Konten Syi’ar Rohis/DKM Sekolah


Setelah sebelum-sebelumnya saya menulis tentang konsep-konsep dan metode-metode syi’ar untuk Rohis/DKM sekolah, saya merasa perlu untuk menulis mengenai konten syi’arnya. Penentuan konten ini sangat penting, karena meski semua ajaran Islam itu penting mulai dari gimana mengurus negara dan masyarakat hingga menyisir rambut ataupun menggunting kuku, hanya saja perlu ada prioritas yang harus disampaikan kepada objek da’wah Rohis/DKM.

Saya biasa membagi konten syi’ar menjadi dua macam, yaitu: konten yang sifatnya mengoptimalkan momentum dan konten yang sifatnya berubah-ubah (sesuai momentum). Untuk konten yang mengandalkan momentum (misalnya: 1 Muharram mensyi’arkan perubahan/hijrah menjadi lebih baik), tujuannya agar daya sentuhnya lebih masif. Sekali saja, tapi ledakannya dahsyat. Sedangkan yang sifatnya tetap itu sebagai konten default yang terus-menerus, tidak ada momentum apapun Rohis/DKM tetap melakukan syi’ar mengenai hal itu secara kontinyu.

Setidaknya ada 2 alasan dari sudut pandang objek da’wah mengapa setiap Rohis/DKM harus memiliki konten syi’ar yang tetap:

  • Konten da’wah yang terlalu banyak dan berubah-ubah bisa membuat para siswa kebingungan, karena terlalu banyak informasi yang didapat. Untuk itu, Rohis/DKM perlu memilih dan memilah konten da’wah dari yang paling penting dan genting.
  • Konten da’wah yang sama, bila disyi’arkan secara terus menerus akan lebih mudah membuka hati dan pikiran siswa sekolah untuk menerima da’wah sehingga mereka mau untuk berubah menjadi muslim yang kaffah.

Baca lebih lanjut

Sebuah Ide untuk Bergerak Bersama-sama


“Afwan akh, kami mau fokus ke internal Rohis terlebih dahulu untuk saat ini.”
“Sepertinya kami tidak bisa bantu-bantu, karena sedang menyiapkan agenda besar di sekolah kami.”

Mungkin selentingan di atas sering kita dengar dalam kesibukan aktivitas dakwah sekolah kita. Atau malah kalimat itu adalah sesuatu yang sering kita ucapkan kepada saudara seperjuangan kita yang berbeda sekolah? Mungkin hal itu baru sekedar kata-kata yang mungkin tidak sengaja terucap saat ditawari permintaan tolong. Nah, sekarang coba simak kisah-kisah berikut ini:

“Ada sebuah sekolah yang sedang mempersiapkan sekolah untuk mentor dalam rangka menyambut ajaran baru. Puluhan mentor sudah terseleksi dan terbina dengan baik untuk sekolah tersebut. Namun, tak jauh dari sekolah tersebut, ada sekolah lain yang bahkan untuk punya tambahan 1 mentor saja sangat susah sehingga pengurus Rohis yang terbina melalui mentoring jadi sangat sedikit.”

“Di bagian lain kota Bogor, terdapat sekolah memiliki Rohis dengan kegiatan seabreg, mulai dari tingkat kelas hingga tingkat kota (bahkan merambah ke Jadetabek). Namun, masih banyak sekolah di sekitarnya yang untuk mengadakan 1 kegiatan saja sudah sulit, karena keterbatasan SDM, dana, dan dukungan sekolah. Baginya, mengadakan kajian keislaman tingkat sekolah saja adalah suatu kesuksesan yang besar.”

“Lalu, ada pula Rohis yang sudah bisa mewarnai sekolahnya hingga menjadi ekskul paling diminati oleh setiap siswa. Sekolah pun sangat mendukung setiap kegiatannya baik dari segi materi maupun moril. Akan tetapi, masih banyak sekolah yang untuk merintis Rohis saja agar jadi ekskul yang diakui sekolah, belum terselesaikan selama beberapa generasi. Dan tak ada satu pun Rohis mapan yang bersedia membantunya.”

Ya, kondisi Rohis di setiap sekolah itu memiliki kondisi yang berbeda-beda. Bila setiapnya menutup mata dan hanya memikirkan dirinya masing-masing, maka perkembangan dakwah sekolah di kota Bogor akan sulit berkembang karena hanya segelintir Rohis saja yang mampu memiliki denyut aktivitas dengan baik. Kuncinya adalah selesaikan segera urusan kita dan bantu saudara kita yang membutuhkan bantuan. Setelah pemahaman untuk bergerak bersama-sama ini telah ada dalam pikiran kita, kemudian langkah selanjutnya yang harus ditapaki ialah: Levelisasi dan Mempersaudarakan Rohis sekota Bogor.

