semangkA! semangat karena Allah!!!


alkisah, di sebuah sekretariat suatu organisasi, terdapat tiga orang yang sedang membersihkan sekretariat tersebut.
tak lama kemudian, datanglah seorang lagi dan kemudian bertanya, “boi, lagi pada ngapain?”

orang pertama yang bekerja males-malesan menjawab, “lagi ngerjain proker saya nih.”
orang kedua yang bekerja lebih baik dibanding yang pertama menjawab, “sedang merapikan sekre agar tiap orang yang datang, bisa nyaman berkegiatan.”
sedangkan orang ketiga yang bekerja paling giat menjawab, “sedang membangun peradaban! semoga sekre ini bisa menjadi tempat lahirnya para perancang dan pembangun peradaban.”

percakapan sederhana di atas menggambarkan lintasan niat yang berada dalam diri ketiga orang yang sedang beberes sekre.
kira-kira orang yang mana yang lebih visioner?
kenapa bisa begitu? padahal pekerjaannya sama, berada di tempat dan waktu yang sama?

itulah salah satu pentingnya niat dan tekad.
lantas mari kita tanyakan pada diri kita, untuk apa kita berdakwah selama ini?

semoga tujuan kita hanya satu Allah, agar nanti kita dibuatkan rumah di surga oleh Allah yang jika dilihat dari dalam, eksteriornya terlihat; jika dilihat dari luar, interiornya terlihat; namun orang yang ada di dalamnya tidak terlihat.

semoga tujuan kita hanya satu Allah, agar hati-hati kita bisa saling bertaut dengan ikatan aqidah. seperti benda-benda yang sedang bergerak menuju satu titik di depannya, maka benda-benda itu akan semakin berdekatan.
Baca lebih lanjut

Karakteristik Manhaj Qurani


Assalamu’alaykum wr wb

Tulisan ini insya Allah akan berkisah tentang buku Ma’alim fith Thariq-nya Sayyid Quthb.
Seumur-umur baru kali ini nemuin buku yang sulit dimengerti. Saya baca 3 cetakan buku tersebut (penerbitnya beda-beda) dan hal yang saya tangkep juga beda-beda.
Ada dua hal yang memungkinkan terjadinya fenomena tersebut, pertama: Sayyid Quthb-nya emang pake bahasa yang sulit ketika menulis buku ini, atau yang kedua: penerjemahnya yang kurang tepat mengalihbahasakannya sehingga ketika dibaca jadi tidak fokus penekanannya dan tidak bisa ditangkap pesannya.

Nah, untuk kali ini insya Allah akan ditulis ulang mengenai karakteristik Al Quran sebagai manhaj hidup sesuai hasil tangkapan otak saya dari buku terbitan Darul Uswah (buku ketiga yang saya baca, soalnya pas dicek ke terbitan yang lain. karakterisitk yang saya tangkep beda =p).
Oke, mulai:

1. Tujuannya jelas

Sudah jelas bahwa tujuan akhir dari manhaj Al Quran adalah tegaknya Laa Ilaaha Illallah wa Muhammadur Rasulullah di tiap hati umat Islam, agar aqidah yang lurus itu hadir di tiap relung jiwa manusia yang lahir ke dunia. Itulah mengapa Rasulullah mati-matian memulai penyamapaian risalah Islam dari titik ini, karena Allah menurunkan ayat-ayat Al Quran tentang tauhid di awal mulanya.

Kita tahu bahwa pada saat itu, Arab “dijajah” oleh Romawi di bagian utara dan oleh Persia di bagian selatannya. Padahal kalau pakai logika, Rasulullah mungkin saja memulai perjuangannya dengan menghembuskan nafas nasionalisme di kalangan bangsa Arab untuk mengusir Romawi dan Persia dari tanah air, sehingga ketika kemenangan diraih, Rasulullah bisa mulai menyebarkan Islam. Tentu lebih realistis, mengingat bangsa Arab memang seolah terlahir untuk perang (baca: sudah terlatih berperang).

Atau kita tahu bahwa pada saat itu, Arab mengalami masa ketidakadilan yang sangat parah. Riba terjadi dimana-mana sehingga jurang antara si kaya dan si miskin begitu jauhnya. Belum lagi terjadi perbudakan yang sangat tidak manusiawi. Padahal kalau pakai logika, Rasulullah mungkin saja memulai perjuangannya dengan meniupkan angin sosialisme di kalangan bangsa Arab. Merangkul kaum tertindas untuk melawan kaum borjuis yang sewenang-wenang. Menciptakan revolusi untuk mengembalikan hak si miskin agar sejajar dengan si kaya.

