Seminar Pendidikan Astronomi (part 2)


Alhamdulillah ya, setelah break se sa at kita diberi kesempatan untuk saling berbagi ilmu.
Mari kita lanjutkan lagi ke seminar pendidikan astronomi sesi kedua setelah maksiat (makan shalat dan istirahat, hehe). Btw, kita dikasih makan gratis lho, ada tiga hidangan isinya daging semua dan dodolnya saya ngambil itu semua =(

Yawda, langsung aja kita simak kuliah selanjutnya dari pak Judhistira Aria Utama, seorang dosen Pendidkan Fisika (spesialis keastronomian) di UPI yang alumnus Astronomi ITB, dengan judul “Geliat Astronomi di Kampus Bumi Siliwangi.”

Pada awalnya, beliau bernostalgia bagaimana awalnya bisa jadi dosen yang bisa disebut memang takdir Allah. Beliau mengumpulkan berkas pendaftarannya di hari terakhir dan luar biasanya ternyata beliau adalah orang pertama yang mengumpulkan berkas tersebut, sampai akhirnya beliau resmi jadi dosen di UPI. Kisah berikutnya adalah pengalaman-pengalaman beliau yang menurutnya lebih banyak mempromosikan astronomi. Tak ketinggalan beliau memberitahu audiens terkait sarana dan prasarana yang ada di UPI untuk melakukan aktivitas keastronomian.

Di akhir slide, ada sebuah puisi(?) yang menarik. Ini dia:

I see the moon.
The moon sees me.
God blesses the moon.
God Blesses me.

-A Nursery Rhyme-

Oiaoia, pas sesi pertanyaan ada guru SMA dari medan yang bertanya: kalo masuk jurusan astronomi akan jadi apa nantinya? Sebelum saya tulis jawaban pak Judhistira, saya kisahkan dulu si guru dari Medan ini berlatarbelakang teknik sipil, kemudian jadi guru fisika yang menangani astronomi (nyambung kagak?), karena itulah pak guru ini kesulitan menjawab pertanyaan anak didiknya yang minat terhadap astronomi (yae yalah, lah dia ngajar astronomi aja karena ga ada guru lagi)

Yah, ini adalah pertanyaan klasik yang sangat sulit dijawab. Namun, dengan yakin, pak Judhistira berkata lantang: Saya bangga menjadi lulusan astronomi ITB karena memiliki daya analisis yang kuat dan sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari (SUGOOOIIII!!!!! i lop yu pull lah, haha)

Itu saja yang bisa saya ceritakan dari pak Judhistira. Sekarang tiba saatnya kita bergerak agak ke bawah, yaitu ke level pendidikan menengah. Kuliah bertitel “Pendidikan Astronomi di SMA” ini dipresentasikan oleh pak Mariano Nathanael, seorang guru SMA sekaligus alumnus astronomi ITB.
Baca lebih lanjut

Seminar Pendidikan Astronomi (part 1)


Dalam rangka menyambut 60 tahun pendidikan astronomi di Indonesia yang ditandai berdirinya Program Studi S1 Astronomi di Institut Teknologi Bandung, maka diadakanlah sebuah seminar pendidikan astronomi dengan tema “Astronomi untuk Indonesia: Menuju Terbentuknya Jaringan Pendidikan Astronomi di Indonesia” pada tanggal 26 Oktober silam.

Seminar ini mengundang berbagai macam stakeholder yang berkaitan dengan pendidikan astronomi. Mulai dari International Astronomy Union sampai guru fisika dan geografi SMA, dengan harapan adanya integrasi dan koordinasi antarstakeholder tersebut hingga pendidikan astronomi menjadi lebih berkembang di Indonesia.

Ketika mengikuti kegiatan ini, kerasa banget semangatnya. Baik presenter maupun audiens, sangat antusias dan penuh ruh untuk memajukan bangsa ini melalui pendidikan astronomi. Salut untuk panitianya lah.

Saya dateng jam 10an (sungguh menyesal ga dateng dari awal), ketika itu pak Hardja tengah presentasi terkait “Sejarah Pendidikan Tinggi Astronomi di Indonesia.” Beliau menekankan pentingnya astronomi meski secara ekonomi memang terbatas dan ditambah lagi dana yang besar itu membuat menyulitkan kelancaran alirannya.

Beliau menyampaikan bahwa manusia makhluk yang ingin mengetahui, sehingga memerlukan orientasi dengan mencari tahu. Kalo tidak tahu orientasi pak SBY tidak akan bisa mengumpulkan menteri barunya pasca-reshuffle. Hehe. Ehm, back to topic.

Manusia berpengetahuan terbatas, lanjut beliau, namun wawasannya tidak terbatas. Konteks wawasan yang dibicarakan di sini adalah fantasi/imajinasi. Meski astronomi banyak berperan dalam hal navigasi (seperti contoh pak SBY di atas), bila bangsa ini ingin maju, haruslah mengembangkan fantasi/imajinasinya. Itulah mengapa om Einstein pernah berceloteh: “Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand.”

Yup, itulah astronomi, dia mengajarkan kita untuk memiliki rasa ingin tahu yang besar dan membentuk pribadi yang visioner, yaitu mengasah otak kita untuk berpikir jangka panjang, jauh dari batas perhatian yang bisa kita lihat saat ini. Astronomi akan memperluas daya pandang kita. Dan bila dikembalikan ke bahasan awal tentang ekonomi, pengetahuan itu memiliki nilai yang mahatinggi, maka jangan dibatasi pada aspek ekonomi.

Astronomi tidak hanya menikmati pemandangan alam untuk diri sendiri semata, tetapi juga punya manfaat untuk menyejahterakan umat manusia di dunia dan di akhirat.
Baca lebih lanjut