[jurnal] Sinopsis Buku


Kita semua yakin, bahwa Islam adalah agama yang mulia dan sempurna. Satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah. Namun, dewasa ini kecemerlangan cahaya Islam telah diredupkan oleh para pemeluknya. Kemuliaan Islam tidak dibarengi dengan keindahan kompetensi (pengetahuan, kemampuan, dan karakter) para pengikutnya. Sehingga cap yang kurang baik cukup melekat pada Islam pada saat ini.

Lebih jauh dari itu, pada saat ini jika ada suatu posisi strategis yang diisi oleh pemeluk Islam yang taat, masyarakat umum akan berpikiran negatif. Mereka tidak percaya. Padahal dahulu, tiap orang ingin dilindungi oleh kekhalifahan Islam, baik yang Muslim maupun yang kafir. Bahkan ada yang ingin dipimpin oleh orang Islam meskipun mayoritas penduduknya nonmuslim.

Sudah saatnya, kemuliaan Islam dibarengi dengan kecemerlangan akhlaq para pemeluknya! Sudah saatnya, seorang Muslim memiliki kemampuan untuk mengelola suatu lembaga yang mengurusi hajat orang banyak! Sudah saatnya, peradaban Islam yang telah lama dilupakan, kembali diimpikan dan diwujudkan oleh setiap orang!

Oleh karena itu, perlu adanya edukasi tentang peradaban Islam pada masa lalu sehingga setiap pemeluk agama Islam mampu berpijar dan berpendar menerangi kejahiliyahan masyarakat saat ini. Salah satunya dari keilmuan Arsitektur dan Planologi (Tata Kota).

Desain akan menimbulkan suatu perilaku. Bila desain itu bernilaikan Islam, tentu yang timbul darinya adalah perilaku yang Islami. Dan perilaku islami lambat laun akan berefek domino pada bidang ekonomi, sosial, budaya, hukum, dan lain sebagainya sehingga terwujudnya peradaban Islam. Oleh karena itu, keilmuan Arsitektur dan Planologi menjadi salah satu bagian penting untuk mewujudkan peradaban Islam. Bisa jadi batu bata pertama dari pembangunan peradaban Islam berawal dari dua keilmuan ini.

Sebelum menuju kesana, akan lebih baik bila kita mengambil pelajaran dari sejarah yang telah ada. Dan sumber utama dan paling valid dari sejarah itu adalah Al Quran dan As Sunnah.
Baca lebih lanjut

Merancang Peradaban Islam di Indonesia


Assalamu’alaykum wr wb

Alhamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah…
Saudara-saudariku dimana pun antum berada, semoga kita senantiasa berada dalam satu jalan dan satu arah gerak.
Karena bagai benda-benda yang berserak. Ketika bergerak menuju satu titik secara bersamaan, mereka akan saling berdekatan.
Begitu juga dengan kita. Ketika kita hanya menuju satu Allah di jalan da’wah ini, pasti hati-hati kita akan saling bertautan.
Meski kita belum begitu mengenal, meski ruang memberi jarak bagi kita…

Dan jalan da’wah ini, akan terus bergerak dengan ada atau tidaknya kita di dalamnya.
Sekarang tinggal kita yang memilihnya, apakah kita akan menjadi aktor pembangun peradaban ini, atau hanya menjadi spektator? apakah kita akan menjadi generasi yang menggantikan, atau menjadi yang tergantikan?

Da’wah kampus,,
Saat ini sedang mengalami perkembangan yang begitu pesat..
Banyak ‘event’ besar yang telah dilakukan oleh LDK-LDK yang tersebar seantero nusantara, begitu banyak dana yang digulirkan agar banyaknya suplai alumni yang berafiliasi terhadap Islam, begitu banyak ide dan tenaga yang telah dikuras agar masyarakat kita bertransformasi menjadi masyarakat madani.

Lalu, tanyakanlah kepada massa kampus kita:
Apakah mereka telah tersentuh oleh keindahan Islam?
Apakah mereka telah merasakan kemuliaan Islam seperti yang telah kita rasa selama ini?
Berapa orang yang menjadi ikut mentoring setelah agenda tersebut?
Berapa muslimah yang kian menjaga hijabnya?
Apa hasil dari akumulasi tenaga, ide, dana, dan waktu yang telah kakak-kakak kita (atau bahkan oleh kita sendiri) korbankan untuk meninggikan kalimat Allah di kampus tercinta?

Tentu ada hasilnya,, tetapi bila kita melihat dari sisi efisiensi dan efektivitas, apa itu sudah baik?
Saya rasa belum cukup.
Seperti sebuah lampu besar yang menerangi suatu ruangan, tentu ada bagian-bagian yang tetap tidak terkena cahaya itu. Misalnya, di bawah meja, di dalam lemari, maupun dibalik papan.
Begitulah analogi dari fenomena da’wah kampus kita.

Oleh karena itu, kita harus mengubah paradigma bahwa (hanya) LDK-lah yang mampu membuat kampus Islami.
Kita buat lampu-lampu baru di sudut-sudut yang tak terjangkau oleh LDK, yaitu lampu-lampu di fakultas kita dan lampu-lampu di program studi kita! Lampu itu adalah Lembaga Da’wah Fakultas dan Program Studi, kawan…

Niscaya, setiap orang akan lebih tersentuh oleh da’wah, karena tiap fakultas dan program studi memiliki ciri khasnya masing-masing yang sulit difahami oleh LDK.
Karena Lembaga Da’wah Fakultas dan Program Studi adalah ujung tombak syi’ar dan pelayanan kampus…
Allahu’alam

Berkaca dari fenomena di atas, seharusnya ada kesadaran dari para kader Lembaga Da’wah Fakultas dan Program Studi. Kita di sini bukanlah menjadi kader sisa, melainkan kitalah kader-kader terbaik yang disiapkan Allah untuk mengajak kawan-kawan terdekat kita yang satu fakultas dan program studi.
Baca lebih lanjut