Gurindam Kemenangan Hati


Km itb itu sedih, sedih bila tidak ada ANTUSIASme pada kegiatannya
Km itb itu takut, takut bila tidak adanya SATU kesatuan tiap elemennya
Km itb itu khawatir, khawatir bila tidak ada INISIATIF untuk peduli dari anggotanya
Km itb itu malu, malu bila tidak ada KARYA inovatif yang jadi solusi bagi negerinya

.

A gar bangsa ini tahu, bahwa
S angat besar rasa cinta kami pada mereka…
I ngin kami berjuang hingga batas kemampuan
K alau itu memang harga yang harus dibayar untuk kebangkitan bangsa ini…

.

A palagi selain rasa cinta yang mengharu biru
S enantiasa menguasai relung-relung hati kami…
I tu jualah yang menguras habis air mata kami, hingga
K antuk pun telah tercabut dari pelupuk mata kami…

.

A pa yang kami cari?
S udah pasti bukanlah semata posisi,
I tu juga bukanlah materi, namun
K emenangan hati lah yang kami cari…

.

A kan tiba masa-masa
S aat kita terjatuh dan sakit, tapi…
I tu bukanlah suatu masalah
K alau kita bisa bangkit, berlari, dan melompat lebih tinggi!!!

.

A ku
S ayang
I ndonesia dan
K m itb

.

A ktif
S olutif
I nspiratif
K ontributif

.

memori dan impi


suatu hari nanti

suatu saat di kemudian hari,

ketika raga kita sudah tidak bersama lagi,

jangan pernah ingkari

bahwa kita pernah bertemu disini

dalam nuansa imani

mencari warna seindah pelangi…

.

karena yakin pasti,

bahwa kenang ini,

takkan lari,

tak akan pergi,

dan tidak akan pernah mati…

.

hanya terus kuatkan impi

yang penuh arti,

bahwa nanti

akan tercipta Indonesia Islami…

.

seluruh jiwa ini,

setiap raga ini,

dan semua fikir ini,

akan kami beri

untuk kemenangan sejati…

.

bukan semata posisi,

ataupun materi,

apatah lagi yang lebih rendah dari dua tadi,

melainkan kemenangan hati…

.

.

.

merancang dan membangun peradaban madani

di bumi ibu pertiwi…

Piala AFF: Memenangkan Hati Rakyat


Honestly, saya sudah tidak lagi menjadi penonton bola sejak ke bandung. Saya lebih suka jadi pemain daripada penonton. Namun berhubung yang main adalah Timnas Indonesia, ada euforia dalam dada untuk berteriak, beri dukungan, dan berdoa kepada Firman Utina dkk di Piala AFF.

Dan, sungguh luar biasa penampilan mereka. Tadinya saya cuma mengenal nama Christian Gonzalez, Firman Utina, Maman Abdurrahman, dan Markus Horison dalam starting line-up di pertandingan perdana kontra Malaysia. Sisanya, masih asing terdengar namanya. Namun, sungguh luar biasa, lima gol digelontorkan ke negeri Jiran tersebut. Dan ada satu nama yang membuat saya kagum: Arif Suyono yang bernomor punggung 14. *saya memang suka nomer empat belas =j* Sentuhan pertama pemain yang kerap disapa Keceng ini berbuah gol!

Irfan dan Arif (KOMPAS/Agus Susanto)

*umm, karena ngeliat foto Irfan Bachdim, jadi inget hadits riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutuk wanita yang menyambungkan rambut seorang wanita dan wanita yang minta disambungkan rambutnya, orang yang membuatkan tato dan orang yang meminta dibuatkan tato. (HR. Muslim; marfu’, mutawatir Nomor: 3965) na’udzubillah…*

Ketika melawan Laos, saya tidak nonton karena sedang perjalanan ke Garut untuk menghadiri pernikahan saudara. Hasilnya lebih menakjubkan: 6-0 untuk Tim Merah Putih (Arif kembali mencetak gol =j). Selanjutnya, Indonesia bentrok dengan Thailand di GBK. Saya nonton di Kamar E16 Asrama KP. Lagi-lagi Arif Suyono memberi andil di sana. Sepakannya memberikan hadiah penalti untuk Indonesia. Bepe sukses menjadi algojo saat itu dan Indonesia menang 2-1. Di semifinal, Indonesia ditantang Filipina. Dua kali tanding, Indonesia menang 1-0 lewat gol El Loco dan melaju ke babak final.
Baca lebih lanjut

Yang Terlewatkan


Dalam sebuah acara silaturahim, seorang kakak pernah memberi taushiyah terkait beberapa hal yang sering dilupakan oleh para penggiat dakwah. Mereka adalah:

1. Semua Milik Allah

Langsung saja kita simak sebuah surah kesembilan dan ayat keseratussebelas dari Alquran Alkarim:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١١١)

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 111)

Sejatinya, Allah-lah yang menganugerahi kita segenggam jiwa dan selaksa harta. Setelah itu Allah akan membelinya kembali dengan Surga sebagai gantinya, kelak. Sungguh perkara tersebut adalah perniagaan yang paling menguntungkan, bukan?

Lantas, pantaskan kita untuk menggunakan jiwa dan harta kita untuk obsesi pribadi? Bukan untuk Allah, bukan untuk dakwah. Tidak taat kepada keputusan jama’ah hanya karena kita tidak suka. Haruskah sampai meninggalkan agenda dakwah, karena adanya tujuan pribadi semata?

2. Iman Seperti Pohon

Kali ini kita renungkan Quran Surat Ibrahim ayat 24-25:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (٢٤) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (٢٥)

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”

Termasuk dalam kalimat yang baik ialah kalimat tauhid, segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. Kalimat tauhid seperti laa ilaa ha illallaah.

Ayat ini sedang berbicara tentang iman: memiliki ilmu yang menghujam mendalam, tetapi juga memiliki amal yang menjulang, rindang, dan berbuah manis.

Keduanya harus berbarengan, tidak bisa dipisah-pisah. Bila kita hanya mencari ilmu, sibuk hanya memperbaiki diri sendiri, dan tidak mengamalkannya, berarti kita sama sekali tidak berguna. Pohon yang seperti itu, lama-kelamaan akan membusuk lalu mati terlupakan.

Bila kita hanya beramal tanpa berilmu, itu seperti pohon yang tinggi namun berakar pendek. Sedikit saja angin menerpa, niscaya batang yang tegak itu roboh seketika, rata dengan tanah.

Oleh karena itu, iringi dakwah dengan tarbiyah.

3. Niat yang Ikhlas
Baca lebih lanjut