Fitrah


Mungkin kita banyak dengar bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah. Namun banyak dari kita tidak memahami artinya. Penulis pun baru akhir-akhir ini mampu memaknainya lebih dalam.

Lantas, apa itu yang sesuai dengan fitrah?

Simpelnya adalah bahwa sesuai dengan fitrah adalah agama yang paling mudah dan paling murah. Oke, kita elaborasi dengan menggunakan studi kasus.

Beberapa waktu lalu, santer terdengar tentang RUU Kesetaraan Gender yang mendeklarasikan bahwa lelaki dan perempuan harus disamaratakan dalam hal apapun, padahal tidak demikian dalam konsepsi Islam.

Islam yang fitrah itu telah menempatkan lelaki dan perempuan dalam posisi yang termudah, sesuai tabiat dan perannya.

Misal saja dalam hal waris. Porsi lelaki adalah dua kali lipat dari perempuan. Inilah keadilan, sesuai dengan kondisinya: lelaki mencarikan nafkah untuk istrinya, tetapi perempuan tak harus memberikan nafkah kepada suaminya.

Akan tetapi, sudut pandang kaum feminis berkata lain. Mereka memandang bahwa dewasa ini, perempuan sudah banyak yang memiliki penghasilan. Maka dari itu, pembagian harta waris antara lelaki dan perempuan haruslah sama.
Baca lebih lanjut

Hijab #2 (Materi Mentoring Kolosal PAS ITB)


Setelah kita menghijabi diri kita masing-masing, sekarang kita insya Allah akan beranjak kepada hijab ketika berinteraksi dengan lawan jenis. Sebenarnya terkait hijab fisik berupa tabir ketika berinteraksi dengan lawan jenis, saya belum pernah mendapatkan dalilnya dengan jelas. Hingga saat ini, yang saya tahu, hijab dengan tabir hanya diperintahkan kepada istri-istri Nabi ketika bertemu para sahabat.

“…Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka, maka MINTALAH DARI BELAKANG TABIR…” (TQS. Al Ahzab: 53)

Diriwayatkan oleh Nabhan bekas hamba Ummu Salamah, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada Ummu Salamah dan Maimunah yang waktu itu Ibnu Ummi Maktum masuk ke rumahnya. Nabi bersabda: “Pakailah tabir.” Kemudian kedua isteri Nabi itu berkata: “Dia (Ibnu Ummi Maktum) itu buta.” Maka jawab Nabi: “Apakah kalau dia buta, kamu juga buta? Bukankah kamu berdua melihatnya?” (HR. Abu Daud)

Apalagi, di Masjid Nabawi di zaman Rasulullah pun tidak mengenakan tabir. Buktinya ada hadits yang menyatakan bahwa para sahabat dapat melihat wajah seorang wanita cantik ketika ruku’ dalam shalat berjama’ah di Masjid.

Dahulu ada seorang wanita yang sangat cantik shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka sebagian laki-laki maju, sehingga berada di shaf pertama agar tidak melihat wanita itu. Tetapi sebagian orang mundur, sehingga berada di shaf belakang. Jika ruku’, dia dapat melihat (wanita itu) dari sela ketiaknya. Maka Allah menurunkan (ayat): “Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripadamu dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (daripadamu).” (HR. At Tirmidzi, An Nasâ’i, Ibn Mâjah, Ibn Hibbân, Ahmad)

Maka dari itu, hijab fisik yang kita kenakan pada saat berinteraksi dengan lawan jenis bukan sebagai kewajiban yang diperintahkan RasuluLlah (secara langsung), tetapi membuat hati kita terasa lebih tentram dan -yang paling penting- sebagai alat bantu kita untuk menjalankan perintah “Wa laa taqrabuz zinaa. Dan janganlah kamu mendekati zina.” Mungkin dalam kasus ini berlaku juga kaidah fiqh: “ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب. Jika sebuah kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya.” sehingga bisa jadi hijab fisik ini menjadi wajib juga bagi kita.

Apa saja perbuatan mendekati zina yang akan terhindar? Kira-kira ini daftarnya:
Baca lebih lanjut

Hijab #1 (Materi Mentoring Kolosal PAS ITB)


Kita semua yakin, bahwa Islam adalah agama yang mulia dan sempurna. Satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah. Ia adalah din yang Rabbaniyyah, bersumber pada nilai-nilai ke-Tuhanan, yaitu Dzat yang menciptakan dunia dan seisinya. Bila Allah yang menjadi Mata Air agama ini, pasti lah terjamin kebenarannya, karena Dia-lah yang paling tahu rahsia yang ada di Bumi.

Walau begitu, dalam Islam juga terdapat unsur Insaniyyah. Beruntung sekali umat ini hanya diperintahkan untuk mengikuti sesamanya. Ya, Utusan Allah juga manusia, yang sama-sama makan, yang sama-sama tidur, dan sama-sama melakukan aktivitas kemanusiaan lainnya. Tidak seperti bangsa Yunani yang diperintahkan mengikuti Dewa, atau minimal Hercules (setengah dewa-setengah manusia).

Islam pun syumul, mengatur hidup dari bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan ketika tidur sampai bangun lagi. Mulai dari hal-hal kecil seperti gunting kuku, menyisir rambut, dan masuk ke kamar mandi, hingga hal-hal besar seperti berbangsa dan bernegara. Ia pun sifatnya universal, baik di Arab, di Eropa, maupun di Indonesia, baik zaman dahulu, zaman sekarang, maupun zaman akan datang, kita memeluk Islam yang sama.

Hanya saja, kecemerlangan cahaya Islam telah diredupkan oleh para pemeluknya. Kemuliaan Islam belum dibarengi dengan keindahan akhlaq para pengikutnya. Akhlaq muslim harus baik juga agar Islam tidak tercoreng. Sudah saatnya, kemuliaan Islam dibarengi dengan kecemerlangan akhlaq para pemeluknya!

Salah satu caranya adalah dengan dakwah, yaitu dakwatunnas ilaLlah bil hikmah wal maw izhotil hasanah hatta yakfuru bittaghut wa yu’minuna biLlah hatta yukhriju minadz dzulumati jahiliyati ila nuril Islam, menyeru manusia kepada Allah dengan hikmah dan pengajaran yang baik hingga mengingkari taghut dan beriman kepada Allah hingga keluar dari kegelapan jahiliyyah menuju cahya Islam yang terang-benderang.

Dakwah haru membuat perubahan, dari yang tadinya jahiliyyah menjadi ma’rifah, dari ma’rifah menjadi fikrah, dari fikrah menjadi amal. Percuma bila kita berilmu tetapi kita tidak mengamalkannya, apalagi kita malah menyesal karena telah terbebani oleh ilmu: “Tuh kan gara-gara ikut ta’lim saya jadi harus menjaga hijab, kalo saya ga ikut ga harus kan?”

Bila seperti itu, berarti ibarat ke dokter untuk mengecek kesehatan, tetapi setelah tahu penyakitnya malah marah-marah: “Gara-gara dokter nih saya jadi tahu sakit apa, kalo saya ga ke dokter saya kan ga kenapa-napa. Saya ga harus minum obat, masih boleh makan apa saja, masih boleh bergadang.”

Nah, pada kesempatan kali ini, kita akan sedikit membahas tentang hijab. Landasan umum tentang hijab terdapat dalam QS. Al Israa’ ayat ke-32, yaitu:
Baca lebih lanjut