Levelisasi Rohis/DKM

Yang perlu kita sepakati di awal mengenai levelisasi ini adalah tujuannya bukan untuk membuat jurang pemisah antara Rohis yang berlevel tinggi dan yang berlevel rendah. Bukan pula membuat Rohis yang berlevel tinggi menjadi sombong dan Rohis yang berlevel rendah menjadi minder. Justru, dengan status ‘level tinggi,’ Rohis tersebut memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi contoh dan lebih banyak membantu Rohis lainnya. Dan Rohis dengan level yang masih rendah lebih diuntungkan karena akan dibimbing oleh Rohis lain agar bisa terakselerasi menjadi naik level, dengan syarat: turut aktif untuk belajar sebanyak-banyaknya (bukan pasrah saja menunggu bantuan).
Baca lebih lanjut

Putih Abu yang Kurindu


Umm, tiba-tiba pengen nulis tentang SMANSA setelah tadi baca note anak kelas XII sekarang (berarti angkatan 2011)

Hanya ingin mengingat-ingat banyak hal yang telah kita dapatkan di SMANSA. Apapun itu, kalo baik, saya harap teman-teman tidak pernah melepaskannya. Yang buruk, segera jadikan hikmah untuk bisa berganti jadi kebaikan.
Oia, berikut ini ada beberapa kuot yang saya ambil dari temen-temen. Kebanyakan dari BUTA sih =D

SMANSA, ketika lelah tak terasa 1 hari 25 jam [shauma]
SMANSA, memori, ilmu, ketaqwaan, sahabat, impian, pendewasaan, masa depan!! Journey of the soul,,, [tajudin]
SMANSA, thanks for all things that we’ve done. I’ll miss it. [irvan]
SMANSA, you’re just IRREPLACEABLE^0^ [marista]
SMANSA, makasih buat semua kenangannya [dodo]
SMANSA, yakin kenang ini tak mungkin lari dan bertransformasi, jadi masa hiasi impi,,, [fika]
SMANSA, menyesakkan dada bila kuingat kalian ketika itu di masa itu. [yoga]
SMANSA, tiada hari tanpa datang ke sekolah, tapi disana kita bisa menemukan arti teman yang sesungguhnya. [pribadi]
SMANSA, three years at SMANSA will influence over 20 years later.. So remember this place, remember this moment… [andre]
SMANSA, belajar adalah permainan terbesar dan terasik dalam hidup. Belajar itu menyenangkan dan merupakan satu-satunya permainan yang pantas dimainkan. [fazri]
SMANSA, crispy crazy!!! [cahyo]
SMANSA, togetherness is PRICELESS…!! [jojo]
SMANSA, semua ini ga akan ada kesimpulannya, karena semua bagiannya bener-bener berarti. [dito]
SMANSA, Allahu Akbar!!! [marwan]
Baca lebih lanjut

30 Hari di Bogor: IT WORKS (part 2)


*postingan kali ini adalah bagian hidup saya ketika di Bogor yang saya sebut: ngisi dadakan.*

hari ini adalah jumat sepekan setelah kejadian ngebolang di itb (institut tani bogor) hehe.
kalo mau tau ceritanya, baca aja postingan sebelum ini.

kali ini saya ingin berceritera tentang suatu acara yang diadakan oleh FORKOM ALIM’S (forum komunikasi alumni muslim-smansa) untuk lulusan SMANSA tahun 2010 kemaren. nama acaranya adalah Integrated Training (IT), suatu dauroh untuk mempersiapkan diri para calon mahasiswa untuk menempuh kehidupan pascasekolah. tema kali ini adalah WORKS yang merupakan akronim dari Towards Your Key of Success (bener gak? sotoy nih)

saya juga pernah jadi peserta dauroh ini ketika 2007 lalu. saat itu, pengumuman SPMB belon keluar, tapi saya udah dapet teknik elektro (kalo gak salah teknik elektro deh) di suatu perguruan tinggi swasta di jakarta (atau tangerang ya?) dengan nilai tertinggi kedua pada ujian masuknya. hoho… (ujian yang aneh)

ketika pemberangkatan dauroh, peserta yang ikut cuma 4 orang. saya, obeng, bancoy, dan ano (kelak keempat orang ini gak kuliah di bogor dan sekitarnya, jadi ga bisa bantu2 di smansa. hehe, maap ya…) tapi pas sore dateng yang laen, ada denis, irvan, galih, siapa lagi ya? asep dan agung kalo gak salah dateng deh.
Baca lebih lanjut

30 Hari di Bogor: IPB (part 1)


*tiga postingan ke depan merupakan cerita sederhana ketika saya berada di kota kelahiran, Bogor, selama 30 hari (sebenernya 31 hari soalnya dari tanggal 5 juni sampai 6 juli, tapi dibuat 30 hari biar sama dengan film ’30 hari mencari cinta’. hehe)*

jadi, setidaknya ada 3 hal menarik yang bisa diceritakan. dan untuk postingan kali ini saya akan cerita ketika saya JALAN-JALAN KE IPB!!!

