena belum ada wasilah yang memberikan efek sedahsyat dan seinbox mentoring.
Belum lagi, ada buanyak pahala yang menunggu diri kita di sana.

Hadits pertama yang saya kutip adalah penggalan dialog antara Rasulullah dengan para sahabat, di bagian akhir Rasulullah bersabda seperti ini kepada Ali bin Abi Thalib.
Baca lebih lanjut

Menghidupkan Lingkaran Bercahaya


Ketika beliau keluar, tiba-tiba beliau dapati para sahabat dalam halaqah (lingkaran). Beliau bertanya, “Apakah yang mendorong kalian duduk seperti ini?” Mereka menjawab, “Kami duduk berdzikir dan memuji Allah atas hidayah yang Allah berikan sehingga kami memeluk Islam.” Maka Rasulullah bertanya, “Demi Allah, kalian tidak duduk melainkan untuk itu?” Mereka menjawab, “Demi Allah, kami tidak duduk kecuali untuk itu.” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya saya bertanya bukan karena ragu-ragu, tetapi Jibril datang kepadaku memberitahukan bahwa Allah membanggakan kalian di depan para malaikat.” (HR. Muslim)

Hanya orang-orang besar yang berbicara tentang ide, yaitu mimpi-mimpi yang jauh melebihi zamannya berada. Dia bisa melihat apa yang orang lain luput melihatnya, dia bisa visualisasikan hal-hal yang orang lain belum bisa membayangkannya, dan dia bisa mengemukakan inspirasi yang bahkan orang lain tidak pernah terlintas dalam benaknya.

Dan cita-cita kita bersama ini bukan hanya tentang negeri yang Islami, akan tetapi Islam menjadi soko guru peradaban. Bukan haus kekuasaan, namun ini tentang bagaimana bisa maksimal dalam tebar manfaat. Kalau kita yakin Islam adalah satu-satunya jalan hidup yang baik dan sempurna, sebarkanlah ke seantero dunia hingga tiada lagi fitnah dan din hanya untuk Allah semata.

Hanya saja, semuanya itu berawal dari hal kecil, yaitu suatu kelompok yang terdiri dari 4-12 orang sahaja. Semua berawal dari individu yang bersih dan membawa jernih, yaitu suatu pribadi yang saling menguatkan dan mengingatkan dalam lingkaran cahayanya.

Mentoring. Sungguh ia memang bukanlah segalanya, tetapi segalanya berawal darinya…

Mungkin saat ini kita memang terlalu berkutat pada segudang masalahnya: mentoring tidak jalan, pendataan yang tidak rapi, mentor yang sedikit, dan materi yang monoton. Dengan begitu kita disibukkan dengannya hingga belum bisa membangun mimpi-mimpi kecemerlangan mentoring.

Di sisi lain, saat ini kita baru bisa membuat ribuan orang daftar mentoring, tetapi belum bisa membuat ribuan orang datang mentoring. Kita baru bisa membuat tiap kelompok punya mentor, tetapi belum mampu membuat setiap kelompok berjalan secara dinamis dan produktif. Kita baru bisa menyediakan materi permentoringan, tetapi belum dapat membawa ilmu, hikmah, dan inspirasi dalam setiap pertemuan.

Oke, itu adalah masalah, kita sadari dan kita cari solusinya. Akan tetapi marilah kita sejenak -cukup sejenak saja- pejamkan mata, untuk bayangkan, untuk visualisasikan: ribuan orang datang mentoring murni karena ingin belajar Islam, pendataan permentoringan yang rapi hingga tidak ada 1 orang ikut banyak kelompok, mentor-mentor yang penuh ilmu dan inspirasi, dan masih banyak lagi pemandangan-pemandangan yang membuat kita tak henti-hentinya bertasbih kepada Allah.
Baca lebih lanjut

Belajar Menikmati


Kulekatkan keningku pada Bumi-Mu, wahai Ilahi Rabbi.
Sebagai tanda rasa syukur tak terhingga atas anugerah yang engkau curahkan kepada diri.
Atas Iman yang makin erat kudekap, atas Islam yang makin hangat menghinggap.

Tak semua insan Kau buka pintu hatinya untuk menerima cahya hidayah-Mu.
Meski Engkau mampu, sungguh Engkau Mahamampu, melakukannya dengan kuasa-Mu.

