Berlaku Adil (Tafsir QS. Al Ma’idah: 8)


Di antara perjanjian Allah dengan ummat Islam ialah untuk menegakkan keadilan pada manusia. Yakni, keadilan mutlak yang neracanya tidak pernah miring karena pengaruh cinta dan benci, kedekatan hubungan, kepentingan, atau hawa nafsu, dalam kondisi apa pun. Keadilan yang bersumber dari pelaksanaan ketaan kepada Allah, yang bebas dari segala pengaruh, dan bersumber dari perasaan dan kesadaran terhadap pengawasan Allah yang mengetahui segala yang tersembunyi dalam hati. Karena itu, dikumandangkanlah seruan ini,

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Alah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Ma’idah: 8)

Sebelumnya, Allah telah melarang orang-orang yang beriman, agar jangan sampai kebencian mereka kepada orang-orang yang telah menghalang-halangi mereka masuk ke Masjidil Haram itu menjadikan mereka melakukan pelanggaran dan tindakan yang melampaui batas terhadap musuh mereka. Ini merupakan suatu puncak ketinggian di dalam mengendalikan jiwa dan bertoleransi, yang Allah mengangkat mereka ke puncak itu dengan manhaj tarbiyah Rabbaniyah yang lurus.

Maka, sekarang mereka diwanti-wanti agar rasa kebencian mereka kepada orang lain jangan sampai menjadikan mereka berpaling dari keadilan. Ini merupakan puncak yang sangat tinggi dan sangat sulit bagi jiwa. Ini merupakan tahapan di balik pengendalian diri untuk tidak melakukan pelanggaran dan supaya tabah mengekangnya. Kemudian dilanjutkan dengan tindakan menegakkan keadilan meskipun di dalam hati terdapat perasaan benci dan tidak suka kepada yang bersangkutan.
Baca lebih lanjut

Untuk Rohingya…


Saya ga tau, ketika timnas U-22 menang melawan myanmar dengan skor 3-1 pada event SEA Games, saya senang karena Indonesia berhasil menyabet medali perunggu atau karena Indonesia berhasil mengalahkan negara teroris yang membantai warga Muslimnya. Yah, walaupun pemerintah myanmar ga mengakui Rohingya sebagai warganya, karena menganggap mereka berasal dari bangladesh. Tapi tetep aja perlakuannya tidak manusiawi dari sudut pandang manapun. Tak ada satu manusia pun yang pantas mengambil nyawa manusia lain dalam kondisi-situasi damai (bukan perang). Ayo dong, Indonesia, Malaysia, dan Brunei minta myanmar menghentikan pembantaian ini.

Dari kasus ini, saya bisa mengambil kesimpulan kalo ajaran buddha itu ga welas asih seperti yang digambarkan dalam film kera sakti. Pertama, pemimpin buddha di myanmar disebut oleh majalah TIME menjadi motor penggerak dalam berbagai pembantaian ini. Search aja di google, fotonya nampang di sampul depan majalah tersebut dengan tulisan: ‘The Face of Buddhist Terror: How Militant Monks are Fueling Anti-Muslim Violence in Asia.’ Di media Washington Post, dia menganalogikan Umat Islam sebagai anjing gila (yang mungkin karena inilah harus dibunuhi). Kedua, di myanmar terdapat seorang aktivis wanita yang pernah meraih nobel perdamaian, tetapi setelah duduk di parlemen, sangat sedikit usahanya untuk menghentikan pembantaian ini. Udah enak hidupnya ya, bu?

Yuk mentemen, kita bantu saudara kita Muslim Rohingya yang mayoritas berada di Rakhine/Arakan dengan cara semampu kita. Sudah banyak lembaga yang bisa dijadikan tempat penitipan donasi kita. Dan yang paling mudah dengan mendoakan mereka agar segera hidup dengan sejahtera (bebas dari rasa lapar dan dari rasa takut), serta yang telah wafat dibunuh mendapatkan kesyahidan di sisi Allah. Apalagi hari ini adalah hari Arafah, semoga shaum-shaum kita bisa membuat doa ini terkabul. Apalagi ini adalah bulan Dzulhijjah yang diharamkan untuk berperang, semoga haji-haji kita bisa membuat dunia penuh dengan kebaikan dan kemanfaatan. Amiin…

Dan untuk mentemen penganut buddha yang baca juga, ayo dong damaikan saudara seagamamu yang di myanmar sana. No Offense ya.. Salam Love, Peace, and Gaul =j

411


Weekend lalu, saya meninggalkan istri di rumah selama 4 hari, lalu menemukan tulisan inspiratif di IG-nya.