pada suatu jumat, saya putuskan untuk jalan-jalan ke IPB dan UI. rencana ini bermula ketika saya melihat propaganda SALAM UI yang mau ngadain seminar pada hari jumat jam 13.30 di Masjid Ukhuwwah Islamiyyah. nah, saya berpikir gimana kalo paginya ke IPB dan sholat jumat di masjid Al Hurriyyah. mantep banget kan? hehe =D

setelah sms sana sini ternyata anak IPB-nya masih pada UAS atau kuliah. dan yang nyanggupin berangkat bareng cuma si lesus (jauh-jauh ke bogor, dapetnya anak bandung lagi. sejurusan dan sekamar pula. huh =j)

yawda, kita janjian aja di smansa.
tapi sebelum berangkat kita makan dulu di kantin smansa. hoho.
yang bikin kaget, ternyata ibu-ibu yang di kantin masih inget sama saya. trus dia seneng gitu. wow, saya terkenal juga ternyata (meski hanya di kalangan ibu kantin)

pas lagi makan, eh, ketemu luthfi kadep DU. dia lagi ngasih nilai staf-stafnya untuk di setor ke pembina (nilainya nanti keluar di rapot)
jadi inget dulu, saya juga pernah melakukan itu. dan ternyata departemen DU tuh nilai keaktifan di DKM-nya termasuk paling bagus diantara departemen yang lain (yae yalah, DU kan eksis. hehe)
Baca lebih lanjut

SALAM dan TAKBIR


A: eh, salam dan takbir-nya gimana?
B: dari zaman rasul, salam tuh assalamu’alaykum wr wb dan takbir tuh Allahu akbar!
A: *sigh*

hehe, becanda! =D

SALAM

patut disyukuri bahwa DKM memiliki peluang lebih awal untuk merekrut pengurus. ketika ekstrakulikuler lain hanya diberi kesempaan beberapa menit untuk display, DKM mendapatkan waktu 1 hari untuk ‘promosi’. ketika organisasi lain tampil dengan ‘garang’ dan penuh agitasi, DKM hadir dengan lembut dan menyenangkan. mungkin termasuk kufur nikmat ketika momentum ini lewat begitu saja. astaghfirullah..

kawan, mengajak siswa baru menuju kebaikan dimulai dari SALAM ini. jangan sampai persiapannya asal-asalan saja. siapkan apapun yang kita bisa, misal:

a. Branding

bagi para siswa baru, kesan di awal itulah yang kemudian dikenang dan mempengaruhi kehidupan di SMANSA selanjutnya. maka munculkanlah kesan bahwa DKM adalah organisasi yang eksis dan bermanfaat, yaitu memiliki karakter dan citra yang bersahabat bagi setiap siswa baru SMANSA sehingga mereka lebih membuka diri pada DKM. kalo udah gitu, da’wah pun akan lebih mudah.
tunjukkan juga bahwa DKM adalah organisasi yang besar, kuat, aktif, dan berpengaruh di mata publik. bikin asumsi bahwa kalo ga ikutan DKM, ga gaul. atau yang gak islami berarti ga trendi, hehe =D

perlu dicatat, saat SALAM ini yang dikejar adalah kuantitas karena sedang masa perekrutan, sedangkan kualitas dikejar ketika proses PODS dimulai. oleh karena itu, rekrutlah sebanyak-banyaknya para siswa baru dengan pencitraan yang baik di SALAM ini.
pencitraan yang baik mengenai lembaga dakwah, misal: acara yang tidak ngaret dan menunjukkan perilaku yang islami dari para panitia. oia, bisa juga nyambut siswa baru ketika sholat Dhuha pas MOS, insya Allah tersentuh.

b. Event (acara) dan Service (pelayanan)
Baca lebih lanjut

Program Tepat, Kerja (insya Allah) Berkah


Berikut ini ada rumus yang sering digunakan oleh GAMAIS ITB untuk membuat program kerja (terutama kepanitiaan), yaitu CAVD: Cash flow, Appreciation, Value, and Documentation. Yang perlu dicatat, rumus tadi bukanlah tahapan ataupun urutan, tapi biar enak aja nyebutnya CA-V-D! hehe =D

1. Cashflow/basis dana

perlu ada perubahan mindset di setiap departemen atau kepanitiaan bahwa proker adalah tempatnya menghasilkan dana, bukan menghabiskan dana. diharapkan setelah suatu program berakhir, yang terjadi adalah memberikan sejumlah uang ke bendahara, bukan sebaliknya. minimal impas lah.
lalu, perlu adanya kemandirian finansial. setiap departemen/kepanitiaan punya usaha sendiri dan tidak bergantung pada departemen danu atau donatur. misal, inkasi dari BIRU Smansa atau Al Mishbah.
bahkan, perlu ada target jangka panjang bahwa nantinya DKM memiliki keberlimpahan dana dan itu semua digunakan untuk pelayanan umat, semisal beasiswa dan penyaluran zakat/infaq/shodaqoh/hewan qurban. salah satu keberlimpahan dana itu didapat dengan mendirikan usaha mandiri.

2. Appreciation/Participation

dalam setiap program kerja, kita perlu memerhatikan objek, subjek, dan supporter sehingga mereka memberikan tanggapan positif kepada setiap yang DKM lakukan. ini juga menjadi salah satu parameter keberhasilan dakwah.
Baca lebih lanjut