Hanya saja, seharusnya Islam dapat dinikmati oleh siapapun.
Tak terkecuali seorangpun.

Seorang muslim hendaknya menikmati dan bangga atas Islamnya.
Betapa tidak? Lisan termulia telah memberikan garansi dan kita tahu Ia takkan dusta.

“Man syahida: ‘la ilaha illallah’, dakhalal jannah.” (HR. Al Bazzar, dari `Umar)

Seorang nonmuslim pun layak menikmati Islam.
Dia harus merasa tentram oleh Islam.
Dia harus mendapatkan keadilan dari Islam.

Ya, karena Islam hadir untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin.
Bukan rahmatan lil muslimin.
Baca lebih lanjut

Majelis Syura


Menuju Jama’atul Muslimin, sebuah tesis pascasarjana yang membeberkan janji-janji Allah akan happy ending-nya agama ini. Semuanya sudah terbahas panjang lebar disitu. Saya jadi terbayang bagaimana perasaan Muhammad Alfatih saat tiap hari diceritakan padanya tentang penaklukan Konstantinopel oleh pemimpin terbaik, hingga itu menjadi obsesinya.

Sekarang tinggal kita menemukan takdir kepahlawanan kita di masa sekarang. Saatnya kita bergerak dan merebut janji-janji Allah itu dan menjadikan agama hanya milik Allah semata. Untuk itu, kita perlu mengetahui seperti apakah Jama’atul Muslimin.

Kesimpulan sang penulis bahwa Jama’atul Muslimin terdiri dari 1 basis/qa’idah yaitu Ummat serta 2 pilar yaitu Majelis Syura dan Khalifah. Nah, pada kesempatan kali ini, saya ingin sedikit membahas tentang Majelis Syura, berhubung saya pernah dan sedang menjadi anggota Majelis Syura di suatu lembaga di kampus.

Setelah penulis memberikan penjelasan yang mendalam tentang syura, akhirnya saya kembali terenyuh ketika sampai pada syarat-syarat anggota syura, ini dia syaratnya (yang telah saya rangkum dari Ath Thariq ila Jama’atil Muslimin halaman 94-96):

  1. ‘Adalah (keadilan), dengan semua persyaratannya
    Khiththah (kebijakan) para khalifah sesudah Rasulullah saw adalah bermusyawarah dengan orang-orang yang adil dan terpercaya dari para ahli ilmu dalam umat ini pada setiap zaman dan makan.
    Bukhari berkata, “Para pemimpin sesudah Rasulullah saw senantiasa meminta pendapat (musyawarah) dengan orang-orang yang terpercaya dari kalangan ahli ilmu.” (Bukhari 9/138-139, Fathul Bari 13/339: dalam menjelaskan perkataan Bukhari ini Ibnu Hajar berkata ‘Terdapat banyak riwayat tentang musyawarah para Imam sesudah Nabi saw.’)
    Para ulama menyimpulkan syarat-syarat ‘adalah dalam Islam ada lima hal, yaitu: Islam, berakal, merdeka, lelaki, baligh. (Kutipan dari kesimpulan Imam Mawardi dalam Al Ahkam Al Sulthaniyah halaman 6)
  2. Bertaqwa dan bersih dari dosa kepada Allah dan umat
    Orang berilmu yang dicalonkan menjadi anggota syura ini hendaklah orang yang memiliki lembaran putih dengan Allah dan terpelihara akhlaq-nya (bukan pelaku dosa). Sebab, ketika Allah memerintahkan Rasul-Nya bermusyawarah dengan para sahabatnya, Dia meminta agar Rasulullah saw terlebih dahulu memaafkan mereka atas kesalahan mereka terhadapnya. Disamping memintakan ampun kepada Allah atas dosa mereka yang berkaitan dengan Allah, sehingga mereka layak bermusyawarah dan menjadi anggota syura.
    Firman Allah: “…karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (TQS. Ali ‘Imran: 159)
    Dengan syarat ini, berarti tidak ada tempat dalam Majelis Syura Islami bagi tukang maksiat, orang-orang fasiq, dan para ulama yang tidak jujur.
  3. Baca lebih lanjut