Water Feature


Kali ini mau bahas 1 desain yang saya bikin di sebuah taman dalam suatu cluster perumahan, yaitu water feature. Dan ada 2 hal yang ingin dibahas mengenai elemen lansekap tersebut, pertama tentang proses kreasinya dan kedua tentang gambar detail.

Ide utama dari desain ini adalah bentuknya segitiga dan keseimbangan asimetris. Penggunaan geometri segitiga memang lazim dipakai oleh kantor saya. Hampir semua desain menggunakan segitiga yang sudutnya di-fillet jadi kurva. Kadang tiap sisinya dibuat cembung, kebetulan desain water feature ini menggunakan yang sisinya cembung. Jadi, semua garis dalam segitiga ini melengkung, tidak ada yang lurus.

Kalau seimbang yang tidak simetris memang digunakan karena water feature ini ingin jumlahnya dibuat ganjil, yaitu tiga. Maksud dari seimbang atau balance adalah kesan yang sama ‘berat’ antara bagian kiri dan kanan komposisi, sedangkan simetris adalah penyebaran bentuk yang merata di sekitar garis sumbu atau titik tengah. Sedangkan keseimbangan asimetris adalah keseimbangan yang tidak sama bentuknya antara kiri dan kanan, namun tetap mempunyai kesan seimbang. Untuk lebih jelas, sila baca buku ‘Bentuk, Ruang, dan Tatanan’ karya Francis DK Ching.

Nah, 3 segitiga yang asimetris itu didesain dari angka-angka Fibonacci. Percaya gak? Hanya saja, proses mendesainnya itu sudah saya hapus, dan sekarang pas mau coba untuk bikin lagi, udah lupa caranya. Hehe. Intinya, saya bikin segitiga yang kanan dan kiri itu dari angka-angka Fibonacci, terus di-rotate. Kalo yang tengah ada 1 sudutnya yang saya geser supaya lebih asimetris. Jadi deh! Hasilnya bisa dilihat di gambar denah di bawah ini:
Baca lebih lanjut

Arsitek dan Peradaban (part 2)


Review Perancangan Tapak

1. Penggunaan material alam sangat direkomendasikan untuk dipakai karena akan lebih bersahabat kepada penggunaannya.
Di sinilah terungkapkan bahwa ada perbedaan yang cukup besar antara material alam dengan material buatan manusia.
Material alam yang merupakan karya Tuhan tidak meradiasikan panas dan tidak merefleksikan cahaya.
Contoh: daun pada pepohonan. Kita akan merasa sejuk berada di bawahnya. Berbeda dengan tenda ataupun material buatan manusia lainnya. Kita akan tetap merasa panas dan tidak nyaman.
Aplikasinya dalam berarsitektur, misalnya penggunaan cobbale stone pada bak kontrol.
Selain dapat menyerap air, cobbale stone ini bisa ditumbuhi rumput. Dan rumput itulah yang membawa ‘ruh’ pada bak kontrol. Sehingga space berubah menjadi place.
Space adalah ruang yang belum punya makna. Place adalah space yang telah memiliki kehidupan di dalamnya.
Contoh lainnya, penggunaan kayu dan rumput atau kayu dan pasir pada tangga atau amphitheater.
Intinya, seorang arsitek sebaiknya mendesain dengan menggunakan prinsip ekologi dan tidak melulu menggunakan hardscape.

2. Hal tersebut terlihat pada arsitektur di Eropa.
Tata letak kota yang kompak, padat, koridor sempit, plaza besar, menghargai kehijauan, dll.
Ruang di Eropa tidak rectangular dan tidak grid, tetapi lebih mengikuti kontur.
Bila ada kemiringan pada lahan, tidak diratakan tetapi diikuti.
Bahkan ada bangunan yang disengaja dibuat miring, yaitu Museum Guggenheim di New York, karya arsitek Frank Lloyd Wright.
Ada juga Spacio Temporal, yaitu ruang yang selalu berubah tergantung waktunya.
Manusia senang dengan pengalaman ruang yang kaya, oleh karena itu banyak tempat yang memiliki koridor sempit kemudian bertemu dengan plaza yang besar.
Baca lebih lanjut