Do’a


  • Do’a untuk orang tua:
    رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ
    “Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku…” (QS. Nuh: 28)
    رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
    “…kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al Isra: 24)
  • Do’a untuk istri:
    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
    “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan: 74)
  • Do’a untuk anak:
    رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
    “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.” (QS. Ash Shaffat: 100)
    رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
    “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ibrahim: 40)
  • Do’a untuk negeri yang aman:
    رَبِّ اجْعَلْ هَـذَا الْبَلَدَ آمِناً وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ
    “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35)
  • Do’a untuk diri sendiri:
    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
    “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al Baqarah: 201)

Heavenly Family =j


“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (TQS. Ath Thuur: 21)

Uhh, ini sih mupeng banget TT___TT
Bayangin aja, kita akan dikumpulkan dengan keluarga kita di surga nanti. Siapa yang gak pengen coba? Ayat ini harus menjadi visi setiap keluarga muslim di mana pun berada, yaitu: bersama-sama menuju tempat kembali yang baik. Upayakan meluangkan waktu dengan keluarga untuk men-tadabburi ayat ini sambil membayangkan satu keluarga tersebut bercengkrama di suatu dipan atau taman surga. Jadi, ketika mungkin anak kita melakukan sesuatu yang salah, katakan kalo hal itu gak boleh karena kita sebagai ayahnya ingin anak kita tersebut masuk surga bersama-sama. Untuk itu, hal salah tersebut jangan dilakukan. Dan ketika kita ingin mengajak anak kita kepada amalan shalih, jelaskan pula kalo hal itu dilakukan karena kita sebagai ayahnya ingin anak kita tersebut masuk surga bersama-sama pula. Kesimpulannya, yang kita tuju bukanlah shalih individu semata, namun jua shalih sosial. Jadi, jangan shalih sendiri, harus sama yang shalihah juga *eaaa…*

“Dan Kami berikan kepada mereka tambahan berupa buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.” (TQS. Ath Thuur: 22)

Mungkin inilah yang disebut makanan terbaik yang pernah ada kali ya? RasuluLlah kan makanan favoritnya kurma (buah) dan paha kanan kambing (daging). Buah-buahan, apapun itu, sangat menyehatkan tubuh. Gak percaya? Liat aja iklan-iklan minuman berasa buah-buahan. Daging hewan pun tidak sembarangan dimakan. Orang Indonesia mah semuanya dimakan, termasuk jeroan, padahal kalo di luar negeri, jeroan itu makanan anjing. Makan bakso pun minta gajih(lemak)-nya, padahal daging yang sehat itu yang tanpa lemak. Jadi, mari kita mulai biasakan makan makanan penghuni surga.

“(Di dalam surga itu) mereka saling mengulurkan gelas (khamr) yang isinya tidak (menimbulkan) ucapan yang tidak berfaedah atau pun perbuatan dosa.” (TQS. Ath Thuur: 23)

Baca lebih lanjut

Untuk yang Berbahagia (2)


Lanjutan dari cerpen Untuk yang Berbahagia. Kalo belum tau, mending baca dulu. Hehe…

Rabu, 4 April 2012
Wuah, kangen sama buku ini. Mengapa tiba-tiba saya menulis cerita harian lagi? Karena hari ini saya iseng menggeledah tumpukan buku-buku di gudang dan saya mendapati buku ini. Buku kecil yang berisi tentang rekam hidup saya semenjak S2 di Turki hingga hari-hari awal pernikahan dengan Raudhah.

Hhhh… ternyata sudah 1,5 tahun berlalu sejak kepergian Raudhah. Apa kabar di sana, sayang?

Kamis, 5 April 2012

Hari ini adalah hari yang selalu saya nantikan, karena paginya saya ada liqo’at dengan binaan-binaan saya dari Institut Pertanian Bogor. Alhamdulillah, mereka selalu datang 10 menit lebih awal ke rumah saya, sehingga kita bisa mengefektifkan waktu yang sempit antara subuh dengan jam kerja saya. Untuk itu saya selalu “membayar” mereka dengan selalu menyiapkan materi halaqah dengan sebaik mungkin.

