Ceracau Kesal


Ini tulisan tentang pernikahan. Jadi, kalo gak suka, ya gak usah baca. Tujuan dari tulisan ini adalah mencoba memaknai ulang sebuah pernikahan sehingga tidak ada lagi yang menganggap bahwa pernikahan hanyalah romantika pasutri.

Sebenernya pemikiran ini sudah muncul sejak terakhir kali menjadi panitia walimahan pada awal bulan Juni, tapi urung saya tuliskan gegara sepertinya belum layak ditulis oleh saya, karena belum saya pastikan kebenarannya (sampai sekarang saya pun belum ngecek ke ulama faqih manapun, jadi tolong bantu validasi ya). Akan tetapi, hal itu berubah sejak negara api menyerang ada “binaan” yang dikit-dikit ngomongin nikah. Udah gitu dipakai becanda dengan lawan jenis. Saya rasa ini sudah keterlaluan, sehingga saya harus menyuarakan(?) hal ini.

Mungkin banyak orang yang terlalu mengagungkan secara berlebihan hadits berikut ini:

Dari AbduLlah bin Amr, bahwa RasuluLlah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah.” (HR. Muslim 1467)
Baca lebih lanjut

Keragaman Kita


Ada seorang ikhwan sangat disiplin ketika mentoring, meski ia bukan ‘pemenang’ dalam berhubungan baik dengan para tetangganya.
Ada seorang menonjol dalam ‘prestasi’ dakwahnya, meski ia mungkin bukan sosok yang baik bagi keluarganya.
Ada seorang kader menonjol dalam ma’isyah-nya di tengah kelemahannnya dalam mengisi mentoring atau ta’lim.
Ada seorang kader dipandang sebagai pakar keluarga meski ia kerap dinilai mengabaikan tugas-tugas jama’i-nya.
Ada seorang ikhwan dan juga akhwat yang menonjol di bidang akademiknya bersamaan dengan lemahnya interaksi dengan saudaranya.
Ada seorang ikhwan yang dihormati istri dan disayang anak-anaknya meski beberapa mentee ingin berpindah darinva.
Ada seorang akhwat dan juga ikhwan ahli dalam merencana dan memproyeksikan, tapi kerap mengecewakan dalam implementasinya.
Atau sebaliknya. Mungkin saja, ada keluarga kader yang rumahnya terawat rapi dan bersih, dan sebersih itu pula jumlah binaannva (alias tidak memiliki binaan).
Ada seorang ummahat bisa saja menyebabkan anak-anaknya kerasan, sementara tidak demikian halnya dengan mentee-nya.
Ada seorang kader ‘berapi-api’ dalam membahas politik atau isu kontemporer setelah beberapa saat yang lalu berkeringat karena harus setor hafalan.
Ada yang lebih eksplosif meski tidak lebih konsisten dan ada yang lebih konsisten meski adem ayem saja.
Serta masih banyak variasi lainnya.

Ada seorang kader yang disiplin, tetapi ada kader yang sering terlambat.
Ada ikhwan dan akhwat yang memiliki segudang aktivitas, tetapi ada yang masih memiliki banyak waktu luang.
Ada sang pemerhati keluarga, tetapi ada yang sembrono dalam berinteraksi dengan keluarganya.
Ada seorang yang teliti dalam menjaga kehalalan rezekinya, tetapi ada kader yang tidak seteliti dia.
Ada seorang yang menyukai rihlah, riyadhah, atau demo. Tetapi ada yang cenderung nge-ruhi atau ‘ngustadz’.
Ada seorang yang terlatih dalam seminar, lokakarya, atau diskusi. Tetapi ada yang cenderung ‘memprovokasi’ kader yang lain untuk berdebat.
Serta masih banyak variasi lainnya.
Baca lebih lanjut