Karakteristik Manhaj Qurani


Assalamu’alaykum wr wb

Tulisan ini insya Allah akan berkisah tentang buku Ma’alim fith Thariq-nya Sayyid Quthb.
Seumur-umur baru kali ini nemuin buku yang sulit dimengerti. Saya baca 3 cetakan buku tersebut (penerbitnya beda-beda) dan hal yang saya tangkep juga beda-beda.
Ada dua hal yang memungkinkan terjadinya fenomena tersebut, pertama: Sayyid Quthb-nya emang pake bahasa yang sulit ketika menulis buku ini, atau yang kedua: penerjemahnya yang kurang tepat mengalihbahasakannya sehingga ketika dibaca jadi tidak fokus penekanannya dan tidak bisa ditangkap pesannya.

Nah, untuk kali ini insya Allah akan ditulis ulang mengenai karakteristik Al Quran sebagai manhaj hidup sesuai hasil tangkapan otak saya dari buku terbitan Darul Uswah (buku ketiga yang saya baca, soalnya pas dicek ke terbitan yang lain. karakterisitk yang saya tangkep beda =p).
Oke, mulai:

1. Tujuannya jelas

Sudah jelas bahwa tujuan akhir dari manhaj Al Quran adalah tegaknya Laa Ilaaha Illallah wa Muhammadur Rasulullah di tiap hati umat Islam, agar aqidah yang lurus itu hadir di tiap relung jiwa manusia yang lahir ke dunia. Itulah mengapa Rasulullah mati-matian memulai penyamapaian risalah Islam dari titik ini, karena Allah menurunkan ayat-ayat Al Quran tentang tauhid di awal mulanya.

Kita tahu bahwa pada saat itu, Arab “dijajah” oleh Romawi di bagian utara dan oleh Persia di bagian selatannya. Padahal kalau pakai logika, Rasulullah mungkin saja memulai perjuangannya dengan menghembuskan nafas nasionalisme di kalangan bangsa Arab untuk mengusir Romawi dan Persia dari tanah air, sehingga ketika kemenangan diraih, Rasulullah bisa mulai menyebarkan Islam. Tentu lebih realistis, mengingat bangsa Arab memang seolah terlahir untuk perang (baca: sudah terlatih berperang).

Atau kita tahu bahwa pada saat itu, Arab mengalami masa ketidakadilan yang sangat parah. Riba terjadi dimana-mana sehingga jurang antara si kaya dan si miskin begitu jauhnya. Belum lagi terjadi perbudakan yang sangat tidak manusiawi. Padahal kalau pakai logika, Rasulullah mungkin saja memulai perjuangannya dengan meniupkan angin sosialisme di kalangan bangsa Arab. Merangkul kaum tertindas untuk melawan kaum borjuis yang sewenang-wenang. Menciptakan revolusi untuk mengembalikan hak si miskin agar sejajar dengan si kaya.

Atau kita tahu bahwa pada saat itu, Arab mencapai level moralitas pada titik nadirnya. Dekadensi moral dengan segala bentuknya terjadi di masa itu: merebaknya khamr dan judi, berlomba-lomba untuk mendzalimi agar tidak didzalimi, hingga berbagai jenis pernikahan jahiliyah yang hina. Padahal kalau pakai logika, Rasulullah mungkin saja memulai perjuangannya dengan mengangkat panji-panji moralitas untuk membersihkan jiwa-jiwa bangsa Arab dengan akhlaknya yang terpuji dan tingkahnya yang penuh inspirasi.
Baca lebih lanjut