Ini postingan pertama:

Hari ini ada yang sedang berjuang di jalan.
Hari ini ada yang tetap berjihad mencari nafkah.
Hari ini ada doa-doa melangit yang insya Allah menginginkan kebaikan untuk semuanya, untuk ummat Islam, untuk Indonesia.

Mari jadikan ini pengingat, betapa dahsyatnya perkara yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Saya sangat suka dengan pernyataan seorang teteh yang menyebut hari ini sebagai Musim Semi Al-Qur’an.

Semoga setelah ini sama-sama bisa lebih menyadari dan memaknai ayat-ayat Al-Qur’an lebih dalam. Bukan hanya euforia hari ini saja. Tapi barangkali kita semua sama-sama harus tetap berefleksi pada kitab-Nya di hari esok dan esoknya lagi, untuk bisa mendapat pemahaman penuh tentang iman, akhlak, dan tak lupa juga, ghirah.

Postingan kedua:
Baca lebih lanjut

Pelajar Muslim Bogor Tetap Semangat Ikut METAMORFOSA di Tengah Rintik Hujan


img-20161031-wa0000

Hujan rintik di Sabtu siang (29/10) tidak menghalangi para pelajar muslim Kota Bogor untuk menimba ilmu keislaman di kajian rutin remaja, METAMORFOSA. Kali ini, kajian rutin yang diadakan oleh Yayasan Sentra Inspirasi Teladan Siswa (SINTESA) mengangkat tema “Pemuda Hijrah”. Di sana, dikupas tuntas tentang mental pemuda untuk berubah ke arah yang lebih baik dan melakukan aksi positif dengan adanya semangat beragama yang baik.

Bertempat di Masjid At Taqwa Balaikota Bogor, pembicara sekaligus pembina SINTESA, Bagus Kusuma, membuka kajian dengan menjelaskan tentang semangat pemuda kepada agamanya, yaitu Islam. Semangat itu muncul disebabkan adanya unsur cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan ajaran Islam. “Seorang pemuda yang memiliki semangat kepada agamanya, tidak akan rela jika agama ini didurhakai atau dinistakan,” jelas Bagus.

img-20161101-wa0001-300x225

Semangat beragama ini, lanjut Bagus, merupakan bagian dari iman dan erat kaitannya dengan amar ma’ruf nahi munkar, yang berarti menyeru kepada kebaikan dan menolak kemunkaran. Karena memiliki semangat inilah para pemuda menjadi lebih peduli pada lingkungannya dan terusik jika ada hal-hal yang merusak mental sesama generasi muda. Semangat dalam agama ini bisa menyelamatkan pemuda dari perilaku negatif seperti tawuran, bullying, narkoba, dan hal-hal tidak bermanfaat lainnya.
Baca lebih lanjut

FSRB Ajak Rohis Bogor untuk Bangkit Bersama


FSRB

Bersatu, bangkit, dan berkarya. Itulah tema yang diangkat dalam acara silaturahim rohis se-kota Bogor yang diadakan sabtu pekan lalu (15/10/2016) di Mesjid Raya Bogor. Acara ini dikemas dalam bentuk talkshow dan termasuk ke dalam rangkaian acara di Bogor Islamic Book Fair yang digelar di Masjid Raya Bogor. Talkshow ini menghadirkan Firmansyah Maulana Anugrah selaku Pembina Forum Silaturahim Rohis/DKM Bogor (FSRB) sebagai pembicara dan dimoderatori oleh Rifqi Abdul Jabbar selaku Ketua FSRB.

