Profil Kepemimpinan: Adjie Wicaksana


Adjie Wicaksana

Raden Adjie Wicaksana Tirtakusumah Rachman, nama lengkap orang yang udah saya anggap sebagai saudara di dunia dan di akhirat. Dan hari ini akan jadi hari berbahagianya karena beliau akan menjadi Raja sejagat selama sehari. Ya, hari ini, Sabtu 1 Juni 2013, adalah hari pernikahannya dengan pasangan hatinya. Mungkin saat tulisan ini terbit adalah waktu-waktu paling menegangkan hidupnya, ketika menjabat erat tangan ayah dari calon istri untuk menerima estafet kepemimpinan bagi kehidupan calon istri ke depannya. Kembali, tinta emas akan mewarnai kanvas sejarah peradaban umat manusia.

Tulisan ini saya buat dengan sepenuhnya menggunakan daya ingat saya, tidak membuka catatan-catatan, buku tahunan/almamater, maupun blog pribadi adjie. Sejak dahulu saya selalu ingat tempat dan tanggal lahirnya: Bogor 10 Agustus 1989. Pada saat itu dan di tempat itulah lahir orang hebat yang mampu memberikan inspirasi bagi teman-teman di sekitarnya. Tempat tinggalnya yang sering saya kunjungi ketika SD adalah di Jalan Cikuray nomor 25 (bener gak ya? ini beneran sesuai ingatan doang), yang juga dijadikan kost-kostan khusus wanita (mungkin mahasiswi atau karyawati). Orangnya dari dulu tampak kurus, berambut hitam ikal, pendiam, dan pintar.

Taman Kanak-Kanak

Saya dan adjie bertemu dalam suatu institusi pendidikan yang bernama Bina Insani pada jenjang Taman Kanak-Kanak. Waktu itu saya belum dekat dengannya, bahkan saya tidak ingat apakah kami sekelas atau tidak. Mungkin bila membuka kembali album-album semasa TK, saya bisa tahu kami sekelas atau tidak. Singkat kata, saya tidak begitu bisa mengingat memori semasa TK bersamanya. Hanya saja, dia pernah menulis bahwa sejak TK dia berusaha keras untuk bisa membaca, saking kepinginnya bisa membaca komik doraemon. Itu artinya sejak TK dia tidak hanya bisa membaca, tetapi juga bisa mengerti kisah yang ia baca (bukan sekedar bisa baca perkata).

Sekolah Dasar
Baca lebih lanjut

[jurnal] Proyek Buku LDW Lagi


Kita bukanlah termasuk ke dalam golongan manusia yang suka menyebutkan amal-amal yang telah kita lakukan untuk dakwah. Kita lebih meyakini perkataan yang pernah disampaikan Ustadz Rahmat Abdullah. “Dua hal yang kita harus ingat: keburukan kita dan kebaikan orang lain.” Begitu tutur beliau yang juga ditayangkan dalam film ‘Sang Murabbi.’ “Dan dua hal yang harus kita lupakan: kebaikan kita dan keburukan orang lain.”

Semoga tulisan ini masih mewarisi semangat ikhlas tersebut. Semoga kita semua dilindungi dari noktah-noktah riya dalam setiap helai hurufnya. Tulisan ini mengajak agar kita semua bisa saling berbagi rasa, saling berbagi asa. Agar kita bisa bersama-sama menyiduk makna, menyaring hikmah, merangkainya dengan indah. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi inspirasi dalam menyusuri teriknya hari. Menjadi tenaga penuh energi dalam meniti jalan dakwah yang terjal ini.

Tertanggal 20 Februari 2010, saya, Reza Primawan Hudrita, terpilih menjadi Kepala LDSAPPK “MuSA” ITB. Sejak saat itu yang ada dalam benak saya adalah kisah teladan Muhammad Al Fatih.

Memang penaklukan Konstantinopel telah Allah janjikan sedari dulu melalui lisan Nabi-Nya, akan tetapi bukan berarti Muhammad Al Fatih tanpa persiapan dalam menyongsong takdirnya itu. Muhammad Al Fatih selalu diperdengarkan oleh gurunya secara terus-menerus hadits yang menyatakan bahwa pemimpin yang menaklukan Konstantinopel adalah sebaik-baiknya pemimpin, hingga hal tersebut menjadi suatu obsesi tersendiri bagi Muhammad Al Fatih. Berawal dari hadits itu, Muhammad Al Fatih mempersiapkan dirinya dengan menjaga amalan wajib dan sunnah semenjak beliau baligh. Terbukti, ketika beliau mengecek amalan para pasukan yang akan menaklukan Konstatinopel, hanya beliau yang menjalankan semuanya.

