Jika Kau Cinta…


oleh: Ust. Aus Hidayat Nur

Katakanlah, “inilah jalanku, aku mengajak kalian kepada Allah dengan bashiroh, aku dan pengikut-pengikutku-Mahasuci Allah-, dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik”

Saudaraku… sepertinya kita harus mempertanyakan kembali kesungguhan kita
Untuk memperjuangkan dakwah yang mulia ini
Karena sungguh,,,

Jalan dakwah panjang terbentang jauh ke depan
Duri dan batu terjal selalu mengganjal, lembah dan bukit menghadang
Ujungnya bukan di usia, bukan pula di dunia
tetapi Cahaya Maha Cahaya, syurga dan ridha Allah
Cinta adalah sumbernya, hati dan jiwa adalah rumahnya
Pergilah ke hati-hati manusia, ajaklah ke jalan Rabbmu
Nikmati perjalanannya, berdikusilah dengan bahasa bijaksana
Dan jika seseorang mendapat hidayah karenamu
Itu lebih baik dari dunia dan segala isinya

Jika engkau cinta
maka dakwah adalah faham
Mengerti tentang Islam, Risalah Anbiya dan warisan ulama
Hendaknya engkau fanatis dan bangga dengannya
Seperti Mughirah bin Syu’bah di hadapan Rustum Panglima Kisra
Baca lebih lanjut

JALUSI


Jalusi semua

Saya yakin, selalu ada keberkahan di tiap helaian silaturahim dan itu benar-benar terbukti ketika gARis ITB mengadakan JALUSI *Jalan-jalan Silaturahmi gARis ITB* pada hari senin tanggal 26 Januari 2009 *tepat setelah Outbond DP2Q. capek banget! T.T*

Kumpul di Terminal Dago jam 7. Ketika saya datang, sudah ada K’Ghani, K’Lucky, T’Tie, dan T’Sotya. Sekitar 30 menit kemudian *Setelah yang lain berdatangan* kami pun berangkat menuju THR *Taman Hutan Raya* Ir. H. Djuanda dengan JALAN KAKI *beneran jalan-jalan, bo!*

Pas nyampe di PLTA *eh, PLTA kan?*, kami mendaki tangga yang jumlahnya buanyaak banget! Itu merupakan simulasi dari jalan dakwah: mendaki, sukar, berat, banyak godaan, dan penuh rintangan.

Ia yang punya keyakinan kuat pada visinya akan tertuntun, dan kesulitan-kesulitan pun melandai memberi jalan padanya. Ia yang tak yakin pada visinya akan sangat mudah menemukan alasan untuk berhenti. Perjalanan yang sulit. Bekal yang sedikit. Jarak yang selangit. Bagi mereka, alasan-alasan ini akan datang sendiri tanpa dicari. Karena selalu ada bagian jalan yang mendaki. Selalu ada bagian laut yang membadai.

Aku Bertanya padamu, saudaraku..
Seberapa kuat keyakinanmu ??!

Oh iya, dalam perjalanan tersebut kami disuruh mencari bahan-bahan untuk dibuat maket dakwah nantinya. Maket dakwah buatan kelompok saya, hanya terdiri dari 3 bahan. Pertama, batu berbentuk silinder ditidurkan di bagian bawah. Kedua,mainan mobil-mobilan yang tinggal chasis dan gear-nya doang. Ketiga, pecahan genteng. Filosofi itu semua: Batu silinder melambangkan kekokohan dan kedinamisan pondasi dalam berdakwah. Maksud kokoh disini adalah internal si kader dakwah harus benar-benar teruji, sedangkan maksud dinamis adalah seorang kader harus bisa mengikuti perkembangan zaman yang terus berputar. Mobil-mobilan melambangkan kreatif, ya, dalam berdakwah harus kreatif agar konten dakwah itu bisa diterima oleh objek dakwah. Gear mobil melambangkan bahwa kita semua harus menjadi motor dakwah yang terus bergerak untuk memperjuangkan Islam. Sedangkan pecahan genteng yang fungsinya menyeimbangkan gear yang ada di belakang, melambangkan tawazun. Dakwah harus seimbang antara lisan dan perbuatan, dengan kata lain harus berintegritas.

Lalulalu, kita dapet materi tentang kerja tim dalam dakwah yang menghadirkan Kang Muhamad Yunus PN’05 (Kahim KMPN tahun lalu yang memecahkan rekor MURI) dan Kang Anggun MS’04 (Komandan Menwa ITB). Ada kata-kata menarik dari Kang Yunus, “Dalam sebuah tim, jika seseorang tidak bergerak untuk menjalankan tugasnya, berarti sesungguhnya dia telah dzalim terhadap saudaranya yang lain”
Baca lebih lanjut