[jurnal] Kepemimpinan dan Keprajuritan


Assalamu’alaykum wr wb

Pada kesempatan kali ini, saya ingin mencoba membahas mengenai masalah kepemimpinan dan keprajuritan.

Ketahuilah saudaraku, seorang pemimpin memerlukan bantuan dalam merealisasi mimpi-mimpinya. Dia butuh adanya tim yang mendukung kinerjanya agar lebih optimal. Oleh karena itu, hubungan antara pemimpin dan timnya harus baik. Diantara mereka harus terdapat sebuah ikatan hati. Karena hanya dengan ikatan hati sesorang dapat menggerakan orang lain hingga batas maksimalnya. Karena seseorang tidak akan bisa memimpin orang lain dengan baik dan benar jika dia tidak mencintai orang lain tersebut karena Allah.

Seorang pemimpin harus bisa membuat timnya lebih baik dari dirinya. Dengan kata lain seorang qiyadah harus memiliki fungsi kaderisasi sehingga keberlangsungan roda lembaga dakwahnya bisa terus berputar. Bahkan hasil dari kaderisasinya harus bisa melebihi kompetensi dirinya sehingga kepengurusan selanjutnya bisa menjadi lebih baik dan terus lebih baik. Sedangkan seorang prajurit, haruslah memiliki ketaatan kepada sang pemimpin.

Khalifah Umar r.a. pernah berkata “Tiada Islam tanpa Jamaah,dan tiada Jamaah tanpa kepemimpinan dan tiada kepemimpinan tanpa ketaatan.”

Keislaman seorang bisa dikatakan belum sempurna apabila dia tidak taat kepada pemimpinnya. Islam itu berjamaah. Visi besarnya melahirkan peradaban yang shalih, bukan sekedar individu yang shalih saja.
Baca lebih lanjut

[jurnal] Visioner


Assalamu’alaykum wr wb

Alhamdulillah, huwalladzi arsala rasulahu bilhuda wa dinilhaq, liyudzhirahu ‘ala dini kullih. wakaffa billahi syahida.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.

Umm, insya Allah saya akan menulis beberapa jurnal terkait kepemimpinan dan berorganisasi.
Tulisan pertama ini mengangkat tema pemimpin yang visioner. Ini dia…

Visioner, menjadi karakter wajib yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dia harus punya mimpi dan mengetahui mau kemana timnya hendak ia bawa. Juga langkah-langkah untuk merealisasi mimpi tersebut.

Contoh terbaik telah dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pada perang Khandaq. Memang beliau adalah sosok uswah sebenarnya. Semua karakter pemimpin yang ideal sudah ada pada diri beliau.

Menjelang perang, keadaan umat Islam saat itu sedang mengalami berbagai kendala, baik internal maupun eksternal. Secara internal mereka tidak memiliki pasukan sebanyak yang dimiliki musuh.

Dalam Perang Ahzab saja, umat Islam yang berjumlah tiga ribu orang harus menghadapi sepuluh ribu orang yang bersekutu dari kabilah-kabilah Quraisy dan Yahudi Madinah. Banyak pula umat Islam yang dulunya berasal dari kalangan budak, bahkan penjahat, yang sering dimarjinalkan.

Pun, sarana yang dimiliki jauh lebih sedikit dibandingkan musuh. Tidak kurang pula, secara eksternal umat Islam dirongrong oleh berbagai konspirasi yang memanfaatkan pula para oportunis munafik di kalangan umat Islam.

Ditambah lagi, ketika para sahabat sedang bekerja menggali parit, mereka menemukan kesulitan karena menandapati tanah yang terlalu keras untuk digali. Mereka kemudian mendatangi Rasulullah dan melaporkan hal tersebut.
Baca lebih lanjut

Pemimpin Peradaban, Tidak Hanya Negara


oleh Reza Primawan Hudrita

Sekilas memang tampak sebagai pemimpin negara, seperti Barrack Obama, Susilo Bambang Yudhoyono, maupun Mahmoud Ahmadinejad. Akan tetapi, Rasulullah saw adalah pemimpin peradaban. Karena pemimpin-pemimpin zaman sekarang tersebut hanya bertugas memimpin negeri ini, belum lagi kepemimpinannya banyak yang tidak disukai. Sedangkan Rasul kita, selain pemimpin negara, beliau juga pemimpin spiritual, pemimpin keluarga, pemimpin perang, pemimpin perusahaan, dll. Bahkan, kepemimpinannya menembus batas orang biasa, kerjanya menghasilkan peradaban, kepemimpinannya membuahkan kemenangan yang besar bagi dien ini.

apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An Nashr: 1-2)

Yang menakjubkan, di rumahnya tak dijumpai perabot mahal. Ia makan di lantai seperti budak, padahal raja-raja dunia iri terhadap kekokohan struktrur masyarakat dan kesetiaan pengikutnya. Ia tidur hanya beralaskan tikar di masjid, padahal raja-raja dunia beralaskan singgasana emas nan mewah serta ditemani nikmat dunia lainnya.

Tak seorang pembantunya pun mengeluh, pernah dipukul, atau dikejutkan oleh pukulannya terhadap benda-benda di rumah. Dalam kesibukannya ia masih bertandang ke rumah puteri dan menantu tercintanya, Fathimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib. Sungguh perangai yang luar biasa ditampilkan oleh seorang pemimpin peradaban ini. Beliau tidak ingin dianggap spesial, beliau ingin terlihat setara dengan para sahabatnya.

Di bawah pimpinannya, laki-laki menemukan jati dirinya sebagai laki-laki dan pada saat yang sama perempuan mendapatkan kedudukan amat mulia. “Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik terhadap keluarganya dan akulah orang yang terbaik diantara kamu terhadap keluargaku.” dan “Tak akan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan tak akan menghina perempuan kecuali seorang hina,” demikian pesannya.
Baca lebih lanjut

Mencari Pahlawan Indonesia (part 2)


Pahlawan disini adalah dalam memimpin Indonesia menuju ke arah yang lebih baik.

Posisi Pemimpin dalam Islam

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٥٩)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisaa: 59)

1. Ketaatan kepada pemimpin berada setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya.
2. Ketaatan kepada pemimpin merupakan suatu keharusan selama pemimpin tersebut taat kepada Allah dan Rasul-Nya
3. Ketaatan kepada pemimpin harus didasari oleh Al Qur’an dan As Sunnah.
Baca lebih lanjut