Obsesi. Satu kata kunci itulah yang dimiliki Muhammad Al Fatih dalam menghidupkan janji Allah yang dilantunkan Utusan-Nya. Kini giliran kita yang harus memiliki obsesi untuk merebut takdir kepahlawanan kita. Setiap bangsa akan Allah pergilirkan untuk memimpin peradaban dunia. Mulai dari Romawi, Arab, Cina, Inggris hingga Amerika telah mendapatkan perannya. Kelak bangsa Melayu, tepatnya Indonesia, pasti akan memimpin peradaban dunia. Mungkin hal itu akan tiba bukan di masa kita, namun langkahnya harus kita mulai saat ini. Hal inilah yang melandasi gerak kepemimpinan saya selama menjadi kepala MuSA, yaitu: Mimpi akan Indonesia Islami, dari kampus menuju peradaban Islam.

Saya percaya bahwa arsitektur dan planologi (tata kota) adalah wadah awal terbangunnya peradaban. Bila rancangan arsitektur dan tata kotanya Islami akan tercipta perilaku Islami, lalu akan berkembang menjadi kebiasaan Islami, setelah itu akan jadi gaya hidup Islami, kemudian akan tercipta budaya Islami, hingga suatu saat nanti peradaban Islam akan tercipta dengan sendirinya. Rekayasa peradaban ini harus dimulai dari sekarang, dengan momentum ketika saya menjadi kepala MuSA.

Langkah awal yang saya lakukan adalah membentuk tim formatur MuSA. Tim ini berfungsi untuk meng-konstruksi MuSA, karena ketika tongkat estafet kepengurusan MuSA diberikan ke saya, saat itu MuSA baru berumur dua tahun dan bisa dibilang benar-benar masih kosong. Tahun pertama MuSA, strukturnya hanya ada kepala MuSA sendirian saja. Ketika tahun kedua, sudah ada strukturnya tetapi orang-orang yang ada hanya koordinatornya saja (belum ada staf), maka dari itu pengurus MuSA saat itu baru ada 4 orang: Kepala MuSA, Sekjen MuSA, Kepala Sektor Internal, dan Kepala Sektor Syiar. Tim formatur bertugas merumuskan visi MuSA hingga strukturnya. Nah, struktur di kepengurusan saya tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, yaitu hanya ada 4 posisi: Kepala MuSA, Sekum MuSA (nama Sekjen diganti menjadi Sekum), Sektor Internal, dan Sektor Syiar. Oke, kita bahas satu persatu.
Baca lebih lanjut

[jurnal] buku LDW (kerangka)


KERANGKA BUKU

1. Overview lembaga dakwah wilayah
– Definisi LDW: posisi (sistematika hubungan LDW dengan LDP), fungsi (diferensiasi pusat-wilayah), potensi (bahasa kaumnya, sebagai ujung tombak Syiar dan Rekrutmen dakwah kampus)
– Sejarah pembentukan LDW
– Kondisi dakwah kampus ITB: kultur, geografis

2. Levelisasi lembaga dakwah wilayah
– Penjelasan jenis-jenis level (ketika menjelaskan level mandiri, tekankan bahwa itulah kondisi ideal, baik secara struktur maupun yang lainnya)
– Rekomendasi fokus gerak tiap level
– Kuesioner levelisasi

3. Level inisiasi
– Menumpang lembaga umum yang sudah ada (himpunan/bem): aktivasi kegiatan, tarik minat massa
– Berada di bawah naungan LDK
– Legalisasi lembaga

4. Level mula
– Pembentukan tim inti: metode, produk-produk persiapan, waktu, angkatan
– POAC
– Koordinasi: muktamar madani, proker bersama
– Kepala LDW (setiap beginian, yang dibahas: jobdesc mencakup posisi-peran-potensi, hubungan pusat-wilayah mencakup produk pusat-wilayah, program kerja, inovasi faktual)
– Sekretaris jenderal: Administasi mencakup SOP surat masuk, surat keluar, proposal, stempel
– Internal: alur kaderisasi, wasilah pembinaan, mencetak mentor
– Syiar dan pelayanan: ta’lim (keislaman, akademik), media (buletin, poster propaganda, onlen, sms taushiyah), kegiatan karakter khas LDW (biasanya pelayanan akademik)
– Masalah-masalah yang terjadi di level ini
– Penyiapan generasi baru
– Evaluasi dan pertanggung jawaban
Baca lebih lanjut

[jurnal] Buku LDW (pendahuluan)


Assalamu’alaykum wr wb

Ahh, cukup sebel juga kemaren-kemaren ga sempet ngurusin buku ini. Sekarang udah terdampar di Bogor =(
Pokoknya harus jadi sebelum oktober ya! Fighting!!!

Eh, saya punya usul baru untuk konsep bukunya.
Kan kita ceritanya mau bikin pedoman LDW, maka dari itu tidak boleh lepas dari pedoman asasi kita (yang udah terjamin keberhasilannya), yaitu Al Quran.
Sayyid Quthb dalam Ma’alim fith Thariq telah menjabarkan bebarapa karakteristik Al Quran sebagai manhaj hidup , berikut ini ringkasannya:

  1. Tujuannya jelas. Sudah jelas bahwa tujuan akhir dari manhaj Al Quran adalah tegaknya Laa Ilaaha Illallah wa Muhammadur Rasulullah di tiap hati umat Islam, agar aqidah yang lurus itu hadir di tiap relung jiwa manusia yang lahir ke dunia
  2. Memiliki tahapan. Mulai dari sembunyi-sembunyi, terang-terangan saat bergabungnya Umar bin Khattab, lalu hijrah agar lebih leluasa berdakwah, kemudian boleh perang bila diserang tetapi masih menahan diri untuk memulai peperangan (mulai ada pertumpahan), dan akhirnya perang ekspansif saat turunnya Surat At Taubah agar din ini semata hanya untuk Allah.
  3. Dekat dengan realitas. Bukan teori semata, melainkan bersentuhan langsung dengan kondisi riil masyarakat. Maka dari itu, diturunkan berangsur-angsur dan perlahan-lahan sesuai dengan situasi yang terjadi saat itu.
  4. Menyeluruh dan universal. Mengatur dari yang kecil seperti mencukur rambut, hingga yang besar seperti mengurus negara. Berlaku di semua tempat untuk saat ini maupun pada masa yang akan datang.

Oia, sebelumnya perlu diluruskan, kita bukan sedang membuat tandingan Al Quran yang nantinya menjadi manhaj pengganti Al Quran, maupun bukan ingin meniru yang serupa dengan Al Quran.
Kita tetap memegang teguh Al Quran sebagai pedoman utama kita dan tidak sekali-kalipun terlintas untuk mencari (apalagi membuat) penggantinya, yang kami lakukan hanyalah sebatas memberikan rekomendasi praktis untuk mengimplementasikan nilai-nilai Qurani dalam tataran dakwah kampus (bahkan lebih spesifik lagi yaitu dakwah fakultas/sekolah/program studi) sehingga bila ada nanti ketidaksesuaian antara keduanya, buku panduan ini bisa ditinggalkan dan kita harus kembali pada Al Quran.
Kita pun yakin bahwa tidak ada yang bisa meniru Al Quran meski semua manusia dan jin bersekutu untuk membuatnya, yang kami ingini hanyalah agar buku ini bermanfaat sebanyak-banyaknya dengan mencontoh pedoman yang sudah pasti keberhasilannya (Al Quran) sehingga setidaknya prinsip-prinsip buku ini mendekati karakteristik pedoman tersebut.
Baca lebih lanjut

[jurnal] Sharing Kewilayahan di pra-GIT (part 1)


Pendahuluan

QS Ali ‘Imran : 104
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

QS Asy Syuraa : 23
“…Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan…”

Dua ayat tentang perintah berdakwah. Pada surat Ali ‘Imran ayat 104 kita diperintahkan untuk memilih menjadi golongan yang beruntung, sedangkan pada surat Asy Syuraa ayat 23 kita diperintahkan untuk meluruskan niat untuk tidak mengharapkan upah dalam berdakwah tetapi mengharapkan saling berkasih sayang dalam kekeluargaan. Mungkin itulah mengapa jargon GAMAIS ITB berbunyi “Karena Kita Keluarga.”

Mari kita berangkat dari visi GAMAIS 2008-2013, yaitu “Satu Keluarga Menjadi Model LDK Nasional Berbasis Pembinaan dan Kompetensi Melingkupi Seluruh Sayap Dakwah Menuju Indonesia Islami.”

Dari satu kalimat di atas, tersebut sebuah frase “Indonesia Islami”, hal tersebut menunjukkan bahwa GAMAIS ITB memiliki pandangan dan cita-cita yang besar dalam kinerja dakwahnya. Serta menunjukkan peran GAMAIS ITB sebagai salah satu batu bata di dalam proyek besar pembangunan Indonesia Islami.
Baca lebih lanjut

[jurnal] Go International!


Ketika perseteruan Malaysia dan Indonesia di ajang AFF memuncak, sebuah LDK dari UTM (Universiti Teknologi Malaysia) yaitu Kelab Iqra’, mengadakan jaulah ke GAMAIS ITB pada 15-16 Desember lalu. Katanya sih mereka berkunjung ke UI dan UGM juga (bener gak?). Maka dari itu, untuk kesekian kalinya, GAMAIS ITB mengadakan acara Ta’lim Antar Negara, kali ini dengan tema “Ukhuwah Serumpun.”

Oh iya, ada baiknya saya jelaskan UTM secara singkat. UTM berdiri pada tanggal 1 April 1972, saat ini memiliki mahasiswa sejumlah 25.000 orang. Dari dosen yang ikut rombongan kemarin, disebutkan bahwa UTM pada 2010 mendapat predikat “universitas riset” dari kerajaan Malaysia. Dari total 25.000 mahasiswa, 2500-nya merupakan mahasiswa asing.

Nah, selepas acara itu saya berkenalan dengan seorang mahasiswa Senibina/Arsitektur bernama Yazid. Beliau Mahasiswa tingkat 4, akan lulus 1 tahun lagi. Dibanding jurusan lain di UTM, program sarjana muda arsitektur memakan waktu paling lama yaitu minimal 5 tahun, sedangkan jurusan lain bisa 3-4 tahun. Karena waktu kuliah minimal 5 tahun, berarti ada minimal 10 semester yang harus dilalui. Setiap semesternya memiliki mata kuliah studio.
Baca lebih lanjut