Sekitar pukul 08.00, pertemuan diakhiri dan mereka langsung bergegas menuju tempat aktivitas mereka selanjutnya. Saya pun bersegera bersiap menuju tempat kerja di konsultan Arsitektur yang bertempat di Jl. K.H. Abdullah bin Nuh, dekat Taman Yasmin V. Seperti biasa, sebelum berangkat saya mampir ke swalayan dekat rumah untuk membeli sebotol teh manis kemasan botol plastik untuk menemani aktivitas saya selama 1 hari ini.

Nah, pas sudah sampai di kasir untuk bayar teh tersebut, saya melihat ada anak kecil dengan pakaian serba putih sedang melihat tumpukan permen lolilop di atas meja kasir. Anak kecilnya lucu banget. Karena ga tega membiarkannya, akhirnya saya membeli permen lolipop tersebut dan menyerahkannya kepada si anak lucu itu.

Jumat, 6 April 2012

Hari ini saya menyengaja hadir lebih awal di kantor agar bisa ikut apel pagi untuk briefing singkat dengan para karyawan lainnya. Saya selalu suka dengan suasana briefing ini sejak magang ketika masih kuliah di ITB, karena memang selalu ada pembacaan ayat suci Alquran yang dibaca secara bergantian. Yang paling sering membacanya adalah Pak Deden, Pak Taufik, dan Pak Andri.

Seingat saya, sewaktu saya magang, Pak Deden ini masih suka merokok dan nongkrong ga jelas, tetapi kini bacaan Quran-nya sangat merdu. Begitu juga dengan Pak Andri, beliau dulu baca Surat An Nas ketika jadi imam shalat maghrib di acara Outting Perusahaan saja masih salah dan terbata-bata. Namun kini hafalannya sangat banyak, subhanaLlah.

Sabtu, 7 April 2012

Weekend, yeah! Hehe. Saya pun pergi ke GOR Padjadjaran untuk sedikit jogging pagi. Sekitar 30 menit kemudian, saya mengakhiri olahraga pagi tersebut dan mampir ke swalayan dekat rumah. Kali ini saya tidak langsung pulang, tetapi duduk sejenak di kursi yang ada di depan swalayan.

Ketika sedang asik menikmati suasana sambil minum teh manis, saya kaget karena tiba-tiba ada yang menyentuh siku saya dari samping. Wah, ternyata si anak lucu kemarin, tapi kok dia masih berpakaian putih-putih dan masih memegang permen lolipop waktu itu. Saya pun bertanya: “Sedang apa, dik?” Alih-alih menjawab, si lucu ini malah bertanya balik: “Apa yang paling ingin kakak lakukan sebelum kakak meninggal?”

Deg! Saya benar-benar terhentak dengan pertanyaannya itu, serta merta saja bayangan Raudhah hadir dalam benak dan lisan saya pun mendadak kelu. “Umm, umm, apa… umm…” Saya hanya bisa memandang jejeran ruko di seberang jalan, beberapa belum buka. Dengan tertatih saya berkata lirih: “Mungkin… Saat ini saya ingin bertemu dengan orang yang saya sayangi kemudian membahagiakannya di dunia dan akhirat.”

Saya kemudian tertunduk malu dan tersipu. Ketika itu saya berpikir, anak kecil ini mana mengerti masalah orang dewasa. Begitu saya menoleh ke samping, anak kecil tadi mendadak hilang tanpa tanda-tanda bekas kehadirannya. Agak serem sih, tapi yaudah lah ya…

