Serba Pendukung Rohis/DKM


URGENSI SERBA PENDUKUNG

Agar roda organisasi Rohis/DKM bisa berputar untuk program pembinaan dan syi’ar/pelayanan, dibutuhkan sistem pendukung (supporting system) dari dua sisi organisasi. Pertama, pendukung dari internal Rohis/DKM yakni kemampuan untuk mengadakan dana. Kedua, pendukung dari eksternal Rohis/DKM yakni kemampuan untuk membangun jaringan.

  1. Pendukung internal
    Pendukung internal dalam hal ini adalah kebutuhan untuk menyukseskan program pembinaan dan syi’ar/pelayanan dalam bentuk dana. Bagi da’wah, dana ibarat bahan bakar untuk mobil. Tanpa bahan bakar, mobil semewah apapun tidak akan pernah bisa membawa penumpangnya pergi jauh. Begitu juga dengan Rohis/DKM sebagai ekskul da’wah Islam, mungkin bisa berjalan dengan dana nol, tetapi sampai sejauh mana? Mampukah bersaing dengan acara konser musik yang menghabiskan ratusan juta rupiah?
  2. Pendukung eksternal
    Pendukung eksternal dalam hal ini adalah kebutuhan untuk menyukseskan program pembinaan dan syi’ar/pelayanan dalam bentuk jaringan. Dengan jaringan yang dimiliki, Rohis/DKM dapat mengembangkan sayap dakwah lebih luas sehingga menguatkan kredibilitas lembaga dan mempermudah sumber dana. Kemudian, jaringan ini diharapkan dapat memicu untuk gerak da’wah di dalam tubuh Rohis/DKM ini lebih kreatif dan bermobilitas tinggi.

DUKUNGAN INTERNAL BERUPA KEKUATAN FINANSIAL

  1. Cita-cita kemandirian finansial

    Keterbatasan dana adalah suatu ironi yang akan membatasi ruang gerak Rohis/DKM, maka yang biasa dilakukan hanyalah menyiasati keterbatasan tersebut. Ketika yang dipikirkan adalah bagaimana menyiasati keterbatasan, selamanya keterbatasan itu adalah menjadi realitas kita. Oleh karena itu, fokus pikiran kita harus segera diubah dari bagaimana menyiasati keterbatasan menjadi bagaimana menciptakan keberlimpahan. Jika tidak demikian, keberlimpahan dana tidak pernah menjadi nyata karena hal tersebut tidak pernah dipikirkan. Sebuah Rohis/DKM harus mulai mencita-citakan kemandirian finansial sebagai salah satu pendukung kekuatan gerak roda da’wah dan ‘izzah sebuah lembaga da’wah.

    Allah SWT sudah  berjanji  akan  menolong  setiap  hamba  yang  menolong  agama-Nya dalam Surat Muhammad ayat ke-7 dan tentu keimanan kita tidak pernah menyangsikan kebenaran firman-Nya. Namun, bila Rohis/DKM selalu saja kekurangan dana, mungkin ikhtiar para pengurusnya yang bermasalah. Salah satu hal penting dalam pendanaan adalah action plan yang diikuti langkah konkrit. Tanpa semua itu, kemandirian finansial Rohis/DKM yang diharapkan, selamanya hanya sekedar mimpi.

  2. Dana usaha yang berkesinambungan
    Baca lebih lanjut

[jurnal] Membangun Jaringan FORSIMAP


Beberapa pekan lalu, saya menenggelamkan diri pada koleksi buku salah satu arsitek di Jakarta. Dari buku tentang arsitektur dan arsitek yang saya baca, saya menemukan beberapa fakta unik:

Pertama, melihat banyaknya proyek-proyek dan arsitek berasal, sepertinya kita perlu memfokuskan diri untuk memperkuat jaringan di tiga tempat. Yang paling mudah adalah mencari kontak muslim di semua kampus yang ada jurusan arsitektur/perencanaan/yang serumpun. Lebih bagus lagi bila kontak yang kita dapat itu aktif juga di Rohis/LDPS/SKI jurusannya. Yaitu di:

  1. Jakarta: terdata ada 23 kampus yang ada jurusan di atas
  2. Bandung: 10 kampus
  3. Bali: 4 kampus

Baca lebih lanjut

presentasi cakARis pas mubes gARis


Bismillah
Ini adalah bahan presentasi saya waktu jadi cakARis (calon kepala gARis)
Tapi ada yang udah ditambahin sih.
Karena waktu itu yang dateng dikit, jadi saya pengen berbagi mimpi saya untuk gARis kepada teman-teman.
Walaupun yang kepilih bintang, semoga tulisan ini menginspirasi teman-teman untuk berkarya dimanapun.
Kenapa?
Karena Kita Keluarga

VISI 2010

“Satu Keluarga yang Progresif, Inklusif, dan Sinergis, Menuju Indonesia yang Islami”

1. Satu Keluarga: menunjukkan sebuah nuansa yang dibentuk di gARis ITB. Sebuah keluarga dakwah yang saling memahami, berbagi, dan mengasihi satu sama lain dengan landasan kecintaan terhadap Allah Subhanahu Wata’ala.

2. Progresif: menunjukkan bahwa sebagai sebuah keluarga, gARis ITB selalu menjadi lebih baik dalam setiap aspeknya. Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa barang siapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, dialah orang yang paling beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, dialah orang yang merugi. Dan, barang siapa hari ini lebih buruk daripada hari kemarin, dialah orang yang celaka. Fokus kepengurusan kali ini pada aspek: Pembinaan, Kompetensi, dan Syiar.