Dalam kesempatan kali ini, Firman mengemukakan bahwa pemuda Islam memegang peranan penting bagi kemajuan peradaban Islam. “Kebangkitan Islam hanya akan menjadi mimpi jika pemudanya tidak peduli terhadap urusan agama, jauh dari kitabuLlah.” Ujar Firman. Kemudian, Firman juga berpesan kepada peserta yang hadir bahwa sebagai pelajar, salah satu peranannya adalah dengan mengukir prestasi, misalnya dengan memenangkan olimpiade. Selain itu juga disertai dengan akhlak yang baik sebagai pelajar.

“Pelajar muslim juga harus senang mempelajari kitab, duduk di majelis ilmu, dan belajar dari para ulama.” Tambah Firman yang saat ini masih menjabat sebagai Ketua Forum Rohis Nusantara (Fornusa).

Konten Syi’ar Rohis/DKM Sekolah


Setelah sebelum-sebelumnya saya menulis tentang konsep-konsep dan metode-metode syi’ar untuk Rohis/DKM sekolah, saya merasa perlu untuk menulis mengenai konten syi’arnya. Penentuan konten ini sangat penting, karena meski semua ajaran Islam itu penting mulai dari gimana mengurus negara dan masyarakat hingga menyisir rambut ataupun menggunting kuku, hanya saja perlu ada prioritas yang harus disampaikan kepada objek da’wah Rohis/DKM.

Saya biasa membagi konten syi’ar menjadi dua macam, yaitu: konten yang sifatnya mengoptimalkan momentum dan konten yang sifatnya berubah-ubah (sesuai momentum). Untuk konten yang mengandalkan momentum (misalnya: 1 Muharram mensyi’arkan perubahan/hijrah menjadi lebih baik), tujuannya agar daya sentuhnya lebih masif. Sekali saja, tapi ledakannya dahsyat. Sedangkan yang sifatnya tetap itu sebagai konten default yang terus-menerus, tidak ada momentum apapun Rohis/DKM tetap melakukan syi’ar mengenai hal itu secara kontinyu.

Setidaknya ada 2 alasan dari sudut pandang objek da’wah mengapa setiap Rohis/DKM harus memiliki konten syi’ar yang tetap:

  • Konten da’wah yang terlalu banyak dan berubah-ubah bisa membuat para siswa kebingungan, karena terlalu banyak informasi yang didapat. Untuk itu, Rohis/DKM perlu memilih dan memilah konten da’wah dari yang paling penting dan genting.
  • Konten da’wah yang sama, bila disyi’arkan secara terus menerus akan lebih mudah membuka hati dan pikiran siswa sekolah untuk menerima da’wah sehingga mereka mau untuk berubah menjadi muslim yang kaffah.

Baca lebih lanjut

Surat untuk Forkom Alims


Dan Yusuf berkata, “…Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan…”

Saudaraku, ketahuilah bahwa hanya orang-orang besar yang berbicara tentang ide
Yaitu tentang mimpi-mimpi yang jauh melebihi zamannya berada
Dia bisa melihat apa yang orang lain luput melihatnya
Dia bisa visualisasikan hal-hal yang orang lain belum bisa membayangkannya
Dia bisa mengemukakan inspirasi yang bahkan orang lain tidak pernah terlintas di benaknya

Saudaraku, kita berdiri di sini dalam bingkai visi akan kebangkitan Islam
Kita berjuang di jalan ini dalam harap bahwa Islam akan jadi soko guru peradaban
Memang perjalanan yang sulit
Jaraknya terasa selangit
Bekal pun sedikit
Namun dengan keyakinan pada mimpi-mimpi, kita akan tertuntun pada kejayaan itu
Lantas, seberapa kuat keyakinanmu?

Saudaraku, meski di sekitaran kita terlihat pekat
Namun cahaya visi di hadapan akan buat kita kuat
Meski harus tertatih
Janganlah letih
Meski harus berpeluh
Janganlah mengeluh
Walau kita terantuk dan terjatuh
Bangkit, terus berlari, dan melompat lebih tinggi
Menuju cahaya visi
Lantas, seberapa terang cahayamu?
Baca lebih lanjut