Korupsi di Sekitar Kita


Bismillah
Assalamu’alaykum wr wb

Kawans,,, pasti kita semua tahu (meskipun malu mengakuinya), kalau negeri tercinta ini termasuk salah satu bangsa yang tertinggi angka korupsinya. Memang sakit mengatakannya. Ada rasa sedih, malu, dan marah di hati ini. Tapi, yahh,, mau gimana lagi… ='(

Btw, korupsi tuh apaan sih?
Kata korupsi berasal dari bahasa Latin, corruptio, dari kata kerja corrumpere. Artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok.
Sedangkan, menurut Transparency International, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.
Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi mencakup perbuatan melawan hukum, penyalahgunaan kewenangan, kesempatan atau sarana, juga memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi. Tindakan itu merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Sebenarnya, korupsi enggak hanya dilakukan pejabat publik atau pegawai negeri, pegawai swasta juga bisa melakukannya. Bahkan lebih luas lagi, anak-anak kuliahan pun kerap melakukan korupsi dalam beraneka bentuk. Intinya, korupsi itu melakukan atau mengambil sesuatu yang bukan haknya. Meskipun korupsi atau kecurangan terhadap hal-hal yang ”kecil”, semisal menyontek dan nitip isi daftar hadir.
(wah,, kalo masih jadi calon sarjana aja udah gini, mau gimana membangun Indonesia???)
Baca lebih lanjut

Mahasiswa dan Dunia Islam


Mahasiswa punya tanggung jawab lebih dibanding dengan status-status lainnya, karena sudah ada frase ‘Maha’ pada dirinya dan karena posisinya berada diantara pemerintah dan rakyat. Lalu, apa saja tanggung jawabnya?

Mahasiswa sebagai Insan akademis yang memiliki dua peran:
1. Peran untuk selalu mengembangkan diri sehingga menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan
2. Peran yang akan muncul dengan sendirinya apabila mengikuti watak ilmu itu sendiri. Watak ilmu adalah selalu mencari dan membela kebenaran ilmiah. Dengan selalu mengikuti watak ilmu ini maka insan akademis mengemban peran untuk selalu mengkritisi kondisi kehidupan masyarakatnya di masa kini dan selalu berupaya membentuk tatanan masyarakat masa depan yang benar dengan dasar kebenaran ilmiah.

Maka, seluruh proses yang berlangsung di perguruan tinggi adalah proses pendidikan dalam rangka membentuk karakter, yaitu sikap bertanggung jawab dan kepakarannya dalam lingkungan ilmu, tetapi itu saja belumlah cukup. Mahasiswa sendiri juga harus ikut serta mendidik dirinya sendiri (learning by themselves) dengan tetap berpedoman pada nilai kebenaran ilmiah. Mereka harus senantiasa melakukan kritik dan koreksi atas dirinya sendiri. Apabila itu semua dilakukan dengan segala kesadaran, maka rasa tanggung jawab sebagai insan akademis akan tertanam sehingga mahasiswa menemui suasana yang baik untuk membentuk karakter akademiknya, yaitu kebenaran, keadilan, kejujuran, dan kemanusiaan.

Yang dimaksud visi insan akademis sebenarnya adalah pola pandang tentang bentuk atau tatanan seluruh aspek kehidupan masa depan yang baik dan benar menurut kaidah ilmiah. Sekarang, untuk membantu merumuskan bagaimana membentuk mahasiswa yang mampu menjawab visi dan tantangan masa depan, maka dirumuskan visi tatanan kehidupan masyarakat depan yang ideal dan bersifat universal.
Baca lebih lanjut

Mencari Pahlawan Indonesia


Assalamu’alaykum wr wb.

Innalhamdalillah wash shalatu was salamu’ala Rasulillah.

Menjadi pahlawan bukanlah takdir, tetapi sebuah pilihan.
(Ust. Anis Matta)

Menurut KBBI, pahlawan adalah sebuah kata benda yang memiliki arti ‘orang yang pemberani dalam mengorbankan jiwa dan raga untuk membela kebenaran; pejuang yang gagah berani’.

Tidak kita pungkiri, pada saat ini, Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan. Bangsa yang sedari dulu rajin melahirkan pahlawan di tiap masanya, kini menalami kemandulan berkepanjangan. Tak ada lagi pemberani yang mengorbankan jiwa dan raganya, tidak ada lagi sang pembela kebenaran dan keadilan, tidak ada lagi pejuang yang gagah berani. Rasa rindu akan munculnya pahlawan semakin membuncah dalam asa kita. Karena krisis demi krisis telah merobohkan satu per satu sendi bangunan negeri kita.

Sudah lebih dari sepuluh tahun dari meletusnya reformasi, sudah empat kali pemimpin negeri ini berganti, sudah berkali-kali musibah bencana alam menghantam negeri ini (sebut saja tsunami, longsor, kebakaran, dan banjir), namun semakin banyak tindak kejahatan dan pengangguran di tanah ini: korupsi di tingkat elit hingga tingkat desa, tingkat kemaksiatan semakin melesat grafiknya, rasa malu dan rasa peduli semakin memudar dengan semakin senjangnya hubungan antara si kaya dan si miskin, nilai-nilai kebaratan kian menancapkan kukunya di bumi pertiwi bahkan mulai menjamah dunia pendidikan Indonesia.

Nah, kawan. Menurut Ust. Anis Matta dalam bukunya, pahlawan itu terdapat dua hal yang mendasarinya:
Baca lebih lanjut