Atau kita tahu bahwa pada saat itu, Arab mencapai level moralitas pada titik nadirnya. Dekadensi moral dengan segala bentuknya terjadi di masa itu: merebaknya khamr dan judi, berlomba-lomba untuk mendzalimi agar tidak didzalimi, hingga berbagai jenis pernikahan jahiliyah yang hina. Padahal kalau pakai logika, Rasulullah mungkin saja memulai perjuangannya dengan mengangkat panji-panji moralitas untuk membersihkan jiwa-jiwa bangsa Arab dengan akhlaknya yang terpuji dan tingkahnya yang penuh inspirasi.
Baca lebih lanjut

Yang Terlewatkan


Dalam sebuah acara silaturahim, seorang kakak pernah memberi taushiyah terkait beberapa hal yang sering dilupakan oleh para penggiat dakwah. Mereka adalah:

1. Semua Milik Allah

Langsung saja kita simak sebuah surah kesembilan dan ayat keseratussebelas dari Alquran Alkarim:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١١١)

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 111)

Sejatinya, Allah-lah yang menganugerahi kita segenggam jiwa dan selaksa harta. Setelah itu Allah akan membelinya kembali dengan Surga sebagai gantinya, kelak. Sungguh perkara tersebut adalah perniagaan yang paling menguntungkan, bukan?

Lantas, pantaskan kita untuk menggunakan jiwa dan harta kita untuk obsesi pribadi? Bukan untuk Allah, bukan untuk dakwah. Tidak taat kepada keputusan jama’ah hanya karena kita tidak suka. Haruskah sampai meninggalkan agenda dakwah, karena adanya tujuan pribadi semata?

2. Iman Seperti Pohon

Kali ini kita renungkan Quran Surat Ibrahim ayat 24-25:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (٢٤) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (٢٥)

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”

Termasuk dalam kalimat yang baik ialah kalimat tauhid, segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. Kalimat tauhid seperti laa ilaa ha illallaah.

Ayat ini sedang berbicara tentang iman: memiliki ilmu yang menghujam mendalam, tetapi juga memiliki amal yang menjulang, rindang, dan berbuah manis.

Keduanya harus berbarengan, tidak bisa dipisah-pisah. Bila kita hanya mencari ilmu, sibuk hanya memperbaiki diri sendiri, dan tidak mengamalkannya, berarti kita sama sekali tidak berguna. Pohon yang seperti itu, lama-kelamaan akan membusuk lalu mati terlupakan.

Bila kita hanya beramal tanpa berilmu, itu seperti pohon yang tinggi namun berakar pendek. Sedikit saja angin menerpa, niscaya batang yang tegak itu roboh seketika, rata dengan tanah.

Oleh karena itu, iringi dakwah dengan tarbiyah.

3. Niat yang Ikhlas
Baca lebih lanjut

bertahan di sana


(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)” (TQS. ‘Ali Imran: 8 )

kita sadar bahwa tabiat jalan dakwah adalah penuh aral rintangan. kita sadar bahwa surga itu mahal, sehingga harga yang harus dibayarkan bukan berjumlah sedikit. kita sadar bahwa pahala yang besar itu membutuhkan pengorbanan yang besar pula.

itulah mengapa kita senantiasa diuji secara bertubi-tubi. hanya saja, biasanya bila diuji dengan hal yang susah, kita insya Allah bisa bertahan. mungkin hal tersebut disebabkan keyakinan pada diri kita bahwa apapun yang tidak membunuh kita, hanya akan membuat diri kita menjadi lebih kuat. kalopun terbunuh di jalan ini, itu kematian yang mulia bukan?

hanya saja, bila ujian tersebut datang dalam bentuk yang menyenangkan. tak sedetik pun kita sanggup menahan godaannya.

bahkan generasi pertama umat ini pun pernah tergoda oleh ghanimah. padahal aqidah mereka sudah ditempa selama bertahun-tahun oleh orang paling luar biasa dalam hal pembinaan: Rasulullah saw.
Baca lebih lanjut

[jurnal] Inshallah podemos. espíritu!


Kali ini saya ingin menyoroti 2 fenomena. Semoga bisa diambil hikmahnya dan bermanfaat untuk ke depannya.

1. PIALA DUNIA

Kira-kira beginilah suasana di malam penutupan perhelatan sepakbola terakbar tahun ini (saya ga tau aslinya, soalnya ga nonton)

Para artis membentuk vuvuzela raksasa dan permainan sinar laser pada upacara penutupan Piala Dunia 2010 menjelang berlangsungnya pertandingan final antara Belanda dan Spanyol di Soccer City, Johannesburg, pada hari Minggu 11 Juli 2010.

Turut menjadi saksi langsung berbagai tokoh dari berbagai kalangan. Mulai dari legenda sepak bola semacam Marcel Desailly (anggota tim Prancis juara Piala Dunia 1998), Lothar Matthäus (kapten Jerman juara Piala Dunia 1990), George Weah (legenda Afrika asal Liberia dan Pemain Terbaik Dunia FIFA 1995), Roger Milla (memperkuat Kamerun dalam tiga edisi Piala Dunia), Michel Platini (Presiden UEFA), serta Franz Beckenbauer (anggota komite eksekutif FIFA, pemenang Piala Dunia 1974 sebagai pemain, dan pada 1990 sebagai pelatih). Para presiden negara di afrika (termasuk mantan presiden Nelson Mandela), lalu ada Kofi Annan (mantan Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa), Queen Sofia dari Spanyol, Jan Peter Balkenende (Perdana Menteri Belanda), Prince Albert II dari Monaco, serta Ronald K Noble (Sekretaris Jenderal Interpol). Tak kalah meramaikan juga Placido Domingo (penyanyi tenor papan atas asal Spanyol), Rafael Nadal (petenis nomor satu ATP dan pemenang Grand Slam delapan kali dari Spanyol), Shakira (penyanyi lagu resmi Piala Dunia 2010), Morgan Freeman (aktor pemenang Oscar), serta Naomi Campbell (model papan atas dunia)

Berbagai persiapan pun dilakukan, mulai dari keamanan sampai ke bola yang akan dipakai bertanding.