Ahad, 8 April 2012

WAAA!!! Saya benar-benar tidak akan melupakan hari ini, 8 April 2012! Perasaan saya campur aduk: senang, sedih, takut, lega, dan masih banyak lagi. Haha, mungkin saya sudah gila, karena saya sendiri tidak bisa mempercayai apa yang saya lihat. Oke, oke, akan saya tulis dari awal.
Baca lebih lanjut

memilih pasangan hidup


copased (copy-paste-edit) dari suatu milis.
aslinya yang nulis tuh seorang akhwat dan dia adalah adik kelasnya temen saya di milis itu.
nah, tapi di postingan kali ini, saya edit jadi sudut pandang seorang ikhwan.
cekidot! =D

Semakin kita dewasa, semakin banyak macam orang yang kita temui.
Tidaklah mustahil jika suatu ketika kita datang kepada seorang akhwat untuk mengikatnya, tapi bukan sebagai istri.
Pacaran, HTS-an, nge-take akhwat inceran, atau apapun itu.

Jika kamu pikir kamu adalah ikhwan yang saleh, ketahuilah bahwa orang saleh tidak akan mendahului ketentuan Allah untuk mencoba-coba berpasangan, sebelum ia bertemu dengan jodohnya.
Sebelum ia betul-betul berpasangan dengan seorang perempuan, di atas janji suci, di hadapan Allah.

Jika kamu pikir kamu adalah ikhwan yang baik, ketahuilah bahwa orang yang baik tidak akan menodai seorang akhwat dengan zina yang dia torehkan kepada akhwat itu.
Orang yang baik pasti tidak akan membiarkan dirinya berhubungan dengan seorang akhwat, agar dia dan akhwat itu tetap mempunyai hati yang bersih.

Jika kamu pikir kamu adalah ikhwan yang dewasa, ketahuilah bahwa orang dewasa adalah orang yang berani bertanggung jawab atas segala perbuatannya.
Orang yang bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan, tidak hanya kepada dirinya dan diri akhwat itu saja.
Tapi juga kepada Allah Azza wa Jalla.

Jika kamu pikir kamu adalah ikhwan yang pengertian, ketahuilah bahwa orang yang pengertian seharusnya terlebih dulu mengerti akan kedudukannya sebagai makhluk Allah.
Bahwa kewajibannya untuk mengikuti perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, bahkan tidak mendekati apa yang menurutnya syubhat, ya, seperti menjalin hubungan dengan akhwat itu.

Sulit untuk istiqamah, sulit untuk menghindari itu semua.
Tapi semua ini akan kita nikmati dengan indah, apabila kita tetap ingat bahwa Allah satu-satunya kekasih kita.

Allahu’alam…

ustadzah di madrasah peradaban =p


hoho, saya suka banget sama gambar di atas.
saya memaknainya sebagai suatu cita besar sepasang hati yang ingin mewujudkan peradaban islam dari madrasahnya.

—–

setiap pemimpin besar pasti memiliki wanita luar biasa di belakangnya. entah itu ibunya ataupun istrinya. oleh karena itu, sangat tepat ketika Rasulullah saw bersabda:

Dari Abu Hurairah ra: “Orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik perlakuannya kepada perempuan.” (HR Al-Tirmidzi, dan dia menilainya hasan shahih)

sebenernya konteks hadits diatas lebih ke istri. tapi tetep aja ga ada yang bisa mengalahkan kemuliaan seorang ibu. hadits yang memerintahkan untuk berbakti kepada ibu justru lebih banyak.
Baca lebih lanjut

Aku Telah Menikah…


Ya Rabbi, terima kasih atas hidayah ini, jalan hidup ini, risalah ini
Ya Rasul, terima kasih atas perjuangan untuk menyampaikan pedoman hidup ini

Hari ini, kuingin mengungkapkannya…

Ketahuilah bahwa

AKU TELAH MENIKAH!

Ya, aku telah memiliki seorang istri
Sebut saja Dinda

Dinda hadir sejak aku menginjak kelas X SMA
Dinda hadir begitu saja, tanpa sengaja
Merasuk ke dalam hariku ke dalam hatiku
Tanpa kusadari ku jatuh hati
Padanya…
Baca lebih lanjut