3. Inklusif: menunjukkan sebuah keluarga yang dekat dengan semuanya, yaitu gARis yang lebih bersahabat dan diterima oleh banyak pihak.

4. Sinegis: menunjukkan sebuah keluarga yang berkoordinasi dan bekerja sama sehingga tercipta sebuah idealitas dengan lebih optimal. gARis dengan organisasi lainnya saling melengkapi dan terintegrasi untuk tujuan yang mulia.

5. Menuju: menunjukkan kedinamisan dan orientasi gerak yang jelas untuk mencapai sebuah proses dan hasil yang baik dan berkah.

6. Indonesia Islami: menunjukkan bahwa gARis ITB memiliki pandangan dan cita-cita yang besar dalam kinerja dakwahnya. Serta menunjukkan peran gARis ITB sebagai salah satu batu bata di dalam proyek besar pembangunan Indonesia Islami. gARis memimpin LDPS lainnya untuk mengambil alih dakwah di kampus ITB dari GAMAIS Pusat, sehingga GAMAIS pusat bisa lebih fokus untuk melakukan Islamisasi masyarakat Indonesia.

MISI
Baca lebih lanjut

FSLDK


fsldk

FSLDK merupakan kependekan dari Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus.

Di GAMAIS ITB, FSLDK adalah sebuah departemen yang berada di sektor eksternal GAMAIS. Kerjaannya antara lain: Training Manajemen DK, Pendampingan LDK, Buku-buku ke-LDK-an, Kunjungan, Studi Banding LDK, Demonstrasi, Jalan-jalan, dan Silaturahim.

Pada GIT lalu, saya mendaftar untuk magang di departemen ini. Banyak hal yang saya dapat ketika itu, diantaranya tentang ke-FSLDK-an, tentang dakwah di dunia maya, dan tentang ke-Humas-an. Intinya saya saya ditanamkan untuk selalu memperluas jaringan dan menjaganya agar selalu baik. Selain itu, ada satu pengalaman yang mungkin tidak akan saya dapat bila tidak bergabung di sini, jalan-jalan ke UNDIP Semarang untuk nemenin kang Ucup ngisi pelatihan. Wahaha, tapi gara-gara ini juga saya ga ikutan malam alumni Dies Natalis Gunadharma ke-56. Heu..

Nah, kenapa saya cerita tentang departemen satu ini? Yup, karena saya sebenarnya ada suatu keinginan di dalam hati untuk belajar disini. Sayangnya,,, ndak boleh ma MR. hiks,, hiks… boleh ga kalo jadi simpatisan aja?

Tapi gpp, kalo ga boleh FSLDK, saya mau buat FSLDPS Arsitektur. Yeah! hohoho
Jadi, bagi temen-temen yang baca tulisan ini dan tau ada anak arsi di kampus lain yang bisa diajak kerja sama, tolong segera hubungi saya yah..
Sampai saat ini baru ada link ke UI dan UNS, tapi belum dibuka. Masih nunggu waktu yang tepat… hehe

Itu FLSDK sebagai departemen di GAMAIS,,,
Kalo FSLDK ‘sebenernya’, ada lagi…
Tapi, sebelum lanjut, perlu diketahui bahwa definisi FSLDK ada dua persepsi yang berbeda. Lebih lanjut silakan buka http://fsldkn.org/

Persepsi pertama, kita memahami FSLDK sebagai jaringan. FSLDK beranggotakan LDK-LDK (bukan orang per orang) se-Indonesia. Sifat keanggotaan FSLDK cukup terbuka, artinya setiap LDK berhak bergabung dengan FSLDK. Hal ini dikarenakan salah satu visi FSLDK adalah mengoptimalkan akselerasi da’wah kampus nasional. Jaringan FSLDK sudah tersebar luas di seluruh nusantara. Mulai dari ujung Sumatra hingga Papua.
Di dalamnya memiliki alur komunikasi yang terdiri dari Puskomnas (Pusat Komunikasi Nasional), Badan Pekerja (BP) Puskomnas, Badan Khusus (BK) Puskomnas, Puskomda (Pusat Komunikasi Daerah), Badan Pekerja Puskomda, dan Steering Commitee (SC).
Kemudian, dalam memudahkan pemetaan ranah kerja FSLDK, dibentuklah 3 komisi di FSLDK, yaitu Komisi A (Isu Keumatan), Komisi B (ke-LDK-an), dan Komisi C (Jaringan Muslimah).

Sedangkan persepsi kedua, FSLDK adalah musyawarah nasional/daerah yang diadakan secara rutin. Di tingkat nasional, kita mengenal istilah Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional (FSLDKN). FSLDKN yang ke-14 diselenggarakan di Unila, Lampung pada pada tahun 2007. Sedangkan di tingkat daerah, ada juga istilah Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Daerah (FSLDKD). Musyawarah-musyawarah ini biasanya membahas isu keummatan (palestina, UU pornografi, dll), ke-LDK-an, dan kemuslimahan.

Untuk FSLDKD, saya pernah menghadirinya, yaitu ketika FSLDKD XX se-Bandung Raya. Bertempat di IT-Telkom Dayeuh Kolot. Waktu itu ikut pelatihannya, kebetulan bagian kaderisasi.

fsldkd-xx