Pertandingan final Piala Dunia 2010 menggunakan bola Jo’bulani. Nama Jo’bulani merupakan gabungan dari nama kota tempat partai final berlangsung, Johannesburg atau disingkat Jo’burg, dengan Jabulani. Jo’bulani adalah versi khusus Jabulani yang didesain berwarna emas, sesuai dengan julukan Johannesburg sebagai “City of Gold”.

Baca lebih lanjut

Tragedi 1 Juli 2009


Pada tanggal 1 Juli 2009 tahun lalu, Marwa Al-Sharbini (32 tahun), seorang muslimah asal Mesir, sedang menghadiri sidang di ruang sidang kota Dresden terhadap tetangganya, Alex Wiens, yang ditemukan November lalu bersalah karena menghina wanita tersebut dengan menyebutnya “teroris”. Bahkan dalam suatu kesempatan, pemuda itu pernah menyerang Marwa dan berusaha melepas kain kudung Muslimah asal Mesir itu.

Saat itu, Marwa akan memberikan kesaksian dalam kasus penghinaan itu yang dialaminya hanya karena ia mengenakan kain kudung. Marwa Al-Sharbini adalah seorang martir bagi perjuangan muslimah yang mempertahankan kain kudungnya.

Dia ditetapkan untuk bersaksi melawan Alex Wiens, belum sempat memberikan kesaksiannya, pemuda Jerman itu menyerang Marwa dan menusuknya sebanyak 18 kali dalam ruang pengadilan di depan anaknya yang masih berusia 3 tahun. Pendarahan yang banyak menyebarkan Marwa Al-Sharbini akhirnya wafat di pengadilan.

Suami Al-Sharbini berusaha melindungi isterinya yang sedang hamil tiga bulan itu, tetapi malah ditikam juga oleh Wiens dan ditembak kakinya oleh seorang penjaga keamanan yang awalnya mengira dia akan menyerang. Hal itu menyebabkan suami Al-Sharbini mengalami luka-luka dan harus dirawat di rumah sakit.
Baca lebih lanjut

SALAM dan TAKBIR


A: eh, salam dan takbir-nya gimana?
B: dari zaman rasul, salam tuh assalamu’alaykum wr wb dan takbir tuh Allahu akbar!
A: *sigh*

hehe, becanda! =D

SALAM

patut disyukuri bahwa DKM memiliki peluang lebih awal untuk merekrut pengurus. ketika ekstrakulikuler lain hanya diberi kesempaan beberapa menit untuk display, DKM mendapatkan waktu 1 hari untuk ‘promosi’. ketika organisasi lain tampil dengan ‘garang’ dan penuh agitasi, DKM hadir dengan lembut dan menyenangkan. mungkin termasuk kufur nikmat ketika momentum ini lewat begitu saja. astaghfirullah..

kawan, mengajak siswa baru menuju kebaikan dimulai dari SALAM ini. jangan sampai persiapannya asal-asalan saja. siapkan apapun yang kita bisa, misal:

a. Branding

bagi para siswa baru, kesan di awal itulah yang kemudian dikenang dan mempengaruhi kehidupan di SMANSA selanjutnya. maka munculkanlah kesan bahwa DKM adalah organisasi yang eksis dan bermanfaat, yaitu memiliki karakter dan citra yang bersahabat bagi setiap siswa baru SMANSA sehingga mereka lebih membuka diri pada DKM. kalo udah gitu, da’wah pun akan lebih mudah.
tunjukkan juga bahwa DKM adalah organisasi yang besar, kuat, aktif, dan berpengaruh di mata publik. bikin asumsi bahwa kalo ga ikutan DKM, ga gaul. atau yang gak islami berarti ga trendi, hehe =D

perlu dicatat, saat SALAM ini yang dikejar adalah kuantitas karena sedang masa perekrutan, sedangkan kualitas dikejar ketika proses PODS dimulai. oleh karena itu, rekrutlah sebanyak-banyaknya para siswa baru dengan pencitraan yang baik di SALAM ini.
pencitraan yang baik mengenai lembaga dakwah, misal: acara yang tidak ngaret dan menunjukkan perilaku yang islami dari para panitia. oia, bisa juga nyambut siswa baru ketika sholat Dhuha pas MOS, insya Allah tersentuh.

b. Event (acara) dan Service (pelayanan)
Baca lebih lanjut